Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!
Tampilkan postingan dengan label Phobia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Phobia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Januari 2011

Apa salahku, Adinia?


Oleh gisha prathita (@geeshaa)
kamukayakuya.tumblr.com

Gadis itu, namanya Adinia.
Ia sudah kulirik semenjak pertama kali bertemu 2 tahun yang lalu, saat ia masih mengenakan seragam SMA dengan atribut balon dan jepit rambut yang berwarna gulali, lengkap dengan tas karung goni dan kaus kaki warna-warni. Ya, saat itu dia baru saja menapakkan kaki sebagai mahasiswa baru yang mengecap masa ospek bersama. Dan saat itu pula, aku sang panitia, menjatuhkan pandangan padanya. Saat itu, ia tetap gemerlap di mataku meskipun atribut aneh di seluruh pakaiannya mencoba menghalanginya.
Adinia Raraswati, sejak itu namanya selalu terngiang di kepalaku.
Setahun yang lalu, akhirnya aku mengenalnya. Luar biasa, aku merasa seperti remaja yang baru saja berkenalan dengan kecengan abadinya di halaman sekolah. Tanganku dingin saat berjarak lima langkah darinya, sampai langkah ketiga,aku terus memasukkan tanganku ke saku jaket, supaya suhunya lebih hangat—jadi tidak ketahuan kalau aku benar-benar gugup. Langkah keempat, aku menghela napas panjang menenangkan diri, dan langkah terakhir, dengan mantap aku berkata, “Lo Adinia kan? Gue Aga, asisten kelompok Hidrolika lo.” Dan semenjak saat itu, aku berkomunikasi dengan lancar denganmu. Asisten dosen memang jalur pelicin yang paling mujarab untuk berkenalan dengan adik kelas.
Adinia, syukurlah, saat itu kau tidak tahu betapa gemetarnya lututku.
Sampai seminggu yang lalu, aku menguatkan diri untuk mengumpulkan segenap tekadku, untuk melakukan sesuatu untukmu. Untuk menjadikanmu milikku. Dan saat itu kau masih tetap Adinia yang dulu, yang gemerlap di mataku, namun kali ini—tidak hanya dari luarnya saja.
Nyaris dua tahun aku mengenalmu, Adinia, semakin meyakinkanku, bahwa aku benar-benar mencintaimu.
Sampai saat itu tiba,
sehari yang baru saja terlewati, justru membuatku kecewa padamu, setengah mati. Hatiku rusak, pikiranku kacau. Saat itu aku menyatakan perasaanku padamu, begitu tulus. Kau tersenyum, kupikir kau merasakan hal yang sama denganku. Betapa indahnya dunia (saat itu). seindah bunga yang kuberikan padamu—yang tiba-tiba kau tampik dengan keras, sampai jatuh di kakiku. Kau bilang bahwa aku jahat, dan kau bilang aku tega.
Apa salahku, Adinia?
Kau menangis histeris dengan napas tersengal, dan kau lari meninggalkanku.
Apa salahku, Adinia? Apa?
Aku merasa tulang-tulangku sangat remuk—seperti baru dihempaskan dari langit ketujuh. Seperti terhempas dari pesawat dan jatuh ke permukaan air laut yang sekeras beton.
“Lo ditolak, ya, Ga?” tanya sahabatku saat aku terlihat kusut di depan Lab. Hidrolika dan Bangunan Air.
“Dia benci sama gue kayanya. Dia malah nangis histeris, terus lari ninggalin gue, seakan gue ini hantu.” Jawabku runyam. “Padahal gue udah bela-belain memberi dia sebuket bunga yang paling indah—setidaknya menurut gue.”
“Lo kasih dia bunga?” ia mengernyitkan keningnya. Aku mengangguk. “Kok lo bego sih? Ga, Adinia itu Anthophobia! Ya iyalah dia kabur!”
Mendengarnya, aku menganga.
Akhirnya aku tahu apa salahku, Adinia.

Di Atas Ketinggian


Oleh Fadilla Dwianti Putri / @dilladp


"Tak perlu takut dianggap lemah atau pecundang apabila kita memiliki suatu kelemahan dalam diri kita akan sesuatu. Kita juga tak perlu takut untuk menjadi seseorang yang penakut. Toh, Tuhan menciptakan kita berikut dengan segala perasaan, bukan? Mengapa harus malu dan mengingkarinya?"

Oke, anggaplah kata-kata yang kulontarkan saat seminar pengembangan diri hampir satu tahun yang lalu itu adalah omong kosong. Karena pada kenyataannya, pemikiran dan kenyataan adalah sesuatu hal yang sangat jauh berbeda. Dan di sinilah kini aku berada. Di dalam sebuah pesawat Boieng 737 yang akan segera membawaku ke belahan dunia yang lain. Aku tak dapat melarikan diri ke mana pun aku berusaha untuk pergi. Urusan pekerjaan ini benar-benar telah membuatku terjebak di atas burung besi yang melambung tinggi ribuan meter di atas permukaan tanah. Aku bisa merasakan dadaku naik turun, berusaha menghirup udara dalam-dalam, meskipun sedari tadi aku merasa sulit sekali untuk bernapas.

