Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 22 Desember 2011

NAK, KAMI PULANG

Bety Oktarina
Twitter @I_am_BOA

Kuikuti dia dari belakang, langkahnya semakin cepat. Aku sampai harus melayang untuk menandinginya. “Ibu, ibu!” nafasku terengah. Ia tidak menoleh. Untuk kali ini ia mengabaikanku. Matanya nyalang tertuju pada persimpangan di ujung jalan. Ah, selalu tempat itu, pikirku. Selalu, selama hampir 40 hari ini istriku menghabiskan waktu di sana. Dan kembali ke rumah menjelang kumandang adzan Maghrib. Setelah memakan waktu yang lama bagi aku untuk membujuknya. “Pulanglah, kami sudah menyiapkan peraduan yang indah untukmu,” pintaku. “Nanti saja,” gumamnya pelan. “Biarkan kutenangkan hatiku dulu,” selalu itu jawabnya. Dan selang tiga puluh menit kemudian, ketika semburat ungu bercampur jingga di langit semakin pudar, ia akan pulang dengan langkah gontai. Diiringi diriku di belakang menjaga tubuhnya agar tidak terjerembab ke tanah. Namun hari ini, sulit sekali bagiku untuk bisa membaca raut wajahnya. Istriku yang biasanya lembut nampak sekali berbeda. Campuran ketakutan, kecemasan, kemarahan, dan harapan bercampur menjadi satu. Aku tidak bisa membaca apa yang ada di benaknya.


Istriku menjadi budak bagi keluarga semenjak ia menyerahkan sisa hidup pada dua lelaki yang dititipkan Tuhan padanya. Sebenarnya meski wanita desa, ia bisa menjadi apa saja. Tapi ia memilih aku, dan anak lelaki kecil kami. “Akan kupastikan kau hidup dengan cukup layak,” aku menjamin. Kami bahagia, sampai si lelaki kecil mendekati masa dewasa. Si lelaki kecil telah menolak segala latar belakangnya. Ambisinya yang begitu besar telah membutakan. Meski ia meyakini kami sebagai istriku sebagai ibu terhebat di kampungnya, namun ia mengimani bahwa ibu kota adalah kebahagiaan sejatinya. Saat si lelaki kecil membuatkan tekadnya untuk pergi, prahara itu tak terelakkan. “Aku punya hak untuk keluar!” teriaknya. Dan peristiwa menghilangnya si lelaki kecil tetap menjadi misteri semenjak dua puluh tahun lalu. Istriku tetap meyakini, suatu hari tanpa terduga lelaki kecil akan kembali. Tapi tidak. Dia tidak pernah kembali, dan bagiku ia telah kuanggap mati. Semenjak itu hampir setiap hari istriku menangis. “Apa salahku? Apa aku tak cukup baik menjadi ibu?” Lelaki kecil itu adalah hidup, harapan, kebahagiaan, dan mimpi indahnya. Bagi istriku, ia adalah mahluk tercantik di bumi Tuhan. Namun, dalam diri anakku ia adalah kawat berduri yang menghalangi kebebasannya.

Kembali rutinitas itu terulang lagi. Hal yang baru aku ketahui dalam empat puluh hari ini. "Oh, di mana anak kita, Pak?” ia kembali bertanya lirih. Aku menatapnya nanar. “Apakah ia masih marah padaku? Aku selalu memikirkan dan memimpikannya,” ia menitikkan air mata. Dengan hati-hati aku memberitahu perasaanku pada istriku. “Tidak. Ia telah gila di dunianya sendiri. Sudahlah.” Namun seketika binar kemarahan bercampur kesedihan mencuat keluar dari matanya. Ia tetap tak terima mahluk terindahnya diabaikan. Oh, aku bisa tahan terhadap apa pun kecuali melihat ia marah atau sedih.


Karena ekspresi marahnya itu, kembali aku merasakan ketakutan timbul perlahan. Perasaan getir bahwa mungkin saja istriku kembali menolak ajakanku untuk pulang. Ternyata bayangan berbahaya anakku masih menari-nari di sudut dunianya yang sesak. Ini kesempatan terakhirnya. Apakah hari ini tetap bernasib sama dengan hari kemarin? Aku sungguh tak tahan melihat tubuh ringkihnya. Persimpangan itu, dan kenangan masa lalu yang menyakitkan, adalah satu-satunya yang menjadi tembok pemisah antara kami berdua.


