Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 05 Januari 2011

Kuadrat

Oleh: Wisnu Aryo.

Perasaan hangat menjalari kedua tubuh itu, membakar keduanya dalam perasaan yang begitu aneh. Hangat selayaknya mentari jam sembilan pagi yang menyinari langkah seorang anak TK dalam perjalanannya menuju ke sekolah. Hangat selayaknya perapian di ruang keluarga yang mengait kebersamaan dikala salju datang. Mereka belum pernah merasakan keanehan ini sebelumnya. Dua tubuh itu, terbaring di atas satu kasur yang sama, saling bertatap punggung, bukan muka.

"Kamu yakin, kamu sanggup memaafkan aku?" tanya salah satu tubuh, menggeliat.

Rasa hangat itu kembali memancar kuat ketika kata maaf terlontar dari salah satu bibir. Maaf. M-A-A-F. Sederhana, sekaligus luar biasa.

"Sejujurnya, tidak. Aku tidak akan pernah sanggup. Sayangnya, aku harus." jawab tubuh yang lain, terkulai lesu.

"Mengapa?"

"Karena aku adalah kamu."

Mereka berdua berbalik, lalu berpelukan. Rasa hangat itu makin memuncak, bersatu layaknya sebuah pusaran energi.

"Jika kamu tidak sanggup memaafkan aku, terima aku. Apa adanya." bisik salah satu tubuh.

Garis-garis pemisah yang semesta sediakan seolah makin bias, tanpa batas. Zat demi zat bersatu. Dua tubuh itu, perlahan bersatu.

"Selamat malam, John." bisik tubuh yang satu, sambil perlahan pudar.

"Selamat malam, John." balas tubuh yang lain dengan suara samar-samar.

"Selamat malam, John." ujar seorang dokter jiwa pada pasien kesayangannya. Setelah berbulan-bulan berusaha, malam ini, dia akan berhasil.

Bali, 4/1/94
23:30 WITA

Selamat Tidur Untukmu

Oleh: Stephie Anindita (@StephieAnindita)

“Kamu belum bilang ‘selamat tidur’ buat aku!”
Aku menghela nafas. Lagi-lagi dia datang dan setiap kali ia datang, hanya itu yang ia minta: ucapan selamat tidur. Wajahnya cemberut ketika ia duduk di atas meja belajarku, kedua kakinya terayun di pinggir meja, berusaha memecah konsentrasiku yang sedang mengejar deadline tugas.
“Aku enggak mau ...” ujarku singkat.
“Kenapa?” ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“Kenapa? Karena aku enggak mau, itu aja!” jawabku.
“Aku tidak akan bisa tidur kalau kamu belum mengucapkan itu ke aku ...”
“Terserah.” Aku mulai merasakan sengatan pedih di mataku. “Kamu yang seenaknya main ninggal-ninggal aku aja. Terserah kamu sekarang. Aku enggak mau peduli lagi.”
Ia menghela nafas lirih. “Kamu kok ngomong seakan-akan itu salahku.”
“Memang itu salah kamu!” aku menoleh, air mataku meleleh tapi dengan berani aku tantang matanya. “Coba kamu lebih hati-hati dalam memilih teman, maka kamu enggak akan celaka! Apa gini cara aku mengingat kamu sebagai orang yang aku sayangi, hah?! Sebagai tersangka pengedar shabu-shabu yang ditemukan tewas ditembak oleh orang enggak dikenal! Apa kamu mau aku mengingat kamu seperti itu?!”
“Ini kan bukan kemauan aku ... waktu itu aku enggak nyangka kalau teman satu kostku ternyata pengedar. Aku bahkan enggak tau sampai di hari ketika orang itu datang dan tanpa bertanya-tanya langsung menembak kepalaku ...” ia menyentuh pipiku, tapi yang aku rasakan hanya hembusan angin dingin. Aku menggigil.
“Kamu tetap enggak mau ngucapin selamat tidur ke aku?”
“...enggak...” aku terisak. “Kalau aku ucapin, kamu bakal tidur selamanya dan aku bakalan sendirian lagi... ”
“Ya sudah kalau begitu ...” ia turun dari mejaku. “Selamat tinggal ... sampai besok malam ...” aku meliriknya dari sudut mata, ia tersenyum lirih. Sepertinya ia tahu walaupun aku tetap keras kepala tidak mau mengucapkan ‘selamat tidur’ untuknya, tapi dalam hati aku tidak pernah bisa benar-benar membencinya. Bagaimanapun juga dia adalah kekasihku, dengan atau tanpa raga, ia tetap orang yang sangat aku sayangi.
Ia tahu suatu saat nanti aku akan mengucapkan ‘selamat tidur’ untuknya, seperti dulu ketika aku biasa mengucapkannya melalui telfon, saat ia masih ada di dunia. Hanya saja, tidak sekarang. Tidak selagi luka itu masih menganga dan berdenyut nyeri.
Suatu saat pasti akan ada kata ‘night-night, sleep tight and don’t let the bed bugs bite!’ yang aku ucapkan padamu, tulus. Dan saat itu, kamu akan tertawa dengan suara mengantukmu yang khas dan menambahkan. ‘if they bite, bite them back!’
Aku menelungkupkan wajahku di atas meja dan menumpahkan tangisku. Jam berdentang empat kali. Sudah jam empat pagi. Aku tidak tidur lagi malam ini.

