Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 16 Agustus 2010

Plintar Plintir A la Media‏

Oleh: Aditryan


http://catchyourbus.blogspot.com/


"... Presiden diminta segera menjelaskan apa yang tengah terjadi pada negara ini. Penjelasan Presiden dirasa penting agar masyarakat mengerti apa yang sedang dihadapi oleh negara tercinta ini." (Harian Bangsa, 22 Februari 2020)

Pemuda itu menutup koran yang tengah dibacanya. Ia sedang berada di bandara untuk menunggu pesawat. Ia lelah setelah bekerja seharian dan harus pulang malam ini juga. Sekarang, Ia lelah melihat berita tentang keburukan bangsa ini.

Setiap hari, media informasi selalu menceritakan tentang perkembangan kebobrokan negara. Iya, kalau kebobrokan, harusnya bukan perkembangan. Tapi memang sepertinya media melihat suatu kerusakan yang sedang berkembang di negeri ini.

"Tak adakah yang bagus di negara ini?" Pikir Si Pemuda dalam hati.

Tentu ada. Banyak yang bagus di negara ini. Negara kita kaya raya, sumber daya melimpah, anak-anak muda berprestasi, beberapa kebijakan pemerintah berhasil dengan baik, bahkan keadaan ekonomi kita stabil saat negara lain terkena krisis.

"Lalu kenapa selalu berita buruk yang muncul?" Gumamnya pelan.

"Bukan itu pertanyaanya. Seharusnya: "Apakah mau media memberitakan sesuatu yang baik?" Ujar suara dalam pikirannya.

Benar juga. Apakah media mau memberitakan sesuatu yang baik? Tentu saja mau. Mereka terkadang juga memberikan berita yang baik, kecuali tentang pemerintah. Kenapa? Karena berita pemerintahan baik tidak menarik minat pembaca.

Apakah media harus berbohong?

"Bohong itu dosa, tidak mungkin mereka berbohong demi menjelek-jelekkan pemerintah." Pikirnya polos.

Jadi pemerintah memang jelek? Tidak juga contoh-contoh berita baik di atas juga menggambarkan bahwa pemerintahan yg sekarang tidaklah lebih buruk dari yang lalu. Sekarang lebih baik.

"Jadi, kalau pemerintah tidak buruk dan media tidak bohong, apa yang salah?"

Ia tidak menjawab lagi pertanyaannya sendiri. Ia terpaku pada layar televisi di atasnya.

"... Saya ingin menjelaskan bahwa negeri ini sedang menghadapi hal yang rumit. Sulit untuk keluar dari kesulitan ini tanpa bersama-sama membangun bangsa..." (Presiden, Konferensi Pers, 22 Februari 2020)

"Ahh.. Akhirnya Presiden menjelaskan apa yang tengah terjadi pada bangsa ini." Pikirnya lega. "Mungkin Presiden berbicara seperti ini untuk menjawab pernyataan berita dari Harian Bangsa yang tadi dibaca. Berarti Presiden telah melakukan hal yang tepat. Salah satu berita baik yang layak diketahui orang banyak."

Presiden adalah orang yang sulit untuk dimintai keterangan. Beliau pasti sibuk mengurus hajat hidup orang banyak. Media telah melakukan salah satu fungsinya: Meminta klarifikasi pihak-pihak penting.

"Setelah ini, mungkin tak akan ada lagi berita miring tentang pemerintah. Toh pihak yang diminta menjelaska sudah menjelaskan dengan baik." Katanya dalam hati.

"... Presiden tidak boleh curhat. Dia itu pemimpin. Masa curhat terus? ... " (Pengamat Politik, Setelah Konferensi Pers, 22 Februari 2020)

Pemuda itu terperanjat. Ia kira media akan puas dengan penjelasan Presiden. Konferensi pers tadi jelas telah menjawab seluruh pertanyaan publik. "Lalu kurang apa? Kenapa menjelaskan sesuatu malah dibilang curhat?"

Ia tak pernah bisa menjawab pertanyaan dalam benaknya itu. Ia melihat jam, beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan menuju terminal keberangkatan.

"Media. Memang jago plintar plintir berita. Gila." Gumamnya sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum.



Bandung, 15 Agustus 2010. 11.37 PM

1 komentar:

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!