Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 05 Oktober 2010

Gadis Patah Hati

Oleh: Rose Princess

Usia perempuan itu sekarang 27 tahun. Usia yang sudah cukup matang untuk menikah, membangun keluarga kecil sederhana, dan hidup bahagia di dalamnya. Tapi ia malah sibuk mendaftarkan diri untuk mengambil kuliah Master-nya di Jurusan Hukum. Ia tak puas dengan hanya mendapat dua gelar di belakang namanya. Menurutnya nama itu masih kurang panjang, kurang memiliki prestise.

Sepanjang sejarah karirnya, ia telah memenangkan begitu banyak kasus. Selama menjadi seorang pengacara, ia selalu bisa memuaskan hati kliennya. Tak banyak yang bisa mendebatnya baik di dalam ruang pengadilan maupun di luar ruang pengadilan. Ia juga cukup cantik dan menarik. Tubuhnya proporsional dengan tinggi 170 cm dan berat 50 kg, berkulit kuning langsat dan berambut panjang ikal alami. Penampilan fisiknya anggun, elegan, tapi sangat Indonesia.

Banyak orang bertanya mengapa ia tak segera menikah? Apakah mungkin perempuan se-sempurna dia sulit mendapatkan pasangan hidup? Tapi banyak pula yang menebak, mungkin ia tak ingin segera menikah karena fokus pada kuliah dan karirnya.

Hanya perempuan itu yang tahu, alasan mengapa ia tidak menikah. Sebut saja namanya Gadis.

Ketika usianya 17, saat masih mengenakan seragam putih-abu, dia jatuh cinta pada seniornya, sang Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Cinta itu lantas bertepuk sebelah tangan karena sang senior menolak mentah-mentah ketika perempuan itu memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.

Gadis patah hati, tapi ia belajar dari sakitnya. Bahwa mungkin ada yang salah dengan penampilan atau tingkah lakunya. Pelan tapi pasti Gadis mengubah penampilannya, dari gadis berkacamata yang lugu menjadi gadis feminim yang memiliki banyak prestasi. Bunga kemudian bisa menjadi Ketua OSIS setelah seniornya yang menolaknya itu lengser. Tak hanya itu, Gadis juga memenangkan banyak lomba baik antar sekolah se-Kabupaten sampai tingkat Nasional.

Saat masuk kuliah, Gadis kembali jatuh cinta, tapi kali ini pada teman kelasnya sendiri yang seumuran. Gadis tak lagi bertepuk sebelah tangan. Ia akhirnya bisa merasakan mencintai dan dicintai. Bersama laki-laki itu Gadis menghabiskan masa kuliahnya. Hanya dengan laki-laki itu saja Gadis menjalin cinta. Tapi semakin lama hubungan itu terjalin, sifat buruk si laki-laki mulai tampak. Gadis mungkin harus menerima sifat buruk kekasihnya apa adanya, tapi tidak dengan tindak kekerasan yang dilakukannya. Berulang kali Gadis mendapatkan pukulan, tamparan, bahkan tendangan setiap kali mereka bertengkar. Akhirnya Gadis memutuskan berpisah dengan laki-laki itu setelah ia pingsan dan harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu. Orang tuanya hampir-hampir membawa kasus ini ke pengadilan tapi Gadis mencegahnya. Ia hanya ingin menjauh dari laki-laki itu, hanya itu yang bisa membuatnya sembuh.
Lulus kuliah dan menyandang gelar Sarjana Strata Satu di bidang hukum, Gadis kemudian bekerja di sebuah Lembaga Bantuan Hukum. Dari sana karirnya dimulai. Ia menjadi pengacara yang mau terus belajar sehingga kasus-kasus yang ditanganinya selalu berakhir dengan senyuman dari klien-nya. Gadis kemudian berpacaran dengan salah satu kliennya. Ia bahkan dibantu oleh kliennya -yang kemudian menjadi kekasihnya itu- untuk bergabung di salah satu Firma Hukum. Gadis tak tahu kalau kekasih barunya itu ternyata telah memiliki istri dan anak. Saat semuanya terungkap, Untuk menyembuhkan luka akibat patah hati, Gadis mengundurkan diri dari Firma Hukum tersebut lalu memutuskan untuk melanjutkan kuliah pascasarjana-nya.

Di tempat kuliah barunya itu, lagi-lagi Gadis jatuh cinta, tapi kali ini dengan dosennya sendiri. Setelah berusaha melakukan pendekatan, bahkan sang dosen seakan memberi sinyal yang sama, akhirnya Gadis memberanikan diri menyatakan perasaannya. Ternyata kali ini Gadis kembali harus bertepuk sebelah tangan. Sang dosen tidak bisa menerima cintanya karena sedang fokus menyusun tesis. Mendapat penolakan seperti itu, Gadis melampiaskan patah hatinya pada buku. Ia menulis buku yang bertema hukum. Buku itu ternyata diterbitkan dan mendapat gelar “best seller” hanya dalam waktu dua bulan sejak peluncurannya. Ia telah membuktikan pada pujaan hatinya bahwa ia “Bukan Gadis Biasa-biasa Saja”.