Goodnight, Broken-hearted Boy...

Oleh: Faizal Egi

Sekitar dua jam yang lalu, tepat pukul 20.00 WIB kalimat itu terucap dari bibirnya “Aku rasa kita tidak bisa lagi saling melengkapi, sudut pandang kita hanya saling menjatuhkan satu sama lain”.
Kalimat yang hanya bisa aku balas dengan “Oke”, kalimat yang tidak aku ketahui apa sebabnya bisa terucap dari bibir manis itu, kalimat yang akhirnya ditutup dengan ucapan “Goodnight” sebagai akhir dari perjumpaan.

Hahha..! Goodnight?! Cuma itu kata yang kau pilih untuk menutup cerita yang 5 tahun ini kita tulis bersama, dengan tinta warna pink menyala? (err...) Tidak adakah sedikit saja penjelasan dari ‘sudut pandang kita hanya saling menjatuhkan satu sama lain’? Aku merasa kita baik – baik saja, sayang...

Sekarang kau meninggalkanku, terkapar memandang langit – langit kamar yang pastinya tidak tau bahwa aku sedang patah hati, bahkan jika aku nekat meminum sebotol shampo untuk bunuh diri pun dia tetap tidak peduli. Aku termenung dalam kesunyian, benar – benar sunyi yang kurasakan, seolah hanya indra penglihatanku saja yang masih berfungsi. Dan rasanya indra penglihatan itu pun tidak berfungsi dengan baik, karena yang kulihat hanya dirimu. Bayangan terakhir dirimu yang meninggalkanku setelah mengucapkan “Goodnight”.

Dan “Goodnight” darimu itu sukses membuatku kelabakan mencari jawaban saat ini. Apa yang kurang dariku? Apa salahku padamu? Aku tau aku tidak bisa menyediakan waktu 24 jam sehari, 7 hari seminggu untukmu. Aku tau aku sering ngupil dan menempelkannya di tembok kamarmu. Aku tau aku sering kentut saat kita sedang bermesraan terbuai menikmati peran sebagai satu – satunya penghuni dunia. Tapi kau pun tau semua itu dari dulu, semenjak kita belum berpacaran. Apakah semua itu yang menyebabkan kau meninggalkan aku?

So clueless... Aku sama sekali tidak bisa menerka apa yang membuatmu tidak mau lagi mempertahankan hubungan cinta kita. Hanya kata “Goodnight” yang sekarang menari – nari di depan mataku lah yang kau tinggalkan. Kata yang sekarang akan aku artikan sebagai bisikan darimu untuk menyuruhku tidur. Ya! Aku akan tidur, dan berharap saat aku membuka mataku esok hari semua ini hanyalah mimpi dan kau akan tersenyum di depanku dan mengatakan “Good Morning”.

Miris

Oleh Gisha Prathita (@geeshaa)
kamukayakuya.tumblr.com


Ah, sumpah, sumpah. Aku sudah menyukaimu semenjak setahu yang lalu, semenjak sahabatku mengenalkanmu padaku sebagai pacarnya. Miris sebetulnya, padahal aku tahu itu cinta pada pandangan pertama yang sebelumnya kuanggap tidak mungkin terjadi pada hidupku.

