Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 30 Mei 2011

Best of the Night 29 Mei 2011

Best of the Night untuk tema 'Malaikat' adalaaah..

oleh @erikaparaminda

Yuk kita bahas satu-satu BOTN kali ini :)
1. Kalimat pembuka cukup umum. Tidak ada hal spesial yang bisa menarik pembaca agar mau membaca tulisan lebih lanjut. Untungnya kalimat pembuka ini diikuti dengan cerita yang mengalir dan cukup unik. Skor 2.
2. Twist ada dan cukup mengagetkan. Ketika masuk ke pertangahan cerita, mungkin pembaca mulai bisa menebak-nebak apa yang akan terjadi, eh ternyata berakir seperti itu. Penasaran dengan twist apa yang disajikan? Makanya baca :) Skor 4.
3. Tanda baca cukup rapi, hanya masalah terletak pada penempatan tanda baca untuk kalimat langsung. Mungkin harus lebih teliti lagi dalam penempatan tanda koma (,) serta kapitalisasi. Skor 3.
4. Cerita yang ditulis sebetulnya cukup umum, menceritakan tentang malaikat 'penjemput'. Namun gaya penceritaan yang terasa 'fresh' serta cerita yang mengalir dengan lancar membuatnya lebih menonjol dibanding yang lain. Skor 3.
5. Fokus cerita sesuai dengan tema : Malaikat. Skor 4.
6. Kosa kata yang digunakan cukup beragam dan tepat guna. Mungkin harus lebih dieksplorasi aja kali yaa :) Skor 3.

Selamaaaat! Untuk penulis lain yang karyanya belum mendapatkan titel Best of the Night, jangan berkecil hati karena BOTN bukanlah segalanya. BOTN juga bukan penilaian mutlak bagus atau tidaknya karya tersebut. Ayo tetap semangat menulis! :)

DIALOG DENGAN MALAIKATKU



 
Oleh Pras Tyo


Ketika malam hening senyap, aku hanya berdialog dengan sunyi tentang isi hatiku. Tentang bagaimana aku hidup serta orang-orang yang ada disekitarku. Sungguh suatu malam yang berkesan bagiku telah bertatap muka dengan sunyi. Kulihat dilangit malam sebuah sinar jatuh tepat di antara lelapku, meniadakan yang sementara untuk berganti berdialog dengan sang malaikat. Ya terkadang malaikat terlihat terjatuh dari langit menuju yang berhak untuk dituju, tetapi dari yang dituju tersebut muncul masing-masing dari kategori masalah yang akan ditangani oleh malaikat. Kembali kedalam lelapku yang bersiap berdialog dengan malaikat. Meniadakan rasa dunia dan materi di dalamnya, hanya hati yang menjadi juru bicara nanti. Terwujud sebagai sosok yang tampan dan bercahaya, kamipun berdialog dengan sangat bersahabat seperti persahabatan siang dan malam, saling bertanya dan menanyai. “Assalamualaikum salamku” “walaikumsalam jawab malaikat. Segera aku lontarkan satu pertanyaan, “mengapa ada siang dan malam?” tanyaku, “karena setiap bagian pastilah diberikan berpasang-pasangan, demikian pula siang dan malam, mereka saling berkaitan, jawab malaikat. Begitulah setelah selesai berdialog kamipun bersalaman. Norma kemanusiaan yang terkandung dalam kehidupan di dunia berdampingan dengan manusia sebagai makhluk yang sosial. Manusia sebagai makhluk yang beradab juga mematuhi norma –norma tersebut tetapi belum bisa seratus persen dapat terlaksana dengan baik. Dengan adanya malaikat disampingku seakan menjadi pengawas prisai untuk setiap aku melangkah di kehidupan ini.

Malaikatku - Malaikatnya



Oleh Lidya Christina (@lid_yang)


“Eh, jangan lah…” kata temanku. “Dia itu aneh. Sininya ada problem,” katanya sambil menunjukkan jari telunjuk pada kepala.

Aku hanya menggeleng. Tidak mungkin, jawabku. Gadis sebaik dan sepintar dia, gadis yang senyumannya dapat meluluhkan hati siapapun.

Aku tidak pernah menghiraukan kata-kata temanku itu. Toh, selama ini dia tidak menunjukkan kelainan apa-apa. Memang kadang dia terlihat bicara sendiri. Tetapi itu normal, bukan? Kita semua, sebagai manusia, kadang-kadang memang secara tidak sengaja akan mengatakan apa yang sedang kita pikirkan. Dia hanya lebih sering begitu.

Oh ya, gadis ini namanya Wilna, sekelas denganku. Saat aku pindah ke sekolah ini, dialah yang pertama menyapaku. Senyumannya segera menarik perhatianku padanya. Ternyata, dia bukan hanya manis, dia juga murid teladan di sekolah. Dia selalu ramah dan suka membantu. Masih banyak lagi sisi baiknya yang membuatku semakin ingin mengenalnya.

Masih aku ingat dengan jelas. Hari itu aku sendirian bertugas di perpustakaan, dialah yang tiba-tiba muncul dan membantuku. Secara tidak sengaja, aku memegang tangannya. Saat buku-buku di bagian atas rak berjatuhan. Tanpa pikir panjang, langsung aku tarik tangannya. Tetapi, aku pula yang cedera. Lenganku terbentur tembok. Spontan aku teriak kesakitan. Ah, malunya, pikirku. Dia pasti menertawakan kebodohanku.

Dia bergegas mengambil kotak P3K dan mengobati luka ini. Raut wajahnya yang khawatir membuat hatiku berbunga-bunga. Sentuhan tangannya yang lembut membuat hatiku berdebar kehilangan kontrol. Saat dia berdiri untuk mengembalikan kotak P3K itu, aku seperti bangun dari hipnotis. Aku benar-benar terpesona olehnya. Ternyata, dia juga mahir dalam hal ini.

