Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 03 Januari 2012

Sampul Cokelat Tua

Oleh: @_raraa


Aku meniup lapisan debu yang menutupi buku itu, menggores permukaannya dengan jari hingga terbentuk garis lurus. Sampul berwarna cokelat tua dengan selotip yang menguning karena waktu, di tengahnya. Sobek, dulu.

Di sudut kanan atas masih ada namaku, ditulis dengan sekedarnya anak kecil yang baru belajar huruf. Kertasnya sudah saling menempel, urutan alfabet di lembarnya sudah memudar, dan sebagian besar benar-benar sudah hilang.
Aku layangkan lagi kenangan itu, kenangan sederhana di atas lembaran kucel berusia belasan tahun di tanganku. Kenangan saat Nenekku duduk berdiam di kursi rotan miliknya, matanya memerhatikan tiap gerak tanganku. Aku meliriknya diam-diam, sama seperti yang beliau lakukan di tengah kesibukannya menonton tayangan TV. Berkali-kali aku menghampirinya, bertanya apakah tulisanku benar. Dan berkali-kali pula beliau hanya menjawab ''Salah!'', hingga aku enggan melanjutkan usahaku.

Aku mengusap lagi lembaran pertama buku bersampul warna cokelat tua, merasakan atmosfer masa lalu, menyerap lagi sisa-sisa ingatan yang tersisa. Tentang mata tajam menusuk yang terus memaksaku pergi ke sekolah, tentang senyum diam-diam saat tengah malam ketika melihat huruf-huruf 'Salah'nya.

Aku menyusuri lagi spasi-spasi tak beraturan lebarnya di atas lembaran kertas rapuh berusia belasan tahun, mencari semangat yang baru saja kehilangan sumbernya. Mencari nafas yang beberapa jam lalu diambil lagi oleh-Nya, mencari permukaan kertas yang mungkin akan mengingatkan pada jasad kaku Nenekku. Mungkin senyumnya terselip diantara huruf yang disebutnya 'Salah', mungkin suaranya menjelma menjadi coretan menyilang di atas kata yang dulu susah payah kubuat.

Aku mengusapnya lagi, sampul berwarna cokelat tua compang-camping di tanganku. Iya, selotip yang menguning, hanya dua senti. Aku melihatnya, Nenekku ada di sana. Tangisku memaksanya menyambung kembali sobekan sampul buku pertamaku, membongkar semua isi laci demi selotip untuk dua senti. Atau mungkin untuk tangisku. Untuk cucu satu-satunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!