Oleh: Riezky Oktorawaty (@riezkylibra80)
Ayah, Ibu dan Aku, akhirnya tiba hari ini. 20tahun aku menanti. Makasih Nek.
Ayah meninggalkan aku dikala ku masih dalam kandungan. Kata Ibu, Ayah kawin lagi.
Ibu meninggalkan aku dikala aku duduk di bangku SD. Kata Nenek, Ibu kawin lagi.
Aku sebatang kara. Kata Nenek, tenang masih ada Nenek nemenin kamu.
Tapi aku mau mereka. Aku mau Ayah dan Ibu ku disini, bukan Nenek.
Nenek terdiam, terpancar di wajah renta beliau, kata-kataku menyinggungnya.
"Kamu bisa bertemu mereka lagi."
"Benar kah, Nek?"
"Tidurlah."
*
Nenek menepati janjinya. Sekarang aku bersama mereka, Ayah dan Ibuku. Pusara kami berdekatan. Terima kasih Nek.
*
Demi cucuku, aku datangi menantuku, aku bunuh dia.
Demi cucuku, aku datangi anakku, aku bunuh dia.
Demi cucuku, aku suruh dia tidur, aku bunuh dia.
Kamu senang cucuku sayang, sekarang kamu bersama Ayah dan Ibumu di surga.
*
Blog untuk memajang hasil karya partisipan #WritingSession yang diadakan setiap jam 9 malam di @writingsession. Karena tidak ada yang bisa menghentikan kita untuk berkarya, bahkan waktu dan tempat.
Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!
Jumat, 03 Juni 2011
Rabu, 01 Juni 2011
Best of The Night 31 Mei 2011
Yang menjadi BOTN sesi "permen" adalah...
Kenapa?
Kriteria 1: Kata-kata pembukanya menarik, dengan deskripsi yang tidak sepenuhnya memakai kata-kata unik tapi membuat ingin terus membaca. Skor: 3.
Kriteria 2: Akhir dari ceritanya cukup mengejutkan. Kejutan yang manis dan cukup mengena. Skor: 3.
Kriteria 3: Penggunaan tanda baca sudah benar. Skor: 4.
Kriteria 4: Cerita ini sudah cukup umum tapi ditulis dengan unik. Kesamaan rima yang menghibur, juga alur cerita yang sederhana tapi mengena. Skor: 3.
Kriteria 5: Sudah sesuai dengan tema. Permen juga jadi sentral cerita. Skor: 4.
Kriteria 6: Sudah ada permainan kata-kata yang cukup kaya, juga eksplorasi kata-kata berakhiran sama. Skor: 3.
Selamat ya!
"Apa Yang Manis?" oleh @meiizt
Kenapa?
Kriteria 1: Kata-kata pembukanya menarik, dengan deskripsi yang tidak sepenuhnya memakai kata-kata unik tapi membuat ingin terus membaca. Skor: 3.
Kriteria 2: Akhir dari ceritanya cukup mengejutkan. Kejutan yang manis dan cukup mengena. Skor: 3.
Kriteria 3: Penggunaan tanda baca sudah benar. Skor: 4.
Kriteria 4: Cerita ini sudah cukup umum tapi ditulis dengan unik. Kesamaan rima yang menghibur, juga alur cerita yang sederhana tapi mengena. Skor: 3.
Kriteria 5: Sudah sesuai dengan tema. Permen juga jadi sentral cerita. Skor: 4.
Kriteria 6: Sudah ada permainan kata-kata yang cukup kaya, juga eksplorasi kata-kata berakhiran sama. Skor: 3.
Selamat ya!
Saat Manisan Tak Lagi Manis
Oleh: Momo DM (@mazmocool)
http://bianglalakata.wordpress.com
Malam menjelang saat langkahku bergerak perlahan menyusuri jalanan. Keindahan purnama seakan bukan lagi sebuah keindahan. Temaram malam mengantarkan aku meninggalkan suatu tempat. Tempat yang pernah aku kunjungi seminggu yang lalu.
***
“Dina,” kataku lembut pada seorang gadis yang duduk di sampingku.
“Iya Rama. Ada apa?” jawabnya sambil tersenyum manis seperti biasanya.
“Kita kan sudah kenal hampir seminggu,” kataku berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
“Terus kenapa Ram?” tanya Dina hampir tanpa ekspresi.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” jawabku mencoba meyakinkan hatiku.
Tetapi sepertinya keyakinan hatiku enggan untuk berpadu dengan bibirku. Tiba-tiba saja bibirku tak bisa digerakkan. Kerongkonganku terasa tercekat. Aku pun terdiam begitu saja. Kata-kata yang sudah aku persiapkan sejak pertemuan pertama dengannya seperti hilang bersama embun malam yang mulai jatuh di sudut taman itu. Taman tempat pertama kali bertemu itu sebagian telah basah oleh embun yang menyapa. Dingin yang menerpa tak lebih dingin dari hatiku. Bahkan tak lebih dingin dari suasana malamku bersama Dina di kursi taman itu.
“Kok malah diam Ram?” tanya Dina sambil menatap wajahku keheranan.
“Ram..Rama kamu kenapa?” tanya Dina lagi.
Kali ini dengan nada yang berbeda. Dina memegang bahuku dan mengguncang-guncang tubuhku. Aku tak bisa bicara. Aku hanya menunjuk pada leherku. Dina tampak bingung karena tidak bisa memahami bahasa isyaratku. Seperti dia yang sedari tadi tidak bisa memahami bahasa hatiku. Dina semakin kebingungan dengan kondisiku.
“Rama, kamu kenapa?” tanya Dina dalam nada penuh kecemasan.
Aku masih tak bisa menjawab dan hanya bisa menunjuk-nunjuk leherku. Dina memperhatikan leherku dengan seksama. Tetapi sepertinya dia tidak menemukan keanehan di leherku. Dina yang bingung campur cemas hanya bisa memandangku dengan heran.
Menyadari Dina tidak mengerti dengan keadaanku saat ini, aku pun segera berlari ke arah penjual asongan yang tengah duduk di bawah sebuah pohon tak jauh dari tempat aku duduk. Aku segera meraih sebotol air mineral dan dengan tergesa-gesa segera membukanya. Tanpa basa basi aku meminumnya dalam tatapan heran Dina.
Kurasakan kelegaan luar biasa saat butiran permen penyegar yang tertelan di kerongkonganku meluncur ke dalam saluran pencernaanku. Aku segera membayar air mineral itu dan mengambil permen sebagai kembaliannya. Dina menyusulku dan mengajakku kembali ke kursi taman.
Lampu taman masih merona menjadi saksi bisu malam itu. Malam penentuan bagi pelayaran sebuah hati yang ingin menemukan dermaganya. Tetapi sepertinya malam ini bukan malam yang tepat bagiku untuk berlabuh di dermaga hati Dina setelah kejadian tadi. Dina memutuskan untuk mengajak pulang. Kekhawatiran akan kondisiku membuat Dina memutuskan hal itu.
Aku segera mengantarkan Dina pulang ke rumahnya. Di pintu gerbang rumahnya aku mengulurkan sederet tulisan isi hatiku dalam genggaman Dina. Dina melihatnya sekilas dan tersenyum sambil memasukkan deretan kata itu ke dalam saku rok panjangnya.
