Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 28 September 2011

Passionata - Hadiahku Kepadanya‏

Oleh: @theflyinghand
http://byignatiusedwin.co.cc


Dan menjadi betul,
Puisiku masih belum selesai.
Ini adalah ceritaku yang terakhir.
Mungkin.
Hanya untuk hari ini saja.
Besok,
siapa tahu?
Mungkin aku sudah terbawa ombak.
Mungkin aku sudah berada di tempat nan jauh dimana orang tak dapat menjangkauku.
Mungkin aku mati.
Mungkin aku, mungkin, diam saja di tempat dan menulis lagi.
siapa tahu?
Dia,
yang akan kusebutkan,
mungkin pergi jauh.
mungkin menikah dengan orang lain.
mungkin menghidupinya dirinya sendiri.
mungkin menjadi suster.
mungkin hidup sendiri sebagai pendoa, dan mati di usia tua.
mungkin, dan masih mungkin dia menatap pada puisi ini dan diam saja sama sepertiku.
siapa tahu?

Sepanjang hari aku ingat dengannya.
Tidak peduli waktunya kapan,
baik saat itu aku berumur belasan, atau waktu aku latihan.
bahkan saat piano kuhentakkan,
tetap saja dia ada,
bahkan sempat saat ku kesal karena sesuatu,
dia tetap ada,
menggetarkan hati nuraniku yang kosong,
mencoba menggoyahkan isi pikiranku.
walau ku tetap teguh,
dia seperti sisi lain dariku,
tapi mempunyai fisik dan sewaktu-waktu dapat menghanyutkan.

Saat puisi ini kutulis,
waktu ini,
aku beranjak dewasa.
bersekolah, menjalani kehidupan seperti biasa.
melawan tantangan setiap harinya.
Puisi ini terburai dari pikiranku terhadapnya.
Aku mau menceritakan,
lihatlah, dan telitilah,
apakah memang ini kenyataan atau khayalanku saja?
Mendekati ambang kegilaan,
dalam satu menit mungkin kuhentakkan piano dalam tempo 150 beats per minute tanpa henti.

Tetap, subjeknya perempuan.
Kalau bicara keras, dan nadanya suka memaksa.
Kalau aku setinggi tiang, dia hanya beberapa sentimeter di bawahku.
Matanya lebar.
Suka menggunakan sepatu olahraga.
Sangat bersemangat.
Kemanapun dia pergi.
Dulu sering bertemu,
kemudian jadi saling membenci,
lalu sekarang tidak tahu.
siapa yang tahu?
hanya kami berdua yang tahu.
sebab tidak ada yang akan tahu,
lagian juga tidak ada yang mau tahu.
terus kenapa dibicarakan?
just an intermezzo, I will say

Perempuan itu matanya lebar.
Dulu dibilang gagah seperti lelaki,
suka diisengi jangan-jangan suster salah menulis kelaminnya,
seharusnya Male tapi malah ditulis Female.
Astaga, kupikir itu terlalu kurang ajar.
Eh, tapi malah dia yang marah-marah kepadaku.
Dikiranya akulah pembuat masalah.
Aku diam saja.
Sebab bukan aku yang membuatnya.
Sempat kupikir anak perempuan ini gila juga.
Tapi dari kegilaannya itu malah kami berteman.

Dulu situasinya sedemikian sulit.
Nilaiku anjlok gara-gara sering tidak memperhatikan pelajaran.
Kupikir aku harus mempertimbangkan sesuatu.
Sebab anak perempuan itu ternyata sangat pintar dibanding denganku.
Kupikir lagi.
Tidak.
Kupikir lagi.
Ya.
Kupikir lagi.
my mind, just shut up.
this is not a game, but a serious problem.

Akhirnya lelaki itu menjawab tantangan.
Kelihatan bersama dengannya,
padahal sebenarnya benci.
Berkali-kali kugarukkan kepala,
apakah benar harus begini?
apakah benar metodenya begini?

Semuanya terakumulasi ketika aku naik kelas.
Tiba-tiba kebencian menghampiri hubungan kami,
semuanya jadi serba salah karena saling menyalahkan.
Aku tetap diam.
Walaupun dia mencoba mengubah sifatku,
aku tetap diam,
silence is gold,
itulah sifatku yang tidak dapat kuubah,
lebih baik tidak saling menyalahkan dan mengumbar nafsu berbicara sembarangan,
aku menghindar daripadanya.
kupikir lebih lanjut,
aku menghindar harus selamanya.

ternyata tidak.
aku masih berperasaan,
aku mencoba kembali mencarinya.
aku gugup.
aku sebenarnya tidak mau.
tapi ternyata dia juga mengetahui dimana aku.
tentu,
orang masih tidak akan mau tahu.

haha.
masih kuat membacanya?
lanjutannya adalah kegilaan.
masih mau membaca?