Anganku melambung tinggi. Ketakutanku mulai menjalari seluruh tubuh. Kecelakaan pesawat dua puluh tahun yang lalu masih membayang di pelupuk mata. Kecelakaan yang menewaskan ratusan penumpang dan hanya segelintir manusia beruntung yang selamat dalam tragedi itu. Termasuk aku. Semenjak saat itulah aku selalu berusaha untuk menghindari perjalanan melalui udara. Semua hal yang berhubungan dengan hal tersebut sangatlah memuakkan. Bahkan aku bisa merasakan sekujur tubuhku mulai gemetar dan berkeringat ketika memasuki gerbang keberangkatan.

Hamparan laut biru yang memantulkan cahaya matahari di bawah sana justru malah membuatku jatuh semakin dalam pada ketakutanku. Aku menutup mata rapat-rapat, merasakan sensasi yang luar bisa menghantam sekujur tubuh, ingin segera pergi meninggalkan semua kegilaan ini. Kucoba untuk mengalihkan perhatianku pada laptop yang sedari tadi kududukkan di atas pangkuan, beralih kembali pada pekerjaanku yang sedari tadi terbengkalai akibat phobia-ku yang satu ini.

Baru saja lima menit aku kembali berkutat pada pekerjaanku dan fokusku teralihkan dari ketakutan yang sedari tadi melanda, lampu-lampu di atasku tiba-tiba bergerak redup dan mati total. Tak lama kemudian, guncangan hebat melanda pesawat yang aku tumpangi, menjungkirbalikkan isi perutku. Ternyata.. Ketakutanku akan penerbangan selama ini menjadi kenyataan. Kejadian dua puluh tahun lalu kini terulang kembali. Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

Antara Aku, Hujan, Gelap, dan Hitam


by Syariza eci @syarizaeci

mereka bilang tentang hujan
aku diam
mereka menari dalam hujan
aku diam
mereka ceritakan indahnya pelangi setelah hujan
aku masih diam
aku tak suka hujan

hujan, hanya lima huruf.
begitupun gelap
ah,
mereka terlelap dalam gelap
aku diam
apa yang mereka suka dengan gelap?
mereka bilang gelap hilangkan penat
gelap malah membuat otakku sekarat
aku takut gelap

hitam, layaknya hujan dan gelap
hanya butuh ruang lima huruf saja
kali ini tetap sama
aku benci hitam.

Poorbia (Takut Miskin)

Oleh Faizal Egi (@faizalegi)
itsjustsomething.tumblr.com


Sudah puluhan kali Siska bolak – balik di dalam kamarnya, memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang. Baru saja dia mendengarkan percakapan antara Papanya dengan pengacara beliau, sebuah percakapan yang membuat jantung Siska serasa jatuh ke dalam perutnya. Ayahnya baru saja ditipu oleh rekan kerjanya, perusahaannya disita oleh bank untuk menutupi semua hutangnya. Rumah, mobil, dan seluruh harta bendanya pun terancam akan disita oleh bank juga. Tidak tahan mendengar semua itu, Siska lari ke kamar, dan disinilah dia sekarang.

Dia sudah menentukan arahnya, dia berjalan menuju ke lemari pakaiannya, menjangkau ke atasnya dan menarik sebuah koper yang ukurannya terlalu besar untuk diangkat oleh tubuh 16 tahunnya. Sempoyongan menerima koper dari atas lemari, Siska terduduk. Berpikir sejenak, lalu memutuskan barang apa saja yang akan dia bawa. Lalu, dia memasukkan sebanyak mungkin barang – barangnya yang paling mahal. Louboutin, Jimmy Choo, Prada, Dior, Chanel, Louis Vuitton, semuanya tersusun rapi di dalam koper sekarang. Terakhir dia masukkan 5 buah handphone nya, beserta seluruh gadget canggih dan macbook-air-nya.

Semua beres, Siska menyeret perlahan kopernya ke luar kamar. Setelah menoleh kanan – kiri memastikan tidak ada yang melihatnya, dia berjalan nyaris tanpa bunyi, berusaha seminimal mungkin membebankan berat tubuhnya ke lantai marmer di bawahnya. Sesampainya di pintu gerbang, satpam bertanya padanya “Mau pergi kemana, Non? Kok bawa koper gede banget?”

Siska hanya menjawab asal, “Camping” sebelum dia masuk ke dalam taksi yang sudah dipesannya saat masih dalam kamar tadi.

“Senen, Pak” katanya pada sopir, menunjukkan kemana dia akan pergi.

Disanalah tujuannya, sebuah toko yang masih berada di sekitaran Atrium Senen. Toko tempat memperjual belikan pakaian bekas bermerek yang beberapa waktu lalu Siska lihat artikel tentangnya di sebuah majalah remaja. Sesampainya disana, Siska menyuruh sopir taksi untuk menunggu. Dia masuk ke dalam toko, celingak – celinguk takut ada seseorang yang mengenalnya. Perlahan dia menghampiri kasir disana, tempat seorang ibu muda cantik tersenyum ramah padanya.

Dengan susah payah dia mengangkat kopernya ke atas meja, membuka koper dan berkata kepada pemilik toko itu “Saya pengen jual ini semua”

Pemilik toko diam, menunjukkan ekspresi kaget seolah ada yang ingin melamarnya untuk kesekian kali.

“Tanpa ini tentunya”, tambah Siska, mengambil semua peralatan elektroniknya.

“Yakin?” tanya si pemilik toko masih sedikit keheranan. Di benaknya bertanya – tanya, ini anak habis nyolong apa gimana yah? Tapi gak mungkin lah tampang kaya raya gitu nyolong, palingan cuma kabur dari rumah. Ya sudahlah, urusan dia ini.