Kini setelah menyelesaikan Disertasi dan mendapat gelar Magister di Bidang Hukum, Gadis masih belum puas pada apa yang dicapainya, Padahal selain gelar Magister, ia juga kini telah mendapat banyak klien besar seperti pengusaha-pengusaha, bahkan politisi. Tapi Gadis masih terus ingin kuliah, ingin menambah gelar di belakang namanya.

Apa pasal? Karena ia ia jatuh cinta lagi. Kali ini ia jatuh cinta pada seorang eksekutif muda pemilik perusahaan otomotif di Jakarta. Laki-laki itu mewarisi perusahaan milik keluarganya. Bukan harta yang membuat Gadis jatuh cinta pada laki-laki itu, tapi karena mereka sering bertemu di lift apartemen, setiap kali Gadis berangkat dan pulang kerja. Jam berangkat kerja dan pulang kerja mereka sama. Gadis yakin itu pertanda baik, mungkin laki-laki itu adalah jodohnya. Setelah mencari tahu siapa laki-laki itu, Gadis terkejut karena ternyata laki-laki itu adalah teman kecilnya dulu. Mereka bertemu lagi setelah puluhan tahun tak bertemu.

Mereka memang akhirnya menjalin kembali hubungan itu. Gadis kembali merasakan mencintai dan dicintai, kali ini cintanya berbalas. Tapi laki-laki itu tidak setia. Teman kecilnya yang lucu, yang selalu membelanya ketika ia diganggu oleh anak laki-laki yang lainnya dulu, teman kecilnya yang selalu menghapus air matanya, teman kecilnya yang kini hampir menjadi teman hidupnya, ternyata berselingkuh. Laki-laki itu tak bisa setia, meski Gadis termasuk tipe perempuan yang nyaris sempurna.

Sejak itu Gadis melanjutkan kuliah Master-nya. Ia bertekad akan menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin, lalu akan mendirikan Lembaga Bantuan Hukum sendiri. Ia juga berniat membuka usaha restaurant yang khusus menjual masakan-masakan khas dari seluruh pelosok Indonesia.

Gadis tertawa sendiri di sudut jendela apartemen-nya, mengingat perjalanan kisah cintanya dan perjalanan hidupnya sejauh ini, tapi sejenak kemudian ia menangis. Hatinya begitu sakit. Wajah-wajah telah dan datang dan telah pergi dalam hidupnya, tapi tak ada yang bisa membuatnya tersenyum. Jalan hidupnya seakan enggan membawanya kepada akhir yang bahagia.

Ia mencoba mencari-cari, merenungkan apa yang salah pada dirinya. Ia kini telah nyaris sempurna, tapi mengapa tak ada laki-laki yang bisa membahagiakannya? Apa yang laki-laki cari dan tak ada dalam dirinya?


***

Gadis terus melanjutkan hidupnya, terus memperbaiki kualitas dirinya agar ada laki-laki yang bisa  membahagiakannya dalam cinta. Ia lupa bahwa dengan begitu ia justru belum mencintai dirinya sendiri. Ia berubah menjadi lebih baik hanya untuk mendapat perhatian orang lain. Ia lupa,bahwa jika ia berubah untuk dirinya sendiri, untuk kebaikannya sendiri, maka kebahagiaan itu akan menghampirinya tanpa ia duga. Ia tak perlu mengejar, tak perlu berlari, kebahagiaan itu ada dalam hatinya, tak pernah pergi dari sana. Tapi ia selalu mencarinya di hati orang lain,di hati laki-laki yang justru tak pernah bisa membuatnya bahagia. Andai ia tahu bagaimana mencintai dirinya, tentu ia tak harus masuk rumah sakit jiwa sebulan yang lalu.

Sebulan lalu, Gadis berteriak-teriak di apartemennya, hampir melompat keluar jendela. Tindakannya memancing penghuni apartemen untuk memanggil petugas keamanan. Tapi petugas keamanan saja tak sanggup menenangkannya. Gadis kemudian menjadi berita utama di Koran lokal karena berhasil membuat anggota kepolisian dan wartawan berkumpul di kamarnya untuk meliput tindakan nekatnya yang mencoba melompat dari jendela apartemen. Untung polisi berhasil menggagalkan rencananya.

Saya sebagai sahabatnya hanya bisa mendoakan semoga kondisi kejiwaan Gadis bisa segera pulih. Selama ini saya hanya tahu bahwa ia adalah perempuan sempurna, punya karir cemerlang, pendidikan tinggi, dan fisiknya begitu menawan. Gadis adalah perempuan yang sangat tertutup, ia tak pernah menceritakan apapun tentang dirinya pada saya. Selama sepuluh tahun kami bersahabat, kami hanya menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas sekolah dan tugas kampus bersama, makan, nonton, main ke luar kota,tanpa pernah saling bertukar cerita pribadi.

Saya baru tahu kisahnya dari buku hariannya, justru setelah ia masuk rumah sakit jiwa. Dari psikiater yang merawatnya, saya baru tahu bahwa Gadis selama ini tidak bahagia dengan kehidupannya. Ia mencari kebahagiaan yang sesungguhnya sudah ada dalam  hatinya, dalam dirinya, seandainya saja ia bisa lebih mengenali dan mencintai dirinya sendiri …

Saya pikir ia tak pernah kesepian, saya pikir ia menikmati kehidupannya, dengan atau tanpa saya. Seandainya saya tahu hal  ini sejak awal, tentu saya akan jadi orang pertama dan satu-satunya yang mencintai dan membahagiakan dia.