Aku mulai mencuri pandang ke wajah istriku, mengumpulkan kebulatan hati. Akhirnya aku berhasil bicara. “Bu, Ibu masih punya aku. Kita akan mulai kembali seperti dulu di tempat yang baru. Saat hanya ada kita berdua, dan harapan.” “Mengapa? Apakah kau takut tinggal sendiri? Bukankah akan lebih sempurna jika kita bertiga?” rintihnya. “Aku harus bertemu dia. Apakah dia bahagia? Siapa yang merawatnya? Aku tidak akan bisa beristirahat dengan tenang sampai aku tahu. Lelaki kecilku.”


Aku menyentuh pipinya. Sesuatu yang sudah lama tak bisa aku lakukan. “Sudahlah, Bu. Ini sudah senja. Kita tak bisa di sini lagi. Jangan menunggu apa yang tidak mungkin terjadi. Marilah ikut denganku. Kita pulang,“ bujukku dengan harap yang membuncah. Pada saat ini, aku melihat tembok pertahanannya runtuh. Ia menoleh dengan tatapan sendu. Air matanya telah kering. Saat ini, keriput di wajahnya yang ayu tampak semakin mempesona. “Tanganmu, Pak,” ucapnya sambil tersenyum. Aku mengulurkan tangan dan menggenggamnya. Sore itu, jalanan dipenuhi oleh aroma wewangian dari tubuh kami yang perlahan melayang. Ketika istriku memutuskan ikut

Ternyata Dia.....

Oleh: Hana Arintya

Kuikuti dia dari belakang langkahnya makin cepat. Kenapa dia sepertinya buru-buru sekali ya? Ada apa gerangan dengannya?
“Marya!” seru seorang teman dekatku. “Hey! Dirimu tuh ya dicariin. Ayo pulang!”
Ya sudahlah ya mungkin aku harus menyerah akan sosok itu. Pangeran yang menjadi pujaanku.
“Iya ayo.”
XXXXX
Sesosok cowok keren dengan headset ada gambar apelnya terpasang di telinganya dan sebuah apel di tangan kanannya berjalan di hadapanku dengan posisi agak jauh. Tarik napas dalam-dalam hembuskan secara perlahan sumpahlah udah kayak instruktur senam pernapasan. Nggak tau kenapa gayanya asyik aja diliat dimata aku. Disaat ada juga yg lain ditangan tuh bertengger puntung rokok lha ini malah apel kayaknya dia cocok buat jadi duta buah.
Hal lain yang menyita perhatianku istirahat siang pun pilihan makanannya (lagi-lagi) apel. H mm ada berapa banyak sih persediaan apelnya. Apa kenyang gitu ya apelnya? Apa dia lagi diet? Mungkin dia vegetarian? Tapi nggak berarti segitunya juga Cuma mengkonsumsi apel kan ya? Benar-benar membingungkan.
“Pasti ngeliatin pangeran pujaanmu itu. Si Mr Apple.”
“Kok tau?”
“Gimana mau nggak tau kalo kamu segitu kebacanya.”
“Dasar jahat.
XXXXX
Bisa ga sih sehat tanpa pake acara minum obat. Jujur aja sebenarnya aku udah jenuh dengan rutinitas minum obat yang harus aku jalanin. Tapi kalau aku membandel nggak minum obat dan berdiam diri di rumah sakit lebih nggak asyik lagi. Heran padahal obat sudah kuminum tapi aku rasakan diri ini melemas. Ya Tuhan padahal kan aku belum mengenalnya lebih dekat sosok pangeran apelku.
Dari kejauhan ku rasakan derap langkah suara sesuatu. Apakah itu manusia biasa? Tapi terasa tampaknya bukan demikian. Dan ketika sosok itu mendekatiku kurasakan Sesosok makhluk yang secara sekilas ku kenali sebagai sosok pangeran apel idolaku wajah itu mengayunkan sebuah sabit besar yang terrantai ditangan kirinya detik terakhir sebelum kesadaranku lumpuh total kudengar suaranya menikmati apel.