Sejak hari itu, hubungan kami semakin membaik. Dia selalu saja muncul di saat aku paling membutuhkannya. Eh, maksudku, saat aku paling membutuhkan bantuan seseorang. Seperti seorang bidadari, seorang malaikat. Dan yang paling membuatku bahagia, kadang dia mengizinkan ku untuk mengantarnya pulang. Ternyata ini perasaannya saat jatuh cinta.

Dan aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padanya. Apapun kata-kata dari orang-orang sekitar tidak akan ku pikirkan. Aku sudah membulatkan tekadku. Usaha-usaha selama ini tidak sia-sia. Dia menerimaku. Tidak ada kata-kata yang dapat mengekspresikan perasaanku.

*

“Rio, kita kan sudah dua bulan jadian?” Wilna menghentikan langkahnya saat aku mengantarnya pulang hari itu.

“Lalu?”

“Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan,” katanya.

Otakku mulai bekerja dengan keras. Siapa? Pikirku. Orang tuanya? Kakaknya? Semuanya sudah aku kenal. Siapa lagi yang akan dia perkenalkan.

“Keluarlah,” katanya saat dia menoleh ke belakang. Aku merapikan baju dan rambut, ingin memberikan kesan pertama yang terbaik.

“Rio.” Wilna tiba-tiba menggandeng tanganku dan tersipu malu.

“Pernahkan kamu tanya ke aku biasanya aku suka curhat ke siapa. Ini dia. Namanya Daisy,” kata Wilna sambil menunjuk ke depannya, sebelum menjinjit untuk meraih telingaku dan membisikkan “Dia malaikatku.”

Aku melihat ke depan. Tidak ada siapa-siapa.

Malaikat



Oleh : @erikaparaminda

Aku menatap keseberang, hal yang selalu aku lakukan ketika aku berdiri menunggu lampu hijau bagi para pejalan kaki untuk menyeberang di perempatan Jalan Moh. Toha ini. Gadis itu selalu berada disana, berdiri tegak, menunggu sepertiku diantara puluhan orang lain yang ingin melakukan hal yang sama menyeberangi jalan.
 Awalnya ia tidak menarik perhatianku, ia aku anggap sama seperti orang-orang lain. Namun beberapa minggu belakangan ini aku terus menerus memperhatikan dirinya, aku tahu ia berbeda. Ia tidak seperti orang-orang lain yang memperlihatkan kelelahan, keengganan, ketidaksabaran ketika menunggu lampu untuk menyeberang berubah warna. Gadis yang selalu mengenakan dress putih itu wajahnya selalu memperlihatkan keteduhan, senyuman tidak pernah lupa menghiasi wajahnya, seolah gadis itu tidak memiliki masalah yang mampu membuat wajahnya merengut, ia juga terlihat nyaman walau matahari menyengat tubuhnya.
Lampu untuk para penyeberang jalan berubah hijau, aku mulai melangkah perlahan. Kali ini aku akan menyapa gadis itu, aku ingin tahu namanya. Aku mulai melangkah, pandanganku tidak pernah lepas dari dirinya. Ketika ia hanya berjarak beberapa langkah dariku, aku mulai menyamakan jalur berjalanku dengannya, berharap kami berdua akan bertabrakan.
“Maaf..” ucapku ketika aku dan dia bertabrakan.
Gadis itu tersenyum, “I’m fine..” jawabnya sambil mengambil tasnya yang terjatuh ketika kami berdua bertabrakan, skenario yang tidak pernah aku harapkan terjadi.
Aku ikut membantu gadis itu mengambil buku-bukunya yang tercecer di jalan sambil sesekali melihat timer di lampu lalu lintas. “Makasih ya,” ucap gadis itu ketika aku menyerahkan buku-bukunya. Sepintas aku melihat nama yang tertulis di salah satu buku yang aku pegang, ‘Nadia’.
“Nadia?” ucapku kemudian.
“Iya, nama gue Nadia..” jawab gadis itu, ia melihat timer di lampu lalu lintas “Gue harus pergi, it’s a pleasure meeting you..” lanjutnya sebelum berjalan meninggalkanku.

*   *   *

Aku kembali berdiri di seberang jalan, menatap gadis bernama Nadia itu. Ia seolah menyadari keberadaanku, karena aku menangkap lambaian kecil dari Nadia. Lampu penyeberang jalan berubah hijau, aku mulai menyeberang, namun Nadia tetap berdiri di posisinya.
“Kenapa?” tanyaku ketika aku telah menyeberangi jalan dan berdiri di hadapan Nadia.
“Gue belum tahu nama lo dan berbicara di area ini jauh lebih aman dibandingkan di area penyebrangan..” ucap Nadia sambil tersenyum penuh arti.
“Nama aku Setyo, Setyo Prawira.” Ucapku sambil menyodorkan tanganku.
Nadia menyambut tanganku, “Oke, nama gue Nadia, Nadia Oktaviani. Lo suka berkenalan dengan orang-orang di tempat random seperti ini?” tanya Nadia setengah bercanda.
Aku menggeleng sambil memperlihatkan senyum kecut, “Selamat tinggal, kamu sudah bisa menyeberang Nadia.”
Nadia menatapku aneh, tapi ia hanya tersenyum sambil melihat lampu penyeberang jalan berwarna hijau, “Semoga kita bertemu lagi..” ucapnya sebelum meninggalkan diriku. Aku kembali menampilkan senyum kecut. Nadia menatapku aneh, namun ia memilih untuk tidak membahasnya dan mulai melangkah menyusuri zebra cross. 
“Selamat tinggal Nadia Oktaviani..” ucapku disaat bersamaan ketika sebuah bus menerjang Nadia. Suasana di sekitarku berubah ricuh, banyak yang berteriak histeris dan ada pula yang bersyukur karena selamat dari kecelakaan naas yang menimpa Nadia dan beberapa penyeberang lain yang mengalami luka berat. Supir yang mengendarai Bus itu turun dari Bus dalam keadaan setengah mengantuk, ia merasa amat sangat bersalah dan mulai diamankan massa disekitarku.