Saya mencintai Gadis. Saya pikir dengan menjadi sahabatnya seumur hidup, saya akan bisa membahagiakannya. Saya pikir selama ini saya sudah cukup baik menjaganya, cukup membuatnya nyaman, tapi ternyata ia bukan butuh sahabat, tetapi kekasih.  Dan  laki-laki itu mungkin saya, jika saja saya berani mengungkapkan perasaan saya, kekaguman saya, rasa cinta saya yang  utuh  saya persembahkan selama bertahun-tahun hanya untuk Gadis seorang.

Ah Gadis …

Love Letter For 123

oleh (Twitter): @motazella
blog : penulishujan.blogspot.com
tema : unrequited love

--------------------------

Dear 123, 
Malem ini, tiba-tiba gue kangen banget sama lo. Kadang kalo gue lagi kangen-kangennya sama lo, tiba-tiba lo suka sms gue atau malah kita saling SMS-an pada waktu yang sama. Inikah pertanda? Ngarep.com.
Gue sering mimpiin lo, 123. Sering mimpi kita bakal membina bahtera rumah tangga bersama, bakal jadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita nantinya, bakal jadi ‘sahabat’ dalam ikatan perkawinan hingga tua ntar. 
Karena gue sayang banget sama lo, makanya mimpi gue bisa sejauh itu. Karena gue merasa bahwa segala kelebihan lo memikat gue, juga kekurangan lo. 
Gue sedih ngeliat lo sedih, cemas ngeliat lo sakit, menderita juga saat lo ceritain tentang kecengan-kecengan cowok lo. 
It’s just….too hard for me to love a gay like you. Ini pengalaman pertama banget, gue suka sama orang, dan orang itu penyuka sesama jenis. Ini pengalaman pertama juga bagi gue, bisa temenan deket nan akrab bareng gay kayak lo.
Gue tau kekurangan lo, tau banget. Tapi gue masih bisa bersabar dan nerima itu, rasa sayang gue melebihi segalanya. Meski lo gay, meski lo sebenernya jauh dari tipe cowo kesukaan gue pada umumnya, gue sayang banget sama lo. 
Gue pun ada buat lo, buat dukung lo, buat dengerin celoteh lo tentang kecengan yang lo suka, buat dengerin keluh kesah lo, buat dengerin keceriaan lo, semua itu gue lakuin karena gue suka sama lo. 
Dulu, gue akuin, awal-awal saat lo ceritain tentang kecengan lo, gue memasang topeng tebel banget. Gue berusaha menahan tangisan gue di depan lo, saat lo dengan menggebu-gebu menceritakan betapa lo sangat menyukai seorang cowok. It hurts so bad, tapi gue sabar-sabarin, gue dengerin cerita lo, karena gue menikmati tiap detail dalam kehidupan lo. Rasanya gue gak bisa kalo gak up to date tentang berita lo. Gue pengen tau segalanya tentang lo, dan gue juga pengen lo bisa terus percayain gue buat dijadiin temen cerita. 
Tapi gue inget, di masa itu, topeng gue beneran tipis banget dan susah untuk dipasang, air mata gue tumpah di depan lo, gue ingeeeeet banget pas kita berdua lagi makan bareng. Secara tiba-tiba gue nangis di depan lo, tanpa alasan yang jelas. Dan lo hanya ngeliat gue dengan bingung sembari bertanya-tanya kenapa.
Kata sebagian temen gue sih, lo gak sadar kalo gue selama ini suka sama lo, sayang sama lo. Tapi ada juga yang bilang, lo pasti tau kalo gue menyimpan perasaan mendalam sama lo. Well, gue gak terlalu memperdulikan itu sih, as long as gue bisa terus deket sama lo, ngejagain lo, dengerin lo cerita, gue udah sangat bahagia, you know that? :)
Terjebak di sebuah malam yang membuat gue melabil mikirin lo itu bener-bener gak enak deh, really. I just love you, just the way you are. Even though you’re a gay, i don’t care, i still love you, and i simply don’t know why. Anyway, is love always begin with a word ‘why’? I don’t think so, 123. 
I just can’t wait to see you and talk to you like we used to do. 
I will always love you, 123. Now. And maybe forever. Cause it’s really hard for me to erase you from my heart and mind. You are like my stamp. And my heart is like an envelope. It sticks to each other, and is so hard to be appart. Sebuah kesatuan. 
If we weren’t meant to be, why can’t my heart elliminate your face from my mind? God, show me my way. I do love him. What must i do?
Sincerely yours,
456.

