Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 23 September 2010

Masih

Oleh: Farida Susanty @faridasusanty
insignificantlyimportant.tumblr.com

             20 tahun, dan kamu tidak berubah.
             Aku hanya terpaku melihatmu terpaku melihatku. Matamu masih tetap seperti itu. Berbinar dengan cara yang tidak pernah bisa kulihat pada mata orang lain, selama apapun aku hidup, sebanyak apapun orang yang pernah kutemui. Aku tidak pernah bertemu orang lain sepertimu. Dengan mata seperti ini.
            Tanganmu gemetar dan kamu hampir membalikkan tubuhmu dariku. Tapi kutarik tanganmu dengan kekuatanku yang sudah tidak seperti dulu. Untung kau berhenti.
            Aku tersenyum dan menutup mataku.
            Memohon padamu.
            Dan ketika kubuka mataku, aku lega kamu masih di sana. Kamu menangis. Kamu mengerti aku tidak bisa merasa lebih bersalah dari ini.
            Karena sejak dulu, memang hanya ada kita di dunia ini, bukan?

            Kau ajak aku masuk ke dalam rumahmu. Kau belum bercerita apapun padaku, tapi aku sudah mengerti apa yang terjadi. Kulihat foto-foto yang tertempel di dindingmu. Kulihat orang-orang yang tidak pernah kutemui. Anak-anak kecil yang mirip dirimu. Laki-laki yang merangkul bahumu. Lalu anak-anak dalam versi lebih dewasa dengan orang-orang lain yang akhirnya membawa mereka keluar dari rumahmu. Foto-foto perkawinan.
            Aku iri sekaligus merasa sayang pada mereka semua, karena kulihat kamu juga begitu menyayangi mereka.
            Rumahmu terasa nyaman. Tidak begitu besar, tapi terasa dingin walau udara di luar panas membara. Tidak banyak lukisan yang tertempel. Tidak banyak aksesoris. Tidak ada permadani, tidak ada tempelan berbau religius. Kamu selalu bermasalah dengan agama. Kita berdua selalu bermasalah dengan agama.
            Kamu hendak mendudukkanku ke sofa hitam yang nampak nyaman itu. Tapi kepalaku rasanya berputar sangat kencang ketika kamu memegang tanganku.
            Saat itulah aku tahu aku tidak ingin di situ. Aku tidak ingin ada di rumah ini. Aku ingin membawamu ke tempat yang kita tahu. Bukan di sini.
            Bukan di sini.

            Dengan tergopoh-gopoh, kuajak dirimu memasuki mobilku. Aku tidak percaya kamu sama lemahnya denganku sekarang. Beberapa kali kamu memegangi pinggangmu dan memintaku untuk berjalan lebih lambat.
            Aku tahu ini karena usia, tapi aku ingat masa-masa dulu. Kamu juga sering memintaku untuk berjalan lebih lambat. Dan saat itu pula. Ketika aku berjalan terlalu cepat dengan hidupku, berlari kesana kemari, ke satu negara ke negara lain, mencari hal yang tidak kamu mengerti, kamu melakukan itu juga; kamu memintaku untuk berhenti, berjalan lebih lambat.
            Dulu aku tidak memenuhi keinginanmu. Sekarang aku akan memenuhinya.
            Kupegang tanganmu erat-erat, dan kuikuti irama berjalanmu.
            Ternyata cukup nyaman.
            Aku selalu merasa nyaman di dekatmu.

            Ketika kamu sudah duduk di sebelahku, perasaanku semakin nyaman. Sudah lama kuimpikan ini. Melihatmu duduk di sebelahku, di mobil yang kubeli sendiri ini. Ada orang-orang yang duduk di sana, tapi itu bukan dirimu. Aku ingin dirimu yang ada di sini.
            Kulitmu begitu transparan ditembus matahari. Aku tidak bisa berhenti menatapinya walau aku sedang mengemudi. Aku tahu kamu melihatku dengan khawatir, takut kita berdua mati.
            Tapi apalah peduli kita, kita sudah terlalu lama tidak bertemu.
            Waktu bukan lagi misteri. Kita siap mati.
            Dan aku masih takjub dengan segala hal pada dirimu. Rambut lebatmu yang sudah berwarna putih sekarang. Tanganmu yang kurus, dengan nadi-nadi yang bisa selalu aku lihat kasat mata. Pinggangmu yang ramping, padahal kau telah lama melahirkan dua anak.
            “Kamu masih cantik sekali,” bisikku ke telingamu.
            Kamu terkikik geli, menatapku dan memukul lemah tanganku.
            Kikikan yang sama dengan masa itu. Aku menyukai tawamu.

