Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 24 Maret 2011

Penantian dan Harapan


Oleh : Agung Wahyu K (@wahyukrissanto)

Dua hari. Sebuah takaran waktu yang tidak cukup panjang bagi mereka yang sedang  mengerjakan tugas-tugas kampus, namun tidak cukup singkat bagi seseorang yang sedang menantikan sesuatu yang istimewa, bukankah begitu? Ya, karena aku merasakannya, aku menjalaninya.
“Vi, kamu tahu nomor handphone-nya Very?” Tanyaku.
“Wah, maaf Ga... Aku nggak punya,” jawab gadis itu.
Aku memandangnya dengan setengah kecewa. Merasa keadaan berubah dengan tiba-tiba, gadis itu pun menghentikan makannya. Aku menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari sesuatu yang dapat menjawab segala kegalauanku selama ini. Barangkali aku dapat melihat deretan angka yang menunjukkan nomor handphone Very dari bulatan hitam di matanya, atau dari dahinya. Namun, semua itu tidak mungkin.
“Woi!! Biasa aja kali ngeliatinnya,” gadis yang merupakan teman seperjuanganku sejak SMP itu melambai-lambaikan telapak tangannya persis di depan wajahku. Aku tersadar dari semua khayalan yang ada di otakku sedari tadi.
“Um.. Ya udah deh, aku pergi dulu ya,” aku bangkit dan bergegas menjauhi keramaian kantin sekolah tanpa menghiraukan lagi keadaan di sekitarku. Entah mengapa, aku tidak bersemangat hari ini, dan mungkin keadaan itu akan berlanjut hingga esok, esoknya lagi, dan esoknya lagi jikalau aku belum mendapatkan nomor handphone Very.
Herdian Very Octivan. Dia adalah orang pertama yang mengajariku untuk menjadi seorang pria yang berani, bahkan berani mati. Dia pulalah yang membuka mataku bahwa setiap keberhasilan yang telah kudapat, bukanlah tujuan akhir. Namun, aku harus melangkah lebih jauh lagi untuk memperoleh sesuatu yang lebih dari yang kupikirkan. Dialah kompatriot terbaikku di SMP. Dia adalah orang pertama yang memanggilku SAHABAT. Dia akan selalu menjadi yang pertama dalam kalbuku.
Dua tahun sudah, kulalui hariku tanpa dirinya. Tepatnya, sesaat setelah aku meninggalkan bangku SMP untuk mengepakkan sayapku lebih tinggi lagi menuju jenjang pendidikan SMA. Aku ingat, dia sempat mengatakan sesuatu kepadaku. Dia ingin agar aku bisa satu sekolah lagi dengannya. Namun sepertinya takdir tak mengijinkan hal itu terjadi. Kami dipisahkan bak bulu yang ditarik dari kulit domba secara paksa. Sangat sakit. Lebih lagi, aku tidak mengetahui keberadaannya saat ini. Bahkan, untuk sekadar memberitahukan kepadanya bahwa dua hari lagi aku akan merayakan hari bersejarah dalam hidupku, hari ulang tahunku.
*             *            *
Kubah langit mulai memadamkan terik sang surya, bersiap untuk menggantikannya dengan ribuan kerlip bintang. Tak kudapati setitik pun awan mendung bertengger hendak menampakkan wajahnya, langit malam ini tampak lebih cerah. Mungkin Tuhan sedang memberiku sedikit penghiburan di hari kelahiranku ini. Aku hanya bisa menerimanya dengan putus asa. Hari ini, sama saja seperti hari-hari biasa. Malah lebih buruk. Ibuku bahkan lupa bahwa tepat tujuh belas tahun yang lalu ia mengeluarkan aku dari dalam rahimnya. Very, satu-satunya orang yang dulu selalu ada di sisiku saat aku membutuhkannya, kini pun menghilang entah ke mana.
