Oleh: @meiizt
Hey, kamu yang duduk di sana, tetaplah diam, jangan beranjak. Boleh kamu bergerak-gerak, tapi kumohon jangan tinggalkan ruang kosong di bangku itu. Jangan tinggalkan ruang kosong di hatiku… .
Hey, kamu yang tengah membaca buku bersampul merah dan biru, tetaplah membaca, aku menyukai bola matamu yang bergerak sepanjang garis kata, terpikat dalam dunia si penulis yang entah siapa. Aku mengikuti tiap gerakmu membalik halaman, masuk ke dunia itu lebih dalam. Dan aku mencermati tiap ekspresimu, lengkung bibirmu, kerutan di dahimu ataupun matamu yang menyipit, mungkin ketika dunia itu terlalu menyenangkan atau membuatmu heran.
Hey, kamu yang sedang bercengkerama dengan teman sebayamu, tetaplah tertawa, karena mendung enggan mendekat ketika tawamu mulai merebak. Aku berdebar menunggu tiap derai tawamu, nada riang yang keluar dari bibir merahmu dan percakapan-percakapan renyah dengan kawan sepermainanmu. Aku merekam tiap denting nada yang kauceritakan, menjadi lagu dalam pita-pita otakku. Menjadi candu.
Hey, kamu yang dengan merdu menyenandungkan lagu, tahukah kamu bahwa aku cemburu? Aku tahu untuk siapa kamu mengharmonisasi irama, untuk pemuda yang telah mencuri hatimu. Pemuda yang sering kauperhatikan dari jauh, seperti halnya aku yang selalu mengagumimu dari ujung sini. Telah puluhan sketsa kubuat, bergambar dirimu. Telah berbagai mimik gerakmu kurekam di atas kertas, tiap kali kamu duduk di bangku kayu itu. Kamu, telah seberapa penuh perasaanmu pada pemuda itu? Tak sudikah kau menengokku sebentar saja?
Hey, kamu yang bahkan tak mampu kupanggil namamu. Bukan, bukan karena aku tak mau, aku hanya tak tahu. Aku hanya menyebutmu dengan “Kamu”, kamu adalah kamu. Kulihat hari ini kamu disambangi mendung. Awan gelap menggayut di matamu, kabut merayapi wajahmu. Mungkin sebentar lagi hujan akan merasuki matamu. Sedihmu, adalah sedihku. Sedihmu adalah sebab aku.
Hey, kamu yang tengah bersalah karena mencuri hatiku dan tak menyadarinya, salahkah aku yang menyalahkanmu? Tidak, tidak, aku tak menyalahkanmu. Aku menyalahkan dia yang telah mencuri hatimu, yang tak menyadari bahwa keberadaannya telah membuatmu meninggalkan ruang kosong di hatiku. Telah kukirim dia ke langit, pemuda yang bersalah itu, dan kuabadikan darahnya pada sketsa wajahmu di dinding kamarku. Jangan bersedih, kelak kau mungkin berkesempatan melihatnya sendiri.
Hey, kamu yang duduk di sana, tetaplah diam, jangan beranjak. Boleh kamu bersedih, tapi kumohon jangan tinggalkan ruang kosong di bangku itu. Jangan tinggalkan ruang kosong di hatiku, karena hari ini aku akan beranjak mendekatimu, dan menawarkan padamu sepotong cinta yang membara. Kalau kau tampik, mungkin aku terpaksa meminta izin menggunakan darahmu untuk melukis sketsa wajahku di dinding kamarku.
Blog untuk memajang hasil karya partisipan #WritingSession yang diadakan setiap jam 9 malam di @writingsession. Karena tidak ada yang bisa menghentikan kita untuk berkarya, bahkan waktu dan tempat.
Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!
Sabtu, 03 Desember 2011
Hey, Kamu Yang Duduk Di Sana!
Oleh: Tara Kilianti
Twitter: @TaraKilianti
Hey, kamu yang duduk disana!
Apakah benar kamu tersenyum ke arahku berdiri?
Ini bukan sekedar halusinasi yang tercipta dariku kan?
Segera aku berjalan mendekatimu dan aku tak menyangka matamu berbinar-binar melihat kedatanganku. Tak ada yang pernah memandangku seperti itu selain kamu. Aku mulai berlari kecil. Aku tak sabar untuk menyapa dan menghabiskan waktu denganmu.