            Kita sampai di tempat itu.
Kamu tahu tempat ini. Kita selalu duduk di sana berjam-jam ketika matahari muncul dan matahari tenggelam. Aku selalu bersamamu ketika hari dimulai dan hari selesai.
Kuremas tanganmu dan kamu sekali lagi menangis. Kamu gemetar lagi, berusaha menarik tanganmu dariku. Aku tetap menggenggamnya.
“Aku tidak mau kamu pergi lagi,” bisikku ke telingamu. Kamu semakin gemetar. Tapi kucoba memeluk dirimu. Kamu begitu rapuh, aku takut memelukmu.
Kamu tidak menolak.
“Aku masih kagum bagaimana aku masih merasa butuh kamu seperti ini. Aku tidak pernah… sedetikpun tidak memikirkan kamu.”
Kamu mengangguk. Kamu menggeleng-geleng. Aku tidak mau membayangkan apa yang terjadi di dalam pikiranmu. Semua perasaan yang kamu alami. Suami yang harus kamu nikahi. Anak-anak yang harus kamu urusi, tanpaku di sisi.
Aku ingin minta maaf, tapi aku pikir minta maaf tidak akan berarti banyak. Kutatap matamu lagi dan berenang di dalamnya. Kupegangi terus tanganmu yang gemetar. Aku ingin membayar semuanya, tapi mungkin itupun tidak akan berarti banyak.
“Setidaknya sekarang aku di sini. Sekarang aku di sini,” Kubisikkan itu ke telingamu lagi. Kamu semakin gemetar. Aku terus memelukmu. “Hey cantik, aku di sini….”
20 tahun, dan kamu tidak berubah.
Kita tidak berubah.

Dia, malam ini dan satu cerita..

Oleh: Angga Eka Harnizar

Jakarta malam ini dingin banget ya?!

Uhm.. gak tau kenapa akhir – akhir ini ada korelasi yang gue bingung nyari eksplanasinya, kondisi mood gue selalu deh berbanding lurus sama suhu, dan malem ini beneran deh kerasa dingin banget .. oh great ditambah hujan juga.
hebat yaa kadang orang yang jadi pilihan utama kita buat ngabisin waktu libur, traktiran waktu gajian justru jadi orang yang paling nyebelin waktu mood lagi jatuh ambruk gini uhm.. well, Jakarta never felt this cold anyway
 udah 4x nada dering di ponsel gue bunyi, sayangnya semuanya report kalo sms yang gw kirim ke dia, delivered.. ngirim 4x dan semua reportnya delivered, tapi gak ada satupun yang dibales.. oh great!
Media – music – resume : pure Saturday – kosong
Yeah fate has a strange sense of humour, and sometimes it not funny at all, ampir ketidur  tapi teriakan dokter Alea sukses bikin gue bangun dan kaget, err kaget terus bangun apa ya?! gue yakin dokter yang satu ini paling panik gak jelas lagi ngadepin pasien ibu hamil yang tengah malem mau ngelahirin, kombinasi suhu yang dingin, hujan dan dokter Rachel selalu sempurna memang, oh iya harusnya di kata sempurna pake kutip! Ha..
Sampai di ruang persalinan variable “betapa sempurnanya” malam ini nambah dengan runtut peristiwa yang bikin mata gue kaget, lalu hati gue ngerasa miris dan kosong banget…
Adalah hal biasa buat gue denger dokter Alea teriak – teriak gak jelas kalau tiba tiba nemuin gue ketidur padahal datang pasien yang udah mau ngelahirin banget, tapi adalah hal yang gak biasa detik detik di persalinan tadi, uhm di bagian ini gue ragu buat nulis kata persalinan..
Ibu muda bernama Friska tadi jelas tipikal wanita muda, yang seharusnya masih duduk di bangku SMA atau mungkin kuliah tingkat awal, seharusnya dia datang kesini baru 2 bulan kurang lagi, seharusnya suaminya yang nganter kesini bukan pembantunya, seharusnya nada tangis yang terdengar di persalinan tadi tangis bayi bukan tangis dari dokter Alea, seharusnya Friska dan bayi dalam kandungannya masih hidup, seharusnya..
Kilatan kejadian di ruang bersalin tadi masih keinget jelas banget  ditambah backsound voice over dari dokter Alea dan scoring detak jantung gue “coba di USG sama ECG dulu Ndu”, “dug.. dug..dug..” “placentanya lepas suster Rindu”, “dug.. dug..dug..” , “pendarahan di dalem ini”, ”, “dug.. dug..dug..” ,  “bu Friska tenang” ”, “dug.. dug..dug..”  “tega deh suaminya”, ““dug.. dug..dug..” “bu Friskaaaa”, semuanya secara random terus ngulang sampai di closing kilatan semuanya hening sebelum tangis pilu dokter Alea.
Tingkat KDRT yang tinggi dari suami yang kasar adalah alasan kenapa gue masih nyaman dengan pacar gue sekarang, dia lembut, pengertian walau saat – saat dia datang bulan kayak gini gue harus ekstra sabar, tapi gak apa – apa yang namanya hubungan kan harus saling ngetiin kan?! Toh waktu gue datang bulan juga dia bisa berubah jadi mahluk paling sabar buat gue yang kata dia adalah mahlik paling nyeremin kalo datang bulan juga
Dan gue sayang dia, karena bareng dia gue gak perlu takut ngalamin KDRT, bareng dia gue gak bakal pernah datang ke ruang bersalin kecuali ngelaksanain tugas gue sebagai bidan, bareng dia gue gak akan takut juga ditinggal cowok brengsek kayak apa yang nyokap gue alamin, love you Linda.