“Seminggu lagi di tempat yang sama ya,” kata Dina saat aku berlalu dari hadapannya.
Seminggu lagi. Ya..seminggu lagi aku akan memperoleh jawaban dari Dina. Menunggu sesuatu selama seminggu serasa hari memenjarakan aku dalam dua kemungkinan. Kemungkinan yang harus aku hadapi. Apapun itu. Kekuatan hati akan sebuah tekad yang telah terpatri membuatku merasa lebih mudah dalam menjalani perputaran hari. Berat tak lagi sebuah kendala. Waktu bukan lagi sebuah kelelahan hati.
***
Malam ini, malam ketujuh sejak terakhir aku bertemu Dina. Aku bergegas melangkah pada jam yang sama menuju tempat yang sama. Aku tertegun saat pandangan mataku menatap kursi taman yang kosong. Ternyata Dina telah membohongiku. Aku tak habis pikir kenapa Dina tega membohongiku. Aku yang tak pernah berbohong dengan perasaanku padanya.
Aku bergegas menuju kursi taman itu. Pandangan visualku tertumbuk pada sebuah bungkus permen yang tergeletak di atasnya. Bungkus permen bertuliskan “I Love You”. Aku memungutnya. Itu adalah bungkus permen yang aku berikan dalam genggaman Dina malam itu.
Sosok Dina yang kuharapkan hadir untuk mempercantik semesta malam itu ternyata tidak terlukis di sana. Dalam hati aku berharap semoga saja kejadian malam itu bukanlah pertanda buruk.
Sampai akhirnya, kenyataan itu membuat tubuhku terasa bergetar. Ternyata HP-ku yang bergetar bersamaan dengan getaran hebat dalam hatiku. Aku menjawabnya dan kudengar suara lembut di ujungnya. Suara Dina.
“Kamu sudah mengambil bungkus permen itu?” katanya lembut seperti biasa.
“Sudah. Tapi itu kan bungkus permen yang aku berikan padamu malam itu,” jawabku dalam nada penasaran.
“Iya memang. Itulah jawabanku,” jawab Dina yang melambungkan rasaku ke langit ke tujuh.
“Tapi maaf Ram. Meskipun begitu, aku tidak bisa menerima cintamu malam ini, karena besok pagi aku harus berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi selama beberapa tahun,” jawab Dina sesenggukan.
“Kenapa kamu tidak member tahu aku dari awal Din?” tanyaku dalam kebimbangan.
“Aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih menerima kenyataan yang ada. Tapi yakinlah aku pasti kembali,” jawab Dina penuh keyakinan.
Jawaban Dina mengantarkanku pada sebuah kenyataan pahit bahwa aku tidak bisa memiliki Dina, setidaknya saat ini. Kenyataan pahit yang tidak semanis permen penyegar yang tengah menari-nari dalam rongga mulutku malam ini.
http://bianglalakata.wordpress.com
Malam menjelang saat langkahku bergerak perlahan menyusuri jalanan. Keindahan purnama seakan bukan lagi sebuah keindahan. Temaram malam mengantarkan aku meninggalkan suatu tempat. Tempat yang pernah aku kunjungi seminggu yang lalu.
***
“Dina,” kataku lembut pada seorang gadis yang duduk di sampingku.
“Iya Rama. Ada apa?” jawabnya sambil tersenyum manis seperti biasanya.
“Kita kan sudah kenal hampir seminggu,” kataku berusaha menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
“Terus kenapa Ram?” tanya Dina hampir tanpa ekspresi.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” jawabku mencoba meyakinkan hatiku.
Tetapi sepertinya keyakinan hatiku enggan untuk berpadu dengan bibirku. Tiba-tiba saja bibirku tak bisa digerakkan. Kerongkonganku terasa tercekat. Aku pun terdiam begitu saja. Kata-kata yang sudah aku persiapkan sejak pertemuan pertama dengannya seperti hilang bersama embun malam yang mulai jatuh di sudut taman itu. Taman tempat pertama kali bertemu itu sebagian telah basah oleh embun yang menyapa. Dingin yang menerpa tak lebih dingin dari hatiku. Bahkan tak lebih dingin dari suasana malamku bersama Dina di kursi taman itu.
“Kok malah diam Ram?” tanya Dina sambil menatap wajahku keheranan.
“Ram..Rama kamu kenapa?” tanya Dina lagi.
Kali ini dengan nada yang berbeda. Dina memegang bahuku dan mengguncang-guncang tubuhku. Aku tak bisa bicara. Aku hanya menunjuk pada leherku. Dina tampak bingung karena tidak bisa memahami bahasa isyaratku. Seperti dia yang sedari tadi tidak bisa memahami bahasa hatiku. Dina semakin kebingungan dengan kondisiku.
“Rama, kamu kenapa?” tanya Dina dalam nada penuh kecemasan.
Aku masih tak bisa menjawab dan hanya bisa menunjuk-nunjuk leherku. Dina memperhatikan leherku dengan seksama. Tetapi sepertinya dia tidak menemukan keanehan di leherku. Dina yang bingung campur cemas hanya bisa memandangku dengan heran.
Menyadari Dina tidak mengerti dengan keadaanku saat ini, aku pun segera berlari ke arah penjual asongan yang tengah duduk di bawah sebuah pohon tak jauh dari tempat aku duduk. Aku segera meraih sebotol air mineral dan dengan tergesa-gesa segera membukanya. Tanpa basa basi aku meminumnya dalam tatapan heran Dina.
Kurasakan kelegaan luar biasa saat butiran permen penyegar yang tertelan di kerongkonganku meluncur ke dalam saluran pencernaanku. Aku segera membayar air mineral itu dan mengambil permen sebagai kembaliannya. Dina menyusulku dan mengajakku kembali ke kursi taman.
Lampu taman masih merona menjadi saksi bisu malam itu. Malam penentuan bagi pelayaran sebuah hati yang ingin menemukan dermaganya. Tetapi sepertinya malam ini bukan malam yang tepat bagiku untuk berlabuh di dermaga hati Dina setelah kejadian tadi. Dina memutuskan untuk mengajak pulang. Kekhawatiran akan kondisiku membuat Dina memutuskan hal itu.
Aku segera mengantarkan Dina pulang ke rumahnya. Di pintu gerbang rumahnya aku mengulurkan sederet tulisan isi hatiku dalam genggaman Dina. Dina melihatnya sekilas dan tersenyum sambil memasukkan deretan kata itu ke dalam saku rok panjangnya.
“Seminggu lagi di tempat yang sama ya,” kata Dina saat aku berlalu dari hadapannya.
Seminggu lagi. Ya..seminggu lagi aku akan memperoleh jawaban dari Dina. Menunggu sesuatu selama seminggu serasa hari memenjarakan aku dalam dua kemungkinan. Kemungkinan yang harus aku hadapi. Apapun itu. Kekuatan hati akan sebuah tekad yang telah terpatri membuatku merasa lebih mudah dalam menjalani perputaran hari. Berat tak lagi sebuah kendala. Waktu bukan lagi sebuah kelelahan hati.