Akhirnya aku berdiri tepat di depanmu dan kamu masih tersenyum menyambut aku. Rona wajahku seketika berubah menjadi merah muda lalu aku mencoba menyapamu sambil menunjukkan senyum termanisku, “Halo”, ujarku. Ketika aku hendak duduk disampingmu, tiba-tiba tubuhku didorong keras oleh perempuan kecil berbaju merah. Dia berteriak di telingaku disertai suaranya yang keras memekakkan telinga, “Ada olang gila kenalan ama lonal mekdonal hahahahaha”
Hey, kamu yang duduk disana.
Aku menangis histeris saat ini dan kamu masih tetap tersenyum lebar menatapku.
P.S: Karena tidak disertakan judulnya, maka admin memakai judul tema sebagai judul postingnya. Kalau mau diganti silahkan komen/email :)
Twitter: @TaraKilianti
Hey, kamu yang duduk disana!
Apakah benar kamu tersenyum ke arahku berdiri?
Ini bukan sekedar halusinasi yang tercipta dariku kan?
Segera aku berjalan mendekatimu dan aku tak menyangka matamu berbinar-binar melihat kedatanganku. Tak ada yang pernah memandangku seperti itu selain kamu. Aku mulai berlari kecil. Aku tak sabar untuk menyapa dan menghabiskan waktu denganmu.
Akhirnya aku berdiri tepat di depanmu dan kamu masih tersenyum menyambut aku. Rona wajahku seketika berubah menjadi merah muda lalu aku mencoba menyapamu sambil menunjukkan senyum termanisku, “Halo”, ujarku. Ketika aku hendak duduk disampingmu, tiba-tiba tubuhku didorong keras oleh perempuan kecil berbaju merah. Dia berteriak di telingaku disertai suaranya yang keras memekakkan telinga, “Ada olang gila kenalan ama lonal mekdonal hahahahaha”
Hey, kamu yang duduk disana.
Aku menangis histeris saat ini dan kamu masih tetap tersenyum lebar menatapku.
P.S: Karena tidak disertakan judulnya, maka admin memakai judul tema sebagai judul postingnya. Kalau mau diganti silahkan komen/email :)
Lelaki Itu Lagi
Oleh: Noerr Sadega (@noerr_moet)
"hey, kamu yang duduk disana!"
Aku menoleh kearah sumber suara itu. Lelaki itu lagi.
"hey, kamu! Sudah bisakah aku menghampirimu?!" kembali lelaki itu berteriak.
Aku diam, tak menoleh juga menjawab. Tak lama kemudian, seseorang
merangkul tubuhku dari belakang. Aku tetap bergeming. Lelaki itu lagi.
"kamu terlalu sering melamun. Harusnya kamu cerita ke aku" ujarnya
lagi sambil duduk disebelahku.
"tersenyumlah jika kau tak ingin bercerita. Aku rindu bolongan dikedua pipimu."
Aku diam. Tanpa kusadari Ia menarik kedua pipiku dengan paksa. Ah,
lelaki itu lagi.
"aku ingin tahu ceritamu. Dukamu. Hal yang membuatmu terdiam
akhir-akhir ini. Ceritalah."
Perlahan, kuarahkan pandanganku pada dua mata tajam itu. Ah, lelaki ini.
Sesaat dia terdiam, menatap mataku lalu tertunduk. Aku kembali diam
menatap pantai ini. Perlahan, lelaki itu beranjak dari duduk. Lalu
berjalan tanpa kata meninggalkanku. Lelaki itu lagi.
Segala diamku cukup samapai disini. Lelaki itu harus tahu ceritanya.
Dengan segala kekuatan yang aku miliki, aku berlari mengejar sosok
tegap itu. Begitu menggapainya, aku memeluk tubuhnya dari belakang,
hingga terciumlah aroma tubuhnya yang khas.
"aku mencintaimu" bisikku hati-hati. Dia tetap diam. Tak ada reaksi.
Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti hatiku. Lellaki itu lagi.
Aku mulai menangis menunggu reaksinya, kini giliran Ia yang diam. Tak
berbicara sepatah katapun. Aku mulai risau.
Lalu, seakan semuanya harus berakhir. Kilat dihatiku mulai menyambar
saat mendengar jawabnya.
"bodoh, seharusnya kau sadar, kita adalah saudara sedarah!"
"hey, kamu yang duduk disana!"
Aku menoleh kearah sumber suara itu. Lelaki itu lagi.