Waktu itu ada latihan,
Latihan sebuah pementasan,
untuk menyentuh dalamnya pikiran.

Datanglah seorang teman,
berasal dari awal halaman,
namanya diawali dengan A dan diakhiri dengan n,
dia mempertanyakan,
"Edwin,
jangan sia-siakan kesempatan."
Aku balik mempertanyakan,
"Tak kutemukan siapapun."
Dia tidak mau diremehkan,
"Coba kau lihat lagi dengan tekun."

Kulihat ke depan.
Mataku tertuju pada seorang perempuan.
"Dia yang kau inginkan?"
kata Austin.
Dia tahu apa yang di dalam pikiran seorang Edwin.
"Ya," kata Edwin.
"Minta nomor telepon,"
katanya pada Edwin.
Mataku melayang di sekeliling perempuan yang kutunjukkan.
Kemudian niatku ku urungkan.
"Tidak diperlukan,"
kataku tegas pada Austin,
"Tidakkan kuraih, terjadi pun tidak."

Empat bulan kutinggalkan.
Empat bulan kulupakan.
Empat bulan menunggu di pikiran.
Empat bulan tidak dapat berlari ke depan.
Bulan kedelapan,
terusiklah pikiran.
kutanya hal yang sama dengan yang Austin katakan.
nomor telepon.

tanpa diragukan,
Austin tidak ragu memberikan.
kuajak bicara perempuan dari halaman kedelapan,
hanya bertahan delapan hari ke depan,
lalu kuputuskan hubungan.
terusiklah lagi pikiran.
harus kubuat keputusan.

ternyata perempuan itu muncul lagi.
ingatan akan masa lalu menghantuiku.
dia mulai menelponku,
memberikanku pesan singkat setiap hari,
benar-benar pikiranku terusik.

ini kenyataannya.
aku tidak dapat akan perempuan yang baru saja kutemui.
walaupun kecantikan kelihatan, perempuan masa lalu itu tetap menutupi pikiranku.

aku ingin kau tahu saja sekarang, tanpa menunggu kapan
aku ingin kau tahu saja sekarang, tanpa menunggu siapapun
aku ingin kau tahu saja sekarang, tanpa menunggu apapun
aku ingin kau tahu saja sekarang tanpa kebohongan,

aku sudah muak.
aku muak akan segala masalah pada diriku sendiri.
terlalu banyak orang yang mungkin kujumpai.
kau masih mau mengubah sifatku?
silakan,
tetap saja aku tidak dapat berubah.
aku mendekati ambang kegilaan.

sekarang aku hanya dapat mengatakan,
kau akan tetap ada,
selalu ada,
karena pikiranku tampaknya terlalu resistant denganmu.
ucapan, segalanya tentang dirimu, masih kuingat dengan sangat jelas.

Kejujuran ini kunyatakan dengan ikhlas.
Kegundahan ini kulepaskan secara indah.
Kesepian ini akhirnya kutanggung sendiri.
Cuma itu yang tersisa dariku.
Yang kau mau lihat dariku.
Hampa sudah berada di hatiku yang keras, sekeras batu bataan,
Matahari sudah turun,
Naiklah bulan,
motor dan mobil berlalu-lalang,
orang makan di pinggiran jalan,
yang lain sedang memperjuangkan ideologi negaranya,
yang lain sedang berperang,
diantara itu semua,
akhirnya puisiku ini selesai untuk hari ini.
puisi ini mungkin telah terselesaikan,
sebab saat matahari akan naik ke tempatnya untuk kesekian,
orang-orang bangun dari tempat tidurnya,
dan para pekerja bekerja keras menambang emas di tempat yang jauh,
mungkin aku punya cerita lain untuk diceritakan
tapi masa laluku sudah tuntas kuceritakan,
terimalah hadiahku ini dengan lapang dada.

for just a moment, euphoria that I felt...

Waktu itu tanggal tiga puluh satu.
Di Oktober yang mengejutkan selalu.
Si Edwin duduk di bus termangu,
duduk di depan, bengong melulu,
seperti benalu di sebatang kayu,
diam tak bermutu.

