Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 03 Januari 2011

Best Of The Night 2 Januari 2011

Best of the Night 2 januari 2010 dengan tema 'Awal' adalah :

oleh Josefine Yaputri (@sefinsefin)


Kenapa karya ini mendapat 'Best of the Night'? Tulisan Josefine simple, sederhana, tapi mengena langsung pada makna 'Awal' yang hendak ia sampaikan. Ia menjelaskan 'Awal' pada setiap paragrafnya, menggambarkan setiap 'Awal' dengan gamblang, menghidupkannya lalu menutupnya dengan membuat sebuah kontradiksi dari 'Awal' itu sendiri. Lalu tulisan ditutup dengan semacam 'kesimpulan' sederhana dari penjabaran 'Awal' di paragraf-paragraf sebelumnya. Sederhana namun menarik, meski ada beberapa kata ada yang kurang sepadan penggunannya, tapi overall bagus untuk menjadi 'Best of the Night' tema 'Awal.

Selamaaat! :)

Tema 2 Januari 2011

Yap, tema tanggal 2 Januari adalah :

'AWAL'


Beberapa malam yang lalu kita sudah membicarakan tentang 'Akhir'. Rasanya aneh kalau kita tidak membicarakan tentang 'Awal'. Yuk mumpung masih di awal tahun yang baru juga, kita jadikan 'Awal' sebagai tema tulisan kita :)

Untuk yang terlambat tidak bisa mengikuti sesi menulis dari jam 9 sampai 11 malam, masih bisa kok mengirimkan karyanya ke Writing Session, kita masih ada program 'Best of the Late' dengan memasukkan karya-karya yang terlambat dikirim/di luar tema. Tapi karya-karya 'Best of the Late' tidak di publish langsung begitu saja di blog. Writing Session menunggu terkumpulnya karya yang terlambat itu berjumlah banyak dulu, baru kita publish :) Ayo semangat menulisnya!

Hanya Satu Langkah

Oleh @isty_hafid
Ditulis juga  di : http://iceteaaddict.wordpress.com/2011/01/02/hanya-satu-langkah/



Cerita ini adalah fiksi. Ditulis untuk mengikuti writingsession pada tanggal 2 Januari 2011 dengan tema ‘Awal’

Kereta itu telah pergi sejak senja masih berada di perambangan batasnya, namun aku masih belum dapat beranjak dari tempatku duduk. Ini malam terakhir di tahun 2010, stasiun kota mulai sepi, paling hanya tinggal tiga-empat orang yang masih setia menunggu keluarga yang hendak merayakan tahun baru bersama namun hanya bisa mendapatkan kereta yang menjelang malam itu. Penjaja-penjaja makanan, minuman, bahkan rokok pun sudah tidak ada. Tentu mereka menyadari, stasiun bukanlah tempat favorit untuk menikmati kembang api dan semarak tahun baru.

1 Januari 2011. Dalam hitungan jam, hari itu akan segera tiba. Memanggilku untuk segera mengenakan kebaya putih polos untuk persiapan akad nikah, memulai satu lagi babak kehidupanku yang baru. Jika ini adalah sebuah dongeng, maka sebenar-benarnya mungkin ini adalah akhir. Karena cerita sang putri menikah dan hidup bahagia bersama pangeran selalu ada di bagian belakang buku dihiasi dengan tulisan ‘tamat’. Sebuah cerita bahagia yang selalu diimpikan para anak gadis di usia-usia belianya. Aku tak terkecuali.

Satu langkah yang harusnya tadi kuinjakkan di atas kereta jurusan Jakarta harusnya membawaku kepada awal lembaran baru tersebut. Namun kuurungkan dan aku kembali duduk, menikmati akhir tahun sendirian di stasiun. Isi dari pesan terakhir darinya yang kubaca begitu mengharukan, rasanya tak sabar untuk segera berlari ke pelukan pujaan hatiku ketika akhirnya surat pengunduran diri itu kuserahkan kepada atasanku.


“Besok adalah awal dimana kita akan menjadi satu jiwa. Dimana keluarga kita akan bermula dengan aku dan kamu sebagai pendirinya. Yang kuharapkan saat ini hanya satu, kita dan cinta di hati kita tidak akan menemui akhir. Biar selamanya menjadi awal mula. Sungguh, sumpahku kepada semesta dan seisinya, sampai kehidupan setelah mati pun aku akan tetap cinta. “

Tak ada pikiran lain selain dirinya dan tak ada perasaan yang singgah kecuali bahagia yang menusuk sampai ke ubun-ubun. Jika aku memiliki sayap pun rasanya bisa saja aku terbang hingga mencapai langit ke tujuh, bermain bersama ribuan peri-peri kecil. Sedikitpun tak kusangka bahwa cerita bahagia yang harusnya kumulai itu harus berakhir di akhir tahun ini.