Minggu, 18 Desember 2011

Pemberontak

oleh: Michan

Pemberontak

Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik. Sisanya memilih tanda yang mereka inginkan sendiri atau bahkan tidak tahu harus mengakhiri dengan apa. Beberapa orang pula mengawali kisah mereka dengan huruf kapital. Sisanya memilih dengan sesuatu yang mereka inginkan sendiri atau bahkan tidak tahu harus memulai dengan apa.

Apakah hidup seperti cerita yang di tumpahkan dalam huruf-huruf alphabet? Seperti yang biasa mereka lakukan. Memulai dengan huruf kapital dan mengakhiri dengan tanda titik atau tanda tanya atau tanda seru. Seperti yang biasa mereka lakukan? Menggiring tiap ide cerita dari Tuhan untuk dicetak dalam bentuk paragraf. Apakah hidup harus terperinci, runtut, dan menarik? Seperti yang biasa mereka pikirkan.

Sekarang banyak orang yang mengaku mereka tak biasa. Jika definisi biasa itu adalah seperti kebanyakan orang, maka jadilah tak biasa itu biasa dan biasa itu tak biasa. Sayangnya kebanyakan biasa dan tak biasa itu masih takut akan nilai dari kebanyakan orang. Tetapi juga ada orang yang tak peduli dengan kata biasa, mereka hanya melaju dengan kecepatan dan arah seperti yang mereka inginkan, benar-benar tidak mengikuti arus. Itulah ketidakbiasaan sesungguhnya.

Terkadang orang-orang yang tidak peduli dengan nilai orang lain itu disebut pemberontak. Dan mereka benar-benar tidak peduli dengan sebutan itu. Mereka memang melawan arus, tetapi mereka masih berada di jalan yang benar. Mereka hanya memilih untuk mengawali, mengakhiri, dan memilih alur mereka tidak dengan huruf kapital, tanda titik, tanda seru dan apapun yang biasa dilakukan orang kebanyakan. Selama para pemberontak itu masih di jalan yang benar, kisah hidup yang mereka tuliskan dengan cara yang mereka inginkan itu masih sempurna.

Titik Bagi Aku dan Kamu

Oleh: Astari Indahingtyas (@astarindah)
astarindah.tumblr.com


Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik.
Kemudian berharap akan sebuah awal yang cantik.



Benarkah semudah itu semua berakhir?
Apakah aku dan kamu hanya dua buah kalimat?
Kalimat tunggal yang utuh dan sendiri pun sudah bermakna?



Andaikan kita memang sebuah kalimat tunggal,
Tak pernahkah kamu berharap kelak kita menjadi kalimat majemuk sekali lagi?



Satu per satu kata kurangkai,
Tak jarang kuulang,
Agar kalimatku terbaca indah olehmu.



Saat pertama aku membaca kamu,
Aku menangkap makna tersirat.
Yang cukup membuatku terjerat
Karena ada secercah harap untuk kisah baru tentang kamu dan aku.



Tak sedikit penulis yang berhenti di tengah
Berpikir mengenai kelanjutan kisahnya
Dimana pasti selalu ada konflik,
Namun ia tak pernah menyerah.



Tapi sepertinya itu bukan kamu.
Kamu memilih untuk menyudahi kalimat demi kalimat yang sudah kita tulis bersama
Hanya karena satu kata, yaitu AGAMA.
Bagimu penyelesaiannya hanyalah sebuah tanda titik pada hubungan kita.



Sakit kurasa saat semua ini berakhir,
Aku berharap kita bersama dapat menulis sebuah cerita.
Cerita dengan akhir bahagia
Sampai maut yang memisahkan kita.



Namun aku tak akan berhenti pada titik
Karena aku tahu, aku selalu bisa menulis kalimat baru.
Walau tanpa kamu.

Titik.

Oleh @nadiaakarima
http://www.essenceofaheart.wordpress.com





Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik.

Tetapi dia bukan bagian dari beberapa orang.