Pukul delapan malam.
Di tengah-tengah tol yang kelam,
menuju gelapnya malam,
Edwin tidak bisa berdiam,
mukanya muram,
penjelasannya masih di dalam sekam,
menunggu saat yang tepat di langit hitam.

sporadic explanation...

Kenapa? Kapan? Mengapa?
Pertanyaan di kepalanya,
menunggu penjelasanku padanya,
mengapa aku menulis semua,
walaupun telah kujelaskan semua,
dia belum mengerti sepenuhnya.

Setengah jam menuju jam setan,
kata teman akrabku, Austin.
tiba-tiba muncul penjelasan,
Apakah ini perbuatan setan?
Tidak, bukan.
Apakah ini hanya bohongan?
Tidak, bukan.
Apakah ini yang kuinginkan?
Ya, ini bukan kebohongan,
bahkan,
nyatanya dari awal bulan,
kacaulah pikiran,
memilih tepat pilihan,
sekarang saatnya kujawab pelan-pelan.

And you only need to say the word, Edwin.
The magic word?
Yes, it is.
Di saat aku mau menjawab,
ini benar atau tidak?
Di dalam bus napasku kuhembus lama,
kutarik cepat-cepat tidak beraturan.
Apa harus ditentukan sekarang?
Ya,
atau tidak sama sekali?
Pilihan di depan matamu, Edwin.

Four letters started with L

Lama kami berbincang; enam tahun,
lihat satu sama lain; tidak tentu,
agak lalai, tapi sangat cerdik.
perbedaan telah menyatukan kami,
dan ternyata kutemukan empat huruf itu,
it is the magic word.

The magic word

Lily, the pure flower
Orchid, strikingly colourful
Velvet, blooms brightly
Edelweiss, the flower of happiness
Will you accept me...to love you?



2.10.10

Pengharapan

Oleh : @Kaka_Rich
http://diaryofplayboy.blogspot.com/


Kau tlah bersamanya
Ku bahagia untukmu
Meski sedikit menyakitkan

Dan yang paling menyakitkan
Kau bersama temanku
Sungguh, ku tak menyangka

Bagaimana ini terjadi padaku?
Mungkin ini karena aku hanya mencintaimu
Secara diam-diam

Andaikan aku lebih peduli padamu
Mungkin kau tak akan bersamanya
Mungkin kau bersamaku

Tapi semuanya sia-sia
Ku hanya bisa menyesal
Sangat menyesal

Setelah semua itu
Seseorang datang menutupi
Lubang-lubang pada dinding hatiku

Mungkin ku menyukainya
Tapi terkadang
Aku berharap dia adalah dirimu

Aku senang dia di sampingku
Menemaniku dan melihatku saat ku melihatnya
Tapi saat ku mengingat dirimu
Rasa perih itu masih muncul
Bagai pisau pengiris hatiku

Ku bohong
Jika ku bilang ku tak mencintaimu
Karena ku tak sanggup melupakan
Rasa yang tumbuh dalam hatiku

Di hati mungil ini
Ku harap kau bisa melihatku
Melihat kasihku padamu
Meski itu sangat kecil

"K"

Oleh: oleh @ydiwidya
widyarifianti.tumblr.com

Beberapa orang yang memenuhi dashboard,timeline, dan segala macam
media aktualisasi diri menuliskan kata kamu. Menumpahruahkan segenap
perasaannya akan kamu. Kamu yang menyenangkan, kamu yang menyebalkan,
kamu yang bikin penasaran, kamu yang diagung-agungkan, kamu yang
digaung-gaungkan, kamu yang dicaci, kamu yang dicintai..

Apakah orang yang mereka sebut dengan kamu itu adalah kamu yang sama
dengan kamu yang kukenal?

Kalau iya, saya ucapkan selamat. Kamu hebat.

Kamu berhasil menggantikan hapalan-hapalan penting kuliah,
ingatan-ingatan penting, dan seluas ruangan dalam benak mereka dengan
bayang-bayang kamu.

Kamu…bahkan berhasil membuat mereka hampir lupa akan Siapa yang
menciptakan kamu. akan Siapa yang menciptakan cinta, kata ganti yang
seringkali mereka gunakan untuk menyebut kamu.

Dan…ternyata kamu tidak sekadar hebat, tapi juga kuat. Demi yang satu
ini saya rela mengacungkan empat jempol, bahkan seluruh jari saya demi
kuatnya kamu.