"hey, kamu! Sudah bisakah aku menghampirimu?!" kembali lelaki itu berteriak.
Aku diam, tak menoleh juga menjawab. Tak lama kemudian, seseorang
merangkul tubuhku dari belakang. Aku tetap bergeming. Lelaki itu lagi.
"kamu terlalu sering melamun. Harusnya kamu cerita ke aku" ujarnya
lagi sambil duduk disebelahku.
"tersenyumlah jika kau tak ingin bercerita. Aku rindu bolongan dikedua pipimu."
Aku diam. Tanpa kusadari Ia menarik kedua pipiku dengan paksa. Ah,
lelaki itu lagi.
"aku ingin tahu ceritamu. Dukamu. Hal yang membuatmu terdiam
akhir-akhir ini. Ceritalah."
Perlahan, kuarahkan pandanganku pada dua mata tajam itu. Ah, lelaki ini.
Sesaat dia terdiam, menatap mataku lalu tertunduk. Aku kembali diam
menatap pantai ini. Perlahan, lelaki itu beranjak dari duduk. Lalu
berjalan tanpa kata meninggalkanku. Lelaki itu lagi.
Segala diamku cukup samapai disini. Lelaki itu harus tahu ceritanya.
Dengan segala kekuatan yang aku miliki, aku berlari mengejar sosok
tegap itu. Begitu menggapainya, aku memeluk tubuhnya dari belakang,
hingga terciumlah aroma tubuhnya yang khas.
"aku mencintaimu" bisikku hati-hati. Dia tetap diam. Tak ada reaksi.
Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti hatiku. Lellaki itu lagi.
Aku mulai menangis menunggu reaksinya, kini giliran Ia yang diam. Tak
berbicara sepatah katapun. Aku mulai risau.
Lalu, seakan semuanya harus berakhir. Kilat dihatiku mulai menyambar
saat mendengar jawabnya.
"bodoh, seharusnya kau sadar, kita adalah saudara sedarah!"
Kamu
Oleh @nadiaakarima
essenceofaheart.wordpress.com
Hey, kamu yang duduk di sana.
Aku bertanya-tanya. Apa kabarmu? Bagaimana hidupmu yang sekarang? Menyenangkankah? Bahagiakah dirimu yang sekarang? Kuharap jawabmu ya, dengan tatapmu nan cerah, seperti biasa. Namun kali ini tanpa pretensi. Aku merasa kau sudah terlalu banyak mereguk darah derita. Kurasa sudah saatnya kau melepaskan topeng yang selama ini mengaburkan presumsi orang-orang atas dirimu.
Senyummu cerah, benderang layaknya langit yang menjadi latar belakang imaji dirimu. Tatapmu bersemangat, seolah siap menularkan virus-virus bahagiamu untuk lingkungan di sekitar dirimu. Kedua bola mata yang ekspresif itu, yang menuangkan bervariasi spektrum warna. Gestur tubuhmu santai, namun ramah. Senyum nyaris tak lekang dari bibirmu, dan tutur kata nan ceria kau haturkan. Semua yang ada pada dirimu melekat dalam benakku lekang, tak mau lepas bagaimanapun caranya. Denyar aneh juga kerap muncul hanya dengan bayang sosokmu. Aneh rasanya, lantaran sudah cukup lama aku tidak merasakan jantungku berdebar sedemikian rupanya saat berhadapan dengan seseorang seperti kamu.
Singkat cerita, kau mempesonaku.
Hey, kamu yang duduk di sana.
Andaikan kau bertanya, sejak kapan kau memasuki sudut perspektifku. Mungkin bisu jawabku. Karena aku sendiri tidak tahu persis. Klisenya, semua terjadi begitu saja. Saat garis takdirmu dan garis takdirku memilih untuk berjalan berdampingan, mulanya hanya rasa senang belaka. Bisa kulihat kau sangat nyaman dengan lingkunganmu, dan kau sangat menyayangi teman-temanmu. Bertukar canda, tangis maupun tawa.
Aih, betapa mudah buat mereka memasuki hidupmu itu. Sedang aku, mungkin butuh selaksa hari buat diriku kauhitung sebagai teman. Itupun mungkin bukan yang cukup dekat bagimu untuk kaubisikkan kata hatimu, sepenuh percaya kepadaku. Tak sulit mengenal dirimu, tak mudah memasuki kehidupanmu.
Hey, kamu yang duduk di sana.