Di sini, di titik tertinggi Kota Malang, aku hendak melepaskan segala perihku. Aku hendak menangis sejadi-jadinya. Bahkan mungkin setelah ini, tidak ada seorangpun yang ingat bahwa aku pernah terlahir di dunia ini. Hanya Tuhan dan aku yang tahu.
“Tuhan, jika engkau masih membutuhkanku untuk menyaksikan segala kebesaran-Mu kepada orang lain, maka aku percaya Kau akan memberikan yang terbaik bagiku. Meskipun aku menyangkalnya, namun berikan aku kekuatan untuk menjalaninya,” batinku pada Tuhan.
Aku menggenggam erat secarik kertas yang telah kusiapkan beberapa jam yang lalu. Sebuah pesan yang mungkin akan menjadi pesan terakhir dariku untuk seseorang yang telah mengubah hidupku sejauh ini. Ya, dialah Very. Aku tidak tahu tepat kapan sejak perasaan itu telah berubah menjadi cinta. Tak peduli, apa yang akan orang lain katakan mengenai diriku. Mungkin mereka akan menghujatku, atau menganggapku sebagai makhluk rendahan yang tak pantas merasakan cinta. Mereka tak akan tahu, cinta itulah yang membuatku bertahan dalam sepi ini. Memberikanku kekuatan untuk setia menunggunya, di tempat pertama aku bertemu dengannya di sini, Bukit Bintang.
“Vand,” sebuah suara menyapaku dari belakang. Aku hampir tak mendengarnya. Tiba-tiba hati kecilku berteriak, “Very! Itu pasti Very!” Namun secepat itu pula akal sehatku berbicara, “tidak mungkin dia ada di sini, semalam ini! Bahkan kau tak pernah bertemu dengannya!”
Aku kembali hilang harapan hingga suara itu menyapaku kembali. Lebih dekat, lebih nyata. Aku meyakinkan hatiku bahwa aku tak sedang berhalusinasi. Aku harus membuktikan bahwa dia memang berada di sini. Aku pun memalingkan wajahku.
Samar-samar aku melihat sesosok tubuh yang tak asing bagiku.
“Very?” Suaraku tercekat di tenggorokan. Hampir tak terdengar.
Sosok tersebut maju perlahan mendekatiku. Cahaya bulan sedikit demi sedikit terfokuskan oleh lensa mataku untuk membentuk bayangan wajah yang selanjutnya akan diproses oleh otak. Jantungku berdegup lebih cepat, tak percaya akan pemandangan yang kusaksikan. Orang yang ada di hadapanku adalah Very. Aku tak mampu berkata-kata lagi.
“Happy birthday ya,” senyum yang khas dari wajahnya, semakin meyakinkanku bahwa aku sedang tidak bermimpi. Ini kenyataan.
“Yya...” bibirku bergetar. Aku tak mampu menahan air mataku untuk tidak jatuh. Sedetik kemudian, air mata telah meleleh membasahi pipiku. Semakin deras dan tak tertahankan, aku pun tak kuasa menahannya keluar untuk mengungkapkan kebahagiaanku saat itu.
“Maaf aku tak pernah memberi kabar kepadamu. Sejak kita bertemu terakhir kalinya, aku tak mempunyai alat komunikasi lagi. Namun, setiap tahun pada hari ini, aku selalu ke tempat ini dan meyakini bahwa suatu saat kau pasti akan ke sini, dan ternyata benar.” Very tersenyum lagi. Kali ini dia memelukku. Aku sangat bahagia, bahkan aku merasa bahwa aku telah terlahir kembali hari ini, detik ini, dengan kekuatan dan semangat yang baru.
Lebih dari itu semua, aku mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga. Tuhan masih ada untuk memberi kebahagiaan bagi mereka yang sedih, memberi kekuatan bagi mereka yang lemah, dan memberi semangat bagi mereka yang sedang putus asa. Tuhan selalu tahu apa yang harus dilakukan-Nya kepada tiap orang yang masih percaya dan menantikan sebuah harapan.
Maka, yakinkanlah dirimu. Mujizat selalu terjadi bagi mereka yang meyakininya.