Kamu kuat, kamu berhasil berlari tanpa lelah dalam pikiran mereka.
Padahal mereka tak mengharap kamu berlari, kamu diam di sisi mereka
pun sudah cukup. Apalagi berjalan di samping mereka.

Oke, setelah menjabarkan semua ini…saya tahu kamu pasti akan menjawab,
“Ini bukan salahku…”

Ya, benar ini memang bukan salahmu karena mereka menjadi selupa diri
itu bukan karena salahmu. Sama sekali bukan.

Kalau sudah begitu, kamu tahu bagaimana kamu harus berlaku ke depannya kan?

Bukannya mau menggurui, saya hanya menyampaikan pesan. Tolong bimbing
mereka lagi ke tempat awal mereka berpijak. Biarkanlah mereka menjejak
dengan rasa aman setelah kamu terbangkan angannya tinggi-tinggi.
Biarkan mereka tersungkur tanpa rasa sakit setelah kamu jatuhkan.

Bukan salah mereka jika jatuh pada kamu yang tidak mau menangkap. Dan
bukan salahmu juga jika kamu tidak mau menangkap.

Ini hanya masalah ekspektasi yang tidak bertemu pada satu titik.

Jadi tolong, kembalikan mereka pada titik asalnya, sebelum kamu
simpangkan mereka sedemikian jauhnya.

Saya tahu itu susah.

Tapi kamu hebat. Kamu kuat. Saya percaya kamu bisa.

Oke?


Untuk kamu.

Untuk siapapun yang merasa berinisial K dan diikuti oleh kata ‘amu’

Untuk siapapun yang tidak berinisial K, tapi merasa dijadikan
‘kamu’-nya seseorang


Dari saya.

Bagian dari mereka.

Aku Lupa

Oleh: Olga Leodirista
@Olga_imoet
http://olgaimoet.blogspot.com

Aku lupa aku terluka ~ aku lupa, aku jatuh cinta.
Ah, cinta membuatku amnesia.

Aku lupa aku jatuh cinta ~ aku lupa, aku merindu.
Ah, rindu membuatku mati gaya.

Aku lupa aku merindu ~ aku lupa, aku melangkah maju.
Ah, langkahku sia-sia.

Aku lupa aku melangkah ~ aku lupa, aku bermimpi.
Ah, mimpi membuatku tak berdaya.

Aku lupa aku bermimpi ~ aku lupa, aku terhempaskan.
Ah, hempasan membuatku terluka.

Dan aku selalu lupa aku terluka ~ aku lupa, aku jatuh cinta.
Aku lupa cinta itu telah mati.
Aku lupa, kumakamkan kau dalam hati.

Senin, 26 September 2011

Best of the Night 25 September 2011

Best of the night untuk tema 'API' adalah...*drumrolls*

Oleh: Aditia Yudis (@adit_adit)

Oke *phew* mari kita bahas :)

1. Kalimat pertama menarik. Tidak membuat pembaca langsung ilfil, dan jelas menggelitik sedikit rasa penasaran. Tidak banyak, juga tidak sedikit. Takarannya pas untuk membuat pembaca bertahan membaca ceritanya. Skor 3.

2. Twist rasanya tidak ada. Segalanya tampak hanya sebagai pemaparan perasaan galau si wanita terhadap...'api' yang diciptakannya. Namun jelas twist bukan merupakan poin utama dari cerita ini. Skor 2.

3. Tanda baca sempurna! Skor 4.

4. Tulisan sesuai dengan tema 'API' yang diberikan. Skor 4.

5. Meski bukan cerita yang paling fresh dan menarik, namun cerita ini memiliki daya tariknya sendiri. Skor 3 untuk daya pikatnya yang cukup luar biasa.

6. Diksi puitis dan mengena, tidak perlu penyusunan kalimat kompleks untuk menawan hati pembaca. Skor 4.


Selamat ya! :D

Redupnya Api Harapan

Oleh: Rizka Hany (@hotarukika)


Api semangat penuh harapan berkobar ketika aku melangkah pasti ke arah tujuan hidup bahagiaku. Bahagia bersamamu.

Begitulah aku jika dideskripsikan. Melakukan banyak hal, belajar banyak hal, menjadi aku yang lebih baik.

Kamu, sosok sederhana yang mampu mengobarkan api semangat dan harapanku untuk memiliki hidup lebih bahagia. Menjalani sulitnya hidup pun tetap membuatku bersemangat dan penuh senyuman. Aku menitipkan harapanku agar aman padamu, begitu pun dengan kamu. Berbekal kepercayaan, aku dan kamu menjalani hidup di dunia yang berbeda. Namun dengan tujuan satu. Bersatu.