Stuck In My Heart


Oleh Ifnur Hikmah
Twitter: @iiphche

Jakarta sore hari....
Hujan sepertinya sudah menjadi makanan sehari-hari warga Jakarta beberapa hari belakangan ini. Kalau saja hujan bisa dijadikan alasan untuk bermalas-malasan, pasti semua orang akan bergelung di balik selimut tebal mereka. Tapi apa daya? Ada hidup yang harus dijalani. Ada mulut yang harus di beri makan. Alhasil, terpaksalah membelah jalanan di tengah hujan deras seperti ini. Dan, seperti sebuah lingkaran setan, habis (atau ketika) hujan, pasti ada efek lanjutannya, macet. Terutama saat after office hour, niat yang semula ingin ‘tenggo' terpaksa dibatalkan. Dimana-mana macet, stuck, hujan, genangan air, jarak pandang terbatas, semua sama.
Langit Jakarta gelap. Matahari terpaksa mengalah dan rela ditutupi awan. Penerangan hanya berasal dari warna warni lampu kendaraan yang tidak bergerak.
Aku menarik nafas berat dan mengganti tangan kanan yang sejak tadi memegang tiang agar tidak jatuh dengan tangan kiri. Setengah jam berdiri ternyata cukup membuatku pegal-pegal. Aku melirik tetesan hujan di jendela bus transjakarta yang ku tumpangi. Aku suka hujan, tapi tidak suka jika harus mobile saat hujan. Namun, pekerjaanku sebagai wartawan lifestyle (kedengarannya keren bukan?) tidak memungkinkan untuk bermalas-malasan di rumah kontrakanku. Mau cuaca panas, hujan deras atau banjir sekalipun, yang namanya deadline tetap tidak bisa ditoleransi. Selama otak masih bisa dipakai untuk berpikir dan tangan masih bisa memencet keyboard komputer, maka kerjaan pun jalan terus.
Seperti halnya hari ini. Jakarta sedang di guyur hujan deras. Dari radio yang terkoneksi ke telepon genggamku, aku mengetahui kalau di beberapa titik mobil-mobil bahkan tidak berjalan. Hal ini ku buktikan sendiri ketika aku melewati daerah Kuningan, kemacetan sudah terlihat.
Aku melirik jam tangan hitamku. Sudah pukul setengah empat. 30 menit lagi aku sudah harus berada di Grand Indonesia untuk menghadiri acara peluncuran sebuah produk perawatan rambut terbaru. Aku sedikit beruntung busway memiliki privilege jalan milik sendiri sehingga saat orang-orang di mobil pribadi mereka hanya bisa ngedumel karena macet, si busway bisa melenggang dengan angkuhnya. Aku sedikit tertolong dari keterlambatan. Bagaimanapun, busway adalah angkutan favoritku. Selain karena rutenya kemana-mana, bus ini jelas lebih cepat, di banding taxi sekalipun. Well, aku memang masih harus mengandalkan angkutan umum karena aku baru bekerja setahun ini dan gajiku belum terkumpul untuk membeli kendaraan. Lagipula, jika aku punya rejeki berlebih, aku memilih untuk menyewa apartemen di pusat Jakarta dulu agar aku tidak harus bolak balik ke rumah kontrakanku yang ada di daerah pinggiran sana. Ah, sudahlah. Aku tetap mencintai pekerjaanku.
Si busway berhenti di halte Karet Kuningan. Beberapa orang masuk dan mencipratkan butiran hujan yang menempel di tubuh mereka. Sebagian besarnya adalah para eksekutif muda yang sepertinya sama sepertiku: masih mengandalkan angkutan umum akibat tabungan yang belum mencukupi untuk membeli kendaraan pribadi (Kendaraan maksudku adalah mobil karena di otakku, motor bukanlah jenis kendaraan yang layak pakai). Aku beringsut agak ke dalam, memberikan tempatku untuk di tempati pendatang baru tersebut.
Hujan masih turun. Kaca jendela sudah berembun. Aku mendengus kesal karena tidak bisa leluasa lagi memandang ke luar. Aku mengedarkan pandang di dalam busway, mencari-cari sesuatu yang mungkin saja enak di lihat.
Oh, aku menemukannya. Berjarak dua orang dari tempatku. Awalnya aku merasa ragu dengan penglihatanku karena dari tempatku berdiri, dia tertutup oleh ibu-ibu gendut berbaju batik yang tak hentinya mengoceh tentang hujan. Aku beringsut agak mendekat dan memindahkan pegangan tanganku. Dengan sedikit menjulurkan leher, aku baru yakin kalau aku tidak salah lihat.
Dia berdiri di sana, tidak jauh dariku, mengenakan kemeja biru muda dengan dasi yang terpasang longgar, celana katun hitam dan sepatu pantofel hitam. Sebuah tas laptop tersampir di pundak kanannya sementara tangan kirinya memegang pegangan dengan kuat sampai-sampai buku tangannya memutih. Dia menoleh ke samping kanan, tampak asyik berbicara dengan seorang perempuan berpakaian rapi yang ikut berdiri di sebelahnya. Sesekali perempuan itu tertawa kecil dan membalas omongannya.
Pria itu....
Hatiku tercekat....
Dadaku berdebar kencang....
Busway berhenti di halte Kuningan Madya. Beberapa penumpuang turun dan ibu-ibu gendut yang menghalangiku menatapnya pun ikut turun. Puji Tuhan dia merengsek masuk karena semakin banyak yang naik ke busway. Dia berdiri di sampingku, tanpa satu pun penumpang yang membatasi kami.
"Josh," gumamku pelan tapi mampu membuat diriku sendiri terperanjat. Bagaimana mungkin aku nekat memanggilnya? Kami dekat -sekaligus tidak dekat-, hanya teman satu kampus dulu dan sejak hari kami di wisuda, aku jarang bertemu dengannya. Aku sibuk dengan pekerjaanku sedangkan dia, yang ku tahu sudah di terima di perusahaan periklanan ternama bahkan sejak dia masih di semester akhir. Aku mengutuk kebodohanku. Dia bisa saja tidak mengenaliku. Aku yang sekarang tidak sama dengan diriku ketika kuliah dulu. Silakan puji majalah tempatku bekerja yang berhasil mengubah mind set-ku sehingga menjadi seseorang yang sangat mempedulikan penampilan. Selain itu, aku tidak masuk ke geng populer semasa kuliah sedangkan dia adalah salah seorang idola kampuas. Kami kenal hanya karena sering sekelas, ditambah fakta bahwa kami kuliah di fakultas yang sama.