Pendar Mimpi

Oleh @jesslynchandra

Kepalaku keoranyeanku yang  baru saja membara berpendar memancarkan kehangatan tersendiri yang bagiku bak awal kehidupan yang begitu berarti. Tetesan yang perlahan-lahan luruh dari kepala melumuri badan berbentuk angka ‘17’-ku, hangat, nyaman bukan buatan. Semua atmosfir ini, seakan sengaja memanjakanku dalam detik-detik akhir hidup ini.
            “Make a wish, Kimberly! Make a wish and blow out the candles!”
            Aku mendengar semarak di sekelilingku, menyoraki sang primadona malam ini: Kimberly. Dengan balutan gaun merah marunnya, kulihat seulas senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Gadis itu, tuanku. Gadis itu, pencipta awal kehidupanku—sekaligus gadis yang akan mengakhiri detik-detik bara kebahagiaanku dalam hidup yang singkat ini.
            Rambut sepunggung gadis itu menutupi sebagian wajahnya, namun dapat kulihat jelas kala kelopak matanya mulai terpejam. Bibir tipisnya bergoyang-goyang lembut, berucap dalam hati...
            Nafasku tercekat. Dadaku bergejolak, jantung ini berdegub di luar kontrol. Ya, katakanlah begitu. Lelehan hangat dari kepalaku yang terbakar masih melumuri tubuh angka ‘17’-ku... Namun kini tak terasa lagi. Ya, aku mati rasa. Perasaan ini, yang selalu menyelubungiku kala aku tahu hidupku akan berakhir sebentar la...
            Pfftt...
            Tepuk tangan teman-teman gadis bernama Kimberly yang tengah merayakan ulang tahun ketujuh belasnya itu membahana seiring dengan hembusan lembut pada api lilin. Hembusan itu melenyapkan api yang semenit lalu baru saja menyala, membuatnya menjelma menjadi gumpalan asap yang menyeruak dalam ruangan.
            Hidupku berakhir, seiring dengan hembusan itu. Satu hal yang kuharap, hanya agar keinginan dan impian tuanku itu menjadi kenyataan...
Dan kalau boleh aku menambahkan satu lagi daftar keinginanku, aku ingin diberi kesempatan untuk kembali hidup... Walau tak lebih dari satu menit seperti momen tadi.

Semoga

Oleh Sasha Ayu (@sashaibrahiem)


Selamat malam tuhan, selamat malam alam semesta dan juga para penghunimu, semoga hari ini kalian bahagia melebihi hari kemarin. Tuhan aku ingin bercerita sedikit mengenai hariku, hari ini aku banyak sekali mengalami tekanan dari segala penjuru kehidupan, semuanya seolah menyerangku tanpa ada hentinya. Aku berfikir apakah aku terlalu lemah dan terus mengalah oleh keadaan sehingga aku terus dikendalikan oleh keadaan yang sedang bersikap kejam hari ini.

Tapi tahukah kamu Tuhan, aku tetap bersyukur akan hari ini setidaknya dibalik semua penderitaanku aku masih menyisipkan sebuah rasa syukur yang tak henti-hentinya karena kau tlah memberikanku hari ini, memberikanku kesempatan untuk tetap dapat tertawa dan bekerja. Tuhan sebentar lagi hari akan berganti, bulan indahmu akan berganti dengan matahari penyemangat hari-hariku, dan tahukah Tuhan?aku tidak sabar untuk bertemu dengan hari esok.

Tuhan esok adalah hari dimana aku akan bertambah dewasa lagi, hanya dalam waktu 2 jam aku akan merubah statusku menjadi 24 tahun, mendengar angka 24 di tanggal 24 rasanya seperti aku dituntut untuk menjadi lebih baik dan baik lagi, aku percaya Tuhan..aku pasti bisa menjadi lebih baik lagi. Dan karena esok hari adalah hari bahagiaku, bolehkah aku meminta sesuatu Tuhan?