Abaikah dirimu akan eksistensiku yang menatapmu acap kali ada kesempatan? Mungkin dalam perspektifmu, aku tak ubahnya siluet serumpun daun di tengah padang rumput. Semua yang kau pandang sama saja, serupa dengan diriku. Karenanya kau abai pada diriku, meski berkali aku mencoba memasuki sudut pandangmu.
Kembali kutemui diriku yang bertanya-tanya sepi. Apakah ada dia yang lain dalam pandanganmu? Bagaimana sosok dirinya? Terpesonakah kau dengannya? Apa kau selalu memandangnya seperti aku selalu memandangi dirimu?
Ah…jangan-jangan dia gadis itu?
Jangan kausangka dirimu lepas dari pandangku saat itu. Kusaksikan dirimu, bertukar senda penuh rayu. Berdua. Seolah dunia hanya ada kau dan dirinya. Kautatap gadis itu lembut, selaik insan dimabuk cinta. Aku tidak tahu apakah itu didefinisikan sebagai cinta atau bukan, tapi kurasa aku cukup memiliki alasan untuk cemburu hanya dengan sendamu bersamanya.
Ah, tunggu. Mengapa aku merasa memiliki alasan untuk cemburu pada gadis itu? Mungkin akan kauangkat sebelah alismu, heran akan terpeta di wajahmu. Aku memang tidak pernah punya alasan, ya? Ketusmu, urusanmu sendiri mau merayu gadis yang mana saja, ya kan? Kau bahkan tidak akan sadar bahwa aku selalu, dan akan selalu, menatap dirimu dari sini.
Hey, kamu yang duduk di sana.
Berpanjang kalam telah kubuat. Berbait larik puisi tercipta. Hanya dengan imajimu, aku bisa mendatangkan ratusan kata-perkata dan menyusunnya dalam harmoni diksi nan indah. Serenada yang mengalun cantik selalu mengingatkan diriku kepadamu. Aku jadi melankolis. Karenamu, tahu? Yah, tentu saja kau tidak tahu. Dan tidak akan pernah tahu.
Aku penasaran, lagi. Pernahkah imajiku singgah di dalam kepalamu, selain sebagai teman dari sahabatmu? Pernahkah kau bertanya-tanya sendiri dalam sepi, tentang diriku? Apa pendapatmu mengenai diriku? Apakah kau merasakan hal yang sama saat kita bercengkrama dalam dialog rutinitas yang kaku dan singkat? Apa kau tahu aku masih, dan selalu, memandangi dirimu yang duduk di ujung lain duniaku?
Hey, kamu yang duduk di sana.
Aku menyukaimu.
essenceofaheart.wordpress.com
Hey, kamu yang duduk di sana.
Aku bertanya-tanya. Apa kabarmu? Bagaimana hidupmu yang sekarang? Menyenangkankah? Bahagiakah dirimu yang sekarang? Kuharap jawabmu ya, dengan tatapmu nan cerah, seperti biasa. Namun kali ini tanpa pretensi. Aku merasa kau sudah terlalu banyak mereguk darah derita. Kurasa sudah saatnya kau melepaskan topeng yang selama ini mengaburkan presumsi orang-orang atas dirimu.
Senyummu cerah, benderang layaknya langit yang menjadi latar belakang imaji dirimu. Tatapmu bersemangat, seolah siap menularkan virus-virus bahagiamu untuk lingkungan di sekitar dirimu. Kedua bola mata yang ekspresif itu, yang menuangkan bervariasi spektrum warna. Gestur tubuhmu santai, namun ramah. Senyum nyaris tak lekang dari bibirmu, dan tutur kata nan ceria kau haturkan. Semua yang ada pada dirimu melekat dalam benakku lekang, tak mau lepas bagaimanapun caranya. Denyar aneh juga kerap muncul hanya dengan bayang sosokmu. Aneh rasanya, lantaran sudah cukup lama aku tidak merasakan jantungku berdebar sedemikian rupanya saat berhadapan dengan seseorang seperti kamu.
Singkat cerita, kau mempesonaku.
Hey, kamu yang duduk di sana.
Andaikan kau bertanya, sejak kapan kau memasuki sudut perspektifku. Mungkin bisu jawabku. Karena aku sendiri tidak tahu persis. Klisenya, semua terjadi begitu saja. Saat garis takdirmu dan garis takdirku memilih untuk berjalan berdampingan, mulanya hanya rasa senang belaka. Bisa kulihat kau sangat nyaman dengan lingkunganmu, dan kau sangat menyayangi teman-temanmu. Bertukar canda, tangis maupun tawa.