Josh menoleh ke arahku. OK, aku harus berani menganggung malu kalau-kalau dia benar tidak mengenaliku.
"Damia?" ujarnya dengan dahi berkerut. Beberapa lipatan terpahat sempurna di dahinya yang putih bersih itu.
Aku terperangah. Dia mengenaliku? Bahkan, dia masih mengingat namaku. Thanks God..
Aku tersenyum senang.
"Udah lama nggak ketemu. Apa kabar?" tanyanya.
Sejurus kemudian, kami pun langsung terlibat pembicaraan seru. Sejenak dia mengabaikan perempuan yang tadi mengobrol bersamanya -well, ternyata itu rekan kerjanya yang kebetulan rumahnya searah-. Dia menanyakan kesibukanku dan aku juga menanyakan aktivitasnya sekarang. Ternyata dia masih bekerja di perusahaan yang sama dan sudah menjabat sebagai Senior Account Executive. Wow, dia masih muda dan pencapaiannya sudah lumayan tinggi. Membutku makin terkagum-kagum saja.
Oh ya, aku sudah bilang belum kalau aku menyukainya -mencintainya? Yah, perasaan itu sudah ku miliki sejak kami masih sama-sama berstatus sebagai mahasiswa. Tapi kami tidak pernah jadian dan setahuku sepanjang 4 tahun perkuliahannya dia tidak pernah pacaran sekalipun. Sekarangpun, dari kabar angin yang ku dengar dari teman-teman, dia masih betah sendiri. Alasannya: mengejar karier.
"Mau ke mana?" tanyanya sambil melirik penampilanku dari ujung rambut sampai ujung kaki lalu tersenyum kecil.
Aku tersipu-sipu malu. Sebenarnya, penampilanku sangat tidak cocok berada di atas busway ini. Stiletto tujuh cm yang ku kenakan membuatku susah berdiri dan jadi cepat capek. Belum lagi LBD yang ku pakai, sangat formil untuk berdesak-desakkan di busway. Tapi apa boleh buat? Aku harus mengikuti dress code acara: beauty in black dan aku terburu-buru sehingga busway adalah satu-satunya pilihan.
"Liputan launching shampo baru di GI," jawabku.
Dia mendelik. Beruntung busway berhenti sehingga dia tidak lagi mengusikku. Bukannya aku tidak mau berbicara dengannya -justru aku senang banget bisa ngobrol lagi dengannya- tapi aku tidak tahu, apakah aku bisa menahan diri untuk tidak mengorek informasi pribadi tentangnya. Jujur saja, lidahku sudah gatal untuk menanyakan apakah benar dia masih sendiri?
Bapak paruh baya berpakaian coklat khas seragam PNS yang duduk di depannya berdiri hendak turun. Tempat itu kosong. Dia menatapku. "Duduk," ujarnya.
Aku menggeleng. Gengsiku mengambil alih. "Lo aja. Tempat yang kosong kan ada di depan lo," tolakku.
"Lo aja. Masa gue yang duduk sementara lo malah berdiri?" ujarnya lagi.
Baru saja aku hendak menawarkan tempat itu ke temannya tapi urung ketika ku sadari perempuan itu sudah duduk manis di belakangku.
"Udah deh, nggak usah sok feminis di depan gue," ujarnya sambil tertawa kecil.
Dan aku pun duduk di sana. Di hadapannya. Aku menengadah dan tersenyum. Dia membalasnya lalu memalingkan wajah ke luar jendela. Aku menatapnya sekilas lalu menunduk. Harusnya aku memakai kalung yang banyak agar leherku terasa berat dan menunduk terus karena keinginan untuk mendongak dan menatap wajahnya begitu kuat. Sedangkan menatap lurus ke depan -tepat menghujam di perutnya yang rata minus lemak- juga membuatku jengah. Aku salah tingkah. Dia tidak lagi mengajakku bicara -tampak asyik dengan smart phone-nya. Sesekali aku curi pandang ke arahnya tapi hanya sebentar karena takut ketahuan.
Busway berhenti di halte Dukuh Atas. Aku harus turun dan menyambung lagi dengan busway tujuan Kota. Dia juga turun di halte yang sama.
"Lo naik yang arah Kota ya?" tanyanya saat kami berjalan bersisian di sepanjang jembatan penghubung Dukuh Atas 1 dan 2. Teman perempuannya anteng-anteng aja berjalan sendirian di depan kami.
"Iya. Lo masih tinggal di Pakubuwono?" tanyaku.
Dia mengangguk.
Ok, itu artinya kami harus berpisah. "Senang ketemu lo," ujarku dengan berat hati karena setelah lama tidak bertemu, kami hanya di beri waktu beberapa menit saja. "Gue kangen sama lo dan teman-teman lainnya," tambahku. Tentu saja kata teman-teman hanya formalitas.
"Kayaknya kita harus bikin acara reuni, hehe..." ujarnya.
Aku tersenyum. Ide bagus.
"Gue di sini ya." Dia pun berhenti di belakang antrian penumpang menuju Blok M.
"Ok, bye..."
Dia melambaikan tangannya dan tersenyum manis. Sekali lagi ku tatap dirinya. Dia masih sama seperti yang ku kenal dulu, hanya saja sekarang dia terlihat lebih matang dan dewasa. Ah Josh, awalnya kamu hanya ku anggap sebagai my-early-mature crush saja tapi nyatanya, sampai saat inipun aku masih mencintaimu.
Cinta terpendam tepatnya.
Ah Josh, apakah tidak ada kesempatan untuk memilikimu?
Busway tujuan Blok M datang. Dia berjalan beringsut mengikuti antrian. Aku menatapnya lekat-lekat, memasukkan bayangan tentangnya ke memori otakku. Hingga akhirnya busway membawa dia menjauh dariku, aku masih menatapnya.
Menatap Josh, cintaku.
Busway arah Kota datang dan aku pun maju beringsut hendak naik. Di luar hujan masih setia mendera Jakarta meski tidak terlalu lebat. Macet masih menjebak kendaraan-kendaraan sehingga hanya bisa stuck di tempatnya berdiri.
Sama seperti diriku yang masih stuck dengan perasaanku terhadap Josh....