Rindu

Tema 22 September 2010

Untuk malam ini temanya . . * jreng jreng* . . Lesbian!

Ini salah satu tema usulan dari followers. @michellelioe @intanshariputra thanks for the idea ;)

Tema ini rada gimana gitu sebenernya. Tapi menarik juga untuk ditulis. Iya kan? Jadi usahakan tulisannya tidak menyinggung siapa pun ya :D 

Selasa, 21 September 2010

Porno vs Ibu Bidan

Oleh Dini Novianti
www.dee-nee.blogspot.com

Porno, melihat bahkan mendengarnya saja kadang sudah membuat kita mengernyitkan dahi. Entah karena kita jarang mendengarnya, atau sebenarnya kita sudah sering mendengar kata itu namun karena lingkungan yang jarang membahas mengenai hal itu membuat kita menjadi ‘asing’ dengan kata porno. Mengapa sesuatu dikatakan porno? Menurut saya, sesuatu dikatakan porno karena ada sesuatu yang ‘tidak porno’, bayangkan jika semua hal dianggap biasa saja, mungkin video, gambar, perilaku, tarian yang porno itu tidak lagi dianggap porno.

Baik nggak sih kita kenal sama yang namanya porno? (ok, bukan orang dengan nama porno, karena klo ada kasian banget tuh orang). Sebenarnya batasan porno di Indonesia masih kurang jelas menurut saya (meskipun udah ada UU Pornografi, karena saya nggak tau isinya apa hehehehe..). contohnya aja gini, klo misalnya ngeliat daleman wanita (CD) itu porno, kasian banget ibu-ibu yang jadi buruh cuci, harus ngejemur di dalem rumah, karena klo dia ngejemur di luar rumah, nanti bakalan ada polisi-polisi yang tiba-tiba dateng dari kanan kiri, depan belakang, atas bawah (ok, yang ini lebay, mana ada polisi dateng dari bawah tanah) terus nangkep itu ibu-ibu buruh cuci dengan alasan, “maaf, anda ditangkap karena mempertontonkan CD”. Kasian..kasian..kasian.. atau nggak bakalan ada juga yang mau jadi dokter spesialis kulit dan kelamin, karena nggak akan laku-laku, bahkan dokter itu sendiri yang nggak mau buka praktek, soalnya setiap ada yang pasien yang sakit daerah ‘anu’nya dokter itu pasti nggak mau nanganin dengan alasan ‘pak, maaf nanti saya bisa masuk penjara karena liat ‘anu’nya bapak’ nah karena itu dokter nggak mau nanganin pasien itu, pasien itu yang sekarang gosip sama tetangganya tentang dokter yang nggak professional alhasil, dokter itu bangkrut nggak ada lagi pasien yang mau diperiksa. Atau contoh satu lagi, profesi bidan nggak ada lagi, atau kalaupun ada kasian ibu-ibu yang hamil karena saat mau melahirkan bidannya cuma bisa bilang “IYA BU, DORONG, DORONG, nanti anaknya saya tangkep dari depan…” emangnya bayi dikira bola.