Aih, betapa mudah buat mereka memasuki hidupmu itu. Sedang aku, mungkin butuh selaksa hari buat diriku kauhitung sebagai teman. Itupun mungkin bukan yang cukup dekat bagimu untuk kaubisikkan kata hatimu, sepenuh percaya kepadaku. Tak sulit mengenal dirimu, tak mudah memasuki kehidupanmu.
Hey, kamu yang duduk di sana.
Abaikah dirimu akan eksistensiku yang menatapmu acap kali ada kesempatan? Mungkin dalam perspektifmu, aku tak ubahnya siluet serumpun daun di tengah padang rumput. Semua yang kau pandang sama saja, serupa dengan diriku. Karenanya kau abai pada diriku, meski berkali aku mencoba memasuki sudut pandangmu.
Kembali kutemui diriku yang bertanya-tanya sepi. Apakah ada dia yang lain dalam pandanganmu? Bagaimana sosok dirinya? Terpesonakah kau dengannya? Apa kau selalu memandangnya seperti aku selalu memandangi dirimu?
Ah…jangan-jangan dia gadis itu?
Jangan kausangka dirimu lepas dari pandangku saat itu. Kusaksikan dirimu, bertukar senda penuh rayu. Berdua. Seolah dunia hanya ada kau dan dirinya. Kautatap gadis itu lembut, selaik insan dimabuk cinta. Aku tidak tahu apakah itu didefinisikan sebagai cinta atau bukan, tapi kurasa aku cukup memiliki alasan untuk cemburu hanya dengan sendamu bersamanya.
Ah, tunggu. Mengapa aku merasa memiliki alasan untuk cemburu pada gadis itu? Mungkin akan kauangkat sebelah alismu, heran akan terpeta di wajahmu. Aku memang tidak pernah punya alasan, ya? Ketusmu, urusanmu sendiri mau merayu gadis yang mana saja, ya kan? Kau bahkan tidak akan sadar bahwa aku selalu, dan akan selalu, menatap dirimu dari sini.
Hey, kamu yang duduk di sana.
Berpanjang kalam telah kubuat. Berbait larik puisi tercipta. Hanya dengan imajimu, aku bisa mendatangkan ratusan kata-perkata dan menyusunnya dalam harmoni diksi nan indah. Serenada yang mengalun cantik selalu mengingatkan diriku kepadamu. Aku jadi melankolis. Karenamu, tahu? Yah, tentu saja kau tidak tahu. Dan tidak akan pernah tahu.
Aku penasaran, lagi. Pernahkah imajiku singgah di dalam kepalamu, selain sebagai teman dari sahabatmu? Pernahkah kau bertanya-tanya sendiri dalam sepi, tentang diriku? Apa pendapatmu mengenai diriku? Apakah kau merasakan hal yang sama saat kita bercengkrama dalam dialog rutinitas yang kaku dan singkat? Apa kau tahu aku masih, dan selalu, memandangi dirimu yang duduk di ujung lain duniaku?
Hey, kamu yang duduk di sana.
Aku menyukaimu.
Jalan Bahagiaku
Oleh: Melissa Olivia (@moliviatjia)
Hey, kamu yang duduk di sana
Tahukah kamu betapa aku mengagumi raut wajah tampanmu?
Tahukah bahwa aku sering mengamatimu dalam diam?
Hey, kamu yang mendengkur di sana
Tahukah kamu, betapa lucu dan polosnya wajahmu tatkala tertidur karena ocehan dosen yang membosankan?
Tahukah kamu bahwa aku sering menutupi tubuhmu agar tidak terlihat oleh beliau?
Hey, kamu yang sedang berlelucon
Tahukah kamu bahwa gelak tawamu begitu menghibur hingga menggenang di benakku?
Tahukah kamu bahwa aku sangat menikmati tawa riamu?
Hey, kamu yang berjalan kepadaku
Tahukah betapa hatiku rasanya ingin meloncat keluar ketika kamu mengajakku keluar makan berdua?
Tahukah kamu betapa sedihnya aku karena ternyata kamu membicarakan temanku?
Hey, kamu yang bergandengan dengannya
Tahukah kamu bahwa aku mati-matian berusaha tersenyum & tertawa di depanmu, sembari menahan rasa perih dalam dada?