Aku ingin menjadi manusia yang lebih baik di setiap detiknya, aku ingin bisa menemukan kebahagiaanku, dan yang terutama aku ingin bisa membahagiakan mereka semua yang selalu ada disampingku setiap saat, Tuhan bolehkan aku meminta satu hal lagi? Aku berjanji permintaanku yang terakhir ini aku akan menukarnya dengan janjiku yang lainnya, Tuhan bolehkah aku memilikinya? Aku tahu permintaanku yang satu ini memang tidak mungkin terwujud tapi saat engkau berkata YA aku berjanji aku kan menjaganya dengan sepenuh hatiku, dan aku akan melindunginya dengan segenap jiwaku.

Semoga engkau mau memberikanku kesempatan indah ini Tuhan, dan tak lupa aku ucapkan banyak-banyak terima kasih kepadamu atas semua yang telah engkau berikan kepadaku sampai saat ini. Semoga semua keinginanku hari ini dapat terwujud satu persatu, oh iya Tuhan bolehkan aku minta satu hal lagi?kali ini bukan untukku, tapi untuknya..Tuhan aku ingin semua penyakit didalam tubuhnya bisa segera hilang dan aku ingin melihatnya tetap sehat dan kembali berkumpul lagi bersama orang-orang terdekatnya dan dapat melihatnya tersenyum lagi.

Semoga engkau tidak pernah bosan mendengar semua keinginanku Tuhan, karena aku hanya dapat menyampaikan segala keinginanku kepadamu, hanya kepadamu Tuhan.


Terima Kasih dan Happy Birthday Sasha.

Titik Kedua


Rachma I. Lestari (@rachmalestari)

            Ingatkah kau kapan pertama kali kita bertemu? Mungkin kau tak ingat. Ya, tentu saja. Kau tak melihatku saat itu. Tapi aku melihatmu. Dan untuk sesaat, aku merasakan ada yang bergetar di hatiku. Ada sesuatu yang bergejolak, hanya sepersekian detik. Dan sepersekian detik itu, mengubah kehidupanku lima tahun selanjutnya.
            Dan di sinilah aku, lima tahun telah berlalu, dan aku masih mengagumi, menyukai bahkan mencintaimu.
            “Bagaimana bisa kamu mencintai Ferdi? Kamu bahkan tidak mengenalnya!”
            “Apa? Ferdi? Yang jelek itu?”
            “Ferdi yang mana sih? Oh, yang itu. Kok bisa sih?”
            Dan berbagai tanggapan serupa yang terlontar dari mulut teman-temanku. Mengenalmu? Ya, menurutku aku mengenalmu. Aku hafal namamu, dimana kelasmu, nomor teleponmu, alamat rumahmu dan yang paling penting, aku hafal lekuk tubuhmu. Lututku dapat segera terasa lumpuh saat melihat siluetmu, yang aku yakin aku berada cukup jauh dari tempatmu berdiri.
            Mungkin aku memang gila. Jatuh cinta kepada orang yang bahkan tidak kukenal dekat. Dan yang paling parah, mungkin kau tak mengenalku!
Jatuh cinta kepadamu ibarat aku sedang memakai kacamata kuda, yang tak menghiraukan apa dan bagaimana tanggapan orang tentangku. Yang aku tahu, aku kagum, suka dan cinta padamu. Titik. Tanpa koma.
            Tapi tahukah kau apa yang selama ini menjadi doa dan harapanku? Aku mengharapkan ada titik kedua setelah kalimatku. Aku berharap, kau berkata padaku, “Begitu juga aku, yang selama ini kagum, suka dan cinta padamu,” Dan setelah itu akan aku cantumkan titik kedua. Tamat. Happy ending.
            

…Wish I Were Him.