***
Malam ini, malam ketujuh sejak terakhir aku bertemu Dina. Aku bergegas melangkah pada jam yang sama menuju tempat yang sama. Aku tertegun saat pandangan mataku menatap kursi taman yang kosong. Ternyata Dina telah membohongiku. Aku tak habis pikir kenapa Dina tega membohongiku. Aku yang tak pernah berbohong dengan perasaanku padanya.
Aku bergegas menuju kursi taman itu. Pandangan visualku tertumbuk pada sebuah bungkus permen yang tergeletak di atasnya. Bungkus permen bertuliskan “I Love You”. Aku memungutnya. Itu adalah bungkus permen yang aku berikan dalam genggaman Dina malam itu.
Sosok Dina yang kuharapkan hadir untuk mempercantik semesta malam itu ternyata tidak terlukis di sana. Dalam hati aku berharap semoga saja kejadian malam itu bukanlah pertanda buruk.
Sampai akhirnya, kenyataan itu membuat tubuhku terasa bergetar. Ternyata HP-ku yang bergetar bersamaan dengan getaran hebat dalam hatiku. Aku menjawabnya dan kudengar suara lembut di ujungnya. Suara Dina.
“Kamu sudah mengambil bungkus permen itu?” katanya lembut seperti biasa.
“Sudah. Tapi itu kan bungkus permen yang aku berikan padamu malam itu,” jawabku dalam nada penasaran.
“Iya memang. Itulah jawabanku,” jawab Dina yang melambungkan rasaku ke langit ke tujuh.
“Tapi maaf Ram. Meskipun begitu, aku tidak bisa menerima cintamu malam ini, karena besok pagi aku harus berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studi selama beberapa tahun,” jawab Dina sesenggukan.
“Kenapa kamu tidak member tahu aku dari awal Din?” tanyaku dalam kebimbangan.
“Aku hanya tidak ingin melihatmu bersedih menerima kenyataan yang ada. Tapi yakinlah aku pasti kembali,” jawab Dina penuh keyakinan.
Jawaban Dina mengantarkanku pada sebuah kenyataan pahit bahwa aku tidak bisa memiliki Dina, setidaknya saat ini. Kenyataan pahit yang tidak semanis permen penyegar yang tengah menari-nari dalam rongga mulutku malam ini.
Apa Yang Manis?
Oleh: @meiizt
Gula kapas ini terlalu manis, bahkan untuk lidahku yang menyukai manis.
Malam itu gerimis.
Kau meringis dan mengatakan dompetmu cukup tipis,
Jadi kau tak bisa membelikanku ikan mas hidup yang amis.
Aku tertawa dan berseru akulah yang akan membeli ikan itu untukmu,
Karena nenekku memberi cukup uang untuk itu.
Sepertinya kau jadi malu dan merasa tak enak padaku, tapi aku tak peduli, huh?
Aku berlari sendirian menyusuri pasar malam yang ramai semu.
Kubilang padamu, tunggu dan jangan ikuti aku.
Aku akan kembali dengan ikan mas hidup yang amis, untukmu.
Kau tersenyum, dan saat melihatku menjauh, kau juga berlari.
Ke arah yang berlawanan dengan aku mencari.
Ah, pedagang ikan ini terlalu ramai!
Mengantri, mengantri, begitu banyak anak kecil yang mengantri!
Aku takut kau bosan menunggu dan pulang sendiri.
Hahaha, kau tahu apa yang terjadi lalu?
Saat tiba giliranku, sang penjual berkata kalau ikan mas hidup yang amis itu sudah laku.
Aku menangis sejadinya dan menyuruhnya memancing lagi untukku.
Ah, sungguh dunia ini terlalu.
Ini pasar malam kelimapuluh, kau tahu?
Tapi tak pernah kita bisa mendapatkannya, ikan mas hidup yang amis itu.
Aku menunduk di pojok lapangan, tak punya muka bertemu denganmu.
Tak kudengar langkahmu,
Kau tiba-tiba saja ada di sampingku dan menjejalkan gula kapas manis itu ke mulutku.
Bukan, bukan dengan jarimu.
Tapi dengan bibirmu.
Jadi, apa yang manis?
Gula kapas kah?
Bibirmu kah?
Atau cinta kita?
Gula kapas ini terlalu manis, bahkan untuk lidahku yang menyukai manis.
Malam itu gerimis.
Kau meringis dan mengatakan dompetmu cukup tipis,
Jadi kau tak bisa membelikanku ikan mas hidup yang amis.
Aku tertawa dan berseru akulah yang akan membeli ikan itu untukmu,
Karena nenekku memberi cukup uang untuk itu.
Sepertinya kau jadi malu dan merasa tak enak padaku, tapi aku tak peduli, huh?
Aku berlari sendirian menyusuri pasar malam yang ramai semu.
Kubilang padamu, tunggu dan jangan ikuti aku.
Aku akan kembali dengan ikan mas hidup yang amis, untukmu.
Kau tersenyum, dan saat melihatku menjauh, kau juga berlari.
Ke arah yang berlawanan dengan aku mencari.
Ah, pedagang ikan ini terlalu ramai!
Mengantri, mengantri, begitu banyak anak kecil yang mengantri!
Aku takut kau bosan menunggu dan pulang sendiri.
Hahaha, kau tahu apa yang terjadi lalu?
Saat tiba giliranku, sang penjual berkata kalau ikan mas hidup yang amis itu sudah laku.
Aku menangis sejadinya dan menyuruhnya memancing lagi untukku.
Ah, sungguh dunia ini terlalu.
Ini pasar malam kelimapuluh, kau tahu?
Tapi tak pernah kita bisa mendapatkannya, ikan mas hidup yang amis itu.
Aku menunduk di pojok lapangan, tak punya muka bertemu denganmu.
Tak kudengar langkahmu,
Kau tiba-tiba saja ada di sampingku dan menjejalkan gula kapas manis itu ke mulutku.
Bukan, bukan dengan jarimu.
Tapi dengan bibirmu.
Jadi, apa yang manis?
Gula kapas kah?
Bibirmu kah?
Atau cinta kita?
Ironi
Oleh: By @Farissolihin
Presiden makan kekuasaan
DPR makan uang, nonton bokep juga
Nurdin makan uang dan kekuasaan
Kamu, wahai anak jalanan
Makan permen hari ini pun alhamdulillah
Presiden makan kekuasaan
DPR makan uang, nonton bokep juga
Nurdin makan uang dan kekuasaan
Kamu, wahai anak jalanan
Makan permen hari ini pun alhamdulillah
Kamu itu manis.
Oleh: Jenny Thalia Faurine (@JennyThaliaF)
Kamu itu manis.
Ingin sekali aku dipuji seperti itu. Tapi aku sadar, aku ini kan jelek. Tidak cantik apalagi manis. Aku hanya gadis biasa. Dengan tinggi tubuh yang cenderung pendek. Kulit yang tidak putih. Hidung ku pun juga tak bangir seperti teman-temanku yang cantik secantik dewi kahyangan itu.
Ups, oke, aku mulai berlebihan.
Tapi itu lah kenyataannya. Sampai umur 17 tahun seperti ini, aku belum pernah pacaran sama sekali. Tak ada yang tertarik padaku. Tak ada yang pernah bilang aku ini cantik atau manis.
Aku ingin sekali ada yang bilang bahwa aku ini cantik.