Nah, klo menurut saya sih, mulai dari kecil anak udah mulai dikenalin sama yang namanya organ dalam, sehingga ketika mereka berajak dewasa dan gurunya disekolah membahas itu tidak lagi ada jerit atau teriakan dari anak “iiiiiiiiiiiiih ibu guru, ngebahas ‘anu’.” Pikiran open minded yang terbuka namun tetap dalam kaidah ketimuran akan membuat Indonesia tidak lagi terkungkung dengan yang namanya porno. Well, porno ada baiknya kok, karena klo nggak ada yang namanya porno, berarti semuanya itu tidak porno, nah apa ada yang namanya sempurna di dunia ini? nggak kan, yang harus kita lakuin adalah memproteksi diri dan menjadi lebih bijak setiap harinya.

Tema 20 September 2010: Porno, Baik?

Untuk sesi Writing Session pada 20 September, tema yang diangkat adalah suatu tema yang cukup kontroversial, yaitu pornografi. Dari kata "porno, baik?", peserta bisa mengembangkan kreativitasnya. Apakah pornografi bisa menjadi sesuatu yang baik?

Ulang Tahun Keira


Oleh : 17thstarlight


27th Birthday
Tangan Keira bergetar memegang kotak seukuran wadah pena berwarna salem. Huruf-huruf cantik berwarna emas di sudut kanan bawah kotak itu membentuk kata ‘Arundo’. Keira membuka tutup kotak itu dan melihat sebuah kalung dengan liontin kristal berbentuk piramid. Dia mengambil kalung itu, mendekatkan ke arah matanya untuk melihat pahatan kecil yang terukir di dalamnya.
Sesuatu di dalam rongga dada kirinya tiba-tiba terasa nyeri. Itu biola, bentuk pahatan dalam liontin kristal piramid itu.
Kenapa kau harus memberi kejutan seperti ini di hari ulang tahunku?” bisik Keira pada dirinya sendiri, tak percaya. Tiba-tiba tubuhnya limbung..barang-barang dalam kamar itu serasa berputar, & ia tertarik dalam sesuatu yang gelap.

17th Birthday
BYUR!!
Keira jatuh ke dalam air danau yang dingin. Ia menjejak-jejakkan kakinya, berusaha naik ke permukaan.
Huah! Akhirnya Keira merasakan oksigen segar menyusup ke lubang hidung, tenggorokan dan paru-parunya lagi.
Keira memandang sekeliling, melihat tepi danau terdekat lalu berenang ke arah sana. Ia menggerakkan kedua lengannya bergantian membelah air danau, dan beberapa rontokan tanaman rambat tersangkut di jemarinya.
Keira menginjak beberapa kerikil yang melukai telapak kakinya, tapi ia justru mempercepat langkahnya. Pakaiannya basah dan angin pegunungan membuatnya semakin menggigil.
Kei!” teriak seseorang di antara bayangan pepohonan, sekitar 500 meter di sebelah kiri Keira.
Keira berhenti, membalik tubuh ke arah suara dan mengamati sosok yang berlari perlahan ke arahnya. Lelaki itu sedikit lebih tinggi darinya, berkulit agak coklat dan mengenakan jaket yang lapisan luarnya berbahan parasit.
Ya ampun Kei, kamu basah kuyup begitu! Ini, pakai jaketku.” kata lelaki itu sembari melepaskan jaketnya dan menyodorkannya pada Keira.
Keira mengambil jaket itu dari tangan Arundo. Mengenakannya dengan satu gerakan kilat lalu kembali berjalan. Keira menyilangkan kedua lengannya di depan dada, merasa lebih hangat. Arundo berjalan menjajari langkah Keira dalam diam.
Mereka sampai di tepi lapangan rumput, sinar matahari membuat mata keduanya sedikit menyipit. Keira melihat semua teman-teman dekatnya berkumpul di tengah lapangan, duduk santai di atas tikar berwarna kuning cerah, bersenda gurau dan saling berbagi makanan.
Ulang tahun yang agak nyleneh dengan berpiknik,” pikir Keira. “tapi toh mereka sudah meluangkan waktu menyiapkan surprise ini.” Keira tidak suka merayakan ulang tahun, tapi ia menarik bibirnya membentuk garis senyum, lalu bergabung dalam keceriaan sahabat-sahabat serta tentu saja kekasihnya, Arundo.      