~”~

Sore itu bukan selayaknya mega senja biasa. Lembayung belum lagi turun meyapa cakrawala ketika pasukan kelabu datang menyerbu, berdesakan menangis bersama. Dengan begitu, sudahlah barang pasti anak-anak bintang tidak akan keluar dan bermain bersama sang ratu malam, apa lagi jika dihitung-hitung malam ini seharusnya bulan sudah purnama sempurna. Seharusnya malam ini bulan bersinar cerah, dengan semu yang hidup.
Sesosok entitas duduk di teras, memeluk kedua lututnya sendiri. Mungkin gadis itu kedinginan. Mungkin dia kesepian. Atau dia hanya sedang melamun. Nampak pandangan matanya yang nanar tanpa tujuan yang terfokus, sebuah tanda mutlak bahwa ia sedang melamun. Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya.
Angin dingin berhembus lagi, membuat amukan hujan badai di luar semakin hebat saja. Namun perempuan itu tetap bergeming di tempatnya. Tidak memperdulikan pakaiannya yang ala kadarnya dengan kaus putih tipis dan celana selutut yang tak kalah tipisnya, tentu saja tidak bisa melindungi tubuh nan rapuh itu dari sengatan dingin. Berkali-kali angin membawa butir hujan ke pipinya, menampar kulit pualam itu dengan gencar. Tapi tetap saja tak terlihat bergeming gadis itu. Justru tambah erat kuncian lengannya pada kedua lututnya sendiri.bahunya yang mungil tampak seolah boneka, kaku. Inelastisitas dari gestur serta mimik wajah sosok perempuan di teras itu membuatnya nampak nyaris serupa boneka pajangan.
Secangkir teh hadir di hadapannya semenjak lama, namun tak seujung jaripun ia sentuh. Tak lama hangatnya pun sirna dikejar angin, digantikan oleh dingin yang menyelusup hingga ke dasar cangkir porselen itu.
Mungkin hangat itu telah lama sirna, dia tidak tahu.
Sepasang lensa sempurna mengamati setiap kebekuan perempuan di teras yang beku sore itu. Meskipun tidak ada sepasang mata yang menatap balik kepadanya, pemuda itu tidak peduli. Lensanya terus menerus merekam detik-detik beku yang berjalan lambat, seolah enggan berjalan.
Pemuda itu menahan nafasnya. Hampir waktunya.
“Suatu hari nanti…aku ingin mengakhiri semuanya dengan tanda titik.”
Saatnya.
Tubuh rapuh yang mulanya kaku itu limbung, dipapah oleh figur kokoh kursi berlengan favorit gadis itu. Bersamaan dengan sirnanya sinar kehidupan di matanya yang, walaupun lemah namun berpijar, secangkir teh di hadapannya juga sempurna kehilangan hangatnya. Baik cangkir porselen itu maupun selongsong jiwa kosong yang berbentuk tubuh perempuan di hadapannya telah kehilangan jiwanya masing-masing.
Tapi pemuda itu bergeming pula di tempatnya. Menyaksikan akhir dari gadis yang beku itu sudah ia perkirakan jauh sebelumnya. Beruntai kalimat mengenai peristiwa yang ia tahu akan datang kepadanya disampaikan sebaik-baik kalimat oleh gadis itu. Percuma membantah gadis itu.

~”~

Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik.
Beberapa lainnya mengakhiri kehidupannya dengan tanda titik.

Di Balik Tanda Baca.

Oleh: Amariys (@amari_ys)


Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik. Entah mengapa. Mungkin karena tanda titik memang menunjukan akhir dari suatu kalimat. Akhir dari apapun. Tanda titik berarti kita harus berhenti. Kemudian, melanjutkan membaca ke bagian kedua atau berikutnya. Lucu, menurutku. Kalau seandainya kita masih dapat melanjutkan kisah dengan membaca bagian berikutnya, bukankah berarti tanda titik tidak diperlukan? Mengapa mereka tidak menggunakan tanda elipsis (...) saja, untuk menunjukkan bahwa, hey, cerita ini masih berlanjut!
Mungkin karena elipsis jarang digunakan atau justru karena tanda baca ini sering digunakan untuk menunjukkan kebingungan. Mana mungkin ada pengisah yang mau mengakhiri ceritanya dengan tanda yang seolah menunjukkan bahwa mereka tak bisa menemukan akhir yang tepat untuk kisah mereka sendiri, ‘kan?
Hm. Coba lihat di sana! Paragraf sebelumnya diakhiri dengan menggunakan tanda tanya dan bukannya titik! Suatu kemajuan. Mungkin ini berarti akan ada lebih banyak kisah-kisah yang diakhiri tidak dengan tanda titik. Karena, sungguh, menurutku pribadi, tanda titik itu membosankan. Ia menjemukan. Maksudku, jika kau bertemu tanda titik, kau sudah tak dapat melakukan apa-apa lagi. Tanda itu seolah menjadi konklusi mutlak. Saklek. Begitulah seharusnya dan tak boleh lagi ada kemungkinan-kemungkinan lain yang muncul selain apa yang diberikan oleh sang dalang cerita. Menjemukan sekali. Lebih baik menggunakan tanda tanya. Dengan begitu, para pembaca akan tergugah untuk memikirkan ribuan kemungkinan yang dapat menjadi akhir dari suatu cerita. Bukankah akan lebih menarik seperti itu? Tapi ... lagi-lagi, mungkin memang tidak ada pengisah yang ingin terlihat bodoh. Terlihat seolah mereka tak dapat mengikat seluruh benang-benang kejadian yang mereka sendiri jalin dan pilin dengan hati-hati, sehingga mereka hampir selalu—untuk tidak menyebutkan selalu, karena tak ada orang yang mungkin bisa membaca semua buku yang ada di dunia untuk membuktikan teori ini—menyelesaikan kisah mereka dengan tanda titik.
Jadi, jika elipsis dan tanda tanya tak dapat digunakan karena akan menunjukkan kebodohan pengisah yang pongah, bagaimana jika menggunakan tanda seru? Ya, tanda seru! Bukankah tanda itu juga bisa digunakan sebagai tanda berhenti? Lagipula, tanda seru jauh lebih menarik dari tanda titik! Coba saja! Setiap kali kau melihat tanda seru, pasti di dalam hatimu timbul suatu sentakan, suatu keinginan untuk meninggikan suaramu saat membaca. Ya, tanda seru memiliki energi yang lebih besar daripada tanda titik! Tanda seru menunjukkan suatu perintah, suatu epiphany—saat di mana seseorang menyadari sesuatu dan, seolah, mendapatkan pencerahan. Bukankah tanda seru jauh lebih mengagumkan daripada tanda titik yang membosankan? Kenapa tak juga ia dapat menyaingi popularitas tanda titik sebagai Tanda-Baca-Yang-Paling-Banyak-Digunakan-Di-Akhir-Cerita? Sungguh, kebanyakan pengarang hanyalah orang-orang kaku yang mencoba untuk menjadi kreatif.
Ah, sudahlah. Tak ada gunanya membahas hal ini lagi. Toh, tak akan ada yang berubah. Sebagian besar penulis kisah akan tetap setia kepada si tanda titik yang menjemukan. Tak pernah mencoba memanfaatkan tanda baca lainnya yang, sebetulnya, mengantri menunggu giliran mereka digunakan. Terkadang, aku bertanya-tanya, apa mungkin para penulis kisah mengakhiri rangkaian kata mereka dengan tanda titik hanya karena penggunaannyalah yang paling mudah untuk dipahami? Semua orang tahu bahwa tanda titik mutlak diletakkan di akhir kalimat. Penutup. Karena itu mereka terbuai oleh kebiasaan dan tak mencoba melakukan hal yang baru. Mereka hanya menjadi pengikut, seperti domba-domba tak berotak yang hanya bergerak ke mana sang penggembala membawa mereka.
Ya, seperti penciptaku. Ia juga selalu mengakhiri kisah-kisahnya dengan tanda titik. Rasanya, tak ada satu pun dari kakak-kakakku yang memiliki tanda baca lain di akhir halaman mereka. Penciptaku itu memang kaku. Orang bodoh yang mencoba pintar—atau terlihat pintar—dengan merangkai kata-kata sulit. Ha! Padahal, sejatinya, ia tak memiliki kreativitas yang besar. Jika ada satu hal yang bisa dibanggakan darinya, mungkin hanyalah kebodohannya yang tak menyadari betapa bodohnya ia. Karena itu ia terus dan terus menulis. Melahirkan aku dan saudara-saudaraku. Tak memedulikan kenyataan bahwa tak ada satu orang pun yang bahkan rela meninggalkan sekadar pemberitahuan bahwa mereka telah membaca tulisan-tulisannya.
Kali ini pun tak berbeda. Ia mencoba menciptakan—menulis—aku. Menggunakan kata-kata terbatas karena ia tak memiliki pengetahuan luas mengenai diksi. Tanpa suatu plot kuat yang dapat menghisap pembaca masuk ke dunianya. Miris rasanya menyadari bahwa aku pun hanya akan berakhir seperti kakak-kakakku, tersimpan di dalam folder document-nya dan tak pernah ditunjukkan kepada siapa pun yang mungkin akan bisa menghargai kami.
Dasar pencipta tak berguna! Sayang sekali aku tak bisa memprotes penciptaku yang bodoh dan kaku itu.
Mau bertaruh kalau ia akan mengakhiri kisahku dengan tanda titik yang membosankan lagi?