“Yap, berapa semua?” tanya Siska.

“Hmm... 20juta” jawab si pemilik toko setelah menimbang – nimbang beberapa saat.

“Whatttt?!!!!” tanya Siska kaget, “Saya nggak bego ya mbak, ini semua barang asli. Dan nilainya lebih dari 100juta” tambahnya

“Gini ya, dek... ini kan barang bekas, lagian saya juga gak tau asal – usul barang – barang ini. Jadi ya saya cuma bisa ngasih segitu” jawab si pemilik toko lembut, menutupi pikiran liciknya yang merasa menang bagai singa mendapati anak rusa yang tersesat sendirian di tengah hutan.

“Ini punya saya kok, sumpah deh. Lagian palingan juga baru saya pakai beberapa kali” kata Siska meyakinkan

“Ya udah, gini deh... saya cuma mampu bayar 25. Kalo adek mau ya oke, kalo nggak ya maaf” si pemilik toko memberi tawaran akhir pada tawar – menawar ini yang dia ketahui pasti akan dimenangkannya.

“Oke deh, tapi cash” kata Siska muram.

Setelah mendapatkan uang dari pemilik toko pakaian bekas, Siska kembali ke taksi dan menuju pusat pertokoan dimana dia akan menjual semua barang elektroniknya. Uang hasil penjualan barang – barang elektroniknya pun tidak jauh berbeda dengan hasil menjual semua pakaian, sepatu, dan aksesorisnya tadi.

Siska pulang dengan perasaan sedih, dia membuka pintu dengan lemah. Saat melewati ruang keluarga, dia disambut oleh Mamanya. “Kamu dari mana? Kata pak Sapto kamu pergi bawa koper, hape kamu matiin semua” cerocos Mamanya khawatir.

Siska membuka tote bag-nya, satu – satunya tas yang dia punya sekarang dan menyerahkan semua uang hasil penjualan barang – barangnya ke Mamanya. Mamanya pun bingung, “Apa ini? Terus dimana koper kamu?”

“Semuanya udah Siska jual, Siska gak sengaja denger pembicaraan Papa sama Om Broto. Katanya Papa bangkrut, jadi Siska jual semua barang Siska buat bantu Papa pertahanin perusahaan kita” kata Siska yang kemudian tidak tahan meneteskan air matanya.

Mamanya menghela nafas panjang dan merosot ke sofa, sedangkan papanya yang daritadi diam memperhatikannya dari jauh sekarang menghampirinya dan tersenyum sambil berkata “Sayang, kamu salah paham. Kamu hanya mendengar sebagian dari obrolan Papa dan Om Broto”.

Siska yang sekarang kebingungan, memandang Om Broto, pengacara Papanya yang malah terkikik geli. Lalu memandang Papanya dan bertanya “Maksud Papa?”

“Semua yang kamu dengar, tentang kebangkrutan Papa tadi benar. Tapi, sebelum semua pembicaraan itu ada kata yang tidak kamu dengar, yaitu... ‘Seandainya’. Papa tidak bangkrut, Sayang” ucap Papanya sambil memeluknya.

Siska menangis sejadi – jadinya, entah karena menyesal telah menjual semua barang – barang mahalnya atau karena lega tidak jadi miskin.

Batrachophobia


Oleh @diway360





Batrachophobia
Ternyata itu sebutan untuk phobia terhadap amfibi, contohnya kodok yang sangat menjijikkan itu.

Dulu saat aku masih kecil, hewan mini itu senantiasa menhiasi sudut sudut rumahku bila hujan tiba, bahkan saat banjir tiba. Yah, rumahku sudah langganan banjir karena daerahnya yang rendah, mau pindah juga susah karena sudah terlanjur enak, aneh padahal sering banjir.
Setiap hujan turun, kalau diperhatikan di sudut-sudut rumah pasti ada kodok kecil yang lompat-lompat. Aku sih cukup melihatnya dari atas kursi sambil sesekali berteriak kalau kalau adikku iseng berjanji memberiku seekor. Setelah itu aku pasti ngibrit ke kamar dan menguncinya.
Paling parah itu saat aku hendak berangkat sekolah, pagi itu masih mendung sisa hujan lebat tadi malam. Angin bertiup dingin, aku mencari cari sepatuku ternyata diluar kemaren lupa untuk dimasukkan ke dalam. Dengan perasaan tenang dan yakin bahwa hari akan menjadi hari yang menyenangkan aku mulai memakai sepatu, jlebb! Kenapa kakiku tiba-tiba tidak muat,aku coba lagi tetap saja tidak muat, mungkin kaos kaki. Dengan santainya aku merogohkan tangan kedalam sepatu, kok dingin, empuk lagi. Buru buru aku tarik tanganku dan aku intip ..huuaaaaaa sepasang mata kecil itu melotot protes tidur siangnya diganggu. Spontan aku lempar tuh sepatu sejauh jauhnya dan mengutuk kodok itu sejadi jadinya. Sejak saat itu aku rasa takutku bertambah plus 10 kali pada kodok sampai sekarang.