Oleh: @geeshaa

I wish I were him.
Karena ia bisa memiliki Sandra, gadis—yang menurutku—terindah di muka bumi ini. Karena gadis itu tidak hanya berparas jelita, pembawaannya yang begitu anggun, dibalut senyuman yang selalu tulus terlontar dari bibirnya.
I wish I were him.
Karena ia bisa memiliki gadis itu sebagai kekasihnya, dan saling percaya bahwa gadis itu juga mencintainya. Lihatlah itu, lelaki itu dengan bangga menggenggam tangan Sandra kemanapun ia pergi. Tersenyum bahagia saat memperkenalkan pemilik hatinya kepada semua temannya. Sorot mata laki-laki itu tidak bisa berbohong, bahwa ia merasa sangat jumawa bisa menjadi pelindung Sang Dewi yang elok.
I wish I were him.
Karena aku bahkan hanya bisa menjadi temanmu, Sandra. Karena aku tidak seperti dia yang begitu istimewa untukmu, begitu gagah di matamu, dan bertahta di hatimu. Lihatlah aku, aku bahkan tidak akan pernah bisa memilikimu dengan keadaanku yang seperti ini—jauh jika dibandingkan dengan semua yang dimiliki oleh pacarmu. Aku begitu pengecut, aku bahkan takut jika kau sampai tahu kalau aku diam-diam menaruh hati padamu—jatuh cinta padamu, lebih tepatnya. Aku hanya takut semua itu membuatku kehilanganmu, Sandra.
Kalau kau sampai mengetahui hal itu, kau pasti akan sangat membenciku—dan tidak akan mau mengenaliku lagi selamanya.
Andai aku adalah pria itu, Sandra, yang bisa mendapatkan cintamu seutuhnya.
“Git, Gita! Kok lo ngelamun sambil ngeliatin Sandra sih? Cabut makan siang yuk! Gue laper nih!” Tiba-tiba suara Mira, teman sekelasku, membuyarkan lamunanku.
 ***

Dreamlist

Oleh Nicky Maulani (@nonanicii)

