Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 11 Januari 2012

10 MENIT YANG SEMPURNA. SEBUAH MONOLOG

Oleh: Bety Oktarina (@I_am_BOA)



Benda tajam berkilat itu masih tergenggam erat ditangannya yang bergetar hebat. Aku terus menatap ke arahnya. Badannya terlalu tegang hingga akhirnya melemas. “Lalu maumu bagaimana?” aku mendesak. Ia mengarahkan kursi rodanya menuju tempat tidur. “Beri aku waktu sejenak,” ucapnya lirih. Aku memejamkan mataku yang terlalu letih. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak mau berpikir apapun saat ini. Dari balik mataku yang tertutup aku tahu dia balik menatap ke arahku.

“Kau benar-benar menempatkanku pada posisi yang sulit!” akhirnya aku berkata memecah kesunyian. “Pada awalnya aku begitu menikmati untuk bersamamu. Sekarang aku terlalu lelah. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu, meskipun kau ingin sekali aku pergi. Untuk apa? Agar kau bisa mengacaukan dirimu karena kau bahkan tidak perduli lagi pada hidupmu? Apa kau pikir kau satu-satunya yang mengalami hal ini di dunia? Tidak. Ada banyak mereka yang bahkan lebih menderita darimu namun masih terus berjuang. Tolong, setidaknya perdulilah pada hidupmu.”

Ia tertawa dengan penuh air mata. “ Inilah yang paling benar. Apa yang dapat mereka harapkan dari aku? Lihat badanku. Lihat wajahku. Aku hanya akan menjadi duri bagi hidup keluargaku, orang-orang yang aku kasihi. Inilah yang paling benar.”

“Apa yang benar? Kepada mereka yang ingin membantu kau selalu berkata aku baik-baik saja. Tapi matamu mengatakan berbeda. Apakah itu yang disebut kebenaran? Dan sekarang lihat dirimu. Mengambil keputusan untuk mengakhiri hidup. Apa itu akan memecahkan masalah? Setelah kecelakaan itu, setelah ia pergi dari hidupmu, setelah semua perjuanganmu, kau merasa tak punya lagi harapan. Lalu apa? Dulu kau kuat. Dan seharusnya sekarangpun begitu. Tunjukkan pada dunia bahwa kau bisa bangkit.” Bibirku bergetar hebat.

“Jika kau mengakhiri hidupmu, apa yang akan dilakukan keluargamu? Kau tidak boleh lakukan itu. Kau hanya menempatkan mereka di tempat tergelap, sama seperti yang kau lakukan padaku. Kau sudah pernah mengalami kegelapan itu. Apa kau sanggup melihat mereka merasakan hal yang sama? Mereka yang selalu menyemangatimua untuk terus berjuang? Ingatlah betapa kau bisa tertawa bahagia hanya karena gurauan mereka.”

“Pikirkanlah. Aku tahu ini bukanlah apa yang benar-benar kau inginkan. Jangan dengarkan suara-suara yang hanya ingin menjebakmu. Kau masih punya aku. Selalu ada aku. Kita bisa berbagi tentang ini. Kita bisa melewati ini bersama. Jangan sungkan untuk mengadu padaku. Jangan pernah lagi anggap dirimu lemah. Kau tahu kau bisa menemukan keberanian itu dalam dirimu. Keberanian itu aku.” Dia tetap membisu.

Sepuluh menit berlalu aku pikir cukup untuknya. Aku ambil pisau dari tangannya. Kutuntun kursi rodanya dengan lembut menuju cermin di ujung kamar. “Keluarlah. Sambut hidupmu. Jalani dengan dirimu yang baru. Aku katakan aku sudah lelah untuk selalu terjebak dalam dirimu.” Perlahan ia membuka mata. Sendu ia menatap lurus ke arahku. “Maafkan aku. Mulai hari ini aku berjanji, akan menjadi sekuat dirimu.” Dengan tersenyum lembut ia membelai diriku, yang juga tersenyum dari balik cermin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!