“Jadi gimana donk, Sha? Indira benar-benar gak bisa dihubungin. Dia bener-bener marah sama gue kayanya. Dari tadi telepon gue gak diangkat.” Gefan memijit –mijit pelipisnya—galau—sambil terus mencoba menghubungi Indira dengan HP-nya. Ah, bahkan ekspresi cemasnya pun terlihat sangat indah di mataku!

“Ini udah tengah malam, Fan. Mungkin dia udah tidur,” aku mencoba menenangkannya.

“Ah gak mungkin, Sha. Dia besok ada deadline ngumpulin tugas pagi-pagi, dia pasti begadang hari ini.” Ia masih mencoba menghubungi sahabatku yang satu itu—untuk keseribu kalinya mungkin.

“Mungkin dia gak mau diganggu,” aku berpendapat lagi.

“Ya tapi gue kan Cuma—..”

“Atau mungkin dia ngerjain tugas di ruang tamu dan HP-nya ditinggal di kamar dengan mode silent.” Potongku. Kenapa sih dia begitu khawatir pada indira? Halo, Indira itu sudah kuliah tingkat II dan seyogyanya dia bisa jaga diri walaupun tidak bisa dihubungi.

Gefan menatapku dengan sengsara. “Dia beneran marah kayanya, Sha. Sumpah, gue gak mau ini terjadi. Gue gak mau nyakitin Indira lagi.”

Aku mengangkat bahu, “Ya wajar. Lo gak pernah nurut apa kata dia, mungkin ini keseribu kalinya lo nyakitin dia. Dengan alasan yang sama.”

Aku tersenyum miris, kasihan sahabatku, mendapatkan pacar seperti Gefan—…

“Iya, tapi masalahnya, gue pikir lebih baik gue ceritain yang sebenernya kan? Daripada gue bohong sama dia terus… dan nyakitin dia terus? Dengan gini, gue plong, dan dia juga bisa tahu apa yang sebenernya terjadi.” Gefan masih ngotot setengah mati.

“Ini kan lebih baik, menurut lo, Fan. Bukan berarti keputusan yang terbaik, dengan nyeritain semuanya, yang sebenarnya.” Aku menimpalinya. Aku melihat ke arah sekeliling, berpikir juga kenapa aku bisa ada di kamar ini. Di kamar kost Gefan, demi membuatnya lebih tenang akibat masalahnya dengan Indira. Padahal aku kan menyukainya!

“Gue nyerah, Sha. Mungkin sebaiknya lo yang menelepon dia. Mungkin kalo lo yang telepon dia, dia mau angkat teleponnya.” Gefan menyerahkan HP-nya ke arahku.”Pake pulsa gue aja!” Aku mengernyitkan keningku. Orang ini agak aneh ya? Kalau aku menelepon Indira dengan nomornya ya apa bedanya aku atau dia yang menelepon? Memangnya dia cenayang?

“Ya mesti pake pulsa gue lah!” aku tertawa. Gefan memang suka kikuk saat panik. Inilah yang membuatnya semakin menyukainya meskipun ia pacar sahabatku!

Akhirnya aku menelepon Indira dengan HP-ku. Beberapa lama, benar saja, telepn diangkat.

“Halo, Dir? Lo dimana?”

“Gue di kamar, Sha…” ia menjawab dengan tangisan yang tersisa.

“Tenangin diri lo, Dir.. lo masih marah sama Gefan soal tadi siang?” aku bertanya dengan pelan. Kahawatir semakin membuat hatinya terluka akibat pengakuan Gefan tadi siang.

“Gue masih marah banget, Sha! Dia bilang ada orang lain! Dia bilang dia sekarang sayang pada orang lain! Dan dia bilang gitu karena gak mau bohongin gue lagi! tapi apa maksudnya semua itu, Sha?! Gue bener-bener kecewaaa…” ada nada amarah di sela tangisnya. Aku merasa harus berempati… perasaannya pasti sangat terluka saat ini. Kasihan sahabatku, mendapatkan pacar seperti Gefan—…

Gefan tiba-tiba berjalan mondar-madir karena gusar di sekeliling kamar, tanpa disengaja ia menabrak meja kecil di sudut ruangan dan hampir mengaduh, aku kaget, dan spontan mengisyaratkan dia diam dengan menempelkan telunjukku di bibir. Gefan yang clumsy! Tak pernah berubah!