Assalammualaikum teman, apa kabar?
     Tidak terasa kita sudah memasuki bulan Maret ya… Bagaimana kehidupan kalian menginjak bulan ketiga di tahun 2011 ini? Apakah ada kemajuan atau malah sebaliknya? Tadi malam salah satu sahabat saya bercerita jika ia sedang menekuni hobby barunya, yaitu membuat video. Dia menunjukkan pada saya dan menurut saya video tersebut cukup bagus bagi orang yang sedang belajar. Well, menurut saya itu satu kemajuan dalam hidupnya karena sebelumnya ia telah menekuni dunia fotografi dan sekarang ia menambahkan satu keahlian yang dimilikinya. Jika kalian memiliki hobby yang sama dengan sahabat saya itu dan ingin berkenalan silahkan addhttp://www.facebook.com/#!/profile.php?id=1086101450 (Buat cewek-cewek: kebetulan dia sedang cari pacar juga tuh! Hehehehe).
    Saya sendiri merasakan sudah ada kemajuan dalam hidup saya, saat ini saya telah mendapat ijin untuk mencari subyek penelitian untuk tesis saya di salah satu rumah sakit. Mengapa itu menjadi suatu kemajuan? Terlihat simpel yaa.. tapi buat info aja nih, kalau saya telah mengunjungi berbagai rumah sakit di Jakarta namun hasilnya NIHIL. Surat ijin dan proposal tesis yang telah saya berikan seringkali ditolak atau hilang tanpa kabar. Kalau pun ada rumah sakit yang bersedia untuk membantu biasanya prosedudernya ribet dan memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Makanya saya sangat berysukur ada satu rumah sakit yang memberikan ijinnya kepada saya untuk mencari subyek penelitian tesis saya. Ini semua berkat kebaikan Allah dan juga doa orangtua saya.
Oia… lalu bagaimana dengan kalian? Coba ingat-ingat  apa saya yang telah kalian dapatkan?
     Jika kita mundur ke beberapa bulan yang lalu, yaitu tepatnya pada tahun baru. Tidak sedikit dari kita yang berharap jika tahun 2011 akan menjadi tahun yang lebih baik dari sebelumnya. Saya yakin kalian yang membaca blog ini juga berharap demikin. Setiap orang pasti punya keinginan dan juga harapan di tahun baru atau yang biasanya disebut dengan resolusi 2011. Saya pun demikian, banyak sekali keinginan yang saya tulis pada daftar resolusi 2011. Saya memang memiliki rutinitas untuk menuliskan resolusi saya setiap tahunnya, ini biasa saya sebut dengan dreamlist.
     Kenapa harus ditulis? Pertama, manusia itu makhluk visual, jadi kita akan lebih ingat dan resapi pada sesuatu yang kita lihat seperti tulisan dan gambar. Kedua, supaya tidak lupa. Kegiatan kita yang padat seringkali membuat kita lupa akan tujuan atau pun impian kita. Lagipula satu tahun merupakan waktu yang tidak singkat, saya tidak menjamin jika saya sendiri dan juga kalian akan ingat semua harapan untuk satu tahun ini mengingat banyaknya harapan yang diinginkan. Ketiga, supaya dapat dievaluasi setiap tahunnya.  Jadi kita dapat melihat apa saja yang telah tercapai di tahun ini lalu apa saja yang belum tercapai.
     Jika kalian telah menulis resolusi nya coba sekarang kalian cek kembali daftar harapan atau impian kalian dan coba perhatikan apakah sudah ada beberapa dari harapan kalian yang telah terwujud atau sedang menuju ke arah pencapaiannya?
     Jika belum ada satupun impian yang kalian capai, coba kalian baca kembali apakah kalian sudah benar dalam menulis dreamlist kalian? Apakah kalian menuliskannya dengan detail? Dan apakah kalian menuliskan tanggal atau bulan untuk mendapatkan impian tersebut?