Aku menatap sosok yang kaget berdiri di sampingku, “Gue sudah mati?” tanyanya.
Aku mengangguk lemah, “Umurmu sudah digariskan Tuhan untuk berakhir saat ini Nadia, aku hanya kurir yang bertugas untuk mengantar kamu ke tempat yang jauh lebih baik.” jawbaku pendek.
“Lo sudah mengetahui takdir gue sebelum lo mengenal gue?”
Aku menggeleng, “Aku menerima nama, Nadia Oktaviani untuk dijemput, aku tidak pernah tahu bahwa Nadia itu adalah dirimu. Orang-orang yang akan mati auranya suram, amat sangat berbeda dari kamu. Auramu justru bahagia, happy, berbeda sekali.” ucapku lagi.
"Lalu dari mana lo tahu Nadia Oktaviani selain dari aura? Lo bisa saja memilih orang yang salah.."
"Well I have another power, Malaikat Kematian sepertiku tidak boleh sampai memilih orang yang salah. Satu pertanyaan sebelum kita pergi, kenapa kamu berbeda dari manusia lain? Kamu seolah selalu happy dan tanpa masalah.." tanyaku penasaran.
Nadia tersenyum, “The power of short life time, gue berusaha hidup bahagia di setiap helaan nafas gue. Jika gue tidak mati karena kecelakaan ini, toh gue akan mati karena penyakit yang menggerogoti tubuh gue..” jawab Nadia sambil tersenyum.
“Sayang sekali, padahal aku menyukaimu. First thing first, mari kita pergi ke tempat lo seharusnya berada..” ucapku sambil menyentuh bahu Nadia.

Malaikat itu adalah..

Oleh @TengkuAR

            Jika kamu tanya siapa Malaikatku, aku akan menjawab dengan tegas yaitu ‘Kamu’. Banyak hal yang kamu telah ajarkan kepadaku. Meskipun kadang aku menerima ajaranmu yang bisa dikategorikan agak sedikit keras yang mungkin orang lain tidak sanggup untuk mengambil pembelajaran yang kamu berikan atau mungkin akan kapok untuk berada di dekatmu. Tapi tidak buatku. Aku bertahan karena rasaku padamu. Aku bertahan dan mau belajar karena aku adalah pasanganmu saat itu yang memang harusnya bisa mengerti dan tahu kamu seperti apa. Ini dapat dihubungkan dengan rasa sayangku kepadamu. Rasa yang kurasakan. Di sini. Di dalam hatiku.
            Sebagai Malaikat yang telah kupilih memang sudah sepantasnya aku menerimamu apa adanya bahkan dalam kondisi saat kamu sudah tidak lagi mencintaiku. Sudah tidak ada lagi rasa kepadaku. Sudah tidak ada lagi hubungan. Dan aku siap untuk segalanya.
            Ingatkah kamu saat kita pertama kali berkenalan? Saat aku datang ke tempatmu? Saat aku mengajakmu makan malam? Ingatan itu masih terlihat jelas di pikiranku. Momen-momen yang tak pernah kulupakan, seandainya saja dapat kubingkai lalu kupasang di dinding kamarku pasti akan terlihat indah dan menambah pemandangan yang menyegarkan. Tapi itu dulu, sekarang sudah tak mungkin lagi untuk diulang.
            Ibarat sebuah pohon yang sudah termakan usia dan tak lagi produktif untuk melakukan pembuahan dan mempunyai selembar daun pun. Kering kerontang dengan ranting-ranting yang bila di sentuh akan patah lalu jatuh ke tanah. Tak bernyawa hanya jasadnya saja yang tetap utuh dan menunggu waktu untuk segera hilang. Itulah aku.
            Aku bisa setegar ini sekarang karena kamu.
            “I’ve been thinking Babe..”, tiba-tiba kamu membuka obrolan selagiku sedang asyik menonton televisi. Segera kukecilkan suara dari televisi itu.
            “What Tak?”, kubalas dengan sebutan sayangmu dariku, yang dari dulu aku mempredikati kamu dengan sebutan ‘Botak’. Sebutan itu muncul karena potongan rambutmu botak dari awal hingga saat itu.
            Kemudian, sambil meraih tanganku, kamu melanjutkan kalimat yang menggantung.
            “Ya, aku sudah memikirkan..aku..bagaimana aku harus bicara ya..aku bingung, Babe.”
            “Katakan Tak..aku menunggu.”, jawabku penasaran.
            “Kamu percaya bahwa cinta tak harus memiliki, maksudku, dua orang yang saling tetap cinta akan selalu merasakan hal yang sama seperti sayang, kangen dan lain-lain tapi kondisilah yang membuat mereka tidak bersatu, tidak saling bertemu dan tidak tinggal bersama.”, jelasnya.
            “Aku masih belum mengerti Tak. Tapi coba kamu lanjutkan lagi.”.
            “Aku..”, kamu terdiam sesaat untuk menarik napas dan meneruskan pembicaraan.
            “Aku masih sayang sama kamu Babe. Tapi satu sisi aku mau hubungan kita berakhir. Dan aku ingin kita tetap berteman atau mungkin sebagai kakak-adik yang saling menjaga dan tetap bisa sharing cerita apapun.”
            “Kamu..kita putus?”, kali ini aku juga ikutan menarik napas dan percakapan yang tidak pernah ada dipikiranku. Saat itu.
            “I..iya. Aku ingin kita menyudahi hubungan ini. Aku ingin mengurus keluargaku. Aku ingin focus ke mereka. Aku mau..”, kamu berusaha menjelaskan.
            “Tapi kenapa Tak?”, tanyaku dengan mata mulai berkaca-kaca.
            “Seperti aku jelaskan tadi. Aku ingin focus mengurus keluargaku. Sometimes suddenly people changes kan Babe. Salahin aku dalam hal ini. Aku sudah memikirkan ini tanpa sepengetahuan kamu sejak lama. Dan memang tidak bisa aku ceritakan itu karena aku masih butuh waktu untuk mengungkapkannya sama kamu, Babe. Aku tahu kamu pasti tidak akan terima penjelasan-penjelasanku tadi. Tapi aku juga lelah jadi orang munafik dan membohongi perasaanku..”
            “Jadi kamu sudah tidak sayang dan cinta aku lagi? Begitu Tak?”, potongku.
            “Bukan…bukan begitu. Saat ini aku masih sangat sayang sama kamu. Aku masih cinta. Tapi banyak hal yang harus aku korbankan untuk tidak menjadi orang munafik dan harus memasang topeng dihadapan kamu, Babe. Aku hanya ingin mengurus keluargaku. Dan aku harap kamu mengerti itu.”, tuntutnya.
            “Aku harus mengerti kamu dengan keputusan kamu yang sepihak dan mendadak itu. Aku harus menerima setiap kata-kata yang kamu ucapkan. Aku..”, tergagap dengan cucuran air mata.
            “Babe, kamu masih sayang aku kan? Aku yakin dengan kemungkinan terburuk tanpa aku nantinya kamu bakalan tetap kuat menjalani hidup ini karena aku tahu kamu. Kita bertahan hampir lima tahun dalam hubungan seperti ini dan selama itu aku tahu kamu luar-dalam. Kamu orang yang kuat, pintar dan gak gampang nyerah…”
            “Cukup Tak!”, bentakku karena tak kuat untuk mendengarkan lagi alasan-alasan yang kamu berikan saat itu.
            “Iya, aku mengerti. Aku mengerti Tak!”, aku berkata sambil beranjak pergi dari ruang tamunya untuk bergegas pulang. Saat itu aku hancur. Aku berantakan. I am none. I don’t belong to anyone. Empty.
***
            Sekarang, beberapa tahun kemudian, berkat kamu. Aku menjadi pribadi yang tegar dan punya nurani dengan orang-orang sekelilingku. Aku menjadi pribadi yang ceria. Memang kita tak pernah berhubungan lagi semenjak keputusan sepihak kamu. Namun banyak pelajaran yang aku ambil dan maknai dari kejadian itu. Dan aku tidak pernah lupakan apa yang pernah kamu ajarkan hingga saat ini. Sekarang.
            Seandainya ada kesempatan bertemu hanya satu hal yang ingin aku ucapkan yaitu “Terima kasih, Tak!”.