“Airaa…”

Suara sesenggukan dari telepon yang kuangkat itu membawa firasat buruk yang menggema hebat sampai ke relung hati. Aku sadar, ada yang tidak beres.


“Di-dia, dia meninggal ra.. ….”

Aku tidak tahu apa penyebabnya, telepon genggam itu sudah tidak lagi berada di genggamanku. Aku bahkan tidak dapat menangis, ekspresi menangis itu sudah tidak mampu untuk mengutarakan  kesedihan yang merajam jantungku ini. Tinggal satu langkah, dan aku akan berada di dalam kereta menikmati senja akhir tahun dan mendapatkan awal cerita kehidupanku yang tidak lagi sendirian, dimana dia akan menjadi bagian paling penting dari kehidupanku. Tinggal satu langkah dan segalanya akan bermula.

Kunikmati malam terakhir di tahun 2010, sendirian, di stasiun kota. Tidak dengan kebaya putih yang harusnya aku coba kenakan malam ini agar besok semuanya sempurna. Kopi kaleng yang berada di sebelahku menjadi saksi bahwa aku satu-satunya yang  berada di stasiun untuk menikmati kembang api warna-warni yang mulai bermunculan menandai pergantian tahun.  Tekadku bulat sudah, besok akan tetap menjadi awal yang baru.

Berita pukul 6 pagi : Seorang wanita berusia 25 tahun meninggal bunuh diri dengan melemparkan dirinya ke kereta yang melaju di stasiun kota Jogja.

Hanya dengan satu langkah, aku dibawa kedunianya. Kematian ini sudah tidak lagi  menakutkan jika dia sudah setia menunggu dan berada disana.

1 Januari 2011. Bagi kami, ini adalah awal. Bukan di dunia yang nyata dan logis. Tidak ada perayaan, tidak ada keluarga. Tapi setidaknya kami bersama, setidaknya jemari kami saling mengait. Memulai semuanya bersama dan tidak perlu takut akan akhir yang akan memisahkan. Sesuai dengan harapan terakhirnya, kami dan cinta kami tidak akan menemui akhir. Selamanya menjadi awal.

Awal itu belum tentu yang pertama

Oleh : Khoirunnisa Aulia Noor Haryopranoto
Hotcoldchocolate.blogspot.com
@auliaully on twitter

Aku benci tempat baru, tapi keadaan berbalik arah padaku. Seakan sengaja membuatku muak dengan kehidupan. Ini taun kesebelas aku bersekolah, dan ini sekolah ke-8 yang kusinggahi. Tuntutan kerja Ayah mewajibkan aku turut ikut berpinda-pindah tempat hampir setiap taunnya. Ayah tau, aku benci itu. pernah suatu saat aku meminta pada ayah untuk menetap dan tidak turut Ayah berpindah-pindah seperti biasanya, Ayah menolak mentah-mentah. Ia anggap aku belum cukup besar untuk bisa menjaga diri. kenyataannya, sekalipun ikut kerja ayah (berpindah-pindah tempat) Ayah tidak pernah mengawasiku. Ia (seperti orang kerja biasanya) pergi saat aku belum membuka mata dan pulang saat aku telah bersanding dengan mimpi-mimpiku. Kau bertanya tentang Ibu? Ya mungkin kalian heran kenapa daritadi aku tidak membahasnya. Itu karena Ibu sudah meninggal, sejak 5 tahun yang lalu saat aku duduk dibangku kelas 6 SD. Ibuku seorang dokter yang sangat peduli akan pasiennya, dan sayangnya ia harus mendahului pasiennya saat menuju rumah sakir dimalam hari itu. Tabrakan antara sedan dan truk gandeng tersebut memadati koran lembar pertama di keesokan harinya.

Sebenarnya ini bukan asli tempat ke-13 ku. Kami (aku dan Ayah) kembali ke tempat asal kami, 11 tahun yang lalu, tempat aku dilahirkan, tempat aku bersekolah selama 4 tahun, tempat aku bermain gundu berlari tanpa alas kaki. Perumahan ini hampir tidak ada yang berubah, hanya keadaan saja yang berubah. Letaknya masih sama. seperti 6 tahun yang lalu. Rumahku juga belum berubah, masih sama seperti yang lalu. Hanya saja penghuninya berkurang satu, Ibu. Semua masih tetap ditempatnya, ternyata pak Jon dan bik Sum apik merawat ini semua. Rasanya ingin segera berlari keluar mencari teman-teman ku dulu. Tapi niat itu ku urungkan, aku mengeluarkan mobil dan menuju pemakaman umum. Kerumah terakhir Ibu.