Ketika Besok, Doaku Dikabulkan Tuhan


( noerazhka, 6 Januari 2011 )

Biasanya, sebentar lagi ..
Sebentar lagi, ketika cakrawala perlahan menjingga seiring kepulangan surya, ketika jubah kelam mulai dikenakan oleh alam, ketika lampu-lampu taman menyala dan memberi cahaya remang, ketika burung-burung berterbangan kembali ke sarang ..
Ketika malam datang ..
Ya, setiap kali malam datang, aku terpojok oleh ketakutan. Terikat erat di sudut ruangan. Menggigil sendirian dan meracau tak karuan ..
Sungguh ! Aku takut. Aku takut pada malam, yang seperti menyeringai, bersiap melahapku hingga tandas. Jiwaku mendadak dingin dan beku, perlahan-lahan, satu demi satu selku seperti tercerabut. Kepalaku sakit, beribu pusaran tiba-tiba tercipta begitu saja. Memusingkanku dalam sebuah teror tanpa batas ..
Keringat dingin mengalir, menjebakku dalam hawa horor yang semakin mengancam. Aku senantiasa berusaha berteriak, lepas dari segala macam tekanan, namun sekeras apapun aku berusaha, yang keluar hanya bisikan parau, bahkan aku tak yakin itu suaraku ..
Bagiku, malam bukan makhluk ramah yang mendamaikan. Dia adalah pembunuh berdarah dingin, yang siap menancapkan keheningan abadi lewat mata pisau kegelapan. Bagiku, bulan dan bintang bukan perhiasan, mereka semua adalah abdi, mata-mata setia yang tidak henti mengawasi noktah-noktah ketakutanku akan tuannya, Sang Malam ..
Oh, Malam ..
Aku takut malam ..
Aku selalu menjelma menjadi seorang pesakitan, setiap kali siang digantikan malam. Aku gila. Ketakutan seperti melihat setan ..
Sumpah, aku takut sekali pada malam ..
Jadi, Tuhan, bolehkah jika mulai besok Kau simpan saja malam di saku-Mu ? Biar sepanjang hari adalah pagi, siang dan senja saja, tanpa malam ?

###

Ditulis oleh        : noerazhka ( Nur Azizah Eka Wardhani )
FB                          : www.facebook.com/noerazhka
Twitter                                : @noerazhka
Blog                       : www.noerazhka.com

Mata Hitam


Oleh: Bintang Senja (@staronshine)



“Kau lagi.”

Ia menahan geram. Kepalanya serasa ingin meledak. Wajahnya merah seolah darah sedang dipompa terbalik dan mengalir menuju ke kepalanya. Otot-otot pengikat matanya berkontraksi, membuat sepasang mata berwarna kecokelatan itu membelalak. Adrenalinnya terpacu, tetapi bukan membawa perasaan bersemangat yang menantang. Jantungnya berpacu lebih kencang, pundaknya naik-turun karena nafasnya yang memburu. Ia mundur beberapa langkah, mengamati lawannya yang menatapnya balik dengan sorot tak terbaca. Matanya begitu hitam. Begitu menyimpan misteri.

Maureen merasa bulir keringatnya mulai menuruni pelipis. Ia mulai dilanda ketakutan. Padahal ia sudah berusaha agar tidak menampakkan ketakutannya sama sekali ketika kembali berhadapan dengan pemilik sepasang mata hitam pekat itu. Ia sudah belajar bagaimana mengatasinya, bagaimana cara mengendalikan emosinya. Rasanya... itu sama sekali tak berarti sekarang. Lawannya, ia kenal, begitu tangguh. Mereka adalah sepasang makhluk mortal yang diciptakan untuk saling melawan, setidaknya itu yang ia pikirkan. Jika Maureen tidak bergeming, maka lawannya akan menang dan vice versa. Aku harus menang, tekadnya dalam hati.

Ini bukan pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya. Sudahkah kalian jelas mengenai hal itu?

Maureen tahu kelemahannya. Di balik sepasang mata kelam, di balik kemampuan melawan gravitasi, di balik segala usahanya untuk mengalahkan Maureen. Maureen sudah mengerti strategi lawannya. Biasanya dia akan muncul tiba-tiba dan mengamati situasi untuk beberapa saat sebelum mulai mengembangkan sayapnya untuk menyerang. Ketika fase ini berlangsung, rasa takut mulai merayapi Maureen. Sampai akhirnya kini mereka kembali berhadapan berdua. Tanpa ada satupun interupsi ketika prosesi sakral tatap-menatap saling mengintimidasi itu sedang berlangsung.

Hitungan mundur, detiknya mulai.

Tiga, dua, satu.

Lawannya bergerak maju tanpa takut. Sama sekali tidak terintimidasi padahal Maureen sudah bermandikan keringat. Ujung bibirnya berkedut ketika tangannya bersiap dengan sebuah senjata untuk melawan musuh bebuyutannya itu.

Mereka, dua makhluk mortal, berperang.

SROOOT! SROOOT!! SROOOT SROOOT SROOOT!!!

“Lo ngapain, sih?” Rena mengamati Maureen, adiknya yang masih duduk di bangku SMA tersebut. Tangannya memegangi botol aerosol yang didominasi warna hijau tersebut. Jargon yang tertulis di botol itu bisa terbaca jelas oleh Rena: “Membunuh lebih efektif!”.

“Matiin kecoak. Anjir, puas banget gue. HAHAHAH.”

“Ciee, yang matiin kecoak. Eh, ada lagi tuh. Gila, terbang!”

“ANJIR, ANJIR! EMAKNYA DATENG! REEEN, TOLONGIN!”