Tahukah kamu air mata ini pernah tumpah karenamu?
Kita sering bersama dalam banyak kesempatan
Tapi sepertinya aku memang tak mampu mencuri perhatianmu
Wajahmu selamanya berpaling pada sahabatku
Mungkin memang bukan suratan kita untuk bersama
Mungkin memang garis kita hanyalah sebagai sahabat
Hey, kamu yang pernah singgah di hatiku
Sekarang aku berusaha menata kembali bongkahan hatiku yang menyerpih
Sekarang dengan tegar dan lapang dada, akan kutunjukkan aku bahagia
Hey, kamu yang akan menempuh hidup baru
Walau kita tak bisa bersama, hiduplah bahagia dengannya
Aku akan menciptakan jalan bahagiaku sendiri
Hey, kamu yang duduk di sana
Tahukah kamu betapa aku mengagumi raut wajah tampanmu?
Tahukah bahwa aku sering mengamatimu dalam diam?
Hey, kamu yang mendengkur di sana
Tahukah kamu, betapa lucu dan polosnya wajahmu tatkala tertidur karena ocehan dosen yang membosankan?
Tahukah kamu bahwa aku sering menutupi tubuhmu agar tidak terlihat oleh beliau?
Hey, kamu yang sedang berlelucon
Tahukah kamu bahwa gelak tawamu begitu menghibur hingga menggenang di benakku?
Tahukah kamu bahwa aku sangat menikmati tawa riamu?
Hey, kamu yang berjalan kepadaku
Tahukah betapa hatiku rasanya ingin meloncat keluar ketika kamu mengajakku keluar makan berdua?
Tahukah kamu betapa sedihnya aku karena ternyata kamu membicarakan temanku?
Hey, kamu yang bergandengan dengannya
Tahukah kamu bahwa aku mati-matian berusaha tersenyum & tertawa di depanmu, sembari menahan rasa perih dalam dada?
Tahukah kamu air mata ini pernah tumpah karenamu?
Kita sering bersama dalam banyak kesempatan
Tapi sepertinya aku memang tak mampu mencuri perhatianmu
Wajahmu selamanya berpaling pada sahabatku
Mungkin memang bukan suratan kita untuk bersama
Mungkin memang garis kita hanyalah sebagai sahabat
Hey, kamu yang pernah singgah di hatiku
Sekarang aku berusaha menata kembali bongkahan hatiku yang menyerpih
Sekarang dengan tegar dan lapang dada, akan kutunjukkan aku bahagia
Hey, kamu yang akan menempuh hidup baru
Walau kita tak bisa bersama, hiduplah bahagia dengannya
Aku akan menciptakan jalan bahagiaku sendiri
Kamis, 01 Desember 2011
Angels
Oleh Sylvana (@Sylvanawijaya)
Menjadi tua adalah momok. Hampir seluruh manusia takut menjadi tua. Para ilmuwan, pedagang, ahli bedah plastik yang membaca trend ini segera menciptakan berbagai jenis cara mencengah penuaan dini. Mulai dari yang alami hingga yang instan. Herannya cara mencegah penuaan dini tetap diminati dari dulu hingga sekarang. Dan aku adalah salah satu yang membaca trend ini. Setiap wanita senang tampil cantik, itu juga yang menjadi motivasiku mempelajari ilmu bedah plastik enam tahun yang lalu. Dulu ilmu bedah plastik dikhususkan untuk membantu orang yang memiliki fisik yang tidak sempurna, seperti terkena luka bakar. Namun sekarang, semakin banyak yang merasa fisik mereka tidak sempurna. Untuk itu aku membuka “Angels”. Kupilih nama itu yang berarti malaikat, siap menciptakan keajaiban untuk mereka yang ingin tampil sempurna. Pertama buka, klinikku memang belum begitu ramai. Sedangkan seluruh peralatan masih kucicil. Keadaan itu sempat membuatku stres. Untungnya pergaulanku cukup luas, sehingga aku dengan mudah mempromosikan “Angels” kepada beberapa teman yang kebetulan sosialita. Akhirnya klinikku ramai, peralatan-peralatan berhasil kulunasi, dan usahaku berkembang pesat. Beberapa kolega menawarkan kerja sama. Memang, aku sudah tidak dapat menghandle semuanya sendiri. Setelah berdikusi cukup lama, kuputuskan untuk bekerja sama dengan mereka. Dengan bergabungnya mereka, bisnisku semakin berkembang pesat. Saking sibuknya jangankan pacar, waktu untuk beribadah saja hampir tak punya. Dua puluh empat jam sehari sehari rasanya masih tak cukup. Hingga suatu hari di usiaku ke tiga puluh lima.