Aku masuk salah satu sekolah menegah atas terbaik di Jogjakarta. Senin besok aku mulai sekolah. Masih ada 3 hari sebelum aku harus kembali kerutinitas yang aku benci. Mengenal tempat baru.
Sore ini aku berjalan mengelilingi komplek. Menuju satu tempat dimana aku biasa berkumpuldengan teman-teman ku dulu. Taman ini masih sama, rumah pohon itu, ayunan tua, bongkahan tangki dan ban yang tersusun emm disusun oleh teman-teman untuk duduk bersama. Dan itu dia mereka disana, duduk tidak manis dengan gelagak tawa yang aku kangenin. Aku masih berdiam diri dipinggir taman sampil tersenyum simpul sampai salah satu dari mereka ngeh ada aku yang memperhatikan.
“eh bentar deh, itu siapa sih?” kata salah satu dari mereka yang dari caranya bicara aku tau dia Aninditya biasa dipanggil didit.
“kayanya gue kenal” balas salah satunya , dari cara ia memakai bandana, aku tau dia Firly
“ituuuu Auro!” teriak Rendy seraya menghampiriku dan memelukku.
“masih inget gue ndy?” tanyaku seakan tidak percaya
“ga berubaaaah”teriak Firly seraya menghampiri kami bersama didit. Dan sore itu habis dengan candaan kami di taman komplek.
Dari bertemunya kami disana, aku tau, Didit satu sekolah denganku. Bahkan satu kelas.

Ini akan jadi hari pertamaku sekolah. Dan seperti hari-hari pertama lainnya, ini pasti membosankan. Benar saja, baru aku masuk kelas, salah satu anak kelas sudah meneriakki aku dengan sebutan yang tidak-tidak. Belum lagi kejailan mereka. Untung ada didit yang setidaknya membantu aku beradaptasi. Pernah suatu hari, aku ingin membaca buku di perpustakaan sekolah. Ini jadi kali pertama aku masuk perpustakaan. Tidak banyak buku yang ku ambil, naas, aku tersandung kaki meja saat menuju tempat duduk. Dan didit membantuku. Itu jadi kali pertama aku menatap matanya. Masih sama, tatapan itu masih sama seperti awal pertama aku bertemu dengannya. Ah, itu hanya cinta monyet yang terpendam.
Aku ingat, aku masih menyimpan semua kenangan pertamaku dengan Didit. Dalam sebuah diary dan kotak yang kukubur di bawah rumah pohon di taman. Saat itu didit jugamengubur sebuah kotak. Aku tidak pernah tau apa isinya. Yang aku tau itu kenangan didit dengan seseorang, mungkin Firly.

Siang itu sepulang sekolah, aku memilih merebahkan diri di atas rumah pohon ditaman. Sambil mendengarkan earphone. Volume earphone ku tidak begitu besar sehingga masih mampu mendengar gesekan daun dan... suara orang berbicara. Aku penasaran, siapa dibawah sana? Aku merangkak mengintip. Didit, ada didit dibawah sana, sedang membuka kotaknya. Dan.. berbicara sendiri.
“kalau saja dulu aku punya keberanian, mungkin tidak akan seperti ini jadinya. Cinta monyet itu cinta pertamaku. Hingga kini. Andai firly...” kata-katanya tidak disambung lagi akupun tidak berniat untuk mendengarkan. Cukup mendengar nama firly disebut, aku tau firly yang dia suka, namun firly berpacaran dengan Rendy sekarang. “Ro, aku tau kamu juga punya perasaan yang sama” samar-samar auro mendengar kata itu. Auro lekas menguping lagi. “kalau saja firly bilang daridulu, kalau saja firly membongkar kotak Auro lebih awal” firly membuka kotakku? Jadi mereka tidak jujur padaku kemarin? Jadi setidaknya didit sudah tau apa yang aku rasakan dulu? Emosiku memuncak, aku menampakkan diriku.
“jadi 6 taun gue ga disini, kalian seenaknya bongkar kotak gue?” kataku sedikit tinggi hingga menyentak didit. Didit seakan ingin membela diri, namun tak kuberi ia kesempatan
“gue fikir kalian bisa jaga amanat buat ga buka kotak gue, kenyataannya? gue anggep kalian sahabat, tapi kelakuan kalian kaya gak anggep gue sahabat!”
“ga gitu ro” aku berlari menghindar. Mengurung diri dalam kamar. Mereka, yang selalu aku percayai walau aku tidak bersama mereka, tapi apa yang mereka lakukan? Mengecewakanku.
Dan itulah, awal kenapa aku tidak pernah percaya sahabat lagi. Tidak ini bukan yang pertama, karena sejak mengikuti ayah (berpindah-pindah tempat) aku sudah tidak percaya akan sahabat, kecuali mereka. Dan kini? Mereka hancurkan kepercayaanku.