“Ya udahlah, Dir. Cowok kaya gitu jangan lo pikirin lagi! seenggaknya dia udah jujur, daripada lo terus disakiti, dibohongin. Sekarang—mending lo istirahat. tugas lo udah beres kan?” tanyaku.

“i-iya sih. Ah, Tuhaaan, terimakasih telah menunjukkan kebrengsekan Gefan sebelum ia menjadi suamiku.” Suara Indira masih bergetar. “Tugas gue… udah beres sih, jadi kayanya mendingan gue tidru sekarang.”

“Iya, tidur sekarang, jagan lupa pakai cream mata ya, Dir. Supaya besok mata lo gak kaya ikan koki karena habis nangis. Hehehe.” Aku mencoba bercanda supaya ia sedikit lebih tenang. Ia kemudian tertawa kecil—tuh, kan, aku berhasil.

“Makasih ya, Sha. Lo udah ngebela-belain telepon gue tengah malem begini. Guetidur dulu ya. Met malem, Sha.”

“Iya, Dir. Selamat tidur ya saaay. Good night.”

Sambungan telepon ditutup. Aku menatap Gefan, dan Gefan menatapku. Aku lalu menghela napas panjang sambil tersenyum ke arahnya, dengan isyarat tenang-gue-udah-berhasil-nenangin-dia. Ia tersenyum ke arahku.

“Gue bener-bener cowok jahat, ya, Sha?” tanyanya ke arahku. Aku mengangkat bahu sekali lagi. lalu tersenyum.

“Tergantung,” jawabku. “Lo lebih jahat lagi kalau gak jujur sama perasaan lo sendiri—…” aku merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena frustasinya barusan. “..terhadap gue.”

Gefan tersenyum, kemudian ia mengecup keningku. “Tidur gih, biar gue tidurnya ngungsi ke kamar Igo. Selamat malam, Sha.” Aku tersenyum, memperhatikannya beranjak keluar kamar kost-nya.

Kasihan sahabatku, mendapatkan pacar seperti Gefan—dan sahabat sepertiku!

***

Dongeng Pengantar Tidur

Oleh : Khoirunnisa Aulia Noor Haryopranoto (@auliaully)
http://hotcoldchocolate.blogspot.com

“ayo mah ayo ceritain dongeng lagi mah!” rajuk Via dimalam itu. Via tidak pernah bisa tidur jika belum di dongengkan oleh mamahnya. Dan hanya satu dongeng yang mampu mengantar Via tidur, dongeng favorite yang selalu diceritakan berulang-ulang kali oleh mamahnya.
“ayo sini Vi, mmmm” Mamahnya bergumam sambil mencari buku dongeng favorit Via di rak bukunya. “nah itu dia” seraya mengambil salah satu buku.
“maaah, kali ini Via gamau denger dongeng itu! Bosen mah” rajuk Via
“lalu dongeng yang mana?”
“yang ini” sembari mengambil dongeng berjudul salam terakhir. Entah mengapa, kali ini Via memang aneh, tak se mandiri biasanya. Ia lebih manja.
“baiklah, sini mamah ceritain”
Via pun meringkuk didalam selimut sambil terus dan terus mendengarkan dongeng tersebut. Sambil sesekali menanyakan hal yang tidak ia mengerti. Saat sampai ditengah dongeng telepon berdering.
“sayang, mamah angkat telepon dulu ya” serunya lembut sambil mengelus kepala Viana. Via hanya menjawab dengan anggukkan. Mamah viana seorang dokter dirumah sakit milik kakekknya. Ia termasuk kategori dokter yang selalu ontime dan siap tiap saat, tidak seperti beberapa dokter lainnya yang kadang tidak mau menerima panggilan malam hari. Seperti saat ini, korban tabrak lari yang dilarikan ke rumah sakit kakek tidak bisa menunggu lama, dan mamah menjadi satu-satunya pilihan bila tidak mau telat menangani korban tersebut. Terdengar suara sedikit panik dari luar kamar Via. Via mengerti akan pekerjaan mamahnya tersebut.
Mamah memasuki kamar dengan muka yang dibuat tenang. Ini salah satu kelebihan mamah sebagai dokter, ia mampu berpura-pura tenang. “Via, mamah harus kerumah sakit” kata mamah
“tapi mah-“ belum selesai via bicara sudah dipotong oleh mamahnya “ga akan lama ko, sepulang dari rumah sakit, mamah akan lanjutkan dongengnya” kata mamahnya. Via mengerti ,ia mengangguk dengan senyum manis. Mamah mencium kening Via “selamat malam peri kecilku” ucapnya sebelum ia pergi dan Via memperhatikan punggung mamahnya hingga menghilang.

