Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 30 Desember 2010

Kenangan Kelabu


Oleh : Jenny Thalia Faurine

Kenangan. Semua orang punya kenangan. 
Baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal.

Kenangan, aku tak suka membicarakannya.
Apalagi, jika kenangan itu tentang dia.
Dia yang ku cintai.
Dia yang aku rindukan.
Dia adalah dirinya.

Aku ingat senyumnya yang lebih miring ke sudut kiri.
Aku ingat akan matanya yang menatapku terus-menerus, seakan aku akan menghilang jika ia berkedip kurang dari sedetik.
Namun ia salah, dia-lah yang hilang.

Aku menopang daguku dengan tangan kananku, memandangi jendela yang basah terkena percikan air hujan.
Hujan itu penuh dengan... kenangan yang kelabu.
Kelabu seperti mendung, seperti saat sebelum hujan.

Aku benci kenangan.
Aku benci hujan.
Aku benci warna kelabu.

Aku benci saat harus terbayang dengan kenangan-kenangan bersamanya di saat terakhir hidupnya.
Aku benci hujan, karena saat hujanlah aku kehilangan dia.
Aku benci kelabu, karena itu adalah warna dari gumpalan-gumpalan awan sebelum hujan.
Aku benci karena harus kehilangan dia di saat kami sadar, bahwa hati kami telah bertaut.
Tertawan satu sama lain dengan jalinan perasaan yang rumit, yang tak bisa ku ungkapkan.

Kepergiannya begitu kelabu di hidupku.
Kepergiannya telah membuat hatiku terkunci untuk... selamanya.
Aku tak tau kata "selamanya" itu tepat atau tidak.
Yang ku tau, aku hanya ingin ia disini, duduk di sampingku.
Menggenggam erat tanganku, dan menenangkanku.

Mungkin, aku tidak membenci ini semua.
Masih ada rindu terselip untuk melihat dan memutar kenangan bersamanya di benakku.
Bukan diiringi dengan tangis seperti dulu atau kemarin, tapi diiringi dengan senyum. Senyum ikhlas akan kepergian dia.

Aku ingat, sebelum kamu pergi, saat terakhir kali dia mengenggam tanganku, dia berkata, "Kamu tak boleh membenci hujan. Hujan itu ciptaan Tuhan, mahakarya Tuhan yang indah. Setelah hujan, selalu ada pelangi yang indah. Setelah kesedihan, selalu ada kebahagiaan. Begitu seterusnya, selalu berputar. Karena memang begitulah hukum alamnya. Dan kamu, harus menjadi pelangi yang sangat indah. Untukku, untukmu, dan untuk semua orang."

Begitulah, dia menjadi yang selalu ku ingat dimanapun aku. 
Dia yang tak terlupakan.
Dia yang ku cintai.
Dia, yang membuat aku tersenyum saat hujan turun dan selalu menunggu munculnya lengkungan indah yang mempunyai 7 garis warna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!