Maureen berurai air mata ketika berlari panik masuk ke kamarnya. Seolah lupa ia sedang membawa insektisida aerosol yang bisa disemprotkan kepada lawannya yang memiliki sepasang mata sekelam malam itu.

Fear Session

Oleh Stephie Anindita (@StephieAnindita)


Jam sepuluh malam tepat. Ia menyalakan televisi. Theme song lagu konyol terdengar sebelum si pembawa acara yang berdandan ala dukun dengan gaya bicara yang mirip orang keterbelakangan mental itu menyapanya. “Selamat malam pemirsa, jumpa lagi dalam acara ‘Aduh Atut’ malam ini tim kami akan menyapa penduduk di daerah Jakarta Selatan ... seperti biasa kita akan melihat bagaimana reaksi mereka jika berhadapan dengan hantu ... langsung saja kita lihat liputannya di ‘Aduuhh Atuuuutt!’“
Ia ikut tertawa kecil bersama si dukun. Matanya memelototi layar televisi seolah tanpa berkedip, nafasnya memburu penuh semangat ketika ia melihat seseorang yang berdandan seperti monster bersembunyi di balik tiang listrik dan bersiap-siap mengejutkan si korban.
Korban pertama, seorang pemuda berkaus hitam yang tampak sangat sangar. Pemuda menjerit melengking ketika si ‘monster’ melompat ke hadapannya, pemuda yang tadinya tampak begitu berani itu berlari sampai nyaris terjatuh beberapa kali.
Ia menyumpal mulutnya dengan bantal, menahan tawanya setengah mati. Hahahaha! Konyol! Lagaknya aja kayak preman, ketemu monster dikit jejeritan! Malu-maluin! Hahahahaha!
Korban kedua, seorang ibu-ibu. Ibu-ibu itu menjerit keras, lalu pingsan di tempat. Para kru berlarian panik mendekati ibu-ibu itu dan mencoba menyadarkannya.
Ia kembali tertawa puas di balik sumpalan bantal. Rasa puasnya bertambah dua kali lipat melihat sosok yang sepertinya begitu kuat, superior seperti sosok mami di rumahnya, menangis sesenggukkan ketika akhirnya sadar dari pingsannya.
Begitu terus sepanjang acara. Ia terus menertawai setiap orang yang berhasil dikerjai di acara itu. Melihat mereka menjerit ketakutan, lari, pingsan atau menangis sementara suara tawa efek tawa diperdengarkan untuk memancing tawa pemirsa. Sebetulnya tanpa pancingan suara tawa itupun ia sudah bisa tertawa, ia merasakan rasa puas yang teramat sangat. Satu jam berlalu begitu singkat. Acara itupun habis. Ia memindahkan channel televisi. Ke acara ‘Dag Dig Dug’.
Kali ini si pembawa acara tidak bersikap selebay pembawa acara tadi, pria berdandanan jas lengkap ala vampir itu justru memasang wajah seperti orang konstipasi dan suaranya juga mengedan-ngedan entah apa maksudnya. “Selamat malam pemirsa, jumpa lagi dalam acara ‘Dag Dig dug’ ... pasti anda sudah penasaran siapa yang akan menerima kejutan malam ini. Mari kita lihat cuplikannya ...”
Layar TV menampilkan cuplikan acara hari itu. Seorang anak perempuan yang dikerjai oleh teman-temannya. Teman-temannya tahu ia takut badut, dengan alasan hendak membantu temannya itu, mereka sengaja mengundang badut ke sekolah mereka untuk mengejar-ngejar anak itu. Anak perempuan itu berteriak ketakutan, nyaris nekad melompat dari jendela kelasnya, lalu melemparkan alat-alat tulis, buku-buku dan benda lainnya ke arah si badut sambil menyumpah-nyumpah penuh amarah. Setelah itu, tampak teman-temannya menangis entah kenapa ... mungkin anak itu akhirnya pingsan? Gambar di layar televisi keburu berganti ke tayangan iklan. Sengaja begitu biar penonton penasaran.
“Malam ini bakalan seru!” desisnya penuh rasa puas.
Menonton reality show semacam itu adalah agenda wajib untuknya setiap malam. Ia merasa puas menyaksikan orang-orang yang tidak berdaya dalam ketakutan mereka, disaksikan jutaan mata yang semuanya menertawai kekonyolan-kekonyolan yang mereka buat. Ia merasa menang. Ia merasa jauh di atas orang-orang itu karena ia tidak takut dengan gelap malam, orang-orang berpakaian konyol atau bahkan hal-hal remeh seperti badut.
Ia hanya takut satu hal: yaitu cacing.
Musim hujan begini, halaman sekolah dipenuhi oleh hewan itu dan teman-temannya selalu bergerombol di sana untuk berburu cacing. Salah seorang dari mereka iseng melemparkan seekor ke arahnya dan ia menjerit ketakutan sampai nyaris menangis.
Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Sekolah menjadi neraka dunia untuknya. Cacing itu ada di mana-mana. Di dalam tasnya, di dalam kotak pensilnya, di kamar mandi, jatuh di atas kepalanya ... tentu saja semua itu ulah teman-temannya.
“Bego banget sih loe, badan doang yang gede tapi nyali loe ayam! Sama cacing aja takut!”
Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan pada teman-temannya. Ia sangat takut pada cacing... apalagi membayangkan hewan itu mengeliat-ngeliat di atas kulitnya ... ia bisa mati ketakutan rasanya! Ia berusaha meminta pertolongan pada guru, tapi setelah guru menegur teman-temannya, mereka justru mengerjainya lebih lagi.
“Dasar tukang ngadu!”
“Nyolot! Penjilat! Awas kalau loe berani ngadu lagi!”
Ia mencoba  lari dari masalah. Menghindari sekolah. Awalnya keluarganya sekolah masih mengijinkannya membolos, tapi lama-lama mereka ikut-ikutan merasa kesal padanya. Membentaknya supaya tidak berkelakuan seperti anak kecil dan mengancam memindahkannya ke sekolah asrama. Membayangkan ‘disidang’ seperti seorang kakak sepupunya yang ternyata seorang gay dan berakhir di sebuah sekolah asrama khusus pria yang sangat keras membuatnya bergidik. Ia tidak yakin asrama putri akan lebih baik ... setidaknya di sini, ia masih bisa merasa aman di rumah.
Cengirannya semakin lebar ketika iklan akhirnya selesai dan acara itupun di mulai. Tampak teman-teman si korban sedang mengajak si korban masuk ke kelas, sementara si badut bersiap-siap melompat dari balik lemari.
Here we go again ... hahahahahaha!!