Kapan itu terjadi?
Hhh, sudah sudah. Lupakan ini semua!
***
Brak!
"Please, jalan liat-liat dong..." kataku sambil menahan marah. Kalimat klise yang pasti keluar kalau aku bertabrakan dengan seseorang.
Cowok itu hanya menatapku sekilas--yang aku yakin bahkan ia akan lupa dengan diriku kalau ia sudah tak melihatku lagi--lalu pergi dengan seenaknya.
Aku menghela napas. Dasar cowok! Makiku dalam hati.
Koridor sekolah masih ramai dengan murid yang hilir mudik. Ada yang berjalan ke kafetaria, lapangan, dan tentu saja ke arah gerbang sekolah. Ini sudah jam pulang sekolah.
Aku berjalan kembali menuju gerbang, pulang. Seperti biasa.
Datar tidak sih hidupku?
***
"Woy!!"
Aku tersentak kaget, apa-apaan sih cowok ini? Aku mendelik ke arahnya dengan tatapan sinis. Cowok itu terlihat kotor, seragamnya penuh lumpur. Rambutnya pun acak-acakan. Tapi dalam hati aku mengakui, dalam keadaan seperti itu, ia tetap tampan kok. Hidungnya yang bangir dan matanya yang ekspresif itu, makin mendukung penampilannya. Tinggi tubuhnya pun ideal. Kulitnya kecokelatan--ala tennis tan. Mungkin dia sering bermain tenis.
"Daritadi gue panggilin, gak nengok-nengok juga. Jangan bengong dong."
Aku hanya tersenyum kecut. "Ini kan taman umum, bebas dong gue mau ngapain." elakku.
"Yee, tapi gak juga harus bengong kali."
"Terus lo mau ngapain manggil gue? Kenal juga enggak."
Ia menunjuk ke arah bola yang ada di hadapanku, aku baru sadar ada bola itu. "Itu. Daritadi aku minta ambilin, lo gak denger-denger."
Setelah itu ia langsung mengambil bolanya dan pergi ke tengah taman yang sekarang dijadikan lapangan sepak bola dadakan.
"Hey, lo gak mau minta maaf apa soal tempo hari? Lo kan udah nabrak gue!" seruku tak tahan.
"Kalo gitu sorry deh!!"
Dasar cowok gak jelas!
***
"Kannya, kamu sekelompok sama... ah, Daniel."
Aku menautkan alis, tak tau yang namanya Daniel. Saat aku menoleh mencari ke sekeliling kelas, ternyata cowok yang waktu itu menabrakku dan kutemui di taman!
Jadi namanya Daniel?
Aku hanya mengangguk, aku tak berharap sih sekelompok sama dia. Dan... kok aku baru sadar ya kalau aku sekelas dengannya? Padahal sudah sekitar dua minggu aku di kelas baruku ini. Ya , ketika kelas dua, kami semua diacak, jadi, aku punya kelas dan teman-teman baru.
"Jadi nama lo Kannya? Kayak nama penyanyi gitu ya?" godanya di tengah-tengah keseriusanku mengerjakan tugas Biologi ini.
"Itu Kanye West. Beda jauh."
Kami hanya tertawa. Saat Daniel tertawa, ada lesung pipi yang muncul.
"Nah gitu dong, ketawa kek sekali-sekali. Kan manis kalo ketawa." ujarnya yang langsung membuatku tersipu malu dan melanjutkan lagi tugas itu dengan... sedikit gugup?
Entahlah.
"Kalo di kelas, elo diem banget. Kalo lo enjoy kayak gini kan, enak. Ketawa itu bikin sehat lho."
"Sok tau lo." gumamku pelan.
"Yee, gak percaya."
"Hei, jangan makan melulu dong. Bantuin nih." kataku sambil menyodorkan buku Biologi yang sudah membuatku mual itu.
Ia tertawa lalu mengambil pulpen dan buku itu. Gantinya, ia malah menyodorkan sebatang permen lolipop kepadaku. "Nih, sementara gue ngerjain, makan aja itu. Biar mood lo gak jelek-jelek amat dan gak suram kayak biasanya."
Ia sukses membuatku tertawa dan memakan permen itu.
***
5 tahun kemudian...
"Ih, dari dulu lo seneng banget deh melamun di sini."
Aku mengangkat bahu sambil tersenyum kepadanya. "Seneng aja, belum sampe kesurupan ini kok."
"Tapi gak apa-apa sih, kalo lo bengong gitu, lo juga keliatan manis kok. Tapi lebih manis lagi kalo lagi senyum sambil makan permen dari gue." katanya penuh percaya diri.
Aku menonjok pelan lengannya. "Dasar gombal. Dari jaman SMA, gak berubah deh."
Daniel menaikkan alisnya. "Tapi suka kan?"
Aku tertawa.
"Gue seneng deh, kita dulu ketemu dan sampe sekarang masih pacaran." ujarnya. Ia memainkan jemariku, lalu berhenti di jari manisku yang tersemat cincin platina bermata blue safir. Itu cincin darinya.
Entah bagaimana caranya, semenjak pertama kali bicara dengannya, kami lama-kelamaan dekat. Aku suka ada di dekatnya. Ia selalu menjagaku, menemaniku, dan membuatku tersenyum. Ia membuatku melupakan semua 'keminderan'ku akan kondisi fisikku.
"Dari dulu sampe sekarang, lo selaluuu aja ngasih gue permen. Gak takut apa kalo gigi gue jadi rontok semua?"
"Biar elo lebih manis, tau. Eh, tapi tanpa permen aja, lo udah manis kok. Lebih manis dari permen..."
"Tuh kan, mulai lagi gombalnya."
Kami tertawa. Senja di taman itu kembali mengisi satu lembaran hidupku dengannya. Hidupku tidak datar kok. Dan hidupku... manis, tentu saja. :)
Ia tersenyum padaku, matanya memantulkan pendaran senja yang mulai kembali ke peraduan. "Kamu manis. Pasti tau tentang fakta itu kan?"
Aku balas tersenyum.
Kamu manis. Aku ingin dia terus mengucapkan itu padaku.
***
Selasa. 310511. 10:06 PM
Kamu itu manis.
Ingin sekali aku dipuji seperti itu. Tapi aku sadar, aku ini kan jelek. Tidak cantik apalagi manis. Aku hanya gadis biasa. Dengan tinggi tubuh yang cenderung pendek. Kulit yang tidak putih. Hidung ku pun juga tak bangir seperti teman-temanku yang cantik secantik dewi kahyangan itu.
Ups, oke, aku mulai berlebihan.
Tapi itu lah kenyataannya. Sampai umur 17 tahun seperti ini, aku belum pernah pacaran sama sekali. Tak ada yang tertarik padaku. Tak ada yang pernah bilang aku ini cantik atau manis.
Aku ingin sekali ada yang bilang bahwa aku ini cantik.
Kapan itu terjadi?
Hhh, sudah sudah. Lupakan ini semua!
***
Brak!
"Please, jalan liat-liat dong..." kataku sambil menahan marah. Kalimat klise yang pasti keluar kalau aku bertabrakan dengan seseorang.
Cowok itu hanya menatapku sekilas--yang aku yakin bahkan ia akan lupa dengan diriku kalau ia sudah tak melihatku lagi--lalu pergi dengan seenaknya.