Minggu, 03 Oktober 2010

Cause the time just won’t stop to understand



Oleh: Angga Eka Harnizar

Tema Interpretasi Lagu

Malam tahun baru itu semua biasa saja, bunyi klakson , terompet gelak tawa membiaskan suara khas jalan raya, adalah yang tak biasa justru apa yang kerasa di hati dan pikiranku, telepon dari Raka dengan nada tak seceria biasanya di sore itu, dan yaa’ sedikit menyisakan rasa tanya..

“Enam.. lima.. empat.. tiga.. dua.. “ suara terompet, petasan, teriakan orang membaur dengan irama tak bernada tepat beberapa saat saat angka dua keluar dari voice over radio.. semua orang pada saat itu terjebak euforia yang sama, tawa mereka semua tampak bahagia, bukan bermaksud jadi drama queen tapi pikiranku saat itu kerasa beda sama mereka, aku masih mikirin raka dan telepon dia di sore tadi..

“hei Januarni, tahun baruan kamu jadi bareng temen – temen band kamu ya?! maaf yaa aku gak bisa ikut, aku masih harus beresin paper psikodiagnostika aku buat lusa ya”, agak egois juga kalo aku tetep maksa Raka ikut pergi malam ini, dia tipikal cowok perfeksionis yang gak bisa diganggu kalo soal kuliahannya, aku ngerti banget alasan Raka, tapi ada yang aneh dengan nada bicaranya, dan aku gak tau kenapa…

Panggilan telepon beberapa menit setelah tepat jam 12 tadi, sukses bikin temen band aku ngecap kalo aku terlalu parnoan orangnya, mereka ternyata sadar ada yang beda dari aku hingga telepon masuk tadi, yaa’ Raka tadi nelepon ngucapin selamat tahun baru, cerita gimana ngantuknya dia tapi masih nyari bahan buat ngelengkapin papernya dan  obrolan – obrolan singkat yang ngilangin tanda tanya di pikiran aku tadi berganti jadi senyum senyum denger suara dia.

Raka paduan cowok yang buat aku agak jarang, cowok yang kutu buku banget ini tapi lancar aku ajak ngobrol soal detailnya music Portishead atau  gimana seorang Thom yorke udah ngelewatin batasan kata musisi itu sendiri, bareng dia weekend aku selalu berwarna, cari buku-bukunya  Chris Cleave atau Buckley di gramedia siang hari dan malamnya kita udah ada di Monik Setiabudhi, CCF atau Asia Afrika buat nonton band – band favourite aku dan dia, Pure Saturday, The Milo dan gak lupa Homogenic yang juga jadi alasan kenapa aku mau gabung ke “hyperballad” band aku sekarang ini

malam itu setelah diantar Raisa ke rumah rasa lelah dan ngantuk sukses bikin ritual bersih – bersih aku skip gitu aja, lantunan vocal Beth Gibbons terdengar pelan lalu memudar perlahan..