Tidak Takut

Oleh Gabby Laupa (@GabbyLaupa)

Suara angin berdesing di telingaku. Dari kejauhan kulihat air yang beriak, pasir yang berkilau tertimpa cahaya matahari, titik-titik hitam berkumpul di sekitarnya. Kupejamkan mataku. Satu, dua, tiga..aku menghitung dalam hati. Sensasi ini tidak akan pernah kulupakan. Dan anehnya aku tenang. Tidak berontak sama sekali. Kurasakan tanganku berkeringat dingin sambil mencengkeram tali nilon tebal yang menyelubungiku dari betis hingga perut. Aku ingin berteriak tapi tak sanggup. Tubuhku seakan terkesima dengan pengalaman baru ini.

Suara angin masih berdesing di telingaku. Kulihat ke atas, warna warni parasut menaungiku. Kulihat ke bawah, aneh, aku tidak pusing. Masih ada satu putaran pulau lagi untuk sampai ke tempat tujuan. Tidak sedikitpun jantungku berdetak lebih kencang daripada biasanya. Padahal tadi aku hampir menangis ketika tali nilon itu menyelubungi setengah tubuhku. Tapi setelah berada disini, semuanya terlihat biasa saja. Menakjubkan, tapi aku tidak takut sama sekali.

Suara angin tetap berdesing di telingaku. Rasanya aku tidak keberatan untuk menghabiskan waktu seharian untuk berada disini. Aku tidak bisa berteriak kepada siapapun. Percuma, suaraku tidak akan bisa didengar. Aku tenang diatas sini. Menikmati apa yang selama ini aku takuti. Masih beberapa menit lagi untuk sampai ke tempat tujuan. Rasanya aku tidak ingin perjalanan singkat ini berakhir. Aku menikmatinya. Aku tidak menangis karena ini. Aku menikmatinya, sungguh! Oh inikah rasanya kehilangan rasa takut terhadap sesuatu itu?

COULROPHOBIA


Oleh Dita Firdiana F
Website: http://ditafirdiana.com 
twitter: http://twitter.com/fairyteeth


Shoot!! Kenapa tu mahluk gendut jelek harus nangkring di depan situ sih.. Gw kan harus muter jauh buat naik escalator.

Yak pasang pandangan lurus kedepan, gak usah nengok-nengok ke arah mahluk jelek itu, anggep aja gak ada apa-apa. Terus maju sambil melipir deket tembok sejauh mungkin darinya, langkahkan kaki secepat dan sesigap mungkin.

"Diiiiiitttt... Liat sini donk, badutnya lucu kaaaaann?" Panggilan iseng dari kawan saya yang tau kalo saya takut banget sama yang namanya badut.

"Jangan sombong gitu aaaahh, gw mau poto sama badutnya dulu yaa.. Ikutan donk sini..." Lanjutnya sambil memanas-manasi hati ku.

"Siyaaaauuuullll..." Teriakku sambil langsung ambil langkah seribu, karena malu ketahuan orang banyak bahwasanya saya takut badut.


--

Fobia Mungkin


Oleh Yomi Hanna (@Omidgreeny)


Tahukah kamu?
jantungku sepertinya tidak normal
berdetak terus menerus tanpa ada ketukan yang jelas
temponya berantakan
aku seperti dikejar setan
tapi tidak juga
aku dikejar bayangmu

Tahukah kamu?
Ketika kau mulai senyum padaku
ada sedikit rasa takut
tidak, tidak, tidak
bukan sedikit, tetap sangat banyak rasa takut
itu pertama kalinya kau tersenyum padaku
sekujur tubuhku melemah
kakiku seolah mengalami keram parah
tidak dapat berdiri tegak
hanya ingin melemaskan diri saja
jatuh di atas lamunanku akanmu

Tahukah kamu?
memikirkanmu adalah ketakutanku
menyita waktuku
mengaburkan kenormalanku
aku seperti terhimpit antara di dunia nyata atau semu
seakan tidak percaya itu kamu
yang sekarang sedang menyatakan cinta padaku.
Aku tidak percaya
karena kau adalah kefobiaanku
membuat hatiku menjerit tetapi tidak menolongnya
membuat bibirku mengelu tetapi tidak menghiraukannya
kau, aku tidak menginginkan kau
jangan pernah membuat kau adalah nyata bagiku
tetaplah di dunia mimpiku
karena di dalam khayal
aku tidak akan pernah takut kehilanganmu
sedangkan di dunia nyata
aku takut, aku tidak sanggup memikirkannya
aku fobia
aku fobia
dan aku sangat fobia padamu
tidak berani membuka mata
ketika kau benar-benar menjadi milikku
aku takut kehilanganmu
jadi, tetaplah di sana,
di sudut hatiku yang menemaniku di kala ku sedang terlelap
karena dengan begitu
aku tidak akan takut kehilanganmu