Tuliskan keinginan secara detail dan mintalah pada Tuhan
     Satu hari sebelum pergantian tahun, saya bertemu dengan dua sahabat saya, kami menamakan diri kami geng rumpii.. Jangan salah ya walaupun nama kami geng rumpi tapi obrolan kami bukanlah menceritakan kejelekan orang ataupun menggosipkan sesuatu yang belum tentu kebenarannya namun kami sering membahas mengenai kehidupan dan juga fenomena yang terjadi di masyarakat dan lain sebagainya. Kami menamakan geng rumpi karena kami seringkali lupa waktu jika bertemu, kami membahas banyak hal baik mengenai masalah pribadi, pekerjaan, dan lain sebagainya. Dan saya seringkali mendapat inspirasi dari kedua teman saya tersebut. Saya sangat sangat beruntung dan bersyukur bisa memiliki sahabat seperti mereka, jika boleh saya menyebut namanya, mereka adalah Karina Tiara dan suryo Widyanto.
     Ada hal yang menarik dari pembicaraan kami sore itu, kami membahas mengenai resolusi. Kami saling mengatakan keinginan kami di tahun 2011.  Saya mengatakan jika saya memiliki banyak sekali keinginan lalu salah satu teman mengingatkan untuk menuliskan segala sesuatu yang menjadi harapan kita, semakin banyak yang ditulis maka secara tidak disadari nanti akan semakin banyak yang terwujud. Yah.. apapun yang kita inginkan memang bisa tercapai asalkan kita percaya dan fokus terhadap keinginan tersebut.  Lalu teman yang lain menambahkan jika kita menginginkan sesuatu selian kita harus fokus, kita juga harus terus berdoa. Yah.. memintalah kepada Tuhan.  Tapi… jika kita berdoa, kita harus yakin dan tidak boleh ragu.. dan berdoalah secara terus menerus dan harus jelas.  Yah jadi menurut salah satu teman saya jika kita berdoa haruslah jelas apa yang kita inginkan sebagai contoh.. jika kita ingin menikah hendaknya kita request kepada Tuhan jodoh seperti apa yang kita inginkan misalnya haruslah yang seagama, yang baik budinya, yang penyayang, sabar dan lain sebagainya.
     Mengapa harus demikian? Tentu harus demikian karena Tuhan akan mengabulkan apa yang menjadi doa kita. Nanti Tuhan akan memberikan kita jodoh tapi belum tentu yang sesuai dengan keinginan kita. Sebagai contoh, jika kita meminta dibelikan ice creamkepada ibu, namun kita tidak menyebutkan mereknya ataupun rasanya. Maka ibu akan membelikan ice cream namun belum tentu yang sesuai dengan keinginan kita.. Kita menginginkan rasa cokelat tapi ibu membelikan rasa vanila, walaupun sama-sama ice cream namun berbeda bukan?
    Selain itu, baik pada saat menuliskan dreamlist ataupun saat berdoa, kita juga perlu menuliskan tanggal atau pun bulan saat kita ingin mendapatkan impian tersebut. Misalnya, kamu ingin memiliki motor. Tuliskan merk motor yang kamu inginkan, warnanya, kecepatan motornya, lalu tulis juga kapan kamu ingin mendapatkan motor tersebut. Jika kamu ingin memiliki motor tersebut pada saat ulangtahun kamu, silahkan kamu tulis. Jangan malu-malu, mintalah pada Tuhan.   
     Tanpa disadari mungkin kalian pernah menggunakan metode ini, sama seperti saya. Sekitar tiga tahun yang lalu. Saat itu ipk saya turun, kalau tidak salah ipk saya saat itu 3,3. Lalu saya sangat berharap jika ip saya nanti akan mendapat 3,8. Mustahil? Ya keliatannya sih gitu yaa… Saya sendiri sempat tidak percaya diri akan mendapatkan ip yang lebih tinggi karena mata kuliah yang akan saya ambil di semester depan adalah mata kuliah yang tergolong sulit dengan bobot 3 sks dan juga proposal skripsi. Namun saya yakin jika tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Saya pun mulai memperbaiki cara belajar saya dengan cara lebih mendengarkan penjelasan yang disampaikan dosen di kelas, lalu mengulangnya di kos. Selain itu, saya juga berusaha untuk membuat proposal tesis dengan baik. Alhamdulillah pada pembagian KHS (Kartu Hasil Studi) saya mendapatkan ip 3. 83. Walaupun proposal skripsi saya mendapat nilai B gendut
(saya lupa nilainya berapa hehe) yang jelas saat itu saya senang luar biasa… lalu saya pun mulai meninggikan harapan saya. Saya berharap jika pada semester depan saya akan memiliki ip 4. At least, saya harus mendapat nilai A untuk skripsi saya karena tidak ada beban mata kuliah lagi yang harus saya ambil.
     Mungkin kelihatannya sombong yaa? Namun pada saat itu yang ada dipikiran saya, saya ingin merasakan mendapat ip 4 (selama kuliah saya belum pernah merasakannya, sumpehhhh!). Dengan modal kepercayaan diri + nekat, saya pun menuliskan keinginan saya tersebut di dreamlist saya (saaat itu saya deg-degan sekali saat menuliskannya). Tak lupa saya juga menuliskan bulan Juni sebagai bulan kelulusan saya. Jangan kalian mengira jika skripsi saya ini berjalan mulus yaa… Saya pun banyak mendapat cobaan saat skripsi. Namun saya tetap bersabar dan bekerja keras walaupun sambil nangis (ini serius loooh!). Pada akhirnya, Alhamdulillah, lagi-lagi berkat pertolongan Allah dan doa orangtua saya, saya dapat mengikuti sidang pada bulan Juni dan lulus dengan mendapat nilai A. Yeayy… Finally, saya pun mendapat ip 4. Sejak saat itu, saya pun mulai menuliskan harapan dan impian saya dengan detail dan tak lupa menuliskan tanggal atau pun bulan pencapaiannya (bukan cuma ditulis ya tapi dipanjatkan juga dalam bentuk doa). Awalnya saya pikir itu hanya sebagai motivasi saya agar saya dapat bekerja keras dan fokus pada impian saya tersebut.
     Namun ternyata bukan hanya saya yang menyadari bahwa berdoa itu harus dipanjatkan secara jelas. Jadi, sekitar dua tahun lalu, saya pernah mendengar ceramah dari salah satu ustad favorit saya. Ustad itu pernah bercerita jika ada seorang istri yang ingin memiliki anak. Wanita tersebut pergi untuk menunaikan ibadah haji dengan suaminya. Si istri berdoa di depan Ka’bah agar Allah segera memberikannya seorang anak. Setelah pulang haji, suaminya menikah lagi dengan sahabat si istri yang saat itu sama-sama menunaikan haji dengan mereka. Sang istri kaget dan sedih. Ia marah kepada Allah karena ia meminta anak namun Allah malah memberikan ia cobaan yang luar biasa berat. Lalu tak lama kemudian, istri kedua tersebut hamil dan akhirnya mereka memiliki anak. Istri pertama baru menyadari bahwa Allah telah mengabulkan doanya. Ia mendapat seorang anak walaupun anak tersebut bukan berasal dari rahimnya. Dari cerita tersebut kita bisa memetik pelajaran jika kita menginginkan sesuatu kita harus fokus, berusaha mengarah kepada tujuan kita dan berdoalah secara jelas dan sungguh-sungguh. Insya Allah dreams will come true.. :)