kalau aku dan banyak remaja di abad ini ditanya apa ritual pagi hari kamu?!  Aku yakin ngecek ponsel bisa jadi ada di urutan pertama.. dan yaa itu yang aku lakukan pertama kali sesaat bangun tadi, tanpa ada pesan singkat maupun panggilan tak terjawab, ku kirim singkat “pagi Sayang.. belum bangun yaa? aku udah bangun loh, ileran ih kamu hoho…”

karena hari libur gak perlu ada kata bergegas di pagi ini, bantu bantu mamah masak jadi hal favorite aku di minggu pagi atau libur seperti ini, mamah sering godain “dek, kamu rajin masak gini ntar kalo udah nikah Raka betah deh pasti di rumah…”, “pasti gara-gara masakan adek enak yah mah?!” ujarku sambil cengengesan lalu air muka ini berubah cemberut waku mamah bilang “bukan dek, tapi Raka di rumah soalnya perutnya sakit makan masakan kamu hehe”, ya ini jokes favorit mamah waktu aku cerita Raka sakit perut gara-gara nasi goreng yang aku bawakan di hari ulang tahun ke 19’nya

Obrolan menjelang siang bareng mamah terpotong nada dering ponselku, nada lagu desire dari Pure Saturday! Berarti Raka yang telepon.

Malam ini lantunan suara dari Dave Elkins mengalun lirih terdengar perih lebih dari biasanya
The nights are getting colder.
The red light's on, it's over.
To give up now doesn't make much sense.
So this is a goodbye.
Surprised, because I thought I could walk you home tonight,
but you're leaving me here on the defense
Semua pembicaraan dan alasan Raka di telepon tadi masih terekam jelas di kepalaku, tentang gimana hubungan ini harus berakhir saat bayangan hal itu gak pernah kelintas sedikitpun di benak dan pikiranku
I'm sitting under falling stars.
I'm making plans to be with you.
But have they come unglued?
What am I to do without you?
(mae – goodbye, goodnight)
 Keputusan Raka ngagetin aku, malam tadi obrolan – obrolan dia masih bisa bikin aku senyum – senyum gak jelas seperti biasanya, semua plan bareng dia juga masih terarsipkan rapi di harapku, belajar masak biar dia gak sakit perut lagi makan masakanku, lirik lagu buat ulang tahun ke 20’nya tapi semua kerasa blur, perih meninggalkan bilur..
Adalah waktu yang jadi alasan dia, beberapa bulan tepat sesudah semester ini selesai dia memutuskan akan pindah ikut tinggal dengan papahnya di zona waktu yang berbeda , masih ada waktu beberapa bulan tapi dia beranggapan waktu yang tersisa lebih baik dipakai buat adaptasi, biar aku gak liat tangis kamu dan berat ninggalin kamu di kota ini alasannya, hal yang ironis karena malam ini tangis aku dan perasaan berat ditinggalkan justru dia hadirkan lebih awal.

dia percaya dengan gak ngelakuin long distance, perasaan dan rasa dia sewaktu entar kembali ke kota ini akan sama dan lebih baik ketimbang harus tetap menjalin hubungan dengan terbentur jarak, waktu lebih baik dibanding jarak kalo buat urusan perasaan kata dia, hal yang awalnya gak pernah bisa aku mengerti , hingga saat ini…

Surat Cinta

Oleh: Adibah
twitter : @dibah
blog : http://ceritadibah.wordpress.com
tema : unrequited love
 
 
Kepada Perempuanku,

Wahai perempuanku, tahukah kamu betapa dahsyatnya imbas  setiap apa yang kamu lakukan terhadap aku? Ingatkah saat pertama kali kau terima uluran tanganku saat kita diperkenalkan dulu? Aku ingat! Aku juga ingat betapa merdunya suaramu saat kau mengucapkan namamu dengan sebaris senyuman di bibirmu. Uluran tangan, suara, dan senyuman yang begitu menyihirku. Aku tersihir pesonamu wahai perempuanku, dan aku bertekad untuk memilikimu sejak saat itu.

Tak pernah semudah ini kupasrahkan hatiku kepada seorang wanita. Pun kau tak tampak keberatan kuisi hatiku denganmu. Kau selalu riang menerima sapaanku. Tampak antusias menjawab pesanku. Gelak tawa yang terdengar saat kita berbicara pun menunjukkan bahwa kau sama sekali tiak terganggu.

Kupuja kamu seperti tak pernah kupuja hal lain wahai perempuanku. Dewa cinta pun pasti tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mengetahui betapa aku memujamu. Dan kau tahu apa yang terjadi jika seseorang yang terlalu memuja sesuatu dikecewakan bukan?

Aku yang begitu percaya diri ini memberanikan diri mengungkapkan apa yang kurasakan padamu. Cintaku ini terlalu membuncah untuk ditahan. Tapi kau hancurkan kepercayaan diriku wahai perempuanku. Kau hujamkan beribu pisau di jantungku saat kau katakan kau tak memiliki perasaan yang sama.

Kuingat ulang semua kenangan kita, kejadian demi kejadian. Semua tawa itu tak menunjukkan kau tak memiliki perasaan khusus, senyum itu, bentuk perhatian kecil yang tak pernah alpa kau berikan. Apa yang salah perempuanku? Tak pernah benar-benar kau katakan apa yang salah dari apa yang kita jalani. Tak pernah kau beritahu dimana letak kesalahanku yang membuatmu tidak memiliki perasaan yang sama.

Aku tak terima perempuanku, tapi kamu terlalu berharga untuk kusakiti. Aku takkan punya hati untuk meninggalkan secuil pun luka di tubuh molekmu. Aku tak punya hati untuk membiarkan setetes air mata pun membasahi paras ayumu. Tidak akan, jadi tenanglah kau disana.