Private Number


Oleh @upiqkeripiq


Aku sedang asik bergelut dengan mimpi saat handphone ku berdering.

"Private Number.. Siapa ya?", gumam ku.
Halo, dengan Joni disini. Ini siapa ya??

            
Tidak ada suara yang menyahut disana. Aku hanya mendengar suara lalu lalang mobil. Tiba – tiba teleponnya terputus.
 
Ahh.. Orang iseng mungkin.
 
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Terlalu siang mungkin untuk seorang yang di KTP agama nya bertuliskan islam. Tapi, sudahlah. Semalam aku memang begadang untuk menyelesaikan beberapa tugas yang semakin mendekati deadline.
 
Hari ini aku kuliah pagi. Dengan jarak kampus yang lumayan jauh dari kontrakanku . Aku rasa aku akan telat jika harus mandi dulu.
 
"Hah, Biasanya juga gak pake mandi", Kataku pada diriku sendiri didepan cermin.
 
5 menit kemudian aku sudah siap diatas mobil tua ku. Ya, ini mobil peninggalan kakekku Sebuah Chevy Impala tahun 67. Walaupun tua,mobil ini tidak bisa dibilang jadul bukan?
 
Tak ingin terlambat langsung saja kupacu mobil ku. Tumben, pagi ini jalanan sedikit lengang. Tak terasa jarum speedometer suda menunjuk angka 80 . Tiba - tiba handphone ku berbunyi.

Private number lagi.”
"Halo siapa sih ini? Niat amat pagi - pagi gini ngisengin orang?”
 
Tak ada suara yang menyahut. Hanya deru mobil dan semilir angin yang terdengar diseberang telepon sana..
 
Halo, Halo, Assalamualaikum.”
Waalaikumsalam”, Jawabku.
Saya hanya ingin memberi tahu kalau saya akan menjemput anda.”
“Hah.. maksudnya apa nih?
 
Cittttttt....
Brakkkkkkk...
 
Semua gelap. Sampai aku terbangun karena seseorang membukakan pintu mobilku sambil mengulurkan tangannya. Ahhh. mungkin kepala terlalu keras terbentur.
 
Kenapa orang ini memiliki sepasang sayap?” Gumamku tak percaya.

Kepada Malaikat

Oleh Lili Sumanti (@beebuih)


Aku tidak pernah membayangkan akan terluka sedalam ini. Mungkin ini karena aku mencintaimu terlalu dalam. Membencimu juga hanya akan melukai perasaanku sendiri. 
Kau adalah lelaki pertama dalam hidupku yang kuberikan hak khusus untuk masuk dan menjelajah setiap ruang yang ada disana. Kau adalah lelaki pertama yang menyebut hatiku adalah rumah  untukmu. Tempat yang selalu ingin kau kunjungi, selalu kau rindukan,

Kau adalah alasan yang membuatku percaya bahwa malaikat itu ada. Walau tanpa sayap. Kau juga yang membuatku percaya masih ada yang tulus di dunia ini. Yaitu kau. Masih ingat ketika kita berjalan-jalan sore di taman kota? Kita saling menggenggam tangan satu sama lain. Masih bisa ku rasakan aliran hangat tanganmu di telapak tanganku. Atau apakah kau masih ingat, pada pagi hari disaat aku tiba-tiba sakit kau membawakanku bubur ayam kesukaanku. Aku masih ingat. Aku masih ingat setiap detilnya. Kau datang dengan tergesa-gesa dengan wajah panik yang memerah. Aku suka melihatnya. Senyum tulusmu yang menenangkan. Aku masih ingat. 