Jumat, 16 Desember 2011

Sekelam Pagi Meracik Fantasi


Oleh: Dini Afiandri

            “Lihat dengan jelas dengan kedua matamu sendiri, barulah engkau bisa percaya itulah jalan yang harus kau susuri. Bukan dengan mata batinmu, Dini, apalagi dengan imajinasi ataupun mimpi. Before realizing somebody, you have to knew it!”

            Rahasia tersembunyi kerap kali mencabik pikiran dengan kelebatan kata yang tak jelas, namun kali ini, kata-kata Guru Sepuhku itu menamparku dengan keras hingga terjaga di jam segini. Kutolehkan kepalaku yang bersimbah peluh dengan ketakutan. Jam bahkan belum menunjukkan setengah lima. Kata orang, mimpi pagi-pagi buta adalah peringatan.

           Peringatan apa?  Jantungku berkecamuk ketika dengan gemetar aku menuangkan krim ke dalam teh hangat pertamaku pagi itu. Sungguh tak keruan rasanya ulu hatiku. Semoga secangkir teh kental ini bisa menenangkan lambungku. Untunglah Darjeeling masih ada, dan terutama, Earl Grey di persediaanku juga sudah dihabiskan Wisnu kemarin petang. Saat begini, kok aku malah menguatirkan aroma serta jenis tehku, sih? Payah. Pelan-pelan kuseruput cangkirku. Kehangatan menguar, menguatkan jemariku, dan dengan perlahan juga, kurasakan sarafku melonggar. Aku menarik nafas lega.
            “Boleh minta krim susu di tanganmu?”
            Terkesiap, aku menyenggol cangkirku hingga nyaris jatuh dan pecah. Tanggung, kucoba menangkapnya. Tangan yang tidak terlihat menangkap cangkirku beserta alasnya, membuat cangkir hijau favoritku itu kini melayang di udara, beberapa inchi dari lantai. Geram, aku menukas : “Cerewet! Ambil saja sendiri!”
            “Baiklah, aku ambil sendiri,” jawab suara itu enteng.
            Cangkirku berderak mendarat di lantai, dan sembari tersenyum kecut kupungut dan kukembalikan ke atas meja. Kaleng susu berlabel beruang itu sudah berpindah tangan pada Fowlinne, penjaga rumahku yang paling tua. Ia dengan santainya meneguk susu itu.             Kebiasaan santun para peri, ujarku dalam hati, adalah mereka tak pernah basa-basi kecuali untuk urusan susu. Fowlinne, yang mengenakan rompi kulit hijau toscanya pagi itu, menghapus kumis susu yang menempel di misainya, lalu menatapku lembut seolah bertanya ada apa. Aku menggerung, rasanya keriput di dahiku bertambah. Detik itu, aku yakin rambutkulah yang kusut masai dan lembap oleh entah apa. Tanpa harus kujelaskan pun, aku yakin gadis itu sudah tahu. Rasanya aku ingin menjerit pilu di balik bantal, tapi kutahu itu tidak mungkin. Lagipula, bukan sifatku untuk jadi cengeng di rumah sebesar ini. Rumah warisan buyutku yang tidak sendiri kutempati.