Indahnya…

Perlahan kamu mengirimkan awan dan tetiba hujan mematikan kobaran harapan milikku. Kobaran semangat dan harapanku tampak masih berjuang untuk menyala, hingga akhirnya kelelahan dan perlahan meredup dengan sendu.

Kamu, meminta harapan yang sempat dititipkan padaku kembali. Namun kamu mungkin lupa mengembalikan harapan milikku, hingga aku tidak memiliki satu. Dan masih selalu berharap bahwa harapan itu tetap kamu.

Aku yang penuh semangat dengan tujuan hidup sebagai kamu, kini hilang arah. Sebutlah aku bodoh. Yang sulit untuk bangkit ketika api semangat berbalik membakar hatiku. Hingga membiru. Sebutlah aku dungu. Yang berjalan ke depan dengan cara mundur masih ingin menatapmu.

Tapi, aku yakin akan waktu. Yang mampu mengobarkan kembali api harapanku yang sempat redup. Harapan padamu atau bukan padamu. Apapun itu, pasti aku dan waktu mampu. Walau membutuhkan lama untuk mewujud bahagia. Walau kuhabiskan seluruh hidupku yang berharga.

Kamu…
Lihatlah aku. Dari sisi lain yang bisa kamu tatap. Perhatikan aku tidak hanya dengan pikiran milikmu, tapi juga hatimu. Aku adalah sosok kuat yang pernah berjuang untukmu. Aku adalah sosok sabar yang pernah begitu lama menunggumu dengan setia. Aku yang tidak pernah mengeluh pada siapapun tapi berani tampak rapuh di hadapmu. Karena hanya kamu yang aku percaya untuk melihat lemahnya aku.

Aku bukan baja yang tahan api. Aku hanya kayu yang bisa terbakar. Tapi aku adalah kayu yang kokoh untuk menyanggamu jika kamu bersedia menjadi atap, memayungiku, melindungiku. Saling membantu.

Aku tidak butuh kamu dengan sosok sempurna tak tergapai. Aku hanya mau kamu yang sederhana seperti dulu yang menitipkan harapannya padaku untuk berjalan bersama. Pelan-pelan.

Sebutlah aku bermimpi. Bermimpi api harapan bisa berkobar lagi pada sosok yang sama.

Ramalan Api

Oleh: @TengkuAR


“Baiklah, saya akan membacakan karakter anda sesuai dengan tanggal dan tahun lahir yang sudah anda tuliskan.”, kata seorang peramal dengan perawakan muka yang ayu, kulit sawo matang, tangan dan lehernya berhiaskan gelang dan kalung serta memakai penutup di kepalanya.

Awalnya Ardi tidak ingin di ramal, namun teman-temannya memaksa untuk di ramal dengan alasan seru-seruan saja.

“Seandainya waktu bisa gw putar, harusnya tadi gw nolak ajakan mereka ke Bandung ini.”, sesalnya dalam hati.

Di ruangan yang berukuran 3 x 4 meter ini, hanya ada Ardi dan Si Peramal saja, sedangkan teman-temannya menunggu di luar dan yakin mereka sedang menebak-nebak apa yang dikatakan peramal dengan gaya guyonan mereka masing-masing.

Nasi sudah menjadi bubur. Lalu kemudian…

“Anda ini adalah seorang yang cepat mengambil keputusan dan percaya pada diri sendiri, dapat bersikap sembrono dan menyebabkan kerusakan yang besar bila gagal mengontrol dan mengarahkan energi dengan tepat.”, dengan suaranya yang datar dan tanpa ekspresi Si Peramal itu tiba-tiba menyadarkan lamunannya.

“Saran saya, bila Anda jika selalu ingin menjadi pemenang utama, cobalah menghargai pandangan dan mendengarkan pendapat orang lain sebelum melakukan suatu tindakan, kembangkan sifat sebagai pendengar yang baik karena hal ini dapat mengendalikan kecenderungan untuk bersikap impulsif. Banyak dari orang-orang berunsur api seperti Anda juga cenderung untuk terlalu berani dalam mengemukakan pendapatnya. Maka, Anda harus mampu mengendalikan emosi, karena ambisi dan niat yang menggebu-gebu dapat memperbesar sifat egois Anda sehingga bersikap sembrono dan tidak sabaran bila keinginan tidak terwujud”, lanjut Si Peramal menjelaskan tentang pribadinya.