Pada Awalnya

Oleh: Josefine Yaputri


Mengapa aku di sini?
Mengapa aku begini?
Pada awalnya, tidak ada yang pernah terasa mudah.
Semua begitu absurd dan abstrak untuk dimengerti.

Kita ini manusia.
Diciptakan dengan akal budi dan hati nurani.
Kita manusia yang bahkan sering melupakan jati diri kita sendiri.
Menyalahgunakan akal budi dan hati nurani.
Menjadikannya sebagai alasan untuk berkuasa.

Saya tidak akan berceramah.
Saya tidak akan banyak bicara.

Pada awalnya, semua terasa begitu lambat.
Dulu kita selalu asyik menikmati setiap detik dalam hidup.
Kini semua berubah.
Kita tidak pernah bisa bernafas.
Satu tarikan nafas bisa dihargai dengan uang.
Kita berlomba-lomba untuk menghasilkan uang.
Kita berlomba-lomba untuk menjadi yang terkaya.
Hingga kita tidak pernah merasakan jalannya waktu.

Cinta pun begitu.
Pada awalnya, kita mengira ini hanya akan berlangsung sebentar.
Perasaan ini akan hilang dalam sekejap.
Perasaan ini tidak kita gubris sama sekali.
Sampai akhirnya kita menyerah.
Menyerah pada keadaan, saat cinta itu pergi meninggalkan luka.

Setiap kesempatan datang tanpa bilang.
Pada awalnya, kita begitu remeh menanggapinya.
Kesempatan untuk memberikan yang terbaik dalam tiap langkah hidup kita.
Kita menertawakan keadaan.
Kesempatan itu ternyata hanya datang sekali.
Dan penyesalan kemudian menertawakan kita.

Pada awalnya.
Dan pada akhirnya.
Mengawali sesuatu tidaklah pernah muda.
Kita menertawakan semua orang kecuali diri kita.
Hingga akhirnya kita belajar untuk bisa menertawakan diri kita sendiri.
Awalnya memang tidak mudah.
Tetapi saat kita sudah mempelajarinya,kita pasti bisa tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.
Belajarlah.
Dari awal.
Tentang hidup.

Aku dan kamu versi baru


Oleh : Jenny Thalia Faurine


Hah, tahun baru datang juga.
01 januari, awal dari tahun 2011.
Awal yang baru dari hidupku, hidupmu, dan hidup kita.

Satu awal yang selalu ku ingat, saat awal tahun 2009.
Kita bertengkar, namun saat aku ulang tahun, kamu meminta maaf padaku.
Itu adalah hadiah teristimewa.

Awal dari itulah, aku merasa menjadi perempuan teristimewa di hidupmu.
Namun aku salah, aku bukan siapa-siapamu.

Jadi untuk apa semua harapan yang kau berikan kepadaku ?
Apa ini hanya aku saja yang terlalu percaya ?

Awal tahun ini, aku sudah menghitung dengan baik.
368 hari, kita tak ubahnya dua orang yang tak saling kenal.
Sakitkah aku ?
Iya, tentu saja.

Aku masih berharap, di awal tahun ini, di hari ulang tahunku nanti, kau akan mengucapkan selamat ulang tahun dan minta maaf karena tak pernah menghubungiku lagi.

Harapan ya hanya harapan.

Aku mengawali hidupku hari ini dengan hanya berharap.
Biarlah aku hanya hidup dalam fatamorgana yang ku ciptakan sendiri.
Karena kini, aku ingin mengawali hari-hariku dengan langit kelabu, aku dan kamu di dalam anganku.

Minggu, 02 Januari 2011

Best of the Night 29 Desember 2010

Best of the Night untuk tema Kenangan adalah . . .


Kenang Aku Seperti Aku Mengenangmu 
oleh Tenni Purwanti (@rosepr1ncess)

Kenapa?

Kita memang tidak bisa meraba atau menerka bagaimana bentuk dari kenangan itu. Tapi Tenni berhasil menggambarkannya dalam bentuk yang manis, indah sekaligus memilukan. Baca salah satu bentuknya pada paragraf ke dua dari tulisannya.

Aku sudah berusaha untuk tidak mengenangmu. Tapi  setiap kali membuka mata di pagi hari, aku ingat senyummu. Di sampingku kau pernah tersenyum, mengusap minyak yang tebal di hidung dan keningku. Dengan mulut yang sama-sama berbau tak sedap meski semalam sama-sama menggosok gigi, kau selalu menyapaku dengan kalimat hangat “Selamat pagi, matahariku,” 

Tulisannya sendiri ditutup dengan ending yang cukup mengejutkan, dimana si tokoh 'Aku' memutuskan untuk mengikuti arus dan hanyut dalam kenangan itu sendiri.

Selamaaaat! :D