Dan aku juga masih sangat ingat, saat sore penuh hujan itu kau mampir ke rumahku. Membawakanku martabak asin kesukaan kita. Membuatkanku kopi susu hangat. Menyeruputnya berdua. Dan setelahnya memintaku untuk melupakanmu. Tidak ada yang bisa kukatakan saat itu. Bahkan aku tidak bisa menangis. Tidak sanggup menanyakan ada apa dengan kita. Hingga akhirnya kau mencium ujung kepalaku dan menutup pintu rumahku dengan perlahan. 
Aku berusaha menghentikanmu. Tapi yang tertinggal hanya tapak-tapak kakimu yang tercipta di tanah penuh lumpur. Dan aku masih tidak menemukan alasan untuk membencimu. Masih tidak menemukan alasan untuk membuangmu jauh-jauh dari pikiranku. 
Aku masih percaya, kau masih malaikat yang sama. Yang menggenggam tanganku di taman sore hari. Yang selalu punya senyum tulus untuk dibagi denganku. 

Ternyata Malaikat


Oleh Romario Toshio

Seperti malam-malam sebelumnya, aku selalu memanjatkan doa, menitipkan rindu lewat udara. Yah. Doa memang alat komunikasi yang benar-benar efektif untuk membayar rinduku. Tanpa perlu pulsa, tanpa perlu tulalit, dan tanpa perlu cemas tak ada sinyal. Aku merapihkan sajadahku. Malam ini sepertinya cukup, pikirku.

Esok malamnya, aku tetap berdoa. Berharap Ia menjawab doaku. Sudah lelah aku mengeja namanya dalam doaku. Sudah lelah aku menceritakan keinginanku dalam doa. Sudah tepat 5 tahun aku mendoakannya setiap malam.

Entah mengapa, aku tak pernah bosan mendoakannya. Meskipun aku benci padanya. Meskipun aku sakit dibuatnya. Aku ingat, waktu itu dia bercumbu bersama lelaki lain didalam kamarku. Sakit, perih, sedih, aku tak berdaya. Seperti daun kering yang diterbangkan begitu saja oleh angin. Tapi aku tak bisa mengelak.
Aku mencintainya. SANGAT!

Aku juga ingat, waktu umurku 8 tahun. Bagaimana ia tertawa-tawa dengan teman-teman arisannya. Bagaimana aroma tembakau dan botol-botol minuman memenuhi ruangan itu. Aku membencinya. SANGAT! Tapi aku tak berdaya.
Aku mencintainya. SANGAT!

Entah berapa kali ia mengandeng lelaki lain. Entah berapa putung rokok habis dihisapnya. Entah berapa banyak botol minuman yang dihabiskannya. Entah berapa banyak goresan serpihan kaca ditangannya. Entahlah. Meskipun aku kesal. Yang pasti
aku mencintainya. SANGAT!

Aku merapihkan sajadahku. Berharap doaku kali ini terkabul. Aku beranjak kekasur kamarku. Berharap doaku benar-benar terkabul.

"Nak. . ." suara lembut memanggil namaku.
Aku terbangun dari tidur yang singkat. Membuka mata ditengah ketidaksadaranku.
"Ibu. . . "ujarku heran.
Aku tersentak, kaget, tapi bahagia. Akhirnya Tuhan mengabulkan doaku, pikirku.

Aku beranjak dari rangjangku. Menghampirinya dan memastikan apakah ia benar ibuku. Bahkan aku menamparkan pipiku, seakan membangunkanku dari mimpi.

Ia diselimuti cahaya putih, dengan jubah putih, dan lingkaran putih diatas kepalanya. Bahkan dua buah sayap putih terpasang apik dipundaknya.

"Aku mencintaimu nak. SANGAT! Ujarnya.
"Aku juga bu. . Tapi kita berbeda. Aku dibumi dan kamu tidak." balasku dengan senyum.
"Bu. . . Setiap hari aku berdoa agar kita bisa bertemu dan aku bisa bilang AKU MENCINTAIMU. SANGAT!" Lanjutku.

Tangan kami bersentuhan. Jemarinya terasa sangat dingin. Pandangannya sedih mendalam. Itu dia. Wanita pemilik telapak kaki surgaku. Ternyata dia malaikat, meskipun bekas seorang pelacur.