“Berdo’alah kepadaKu, niscaya aka aku kabulkan bagimu” (Q.S Ghafir : 60)

Selasa, 22 Maret 2011

Best of the Night 21 Maret 2011

Best of the night untuk tema 'GILA' jatuh kepada...

karya Bunga Istyani

Pembahasannya sebagai berikut:

1. Paragraf pertama memikat hati pembaca. Apa yang didengarkan oleh laki-laki muda itu? Apa yang membuatnya penasaran? Detail deskripsi '...dinding kamar yang berukuran tidak lebih dari 9 meter persegi...' makin menambah rasa ingin tahu pembaca. Deskripsi yang baik dan mengundang rasa ingin tahu. Skor 3

2. Twist ada, bisa ditebak, namun tetap mengejutkan. (tidak akan dikupas di sini karena spoiler) Skor 4

3. 90-100% penggunaan tanda baca benar. Namun perlu diperhatikan ada kesalahan pengetikan 'bisa' menjadi 'bias'. Mungkin ini hanya kesalahan dari auto correct word processor, namun harap lain kali lebih diperhatikan. Overall sudah sangat bagus. Skor 4

4. Cerita yang disampaikan sangat menarik. Mengambil sudut pandang dari orang yang tak terduga, yang kerap kali dilewatkan oleh kebanyakan orang. Skor 4

5. Tulisan jelas sangat sesuai tema. Gila bagusnya, gila isinya! Skor 4

6. Diksi tipe 90. Tidak banyak yang bisa diberikan di sini. Namun yang jelas, pemilihan diksi sudah sangat intelektual. Perlu dicatat bahwa, meskipun pemilihan kata yang ada sangat berkualitas, cerita ini tidak akan membuat anda pusing! Cerita ini dituliskan dengan sangat jelas dan intelek. Skor 4

Bagaimana? Cerita-cerita yang masuk sebenarnya bagus-bagus. Admin sendiri jadi bingung mau memilih yang mana. Nampaknya tema kali ini sangat sesuai dengan para penulis WS ya... :p
Gila-gila bagusnya! :)
Ayo, saling memberikan komentar dan nantikan tema berikutnya. Terus menulis! :)