Aku menghela napas. Dasar cowok! Makiku dalam hati.
Koridor sekolah masih ramai dengan murid yang hilir mudik. Ada yang berjalan ke kafetaria, lapangan, dan tentu saja ke arah gerbang sekolah. Ini sudah jam pulang sekolah.
Aku berjalan kembali menuju gerbang, pulang. Seperti biasa.
Datar tidak sih hidupku?
***
"Woy!!"
Aku tersentak kaget, apa-apaan sih cowok ini? Aku mendelik ke arahnya dengan tatapan sinis. Cowok itu terlihat kotor, seragamnya penuh lumpur. Rambutnya pun acak-acakan. Tapi dalam hati aku mengakui, dalam keadaan seperti itu, ia tetap tampan kok. Hidungnya yang bangir dan matanya yang ekspresif itu, makin mendukung penampilannya. Tinggi tubuhnya pun ideal. Kulitnya kecokelatan--ala tennis tan. Mungkin dia sering bermain tenis.
"Daritadi gue panggilin, gak nengok-nengok juga. Jangan bengong dong."
Aku hanya tersenyum kecut. "Ini kan taman umum, bebas dong gue mau ngapain." elakku.
"Yee, tapi gak juga harus bengong kali."
"Terus lo mau ngapain manggil gue? Kenal juga enggak."
Ia menunjuk ke arah bola yang ada di hadapanku, aku baru sadar ada bola itu. "Itu. Daritadi aku minta ambilin, lo gak denger-denger."
Setelah itu ia langsung mengambil bolanya dan pergi ke tengah taman yang sekarang dijadikan lapangan sepak bola dadakan.
"Hey, lo gak mau minta maaf apa soal tempo hari? Lo kan udah nabrak gue!" seruku tak tahan.
"Kalo gitu sorry deh!!"
Dasar cowok gak jelas!
***
"Kannya, kamu sekelompok sama... ah, Daniel."
Aku menautkan alis, tak tau yang namanya Daniel. Saat aku menoleh mencari ke sekeliling kelas, ternyata cowok yang waktu itu menabrakku dan kutemui di taman!
Jadi namanya Daniel?
Aku hanya mengangguk, aku tak berharap sih sekelompok sama dia. Dan... kok aku baru sadar ya kalau aku sekelas dengannya? Padahal sudah sekitar dua minggu aku di kelas baruku ini. Ya , ketika kelas dua, kami semua diacak, jadi, aku punya kelas dan teman-teman baru.
"Jadi nama lo Kannya? Kayak nama penyanyi gitu ya?" godanya di tengah-tengah keseriusanku mengerjakan tugas Biologi ini.
"Itu Kanye West. Beda jauh."
Kami hanya tertawa. Saat Daniel tertawa, ada lesung pipi yang muncul.
"Nah gitu dong, ketawa kek sekali-sekali. Kan manis kalo ketawa." ujarnya yang langsung membuatku tersipu malu dan melanjutkan lagi tugas itu dengan... sedikit gugup?
Entahlah.
"Kalo di kelas, elo diem banget. Kalo lo enjoy kayak gini kan, enak. Ketawa itu bikin sehat lho."
"Sok tau lo." gumamku pelan.
"Yee, gak percaya."
"Hei, jangan makan melulu dong. Bantuin nih." kataku sambil menyodorkan buku Biologi yang sudah membuatku mual itu.
Ia tertawa lalu mengambil pulpen dan buku itu. Gantinya, ia malah menyodorkan sebatang permen lolipop kepadaku. "Nih, sementara gue ngerjain, makan aja itu. Biar mood lo gak jelek-jelek amat dan gak suram kayak biasanya."
Ia sukses membuatku tertawa dan memakan permen itu.
***
5 tahun kemudian...
"Ih, dari dulu lo seneng banget deh melamun di sini."
Aku mengangkat bahu sambil tersenyum kepadanya. "Seneng aja, belum sampe kesurupan ini kok."
"Tapi gak apa-apa sih, kalo lo bengong gitu, lo juga keliatan manis kok. Tapi lebih manis lagi kalo lagi senyum sambil makan permen dari gue." katanya penuh percaya diri.
Aku menonjok pelan lengannya. "Dasar gombal. Dari jaman SMA, gak berubah deh."
Daniel menaikkan alisnya. "Tapi suka kan?"
Aku tertawa.
"Gue seneng deh, kita dulu ketemu dan sampe sekarang masih pacaran." ujarnya. Ia memainkan jemariku, lalu berhenti di jari manisku yang tersemat cincin platina bermata blue safir. Itu cincin darinya.
Entah bagaimana caranya, semenjak pertama kali bicara dengannya, kami lama-kelamaan dekat. Aku suka ada di dekatnya. Ia selalu menjagaku, menemaniku, dan membuatku tersenyum. Ia membuatku melupakan semua 'keminderan'ku akan kondisi fisikku.
"Dari dulu sampe sekarang, lo selaluuu aja ngasih gue permen. Gak takut apa kalo gigi gue jadi rontok semua?"
"Biar elo lebih manis, tau. Eh, tapi tanpa permen aja, lo udah manis kok. Lebih manis dari permen..."
"Tuh kan, mulai lagi gombalnya."
Kami tertawa. Senja di taman itu kembali mengisi satu lembaran hidupku dengannya. Hidupku tidak datar kok. Dan hidupku... manis, tentu saja. :)
Ia tersenyum padaku, matanya memantulkan pendaran senja yang mulai kembali ke peraduan. "Kamu manis. Pasti tau tentang fakta itu kan?"
Aku balas tersenyum.
Kamu manis. Aku ingin dia terus mengucapkan itu padaku.
***
Selasa. 310511. 10:06 PM
Permen
Oleh: Stephie Anindita
@StephieAnindita
Namaku Dysta. Usiaku tiga belas tahun kurang delapan bulan. Aku suka sekali makan permen. Apa kamu juga suka makan permen?
Ketika usiaku baru lima tahun kurang delapan bulan, aku pernah terjatuh dari sepeda. Aku menangis meraung-raung melihat luka mengerikan di dengkulku. Warna merah darah yang bercampur dengan titik-titik hitam debu jalanan itu seperti meyakinkanku kalau aku akan mati. Sebagai seorang anak kecil, yang bisa aku lakukan hanya meraung-raung dalam ketakutan dan kesakitanku.
“Cup cup cup ... anak pinter! Jangan menangis, ya?”
Pengasuh bayi yang ditugaskan untuk menjagaku baru datang setengah jam kemudian. Itupun karena seorang tetangga memanggilnya dari rumah Bu RT, tempat ia biasa memelototi televisi yang menyajikan berbagai macam sinetron dan gosip setiap jamnya. Ketika ia mengangkatku yang nyaris kehabisan nafas karena terlalu banyak meraung, aku berontak. Rasa sakit di dengkulku semakin berdenyut ketika dengkulku tergesek baju seragam putihnya yang kaku dan kasar.
“Mau permen? Mau kan? Nih ... Mbak punya permen enak!”