2105F7BO


oleh @abi_ardianda
www.abiardianda.blogspot.com

 
Ponselku berdering singkat. 
2105F7BO would like to add you to his or her Blackberry Messenger Contact List.
Awalnya aku ragu untuk memilih accept pada beberapa pilihan di layar ponselku. Pin Blackberry kini dengan mudahnya menyebar seperti virus. Namun setelah kupikir lagi, barangkali itu desainer, atau fotografer,  maka kuputuskan untuk menerima undangannya saja.
"Dona! Buruan, lu! Mas Bambang udah nanyain," teriak hair stylist dari ambang pintu.
Aku bangkit dengan tergesa hingga tak sengaja celana dalamku terkait paku sampai robek. Menyadari keterbatasan waktu, nekat kukenakan saja gaun tanpa mengganti celana dalam terlebih dahulu. Toh kamera tak'kan tahu.
Dalam perjalanan menuju studio, sepatu berhakku berisik sekali kupakai berlari. Frekuensi degup jantungku meningkat saat kulihat pria berkemeja putih menungguku dengan kamera di tangannya. Ia tampak berkharisma. Seperti biasanya.
"Maaf telat, Mas."
Rindu yang terlalu lama ditahan membuat pertemuan menjadi kaku.
Tanggapannya tak sempat kutangkap. Berulang kali aku memalingkan pandangan ke arah cermin untuk memastikan make-upku terpulas sempurna.
Aku berpose. Mas Bambang memotret. Kesibukan mulai mengendalikan arena.
Sungguh, sulit sekali berkonsentrasi ketika mas Bambang yang memberi intruksi.
"Lehermu kelihatan pendek, coba angkat dagumu dan menolehlah ke kiri sedikit."
Mungkin karena aku terlalu sibuk memerhatikan gerak bibirnya yang seksi.
"Donna?"
"E'eh, iya, Mas." Atau terkesima pada bahunya yang lebar dan tegap ketika ia mengarahkan kamera. Lengannya membentuk sudut yang terlihat sangat kokoh.
Kulakukan apa yang dimintanya, kemudian ia kembali membidikku dari balik lensa.
Sejak pertama mengenalnya, barangkali ini poseku yang ke sejuta.
"Satu... Dua... Tiga..."
Seenyumannya mencuat saat dipelototinya kamera itu lekat-lekat. Perut buncitnya mengempis, lalu mengembang lagi dengan jarak yang tipis. "Picingkan matamu."
Kupicingkanlah mataku. "Satu... Dua... Tiga..."
Seratus sinar perak melontar sudah. Neon-neon di studio padam setelah sekian jam berpijar. Tampak banyak wajah lelah. Terdengar sekian jumlah desah. Waktunya kami berpisah. "Pamit ya, Mas."
"Yo'i, eh, Dona!"
Kuputar kembali tubuhku.
"Ntar malem jangan lupa, ya," katanya.
Dia baru saja mengkhawatirkan sesuatu yang mustahil terjadi. Nanti malam, akan kuberitahu dia sebuah rahasia.
Sepeninggalku dari studio, wartawan serentak menyerbuku. Belasan mikrofon mengarah padaku. Serangan pertanyaan mereka bernuanasakan dahaga. Tidak jarang mereka mengambil kesimpulan sendiri. Sampai akhirnya segenggam tangan besar meremas tanganku dan membebaskanku dari kepungan itu.
Tangan kekasihku.
Beberapa remaja perempuan menatap kekasihku tanpa berkedip saat kami melintas. Melihat tatapan kagum sekaligus iri mereka, membuatku tidak terlalu sulit menebak isi kepalanya. Mereka tak tahu saja, bahwa sesungguhnya di balik pulasan blush on ini aku menyamarkan luka. Maskaraku bahkan seringkali kelimpungan menahan arus deras duka, Nona.
Di belakang, belasan wartawan tadi sudah diamankan petugas. Bersama kekasihku, kami bergegas menuju kamar ganti.
"Kamu tunggu sebentar. Aku ganti baju dulu ya, Sayang."
Ia mengangguk sambil membuang napas lega.
Banyak sekali manusia-manusia sibuk di dalam sini. Seolah waktu berputar dua kali lebih cepat. Penat yang menjerat membuatku tak sabar melepas gaun yang kemudian kulempar sembarang. Sepatu berhakku kucopot dan kutendang. Aku berhadapan dengan cermin besar yang menampilkan tubuhku yang hampir telanjang, hanya diselaputi beha dan celana dalam yang berlubang. Aku duduk dan mendekat. Kutatap pantulan wajahku lekat-lekat.
Tidak pernah ada yang mengatakan aku jelek. Setiap orang yang kutemui selalu memuji. Tapi aku tak pernah mengerti keistimewaan itu selain hanya mampu memberiku pekerjaan ini.
Setelah kukenakan pakaian, ponselku kembali berdering. Terdapat beberapa pesan masuk ke Blacberry Messenggerku. Dan semuanya dari kontak tak bernama yang menambahkanku ke daftar kontaknya tadi.
 
2105F7B0
Apa yang kau lakukan andai Tuhan membocorkan tanggal kematianmu?
 
Dona Aulia
Siapa kamu?
 
2105F7B0
Itu tak penting. Izinkan saja aku menanyaimu beberapa hal. Jawablah dengan cepat. Waktu kita tidak banyak.
 
Dona Aulia
Maaf. Tapi saya tidak bicara dengan orang asing.
 
Tepat ketika aku hendak menghapus kontaknya ia mengirimiku pesan lagi.
 
2105F7B0
Tolong jangan menghapus kontakku. Aku mengenalmu, Dona.
 
Sejenak aku terenyak. Namun tak kutemukan kejanggalan setelah mengedari pemandangan di sekeliling ruangan.
 
Dona Aulia
Siapa kamu?
 