"Celia… Hasil pemeriksaanmu sudah keluar." kata Ryan, salah satu kolegaku.
Dari cara Ryan menatapku, aku tahu ini pasti serius "Apa hasilnya, Yan? Apa yang membuat perutku sakit belakangan ini?" tanyaku tak sabar. Rasa sakit itu membuatku terpaksa membatalkan beberapa jadwal operasi.
"Kamu kena kanker usus. Stadium tiga."
Kami sama-sama terdiam. "Berapa lama lagi waktuku, Yan?" kataku mencoba tegar.
"Entahlah bisa tiga bulan, enam bulan. Semua itu tergantung Tuhan."
Detik itu juga duniaku runtuh. Tuhan, jadi ini caraMu menghukumku pikirku. Aku segera kembali menuju klinik dan mengunci diri di ruang praktekku.
"Sebaiknya kamu jangan bekerja untuk sementara waktu ini. Secepatnya kamu harus kemo." saran Ryan tadi. Kujatuhkan kepala di atas meja kerjaku dan menangis disana. Meja ini telah bertemu berbagai jenis pasien.
“Kayaknya lipatan mataku mulai turun deh” keluh salah satu klienku. Kami segera melakukan operasi 'menaikkan' mata. Dan setengah tahun kemudian ia mengeluh “Aduh, pipiku terlalu chubby”
Lambat laun aku sadar, Manusia tidak pernah bisa menjadi sempurna selama masih ada rasa tidak puas di dalam diri mereka. Mereka semua takut menjadi tua dan lupa satu hal, tidak semua orang bisa menjadi tua.
***
"Tante Celia"
Aku menoleh mencari sumber suara itu. Seorang bocah laki-laki disana, duduk di atas kursi roda. Ia mengayuhkan kursi rodanya bergerak mendekatiku.
"Tante Celia, kenapa semakin lama semakin putih?" tanya Bimo polos. Sebenarnya Bimo juga terlihat semakin memutih dari hari ke hari. Bahkan Bimo bisa berubah menjadi biru juga tidak menjalani cuci darah.
"Masa sih? Bagus dong, berarti krim pemutih tante bekerja dengan baik." jawabku.
"Bimo boleh minta krim pemutih tante nggak?" tanyanya.
"Loh, untuk apa?"
Bocah itu menunduk "Kalau nanti kulit Bimo membiru, Bimo pakai supaya jadi putih kembali."
Aku terdiam. Selama mengenal Bimo, ia justru banyak belajar dari anak itu. Semangatnya. Ku peluk bocah itu dalam-dalam. Malaikat kecil yang mengajari banyak hal di sisa hidupku yang singkat. Bicara soal malaikat, Angels tetap berkembang meski bukan aku yang memimpin. Aku bersyukur, karena Angels adalah bayiku yang kini semakin besar meski bukan aku yang merawat.
Aku telah memutuskan untuk menghentikan pengobatan, karena operasi terakhir yang dilakukan tidak membawa pengaruh apa-apa. Sel-sel kanker telah menggerogoti alat vital lainnya. Sisa pundi-pundi uang yang telah kukumpulkan selama ini kusumbangkan untuk pengobatan anak-anak seperti Bimo. Aku ingin mereka menjadi tua.
Potret Keriput
Oleh: Sintia Astarina (@sintiaastarina)
Berkelana mereguk malam
Di antara sekumpulan kunang-kunang yang temaram
Alkohol digenggam, nikotin di tangan
Bersama angin, ‘kan dia bawa karam
Ia tertunduk dalam kubangan sia-sia
Sakit merenggut jiwa muda
Dalam sisa nafas yang tersisa
Dalam sesak yang menganga
Ia menuju tua
Kota keramaian penuh dosa
Keriput hiasi wajahnya
Murka Tuhan hampiri hidupnya
Mudanya, nikotin sang sahabat penggoda
Obat-obatan berubah wujud dalam darah
Alkohol mengawang di kepala
Segalanya terpecah...
Ia yang kupandangi
Ia yang ratapi
Lalu, bagaimana potretku?
Sama...
Langganan:
Postingan (Atom)