Ini sudah pukul 12, via sudah tertidur selagi menunggu mamahnya tadi. Sempat didengar suara ayahnya mengangkat telepon. Tapi via tidak tau siapa, mungkin paman Sam ,adik Ayah. Sebelumnya ayahnya juga menawarkan diri untuk melanjutkan dongeng tersebut. Namun Via menolak. Hingga keesokkan paginya, ia terbangun karena suara berisik diluar. Ia berjalan perlahan keruang tengah. Ada paman Sam disana, kalau begitu benar, tadi malam ayah menerima telepon dari Paman Sam. Paman Sam menghampiri Via, memeluk dengan hangat lalu berkata “Via cantik ,baik lagi” lalu tersenyum miris. Via berlalu, menyeret boneka kelincinya dan buku dongeng tadi malam ke kamar mamahnya. Terlihat mamahnya masih berbaring di kasur dengan selimut putih yang cantik. Tv didepannya menyala, menyiarkan berita pagi. Koran pagi juga masih di meja samping mamahnya.
“mah, lanjutin dongengnya mah” kata Via. Namun tampaknya mamah begitu lelah hingga ia begitu lelap. Iseng, Via membaca headline news koran tersebut “ketika sang dokter harus mendahului pasiennya” dan gambar mobil sedan putih ber plat A 24 JAM yang sudah hancur. Mobil itu... mobil itu mobil mamah. Via tersentak. Ia menggoyang-goyang tubuh mamahnya sambil berteriak “mamaah! Bangun mah! Bacain dongeng buat Via mah!” ayah dan paman sam datang, memeluk Via dan berkata “sabar ya Vi, kamu harus kuat. Mamah udah tenang di atas sana Vi”
Seakan tak percaya, via terus berteriak “mamah janji mau nyelesein dongeng ini mah, janji mah” lalu pandangannya gelap dan ia terjatuh pingsan.

Malam dear

Oleh: Riyan Raditya (@exewriyan)

Laki laki ini memasuki kamar yang dipenuhi ornament ornament yang berwarna pink dan biru itu, serta dipenuhi boneka boneka lucu. Ia mendapati gadis cilik yang masih berkutat dengan boneka beruang besarnya itu.

"Hey bearly, kamu tau tadi siang aku lagi makan es krim lalu ada temanku yang mendorongku dari belakang dan es krimnya jatuh tertumpah" ucap gadis cilik itu kepada bonekanya, ia sering kali bercerita pada bonekanya. Dulu sih tidak, tepatnya sebelum 5 bulan yang lalu.

Laki laki itu masih memperhatikan gadis cilik yang sangat ia sayang itu. Gadis itu juga belum menyadari keberadaan laki laki ini. Kemudian laki laki itu bergerak ke arah gadis cilik itu.

"Hello, Ciya. Belum bobo? Coba lihat udah jam berapa ini?" Ucap laki laki itu.

"Papa?" Seru gadis cilik itu agak kaget "papa baru pulang kerja yak" lanjutnya.

Laki laki itu tersenyum pada gadis cilik itu yang tak lain sebagai anaknya. Anaknya ini masih bersekolah 1 SD. Gadis cilik itu sangat cantik dan sangat mirip seseorang yang dicintai laki laki itu.

"Iya Ciya, nah sekarang bobo ya, udah malam." Ucapnya seraya menggendong anaknya ke tempat tidur dan menyelimutinya.

"Pa, tadi Ciya ngelihat mama." Ucap gadis itu membuat sang papa sedikit kaget. Sang papa lalu mengusap usap kepala anak sematawayangnya itu.