Apakah kau bertanya-tanya tentang apa yang akan kulakukan? Saat kau baca surat ini kau pasti sudah tahu apa yang kulakuan. Aku akan pergi mengadu. Aku sedang dalam perjalanan ke sana, dan maaf aku harus meninggalkanmu, tapi ini agar nanti kita bisa bersama lagi. Jadi kau tak perlu menangis sayang, karena aku tetap tak rela parasmu basah oleh air mata

Ya perempuanku, aku sedang dalam perjalanan. Perjalanan menuju Satu-Satunya Tempatku Mengadu. Aku sudah berkali-kali mencoba mengadu dari sini, tapi tampaknya Ia tak mendengar. Aku juga sudah berteriak meminta pada langit, karena katanya di sanalah Dia berada. Tapi tetap nihil!

Jadi aku akan datang langsung kehadapanNya. MemakiNya kalau perlu, dan aku akan menyalahkannya yang tak membuatmu mencintaiku, padahal katanya ia Penguasa segala kuasa.

Aku sedang kesana, mengadu pada Penciptaku!

****

Menitdotcom : 
Cinta Tak Terbalas, Seorang Pria Nekat Gantung Diri
JAKARTA : 02/10/2010 | 09:40 (Bunuh Diri)
Seorang pria ditemukan tewas tergantung di kamar kontrakannya di daerah Cawang, Jakarta Timur. Diduga korban nekat mengakhiri hidupnya karena cinta tak berbalas, paling tidak begitu isi penggalan surat yang ditinggalkannya.

Tema 2 Oktober 2010

Tema 2 Oktober ini adalah unrequited love, alias cinta tak berbalas. Mungkin terdengar dangdut bagi sebagian orang, tapi rasanya hampir semua orang pernah merasakan ini. dan banyak sekali hal-hal yang dilakukan orang karena cintanya tak terbalas. Menjauhi orang, mengembara, mendirikan bengkel :p Perasaannya campur aduk, antara marah, sedih, dan (mungkin) lega.

Silakan tuliskan cerita versimu tentang unrequited love!

Beyond This Limitation

@kikiavicenna


To my old friend Sedna Alain Cassidy,

from Phobos Karl Dracher


I really can't understand why, Sedna, but I need to tell you something. The feeling like this had been going on since we were still classmates in Year 11.

How should I start?

Yes, I can remember when you walked in timidly in your very neat uniform and introduced yourself in front of the class,


    "I'm Sedna Cassidy, a transfer student from Phoenicie. Nice to meet all of you."


I don't know whether it was just a feeling of meeting somebody new or was it... um, let's say crush, my heart skipped a beat when Madame Elaine pointed at an empty chair next to mine and told you to sit there for the day.

Could it be?



I can still remember vividly, Sedna, those moments when we could finally perform a comedy show in front of the class, but afterwards Aphrodite and her gang bullied you. But I was relieved that my songs could stop your tears, and you read out a poem to let go of pressures in your heart.

It was wonderful, Sedna.


And of course, remember when we finally qualified for Year 12? You were so glad that we were together again. I could not say anything, and I still regret why I couldn't just tell you I was even happier when I knew God gave us another year to spend as classmates in 12S1.

And Eithne was in our class too.



Sedna, please understand,

Eithne is my princess, but you're still the empress.


I was the happiest man on earth to listen to your answers whenever I needed to ask you questions, even if it had to be the hardest part of Chemistry. You explained everything clear and through, without forgetting that it was a friend you were talking to. And I was triggered to learn even better when I finally discovered what you think of me,

"Phobos, you're a tough rival, really. I can hardly ever beat you. But this time, I'll try my best!"



Ah, Sedna, why were you so kind to a person like me?

You handed me a ticket to an expo and tryout without even trying to be known. You were willing to care about me even more than Eithne would ever do. Although I could barely say things to you, just short moments or questions in science, you still treated me as a good friend. Why, Sedna?


Then I realized by the end of the year, I was really falling for you.


And I told everything to Madame Amanda. I told her I was struggling for my future, I was in hardship to afford the tuition fee for the new academic year in university, and I was struggling to convey my feelings towards you.

I made Eithne spread gossip about you and me, I wanted you to be jealousy when Eithne, Daryl and Lucia asked me out, I really wanted you to see, Sedna, I've gone beyond the limits of friendship.

But too late.

My relationship with Eithne had become official, by 'pressures' from outside, before you knew. After our graduation, I heard from Lucia, you flew to Harbortown to pursue your childhood passion. You went to enroll for the medical school you've always talked about. I knew you wouldn't be afraid to finish school in seven years, seeing blood and open cuts, or study those thick and boring medical books.

You left me, Sedna, before I could tell you.

Yes, I remember you talked to me on the phone on my birthday, you called me in your vacant times just to say hi. Your messages arrived with joy in my inbox. I was very happy to know you still cared about me.


And this regret has gone unrequited for two years.


Sedna, if you read this story, please understand what I mean...

I've fallen for you, and I'm so sorry for not letting you know.


At least if you've finally read this and understand what I mean, my regret wouldn't be haunting me for the rest of my life...