“kefobiaanku padamu, apakah karena takut kehilanganmu? ya, aku sangat takut kehilanganmu”



Semerlap


By Aditya Mahapradnya @aditm



Aku sudah hafal betul lesung pipitnya ketika ia tersenyum.  Ia juga sudah hafal ekspresi wajahku ketika aku melihat senyumnya.  Chemistri seperti ini terbentuk dengan sendirinya.  Dengannya, entah kenapa aku begitu bahagia, walaupun.. aku bukan siapa-siapanya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua ini.  Aku cuma merasa trauma.  Aku takut dengan perpisahan.  Itulah mengapa, sampai saat ini, aku tidak menyatakan perasaanku padanya.  Mungkin kami berdua sudah saling mengetahui perasaan masing-masing kepada satu sama lain, tetapi, sungguh, aku hanya merasa belum sanggup.

Bukannya aku diam saja, dulu, pernah sempat beberapa kali akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya, tetapi setiap kata-kata itu ingin kutumpahkan begitu saja, otakku langsung dengan otomatis memutar kembali  kumpulan-kumpulan memori kelam yang dahulu menyapa.  Aku masih belum sempurna menyatukan asa bahagia.


***


Karena itulah, aku memahami dirimu yang belum sanggup menyatakan cintamu kepadaku.  Aku tahu, kau bukannya tak berani kembali jatuh cinta, atau menyusun kembali relung-relung asa.  Setiap kali kau ditanya oleh temanmu mengapa tak meresmikan saja hubungan kita lalu mempersunting diriku, kau selalu menjawab, masih trauma dengan perpisahan, dan masih  mencoba melawan kelemahanmu itu, dan teman-temanmu akhirnya menerima alasanmu walau ada beberapa yang menyayangkannya.  

Percayalah, hanya aku yang tak percaya dengan alasanmu itu.  Hanya aku yang tak percaya dengan alasan perpisahanmu yang cukup masuk akal itu.  Aku berani bertaruh, dengan apapun atau siapa saja, kau bukannya takut dengan perpisahan, kau cuma takut kembali aku kecewakan.. 



http://adityamahaprajnya.blogspot.com/

Fobia

Oleh Icak


Seperti biasanya kau bergumam dan berbicara tentang berbagai hal yang terlalu banyak. Tidak enak didengar, panjang dan bertele-tele.

Cukup di jawab dengan gumaman saja. Saya benar-benar merasa bosan.

Mulut yang tak henti-hentinya berbicara itu mulai terlihat melambat, bagai adegan  dramatis dalam sinetron-sinetron berbiaya rendah. Tiba-tiba pikiran saya meloncat pada suatu topik.

Apa rasanya ya memiliki Fobia?

Apakah itu sama dengan rasa takut yang saya rasakan saat melihat kecoa? Biasanya saat melihat kecoa yang terjadi adalah badan saya mengeluarkan keringat dingin, bulu kuduk berdiri (bulu kuduk? Kalau saya melihat kecoa, yang berdiri sepertinya bulu tengkuk bukan bulu kuduk. Apa sih kuduk itu?), lalu saya akan berlari mencari lokasi aman terjauh sambil berteriak ketakutan.

Atau itu yang dimaksud Fobia?

Bukan! Orang-orang yang memiliki fobia itu menderita rasa takut yang tak beralasan! Saya bukan orang yang memiliki fobia! Karena rasa takut saya beralasan! Kecoa itu menjijikkan dan membawa penyakit. Manusia bisa mati jika kena penyakit yg dibawa kecoa. Masuk akal kan? Masuk akal kenapa saya takut kecoa.

Bayangkan, kaki-kakinya yang berduri tipis, sayapnya yang mengkilat, kemudian ia terbang dan jatuh di mukamu.

Ukh, tiba-tiba saya merasakan mual yang sangat, dan sepertinya dunia menjadi lebih gelap.

“Dok, Dok?”, tanyamu memanggil saya.

Pandangan saya perlahan-lahan menjadi jelas kembali .

“Sebenarnya apa penyakit saya?”

Saya berusaha tersenyum menenangkan dan menjawab, “Sepertinya itu fobia, mungkin lebih tepat dibicarakan dengan psikolog”

Lalu saya membuka catatan yang berisi puluhan nama psikolog yang direkomendasikan oleh  teman-teman saya, untuk saya.
****
Yokohama, Jumat 07/01/2011 00:00 JST
Darmastyo

  

Phobia Kehidupan

Oleh Laily Maharani (@maharaniezy)


Selama ini aku selalu takut.
Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut.
Dan pelan tapi pasti ketakutan membawa perubahan.
Dan faktanya terlalu banyak yang berubah setelah tahun-tahun muram belakangan ini. Tahun yang kalau bisa kupilih untuk dilewatkan. Tahun ini puncaknya. Aku seperti kesetanan.