“Terus, kira-kira jodoh saya bagaimana?”, Ardi penasaran karena sifat yang dijelaskan menurut ramalan tersebut tidak terlalu baik.

“Cari yang berunsur Air. Dia akan mengimabangi kehidupan dan kepribadian Anda.”, Si Peramal pun menutup pembicaraan.

“Ah! Dasar peramal sok tau. Mana mungkin unsur pribadi gw Api.”, cacinya dalam hati dan sambil berlalu menuju tempat teman-temannya berkumpul.

Sesuai dengan prediksinya di dalam ruangan peramal tadi, kini Ardi menjadi bahan olok-olokan teman-temannya bahkan sampai perjalanan menuju rumahnya.
***

“Unsur Api dengan Unsur Air? Api dengan Air? Api-Air?”, kata-kata peramal waktu itu berputar-putar terus di otaknya.

“Kenapa gw jadi bego mikirin hal yang nggak penting kayak gitu ya?”, lawan kata hatinya.

“Udah lah pasrahin aja, gak baik juga mikirin hal-hal kayak gitu. Lagian itu kan cuma ramalan. Dan ramalan ini udah seminggu lalu.”, Ardi coba untuk menguatkan bahwa pikirannya adalah salah dan kata hati selalu benar.
***

Sebulan berlalu, namun Ardi tetap tidak bisa mengenyahkan kata-kata Si Peramal waktu itu. Ardi malah makin penasaran dengan yang di maksud unsur Air oleh Si Peramal.

Akhirnya dia sore ini meniatkan diri untuk pergi ke toko buku setelah pulang kerja nanti.
***

“Mba, dari tadi saya cari buku tentang ramalan kepribadian dengan unsur-unsur api atau air, pokoknya semacam itulah, tapi nggak nemu. Bisa tolong bantu saya, kalau Mba nggak keberatan?”, Ardi bertanya kepada seorang wanita seumurannya yang sedang berdiri di dekatnya sambil melempar senyum terhangat yang dia punya.

“Suka baca tentang ramalan kepribadian juga, Mas?”, dengan ramah wanita itu bertanya kepada Ardi dan tangannya tetap mencari-cari buku yang dimaksudkan.

“Nah! Ini dia, Mas. Silahkan di baca ya!”, belum sempat Ardi bertanya, ternyata wanita itu sudah menemukan buku yang Ardi cari.

“Oh, iya. Terima kasih, Mba! Tapi ngomong-ngomong, Mba juga suka baca buku sejenis ini?”, Ardi mencoba untuk membuka pembicaraan dan kali ini dia tertarik dengan kecepatan wanita itu saat mencari buku.

“Banyak lagian pengetahuan yang bisa diambil dari buku jenis ramalan ini. Bukan maksud untuk jadi dukun ya. Tapi kadang buku-buku jenis ini bisa bikin saya untuk cepat tahu kepribadian seseorang. Kayak Mas ini, saya bisa prediksi kalau unsur Mas adalah Api. Iya bukan? Semoga saya nggak salah ya. Dan saya di stand buku ini memang juga sedang mencari buku-buku tentang ramalan.”, wanita itu menjelaskan dengan panjang lebar dan menebak dengan benar unsur kepribadiannya disertai dengan tawanya yang renyah saat menjelaskan.

“Saya… Ardi, panggil saja seperti itu. Pantes Mba hafal letak buku yang saya cari. Dan mengenai tebakan Mba tadi, how come u know that? Satu lagi, boleh tau nama Mba?”, Ardi menjawab sambil terbata-bata karena kaget dengan tebakan wanita itu.

“Saya, Ira. Saya hanya tau begitu saja mungkin berkat buku-buku yang saya baca atau yang sedang Mas Ardi mau baca sekarang ini.”, balasnya dengan wajah yang terlihat sumringah karena telah menjawab benar.

“Dan Mba Ira sendiri unsurnya apa kalau boleh tau?”

“Saya, Air.”

Dan pembicaraan pun berlanjut makin hangat dan di warnai canda-tawa.
***

Hari ini, sejak pertemuan di toko buku empat tahun lalu. Ardi dan Ira pun mengikat janji sehidup semati. Pikiran dan kata hati Ardi pun tidak lagi bertentangan dengan ramalan apa yang dikatakan Si Peramal dan semua karena Ardi telah menemukan jawabannya, dia adalah Ira.
***