Ia memberiku sebutir permen berwarna merah. Begitu lidahku tersentuh permen itu, rasa manis langsung menghentikan aliran air mata dan jeritanku. Aku membiarkan diriku larut di dalam rasa manis saat permen itu mulai meleleh. Begitu nikmat. Begitu manis. Menyebar ke seluruh bagian indera pengecapku. Ketika permen itu mulai mengecil dan kehilangan rasa, aku melahap butiran permen lain yang tidak kalah manisnya untuk mengantisipasi kepanikanku akan kembalinya rasa sakit.
Ada berbagai macam permen yang aku sukai. Permen rasa Susu, permen rasa Strawberry, permen rasa Anggur, permen rasa Jeruk ...
Tetapi ada satu rasa permen yang aku tidak bisa melukiskan bagaimana rasanya. Yang jelas aku menyukainya. Pengasuhku yang memperkenalkannya padaku. Ia mencampurkan permen itu ke dalam botol susu dan kemudian meminumkan susu itu padaku. Permen itu memberi sedikit rasa aneh di susu yang kuminum, tetapi aku tidak begitu keberatan.
Sesudah itu aku bisa terlelap dan berkelana ke dunia ajaibku dimana aku bisa berjumpa dengan Putri Salju, Putri Duyung dan Cinderella. Pengasuhku bisa bebas menonton televisi atau bercengkrama dengan teman-temannya. Permen itu mengajariku simbiosis mutualisme untuk pertama kalinya.
Hampir semua orang yang kukenal menyukai permen. Contohnya Mamaku, ia mempunyai berbotol-botol permen yang ia simpan rapat-rapat di laci meja kerjanya. Beberapa kali aku melihatnya mengeluarkan beraneka ragam permen dari botol-botol itu. Ada yang berwarna merah, kuning dan bahkan ada juga yang berwarna biru.
Mama tampak begitu menikmati permen-permen itu. Tidak ada lagi Mama yang berteriak-teriak marah sampai urat kebiruan muncul di pelipisnya. Mama akan terlelap dengan wajah manis sesudah memakannya. Walau begitu, Mama tidak pernah mengijinkanku mencicipinya. Permen-permen itu milik Mama. Tidak ada yang boleh mengambilnya.
Aku mengerti seutuhnya. Sulit juga bagiku untuk membagi kenikmatan permenku dengan orang lain. Aku akan marah atau menangis setiap kali ada yang mencuri permenku. Kepalaku otomatis akan menggeleng setiap kali ada yang meminta permenku.
“Ih, Dysta pelit! Dysta pelit!”
Biarin. Kalian boleh menyebutku pelit. Kikir. Apa saja boleh. Aku tidak perduli. Kata-kata apapun tidak akan menjebol pertahananku. Permen-permen ini milikku. Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku.
Orang lain yang kutahu sangat menyukai permen, adalah kakak perempuanku yang berusia dua puluh tahun. Ia rutin makan permen setiap harinya. Permen-permen itu tidak bermerk, jadi aku menamakannya sendiri. Ada permen anti nangis, ada permen tidur, ada permen tertawa juga. Semuanya kunamakan sesuai dengan efek yang ditimbulkannya terhadap kakak.
“Jangan berani-berani kamu ngadu ke Mama kalau aku punya ini! Kalau kamu ngadu, aku pukul kamu!”
Mungkin saja kakak takut Mama meminta permennya. Aku bisa mengerti. Setiap orang mempunyai permen kesukaannya sendiri-sendiri dan orang lain tidak boleh meminta.
Suatu hari kakak pulang bersama seorang cowok teman sekelasnya. Mereka berdua makan permen bersama di ruang tamu. Mataku membesar melihat teman kakak ternyata punya banyak sekali permen di tas ranselnya. Warna-warna permen yang belum pernah aku lihat, kini terpampang jelas ada di hadapanku. Permen-permen yang mereka miliki begitu bervariasi. Bahkan lebih bervariasi dari yang dipunyai Mama. Aku begitu ingin mencicipinya, tetapi aku tahu pasti aku tidak akan diberi sebutirpun.
Kakak dan temannya cukup sopan. Mereka merasa tidak enak juga kalau terus-menerus melahap permen itu di hadapanku tanpa berniat sedikitpun untuk menawariku. Karena itu mereka segera masuk ke dalam kamar kakak dan melanjutkan pesta permen mereka disana.
Tanpa setahu mereka, sebutir permen jatuh ke bawah meja. Aku menatap ke arah meja dengan hati bimbang. Aku ingat Mama pernah menjentik tanganku ketika aku hendak memungut sebutir permen yang jatuh ke lantai. Permen itu sudah kotor, kata Mama. Aku bisa sakit perut kalau memakannya.
Aku bingung. Permen itu seakan memanggilku dari bawah meja. Mengajakku untuk segera mengulurkan tanganku ke bawah meja dan segera melahap permen itu agar aku dapat memuaskan kehausan rasa penasaranku.
Ayolah, Dysta! Mama toh sedang tidak ada di rumah hampir sebulan terakhir ini, kan? Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku mengambil permen biru itu dan segera lari ke kamarku. Aku mengunci pintu kamar dari dalam, agar tidak ada yang bisa masuk dan mengambil permen itu dariku. Penemu adalah pemilik. Permen itu milikku sekarang.
Ketika aku mulai mengulumnya, tidak ada rasa manis yang kurasa. Hanya rasa pahit yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Tidak sopan memuntahkan makanan yang telah masuk ke mulut. Aku pernah mendapatkan tamparan berulangkali karena itu, jadi aku menelan permen itu tanpa berpikir panjang. Kepalaku terasa ringan dan hatiku dipenuhi rasa gembira ketika aku menelan permen itu bulat-bulat.
Aku merasa seperti seperti ada letupan-letupan kecil keluar dari sekujur tubuhku. Tanganku terentang, begitu juga kedua tungkaiku saat aku membiarkan cahaya-cahaya itu meletup keluar. Menghiasi kegelapan yang perlahan-lahan mulai menaungiku. Mengatasi segalanya.
Permen itu meninggalkan sedikit rasa pusing saat aku terjaga. Mama memberiku dua butir obat sakit kepala karena ia mengira aku masuk angin. Aku benci obat sakit kepala itu. Pahit mereka tidak membawa apa-apa. Tidak seperti permen biru itu. Namun aku tidak berani memintanya pada Mama, apalagi kakak.
Kakak jadi semakin rakus makan permen sekarang. Aku tidak heran, karena ia pasti ingin melupakan rasa pusing dan mual yang ia rasakan hampir setiap pagi. Kakak membeli berbagai macam permen dari berbagai toko untuk membantunya mengusir rasa pusing dan mualnya.
Di beberapa majalah anak-anak yang pernah aku baca, aku tahu kalau terlalu banyak makan permen bisa membuat gigi berlubang. Aku sudah mendapatkan lima tambalan di gigiku karena terlalu banyak makan permen. Tetapi yang membuatku heran, kenapa kakak tidak sakit gigi sama sekali? Hanya perut kakak saja yang sedikit buncit.
Wih, kakak marah sekali waktu aku mengatakan hal itu. Biasanya aku akan tertawa geli setiap melihat kakak marah. Mukanya pasti akan berwarna merah seperti udang rebus, hidungnya berkeringat, bibirnya membentuk kerucut dan pipinya gembung. Tetapi sekali ini kakak tidak tampak seperti itu. Ada sedikit ketakutan di balik tatapan matanya yang dipaksanya tampak galak.