            Kuletakkan daguku beralaskan siku di atas meja, dan mendesah. Lama. Lambat laun kudengar Fowl meneguk isi kaleng itu hingga licin tandas. Aku hapal kebiasaannya menjilati segala sesuatu, kecuali mulut kaleng. “Aku lebih suka yang ini. Wangi sekali. Kok tak pernah bilang ada varian baru di toko tempatmu belanja?” tanyanya. Aku tak menjawab. Bagaimana bisa bilang kalau aku baru saja dapat mimpi terburuk sejagat raya... Batinku lagi.
            “Sudah, jangan dipikir berpanjang-panjang. Bukankah selama ini pengalaman mengajarkanmu untuk waspada tanpa tekanan? Apalagi takut pada alam maya yang belum jelas asal-muasalnya.” Aku mengangkat mukaku. Aku tadi lupa kalau Fowlinne bisa membaca pikiran. Pantas saja.
            “Hei, mungkin bagimu itu lumrah, tapi bersimpatilah padaku sedikit. Kau lihat sendiri, aku masih manusia. Menua, pula.”
            “Dalam 25 tahun ini, maksudmu? Jangan bercanda. Itu bahkan tak ada seperempatnya dari masa aku menunggui rumah ini. Ayolah...” Lengannya menggamit tanganku. “Semangatlah, kamu pasti bisa melaluinya.”
            Sentuhan ajaib Fowlinne menarikan ilusi hijau rumput di mataku, membuat kerlip lampu seakan tak lagi suram, membuaiku dengan keheningan magis yang melenakan. Rasanya aku sanggup tak perlu tidur lagi, entah sampai kapan. Mendadak, rasa percaya diriku timbul dan resahku hilang terbang entah ke mana. Aku merasa nyaman di antara anyaman lumut hijau panjang yang ada di halaman belakang. Benakku memberiku sebuah pertanyaan. Akhirnya, aku menukas :
            “Dari mana datangnya semua kekuatanmu, Linne? Aku tahu pilihan yang tersisa hanya dua, melepaskan atau berjuang lebih keras—meski sia-sia. Mana yang harus kupilih?”
            Fowlinne tersenyum di sampingku. Mata coklat daun Ek-nya berkilau menerawang. “Dari mana datangnya cinta, kalau bukan dari hati? Kamu pemilik cinta terbesar yang pernah ada di dunia. Jawabannya, hanya kamu sendiri yang tahu. Dengarkan ketika kamu harus menghormati pembicaramu. Diamlah dan dengarkan Tuhanmu. Resapi dan syukuri apa yang ada sebelum bertindak tanpa pikir panjang. Hanya itu, Dini.”
            Bagian tengah dadaku terasa tercubit, melepaskan setitik isak, tanpa air mata. Cara pandangku seketika berubah. Tak kasat mata, namun sarat akan makna. Kuhela napas panjang sekali lagi, penuh kelegaan, juga kesyukuran. Nikmat ini pasti takkan kulupa. Bila aku lupa pun, selalu ada seribu satu jalan dari Sang Pemilik Harapan. Senyumku mengembang.
            “Terima kasih, Fowlinne.”
            Kubuka mata, dan menemukan diriku masih di sana. Dapur tua rumahku, di bibir jendela. Hanya ada cangkir kesayangan dan sekaleng susu beraroma Teh Putih di meja. Matahari baru saja mengangkasa, menyuguhkan beraneka warna. Biru, keemasan, juga jingga. Fowlinne sudah tak ada, barangkali begitu juga dengan yang lainnya. Di pagi tanpa teman ini, tanpa beban aku memutuskan. Sudah saatnya aku melangkah ke depan tanpa penyesalan.