Tak kunjung dibalasnya, kumasukkan ponsel ke dalam tas dan bergegas keluar. Tepat ketika kubuka pintu, kekasihku telah dikerumuni teman-temanku sesama model.
"Dona!"
Entah mengapa mereka perlu berseru setiap kali bertemu. Mau tak mau aku juga begitu. Kami berpelukan, satu per satu mereka mencium pipi kanan dan kiriku. Belakangan aku tahu bahwa itu adalah cara untuk mengetahui merk parfum yang dipakai. Tangan-tangan mulus mereka meraba lenganku sampai ke pergelangan, untuk memastikan keorisinilan jam. Mereka terkadang menjatuhkan sesuatu hanya untuk melihat model sepatu dari dekat. Lama berkecimpung di dunia model mengajariku tentang semua hal itu. Sekalipun aku bukanlah orang bergelar. Sepeninggal ayah, ibuku tak mampu menguliahkanku setelah lulus SMA. Aku terseok mengikuti setiap audisi pemilihan model hingga akhirnya kini namaku cukup dikenal dan digunakan dalam iklan beberapa produk kecantikan.
"Mas Bambang! Apa kabar, Mas?" Salah seorang temanku menyapa mas Bambang yang kebetulan lewat di samping kami. Tiba-tiba degup jantungku mengencang, setiap ada dia, selalu begitu, seperti seseorang habis maraton.
Aku menoleh ke arahnya. Ia tengah merangkul perempuan yang di perutnya terdapat gundukan bukit besar. Setelah menjawab sapaan temanku, ia sempat melirik dan melempar senyuman curi-curi sebelum akhirnya melenggang pergi.
Susah payah aku mengabaikannya. Kuteruskan skenario awalku untuk tetap berlagak heboh. Agar tak seorangpun tahu bahwa kini hatiku juga sedang roboh.
Sulit menyudahi perbincangan kami. Kukirimkan sinyal, semacam sandi pada kekasihku agar ia segera membawaku pergi. Tidak lucu bila setengah jam kemudian aku masih membuang waktu di sini. Nanti malam aku ada janji. Aku hendak membocorkan sebuah rahasia pada mas Bambang.
"Yo, kita duluan ya, semua!" Kembali tangan kekasihku menggiringku dari kerumunan. Berdua kami memasuki mobil yang kemudian dikemudikan oleh supir pribadiku.
"Kamu cantik banget hari ini," godanya seraya menjulurkan kepalanya dekat.
"Hari ini?"
"Ya. Hari ini, kemarin, dan kuyakin akan seperti ini selamanya," dilumatnya bibirku seperti ketika ia melumat cokelat.
Ludah dan lidahnya terasa dingin. Baru menghangat setelah mataku memejam. Itupun karena kulihat sosok wajah lain. Kurasakan gelinjang lidah lain. Rasa ludah lain. Bau napas lain.
Mas Bambang.
Kubuka mataku, kemudian sosok lain tadi terganti seketika oleh yang nyata. Entah mengapa tiba-tiba hatiku terluka oleh kenyataan yang ada. Padahal dengan lembutnya ia mengelus pipi dan mengelap bibirku yang basah. Kemudian ia bertanya pelan. Pelan sekali, seperti sedang mendesah, "asuransi dan pembayaran untuk mobil baruku udah kamu urus, Sayang?"
Satu lagi skenario yang harus kumainkan, pernahkah kamu menyadari bahwa hidup ini seperti bermain dalam film drama?
"Udah, lusa bisa kamu pake, kok. Jangan lupa, besok malam temenin aku on air di acara musik, ya?"
"Apa sih yang nggak buat kamu, hm?" Diusapnya kepalaku sambil melingkarkan lengannya di punggungku. Entah mengapa rasanya aku tiba-tiba ingin muntah. Beruntung tidak lama kemudian aku berhasil mengantarnya sampai ke depan rumah.
Setelah itu, ponselku berdering. Lagi.
 
2105F7B0
Identitas bukanlah prioritas. Jawab saja pertanyaanku.
PING
PING
Dona?
 
Dona Aulia
Tapi saya memprioritaskan identitas.
 
2105F7B0
Kini, manusia mengubah identitasnya semudah mereka menghapus gurat pensil. Percayalah. Aku mengenalmu.
 
Dona Aulia
Saya tidak.
 
2105F7B0
Aku bahkan tahu rutinitasmu. Aku tahu siapa kekasihmu dan bagaimana kehidupanmu.
 
Dona Aulia
Tentu saja. Informasi itu bisa kau dapatkan dengan mudah dari tabloid yang terbit setiap minggu.
 
2105F7B0
Aku tahu merk dan plat nomor mobilmu.
Aku tahu tempatmu bekerja.
Aku tahu di mana kau tinggal.
 
Dona Aulia
Itu sama sekali tak mengartikan sesuatu. Dasar penguntit!
 