Di televisi yang sering kutonton bersama beberapa orang pembantu, aku tahu kalau berat badan adalah masalah utama para wanita. Karena itu juga berbagai macam permen, metode olah raga dan bahkan operasi ditawarkan untuk menjaga kerampingan tubuh. Apa karena itu juga kakak jadi takut perutnya gendut? Ia takut kalau temannya yang waktu itu datang ke rumah tidak mau datang lagi untuk berbagai permen dengannya.
Kakak mengatasi masalah perutnya yang membuncit itu dengan cepat. Hanya seminggu kakak pergi bersama teman-temannya ke luar kota dan ia pulang dengan perut datar. Entah bagaimana caranya, aku tidak tahu. Tetapi kakak memakan lebih banyak permen lagi semenjak ia pulang.
Aku tidak melupakan kehausanku akan permen warna biru itu. Aku mencarinya ke berbagai supermarket dan toko permen. Aku melihat banyak permen berwarna serupa, tapi tidak sama. Aku hampir frustrasi. Aku menginginkan permen biru yang sama! Aku tidak mau yang lain.
Ketika aku sedang melamunkan permen biru itu sendirian di halte bus depan sekolah, seorang pemuda seusia kakak menghampiriku. Ia menawariku sebutir permen biru. Aku langsung mengenalinya dan melonjak kegirangan. Ia mengeluarkan lebih banyak lagi permen beraneka warna. Merah. Kuning. Hijau. Semuanya untukku, katanya. Asal aku mau ikut membagikan permen-permen lain kepada teman-temanku. Awalnya memang aku keberatan berbagi, tetapi apa boleh buat. Aku rela melakukan apa saja untuk mendapatkan permen aneka warna itu.
Aku semakin banyak mengeluarkan letupan dari tubuhku, bersama-sama dengan teman-teman baruku. Tubuhku terasa begitu lemah, tetapi aku tetap ingin dapat mengeluarkan letupan-letupan itu. Semakin lama letupan-letupan itu semakin samar. Hingga akhirnya, aku hanya melihat satu letupan kecil sebelum semuanya gelap gulita ...
***
Anak SMP Ditemukan Tewas Over Dosis
Dysta(13) ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya yang terletak di bilangan Jakarta Selatan pada hari Senin 5 Juni 2006, sekitar pukul 15.45 WIB. Ketika ditemukan oleh warga yang curiga karena mencium bau busuk yang menyengat dari dalam rumah, terdapat sejumlah plastik berisi obat-obatan terlarang di sekitar tubuh Dysta. Hasil autopsi menyatakan Dysta tewas akibat over dosis. Dysta diduga sudah meninggal tiga hari sebelum ia ditemukan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada seorangpun anggota keluarga Dysta yang berhasil dihubungi.
@StephieAnindita
Namaku Dysta. Usiaku tiga belas tahun kurang delapan bulan. Aku suka sekali makan permen. Apa kamu juga suka makan permen?
Ketika usiaku baru lima tahun kurang delapan bulan, aku pernah terjatuh dari sepeda. Aku menangis meraung-raung melihat luka mengerikan di dengkulku. Warna merah darah yang bercampur dengan titik-titik hitam debu jalanan itu seperti meyakinkanku kalau aku akan mati. Sebagai seorang anak kecil, yang bisa aku lakukan hanya meraung-raung dalam ketakutan dan kesakitanku.
“Cup cup cup ... anak pinter! Jangan menangis, ya?”
Pengasuh bayi yang ditugaskan untuk menjagaku baru datang setengah jam kemudian. Itupun karena seorang tetangga memanggilnya dari rumah Bu RT, tempat ia biasa memelototi televisi yang menyajikan berbagai macam sinetron dan gosip setiap jamnya. Ketika ia mengangkatku yang nyaris kehabisan nafas karena terlalu banyak meraung, aku berontak. Rasa sakit di dengkulku semakin berdenyut ketika dengkulku tergesek baju seragam putihnya yang kaku dan kasar.
“Mau permen? Mau kan? Nih ... Mbak punya permen enak!”
Ia memberiku sebutir permen berwarna merah. Begitu lidahku tersentuh permen itu, rasa manis langsung menghentikan aliran air mata dan jeritanku. Aku membiarkan diriku larut di dalam rasa manis saat permen itu mulai meleleh. Begitu nikmat. Begitu manis. Menyebar ke seluruh bagian indera pengecapku. Ketika permen itu mulai mengecil dan kehilangan rasa, aku melahap butiran permen lain yang tidak kalah manisnya untuk mengantisipasi kepanikanku akan kembalinya rasa sakit.
Ada berbagai macam permen yang aku sukai. Permen rasa Susu, permen rasa Strawberry, permen rasa Anggur, permen rasa Jeruk ...
Tetapi ada satu rasa permen yang aku tidak bisa melukiskan bagaimana rasanya. Yang jelas aku menyukainya. Pengasuhku yang memperkenalkannya padaku. Ia mencampurkan permen itu ke dalam botol susu dan kemudian meminumkan susu itu padaku. Permen itu memberi sedikit rasa aneh di susu yang kuminum, tetapi aku tidak begitu keberatan.
Sesudah itu aku bisa terlelap dan berkelana ke dunia ajaibku dimana aku bisa berjumpa dengan Putri Salju, Putri Duyung dan Cinderella. Pengasuhku bisa bebas menonton televisi atau bercengkrama dengan teman-temannya. Permen itu mengajariku simbiosis mutualisme untuk pertama kalinya.
Hampir semua orang yang kukenal menyukai permen. Contohnya Mamaku, ia mempunyai berbotol-botol permen yang ia simpan rapat-rapat di laci meja kerjanya. Beberapa kali aku melihatnya mengeluarkan beraneka ragam permen dari botol-botol itu. Ada yang berwarna merah, kuning dan bahkan ada juga yang berwarna biru.
Mama tampak begitu menikmati permen-permen itu. Tidak ada lagi Mama yang berteriak-teriak marah sampai urat kebiruan muncul di pelipisnya. Mama akan terlelap dengan wajah manis sesudah memakannya. Walau begitu, Mama tidak pernah mengijinkanku mencicipinya. Permen-permen itu milik Mama. Tidak ada yang boleh mengambilnya.
Aku mengerti seutuhnya. Sulit juga bagiku untuk membagi kenikmatan permenku dengan orang lain. Aku akan marah atau menangis setiap kali ada yang mencuri permenku. Kepalaku otomatis akan menggeleng setiap kali ada yang meminta permenku.
“Ih, Dysta pelit! Dysta pelit!”
Biarin. Kalian boleh menyebutku pelit. Kikir. Apa saja boleh. Aku tidak perduli. Kata-kata apapun tidak akan menjebol pertahananku. Permen-permen ini milikku. Tidak ada yang boleh mengambilnya dariku.
Orang lain yang kutahu sangat menyukai permen, adalah kakak perempuanku yang berusia dua puluh tahun. Ia rutin makan permen setiap harinya. Permen-permen itu tidak bermerk, jadi aku menamakannya sendiri. Ada permen anti nangis, ada permen tidur, ada permen tertawa juga. Semuanya kunamakan sesuai dengan efek yang ditimbulkannya terhadap kakak.