Setan yang tidak bisa terbang. Setan yang bersisik sesat kepada setiap orang yang aku kenal. Setan penghasut. Ya !  Aku jadi pemarah. Menjadi pemarah tidak jelek selama kemarahan itu punya alasan.

Masalahnya, adalah aku tidak pernah punya alasan untuk bisa marah.

Aku marah pada selingkuhanku  karena dia cuek belakangan ini. Aku marah pada suami karena ia kecepatan pulang saat aku sedang asyik bercinta di kamar sebelah dengan selingkuhan. Aku marah pada anak karena  dia bodoh. Hasil ujiannya jelek-jelek. Aku marah pada satpam karena mereka ketiduran. Aku marah pada Jakarta yang macet. Aku benci melihat banyak orang miskin meminta-minta di jalanan. Aku marah pada perutku yang buncit tanpa sudi mengontrol makanan. Ya ! Aku marah ! Aku selalu marah-marah !


Suatu hari suamiku pulang dan memutuskan sesuatu. Kita bercerai, katanya singkat. Mendadak sekali. Aku tidak suka semua ini. Aku selalu menjadi istri yang sempurna di depan dia. Aku berselingkuh secara rapi, dan diam-diam. Mengapa dia mengambil keputusan sepihak yang berat sebelah seperti ini ?

. Aku tidak mau mengubah kodrat jadi anti sosial. Perceraian berarti hidup sendiri. Suamiku mengambil anakku . Anak yang katanya jarang aku urus. Anak yang sering menjadi tumpahan kemarahanku. Anak yang sembilan bulan lebih 3 hari bersemayam di perutku. Ah, sudahlah.

Hari itu suamiku pulang, hari itu suamiku tidak pulang.
Minggu itu suamiku pulang, minggu  itu suamiku tidak pulang.
Tahun kemarin dia hidup bersamaku, bisa jadi tahun depan hidup bersama sekretarisnya.

Suamiku mengambil tas besar dan mengosongkan isi lemari pakaian. Lalu ia mengambil kunci mobil dan menghilang. Sepertinya ia sedang marah bukan kepalang. Aku diam memperhatikannya. Aku tidak bisa marah seenak udel sekarang. Tidak boleh ada dua orang marah di waktu bersamaan.

Pagi ini aku bangun tanpa teman. Suamiku benar-benar keterlaluan. Karena aku sendirian. Dengan penuh raut wajah keheranan. Aku tetap tanpa teman.. Suamiku berpikir, tugas istri adalah menyiapkan makanan, dan menyediakan badan

. Kulihat jam dinding yang juga membuatku marah karena bunyinya kekerasan. Pukul 3 siang. Anakku pasti sudah keluar dari sekolah   Ini waktunya kembali main ibu-ibuan. Aku bukan ibu yang benar. Atau aku tidak benar-benar menjadi ibunya.

Malas aku beringsut dari tempat tidur. Membatin, betapa enaknya jadi penganggur. Kupilih pakaian yang berwarna teratur. Anakku tidak boleh malu dijemput oleh ibunya yang seorang pelacur.

Tiba di sekolah, aku disambut dengan wajah cemberut. Anakku hanya bermain PSP nya tanpa melihat ibunya yang marah dan pemalas ini mengangkat bokong lebarnya untuk menjemput dia.
Aku kesal melihatnya. Aku selalu kesal melihat apapun. Apalagi karena anakku begitu mirip ayahnya. Aku panggil namanya. Aku jadi marah-marah. Anakku memiliki nama sama dengan bapaknya. Ingin kucabik saja . Aku benci minta ampun setiap mengingat ayahnya. Karena lelaki durjana itu meninggalkan aku sendirian. Tanpa teman.

Teringat percakapan terakhir dengan durjana setengah baya itu :
"Maumu apa jalang?"
"Perceraian, suami bajingan!"
"Baik! Minggu depan semuanya selesai! "
"Kenapa tidak esok hari saja? Kamu orang berduit. Uangmu tidak bisa mempercepat proses ya "
"Aku banyak kerjaan. Urusanku bukan cuma kamu,!"
"Lebih cepat lebih baik, Brengsek !"

Setelah itu pintu dibanting. Kaca retak dan ujungnya pecah. Aku mengambil ujungnya lalu menggoreskan di sepanjang nadi ku. Padahal aku phobia darah ! Sedari dulu setiap melihat darah menitik saja aku akan menjerit minta ampun. Aku takut rasa sakit. Aku takut. Aku sangat takut.

Tetapi itu sebelum aku mengenal desiran adrenalin. Sebelum aku menjelma menjadi tukang cari masalah. Sebelum aku menjadi seorang hiperseks dan psikopat pemarah. Sebelum aku menjadi aku yang sekarang.

Kugambar banyak simbol di sepanjang lenganku. Lalu mulai menggores di sepanjang pahaku, dan kaki belalangku. Kaki yang menghantarkanku menjadi model terkenal lalu menikahi lelaki membosankan ini. Aku benci kakiku. Garis-garis membentuk baris-baris. Darah seperti cat saja mengalir meresap di seprai kamar tidurku. Merah kehitaman. Dengan bau agak anyir dan segar. Aku jadi suka darah.  

Aku tidur  dengan banyak luka. Luka hati dan luka fisik. Setidaknya aku ditemani, oleh luka. Daripada tidur tak berteman. Lebih baik tidak usah bangun sekalian.
Ya !
Aku phobia pada kehidupan. Mati saja kalau begitu.