7th Birthday
Keira meniup ketujuh lilin mungil di atas kue tart berwarna pink di hadapannya. Kilatan blitz kamera dan riuh tepukan tangan seolah menyerbunya. Mata Keira mengerling senang ke arah tumpukan kado di seberang ruangan, menerka-nerka tumpukan hadiah barunya.
DOR!!!
Keira melonjak kaget, suara itu tidak mirip dengan balon yang meletus. Keira menoleh ke arah orangtuanya, ingin bertanya. Tapi lumuran darah di bagian depan jas yang dikenakan ayahnya sudah menjawab semuanya. Sontak Keira menjerit histeris, disusul dengan jeritan tamu-tamu wanita dalam ruangan itu. Beberapa anak—yang merupakan teman sekelas Keira mulai menangis, sementara yang lainnya memeluk kencang ibu atau ayah mereka. Beberapa pria di sekitar ayah Keira berusaha menolong ayah Keira agar tidak jatuh membentur lantai, dan yang lain mulai menelepon kesana-sini sambil melihat keluar rumah dengan panik.
Sekilas Keira melihat sosok pria berkelebat di balik jendela yang menghubungkan ruangan tempatnya berada dengan halaman samping rumahnya, tetapi ia hanya tertegun.
=20 menit kemudian=
Ayah Keira sudah dinaikkan ke dalam ambulans, dan ibu Keira—tidak berhenti menangis—ikut dalam ambulans itu menuju rumah sakit, yang untungnya tidak terletak terlalu jauh dari situ. Beberapa tamu mengiringi dengan mobil di belakang ambulans itu, dan sisanya satu-persatu beranjak pulang. Sepertinya seluruh tamu sangat shock dengan insiden di hari ulang tahun Keira ini, sampai hampir-hampir tidak ada yang mempedulikan Keira. Hanya tante Keira yang mengambil selimut, menyampirkannya di bahu Keira, lalu memangku gadis kecil itu dan memeluknya erat-erat.
Sang violis lagi.” suara polisi yang berbicara dengan rekannya di kejauhan, sayup-sayup terdengar oleh Keira.

Keira’s born day
Suatu sore, dalam ruangan tertutup di salah satu gedung perkantoran, yang berjarak sekitar 1 km dari rumah sakit bersalin—tempat ibu Keira sedang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan bayi pertamanya.
Semua yang berkumpul hari ini di tempat ini, harus bersumpah menaati tiap butir kesepakatan, yang terjabarkan jelas dalam kertas di hadapan anda masing-masing. Konsekuensi dari pelanggaran seperti yang sudah sangat kita pahami bersama.” ujar pemimpin rapat, seorang pria bersetelan socialite, nada suaranya tegas dan sorot matanya sarat makna. Di lehernya tergantung kalung berliontin piramid kristal, dengan bentuk biola terpahat sempurna di dalamnya.
Pria itu melihat satu-persatu anggota kartel yang duduk mengelilingi meja bundar bersamanya, puas melihat mereka mengangguk mantap tanpa ekspresi menanggapi ucapannya, termasuk ayah Keira.

Minggu, 19 September 2010

Cermin

oleh : kembangbakung
www.lily4poems.wordpress.com


Sudah pernah aku bilang beberapa kali:


Jangan terlalu lama mematut diri di cermin. Tidakkah kau merasa ia selalu ada, ikut mengintaimu di sudut bingkai? Atau kau terlalu sibuk dengan gincu?

Sekelebat di ekor mata, kadang kau baui seringainya ... itu! Di latar belakang cermin yang pantulkan kamarmu. Ah, dia selalu menghilang kalau kau bermaksud memandang langsung ke pojok ruang.

Maka aku bilang juga berulang kali:

Jangan kau letak cermin di kaki tempat tidurmu. Ia suka mencuri rautmu ketika lelap. Memakainya berjalan-jalan entah ke pelosok yang mana. Itulah mengapa kau seperti merasa pernah pergi ke sana. Tak heran kau sering bingung ketika langsung berkaca di bangun pagi, mendapati bayang itu bukan dirimu sebelum pergi tidur.

Terutama, jangan meratap dan memuja di muka cermin... kau tak lihat, di pantulan yang kau yakin adalah dirimu, tumbuh perlahan sepasang taring.


- end -