“Jangan berani-berani kamu ngadu ke Mama kalau aku punya ini! Kalau kamu ngadu, aku pukul kamu!”
Mungkin saja kakak takut Mama meminta permennya. Aku bisa mengerti. Setiap orang mempunyai permen kesukaannya sendiri-sendiri dan orang lain tidak boleh meminta.
Suatu hari kakak pulang bersama seorang cowok teman sekelasnya. Mereka berdua makan permen bersama di ruang tamu. Mataku membesar melihat teman kakak ternyata punya banyak sekali permen di tas ranselnya. Warna-warna permen yang belum pernah aku lihat, kini terpampang jelas ada di hadapanku. Permen-permen yang mereka miliki begitu bervariasi. Bahkan lebih bervariasi dari yang dipunyai Mama. Aku begitu ingin mencicipinya, tetapi aku tahu pasti aku tidak akan diberi sebutirpun.
Kakak dan temannya cukup sopan. Mereka merasa tidak enak juga kalau terus-menerus melahap permen itu di hadapanku tanpa berniat sedikitpun untuk menawariku. Karena itu mereka segera masuk ke dalam kamar kakak dan melanjutkan pesta permen mereka disana.
Tanpa setahu mereka, sebutir permen jatuh ke bawah meja. Aku menatap ke arah meja dengan hati bimbang. Aku ingat Mama pernah menjentik tanganku ketika aku hendak memungut sebutir permen yang jatuh ke lantai. Permen itu sudah kotor, kata Mama. Aku bisa sakit perut kalau memakannya.
Aku bingung. Permen itu seakan memanggilku dari bawah meja. Mengajakku untuk segera mengulurkan tanganku ke bawah meja dan segera melahap permen itu agar aku dapat memuaskan kehausan rasa penasaranku.
Ayolah, Dysta! Mama toh sedang tidak ada di rumah hampir sebulan terakhir ini, kan? Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku mengambil permen biru itu dan segera lari ke kamarku. Aku mengunci pintu kamar dari dalam, agar tidak ada yang bisa masuk dan mengambil permen itu dariku. Penemu adalah pemilik. Permen itu milikku sekarang.
Ketika aku mulai mengulumnya, tidak ada rasa manis yang kurasa. Hanya rasa pahit yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Tidak sopan memuntahkan makanan yang telah masuk ke mulut. Aku pernah mendapatkan tamparan berulangkali karena itu, jadi aku menelan permen itu tanpa berpikir panjang. Kepalaku terasa ringan dan hatiku dipenuhi rasa gembira ketika aku menelan permen itu bulat-bulat.
Aku merasa seperti seperti ada letupan-letupan kecil keluar dari sekujur tubuhku. Tanganku terentang, begitu juga kedua tungkaiku saat aku membiarkan cahaya-cahaya itu meletup keluar. Menghiasi kegelapan yang perlahan-lahan mulai menaungiku. Mengatasi segalanya.
Permen itu meninggalkan sedikit rasa pusing saat aku terjaga. Mama memberiku dua butir obat sakit kepala karena ia mengira aku masuk angin. Aku benci obat sakit kepala itu. Pahit mereka tidak membawa apa-apa. Tidak seperti permen biru itu. Namun aku tidak berani memintanya pada Mama, apalagi kakak.
Kakak jadi semakin rakus makan permen sekarang. Aku tidak heran, karena ia pasti ingin melupakan rasa pusing dan mual yang ia rasakan hampir setiap pagi. Kakak membeli berbagai macam permen dari berbagai toko untuk membantunya mengusir rasa pusing dan mualnya.
Di beberapa majalah anak-anak yang pernah aku baca, aku tahu kalau terlalu banyak makan permen bisa membuat gigi berlubang. Aku sudah mendapatkan lima tambalan di gigiku karena terlalu banyak makan permen. Tetapi yang membuatku heran, kenapa kakak tidak sakit gigi sama sekali? Hanya perut kakak saja yang sedikit buncit.
Wih, kakak marah sekali waktu aku mengatakan hal itu. Biasanya aku akan tertawa geli setiap melihat kakak marah. Mukanya pasti akan berwarna merah seperti udang rebus, hidungnya berkeringat, bibirnya membentuk kerucut dan pipinya gembung. Tetapi sekali ini kakak tidak tampak seperti itu. Ada sedikit ketakutan di balik tatapan matanya yang dipaksanya tampak galak.
Di televisi yang sering kutonton bersama beberapa orang pembantu, aku tahu kalau berat badan adalah masalah utama para wanita. Karena itu juga berbagai macam permen, metode olah raga dan bahkan operasi ditawarkan untuk menjaga kerampingan tubuh. Apa karena itu juga kakak jadi takut perutnya gendut? Ia takut kalau temannya yang waktu itu datang ke rumah tidak mau datang lagi untuk berbagai permen dengannya.
Kakak mengatasi masalah perutnya yang membuncit itu dengan cepat. Hanya seminggu kakak pergi bersama teman-temannya ke luar kota dan ia pulang dengan perut datar. Entah bagaimana caranya, aku tidak tahu. Tetapi kakak memakan lebih banyak permen lagi semenjak ia pulang.
Aku tidak melupakan kehausanku akan permen warna biru itu. Aku mencarinya ke berbagai supermarket dan toko permen. Aku melihat banyak permen berwarna serupa, tapi tidak sama. Aku hampir frustrasi. Aku menginginkan permen biru yang sama! Aku tidak mau yang lain.
Ketika aku sedang melamunkan permen biru itu sendirian di halte bus depan sekolah, seorang pemuda seusia kakak menghampiriku. Ia menawariku sebutir permen biru. Aku langsung mengenalinya dan melonjak kegirangan. Ia mengeluarkan lebih banyak lagi permen beraneka warna. Merah. Kuning. Hijau. Semuanya untukku, katanya. Asal aku mau ikut membagikan permen-permen lain kepada teman-temanku. Awalnya memang aku keberatan berbagi, tetapi apa boleh buat. Aku rela melakukan apa saja untuk mendapatkan permen aneka warna itu.
Aku semakin banyak mengeluarkan letupan dari tubuhku, bersama-sama dengan teman-teman baruku. Tubuhku terasa begitu lemah, tetapi aku tetap ingin dapat mengeluarkan letupan-letupan itu. Semakin lama letupan-letupan itu semakin samar. Hingga akhirnya, aku hanya melihat satu letupan kecil sebelum semuanya gelap gulita ...
***
Anak SMP Ditemukan Tewas Over Dosis
Dysta(13) ditemukan tewas di kamar mandi rumahnya yang terletak di bilangan Jakarta Selatan pada hari Senin 5 Juni 2006, sekitar pukul 15.45 WIB. Ketika ditemukan oleh warga yang curiga karena mencium bau busuk yang menyengat dari dalam rumah, terdapat sejumlah plastik berisi obat-obatan terlarang di sekitar tubuh Dysta. Hasil autopsi menyatakan Dysta tewas akibat over dosis. Dysta diduga sudah meninggal tiga hari sebelum ia ditemukan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada seorangpun anggota keluarga Dysta yang berhasil dihubungi.
Langganan:
Postingan (Atom)