"Oh, ya? Mama kelihatan gimana? Ceria kan? Masih cantik kan?" Tanya sang papa, anaknya lalu menganggukkan kepalanya. Lalu tersenyum, diikuti oleh senyun sang papa.

"Ya udah, goodnight Ciya, have a nice dream!" Ucap sang papa dan mencium kening anaknya, lalu segera bergerak ke arah pintu dan mematikan lampu sebelum keluar kamar.

Laki laki itu lalu menghembuskan nafas panjangnya, kemudian tersenyum. Ia beranjak ke arah taman dan memandang langit malam yang sedang cerah dan penuh bintang.

"Malam sang bintang! Kau tau, seperti biasa. Sampaikan salamku untuknya di surga! Dia pasti akan melihat anaknya yang akan tumbuh seperti dirinya. Ucapkan salam juga dari Ciya untuknya!" Ucap laki laki itu dengan perasaan sambil menatap bintang yang berkilauan itu.

"Goodnight dear" lalu dirinya masuk ke dalam rumah dan memasuki kamarnya.
«~exewproject~»

Selamat Tidur, Ayah

oleh Septy Aprilliandary (@aprsept)

‘Selamat tidur, Nak. Jangan lupa berdoa ya.’
Andai saja kata-kata itu diterimanya sejak dulu, mungkin Hefa tidak akan pernah mimpi buruk. Tapi kini, di usianya yang tujuh belas tahun? Cih, apa gunanya, batin Hefa. Diambilnya baterai handphone lalu dilemparnya ke sudut kamar. Menonaktifkan handphone akan membuat tidurnya lebih nyenyak malam ini.
Sudah seminggu pesan selamat malam selalu terkirim ke nomor Hefa. Beberapa kali disertai panggilan telepon yang tak pernah dijawabnya. Cukup tahu siapa si penelepon sudah membuat Hefa muak, apalagi mendengar suaranya.
“Dia hanya ingin menebus kesalahannya, Nduk.”
“Ibu terlalu baik, apa Ibu lupa apa saja yang sudah dia lakukan ke kita? Berapa tahun dia pergi, Bu? Inget kita, nggak? Sekarang tiba-tiba muncul dengan sms sok perhatian. Hefa nggak butuh, Bu, pahlawan kesiangan seperti itu.”
Benar, tujuh belas tahun lalu, ayah Hefa pergi, tanpa pesan, tanpa kabar. Selama itu pula Hefa menantikan ucapan selamat tidur dari sosok ayah yang tak pernah dilihatnya. Hefa selalu tidur sendiri, sebab Ibu hampir setiap hari pulang larut malam dari kantor. Membanting tulang untuk mereka berdua, semenjak ayah pergi. Entah sudah berapa kalimat doa yang diucapkan Hefa kepada Tuhan agar membawa kembali ayahnya yang pergi. Beribu janji polos masa kanak-kanak telah dibuatnya.
“Hefa bakalan rajin sikat gigi, deh Bu, asal ayah mau nemenin Hefa tidur”
“Ibu, nilai Hefa A semua nih, Ayah pasti dateng kan, Bu? Kan Ayah mau dateng kalo nilai Hefa bagus.”
Pada akhirnya Hefa lelah dengan semua angan kosong. Dimatikan hatinya, ditulikan telinganya, tak mau lagi ia menipu mata dengan melihat pintu kamar sebelum tidur, bahwa ayahnya disana, meniupkan ciuman selamat tidur untuknya. Berapa kali purnama dilewatkannya dengan naik ke atap rumah dan melihat ke langit luas. ‘Dimanakah Ayah?’ adalah pertanyaan klasik di otak Hefa.
Hefa ingin ayahnya tahu, bagaimana sakitnya diabaikan selama bertahun-tahun. Bukan dendam, Ibu tidak mengajarkannya untuk mendendam. Hanya egonya yang berteriak minta keadilan. Ayahnya boleh seenaknya meninggalkan Hefa dan Ibu tanpa kabar sama sekali. Tujuh belas tahun, apapun bisa terjadi pada mereka berdua dan ayahnya tak tahu apa-apa. Tapi, Hefa menekankan dalam hati, Ayah harus tahu, tidak semudah itu kembali kepada sesuatu yang pernah kau tinggalkan.
‘Selamat tidur, Ayah.’