2105F7B0
Lalu, kau pikir darimana aku mengetahui celana dalammu yang bolong?
Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Ke belakang. Semuanya bergerak normal. Seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Tepat ketika aku hendak membalasnya, batrei ponselku lemah dan tidak memungkinkan untuk mengoneksikannya dengan internet.Charge-an protableku juga tak sempat kure-charge.
"Ngebut dong, Pak,"
Sesampainya di apartemen, dengan tergesa kuhampiri stop kontak terdekat yang terdapat tepat di sebelah ranjang. Siaga kunantikan batrei ponselku kembali terisi. Entah mengapa ketika kita menantikan sesuatu, pencapaiannya justru terasa lebih lama. Jarum pendek yang menunjuk angka tujuh menyadarkanku bahwa malam ini, ada banyak hal yang harus kupersiapkan untuk menyambut kedatangan mas Bambang. Untuk memberitahunya sebuah rahasia.
Aku membuka lemari pakaian. Jemariku dengan lancarnya menelusuri setiap helai kain yang kemudian kubelai satu-satu. Pilihanku jatuh pada sebuah lingerie putih susu. Aku membelinya di Singapura ketika photo sesi dua minggu yang lalu. Sengaja kurelakan setengah dari honorku untuk mendapatkannya. Terkesima saja belum cukup membuat mas Bambang berpaling dari istrinya. Aku harus menunjukkan tampilan sempurna. Kalau perlu, kusilaukan matanya sampai buta sekalian.
Wanita memang mudah terpesona sampai lupa diri. Kuambil lingerie itu lalu kuselempangkan di kursi. Dua puluh lima menit kuhabiskan untuk mandi. Itu terhitung cepat. Aku bahkan bisa menghabiskan berjam-jam dengan hanya berendam di bath-tub. Berhubung malam ini mas Bambang akan, aih, aku mudah sekali tersipu ketika hanya mengingatnya. Tak sabar rasanya untuk segera memberitahunya sebuah rahasia.
Kubayangkan bagaimana reaksinya ketika kuberitahu rahasia itu nanti. Tentu ia akan terkejut. Ia akan menggodaku, seperti biasanya. Dan aku, selalu mendengus sebal menanggapi rayuan gombalnya. Padahal dalam hati aku senang bukan kepalang.
Aku mencintainya. Entah mengapa. Ia memang bukan segalanya. Tapi segalanya bukan apa-apa tanpanya.
Bel berdenting tepat saat waktu menunjukan pukul sembilan. Seseorang  di luar menghadang masuk ketika kubuka pintunya. Ia meraupku ke dalam pelukan seketika. Niat kuberitahu rahasia kuurungkan sementara. Mungkin nanti. Setelah bara birahinya sedikit mereda.
"I love you," ungkapnya. 
Bibirnya yang tengah menempel di bibirku itu bergerak merayu. Lidahnya menari dan meliuk, disertai hembusan napas kejantanan yang membuatku mabuk. Aku meyakininya sebagai pencium terbaik. Dari sekian banyak pria yang pernah mengunyah mulutku, hanya ia yang membuatku terjangkit candu.
Tangannya menggiring dan mencancangku di atas ranjang.
"Ngga akan makan malem dulu, Mas? Kita bisa delivery, atau-"
"Aku pengen makan kamu aja."
Rambut, mulut, telinga, leher, dada, dan selangkanganku habis diterkamnya. Di sela deru napasnya yang bau asap rokok, dia sempat berkata, "udah lama kameraku cemburu sama aku," setelah itu ia menuntaskan birahinya dengan kejangan singkat. 
Selang lima puluh menit ke depan kami menenenun sepi dengan diam. Aku menjadikan tubuhnya sebagai bantal. Bisa kurasakan bagian dadanya yang basah oleh keringat dan ditumbuhi bulu itu berdenyut.
Mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahunya rahasia.
"Mas,"
Kalimat pembukaku langsung didahuluinya. "Aku nggak bisa lama-lama, Dona. Istriku belakangan sering mencariku tengah malam." Ia bangkit, "aku pamit, ya."
Setiap kata yang dikatakannya seperti peluru yang ditembakan ke arah dadaku.
Dikenakannya kemeja putih yang tadi dibuangnya ke bawah ranjang. "Kita bertemu lagi minggu depan, ya. Ingat, kan? Photo shoot untuk produk lulur di Bali?"
Tubuhku menegang. Segerombolan kalimat yang mendobrak hatiku mendesak tenggorokanku untuk dibiarkan meluncur keluar. Susah kepayahan aku menelannya lagi. Kini kubalikan tubuh memunggunginya. Tak'kan kubiarkan ia memergoki mata merahku berair.
Ia menerbangkan selembar cek yang mendarat tepat di depan batang hidungku. "Makasih ya, honey. Honormu di transfer Ratih nanti, ya. See you soon, my honey," pamitnya sambil mengusap kepalaku. Kemudian kudengar suara decit pintu. Aroma tubuhnya membuntutinya kemudian.
Itu tadi namanya apa? Cinta bukan hanya kegiatan mengusutkan sprai ranjang kemudian pergi. Bukan juga sekedar sedia digauli. Lalu aku, dia, kami, tadi itu apa?
Ponselku berdering
 
2105F7B0
PING
 
Kuabaikan. 
 
Selembar cek yang diberinya tadi kuremas dan kubuat menjadi gulungan kecil. Terhuyung aku berjalan menuju lemari es. Dari dalam freezer, aku mengambil balok tempat membuat es dan kutaruh gumpalan cek itu pada kotak kosong terakhir. Kini semua kotak terisi penuh oleh gulungan cek. Entah sudah berapa lama reruntuhan bubuk-bubuk es yang beku memerkosa mereka saat kehangatan yang didambakannya tak kunjung tiba.
Kenyataan itu terus membentur-benturkan pikiran dalam kepalaku. Mas Bambang telah pergi. Rahasia itu bahkan tak sempat diketahuinya.
Aku beralih menuju laci, tempat rahasia itu kusimpan.
Di dalam laci, sebatang test pack positif terlentang malang. Entah sampai kapan ia akan terus begitu.
Kualihkan pandanganku keluar jendela. Dari atas sini, tempat ku berdiri sekarang tampak sebuah iklan sabun dalam reklame dengan ukuran yang lumayan besar. Tahu rasanya mendapati dirimu berpose di sana dan dipelototi jutaan pasang mata setiap harinya? Mengerikan.
Kuputuskan untuk menutup jendela sekaligus gordennya rapat-rapat.
Setelah mengambil sebotol tablet yang juga kutaruh dalam laci, aku kembali menuju ranjang. Separuh isinya kutelan, kubantu hanyutkan dengan segelas air mineral.
Kembali ponselku berdering.
 
2105F7B0
PING
PING
PING
Kutahu kau tengah memelototi layar ponselmu, Dona.
 
Dona Aulia
Siapapun kamu, tolong, berhentilah menggangguku.
 
2105F7B0
Aku akan pergi, setelah mengetahui apa yang akan kau lakukan ketika kau mengetahui batas waktu hidupmu. Akankah kau menghabisi sisa waktumu dengan bersenang-senang, seperti apa yang baru saja kau lakukan? Ah, tidak. Kau hanya membuatnya senang, kau tidak orgasme kan, barusan?
 
Dona Aulia
Darimana kau tahu?
 
2105F7B0
Sudah kubilang. Saat ini pun aku tahu warna lingeriemu.
 
Dona Aulia
Kau ingin tahu apa yang akan kulakukan sebelum mati? MENGEJARMU!
 
2105F7B0
Tebakanku keliru. Kukira kau akan menyatakan cinta.
 
Dona Aulia
Cinta? Bagiku cinta hanya alasan yang digunakan pria agar wanita mau melakukan senggama.
 
2105F7B0
Aku tahu kau menyimpan cinta. Kau hanya tidak menunjukkannya saja. Baiklah, waktu kita habis.
 
Dona Aulia
Apa maksudmu?
 
2105F7B0
Aku berada di sampingmu sekarang. Untuk menjemputmu pulang.
 
Mulutku mengeluarkan banyak busa. Ponselku terbanting ke bawah.
***
2105F7B0
Aku malaikat yang diutus-Nya untuk menjemput siapa saja yang sudah tiba waktunya. Siapa saja. Sekalipun kamu yang kini tengah asyik menatap layar monitormu. 
 
SEKIAN