Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 01 Desember 2011

Angels


Oleh Sylvana (@Sylvanawijaya)

Menjadi tua adalah momok. Hampir seluruh manusia takut menjadi tua. Para ilmuwan, pedagang, ahli bedah plastik yang membaca trend ini segera menciptakan berbagai jenis cara mencengah penuaan dini. Mulai dari yang alami hingga yang instan. Herannya cara mencegah penuaan dini tetap diminati dari dulu hingga sekarang. Dan aku adalah salah satu yang membaca trend ini. Setiap wanita senang tampil cantik, itu juga yang menjadi motivasiku mempelajari ilmu bedah plastik enam tahun yang lalu. Dulu ilmu bedah plastik dikhususkan untuk membantu orang yang memiliki fisik yang tidak sempurna, seperti terkena luka bakar. Namun sekarang, semakin banyak yang merasa fisik mereka tidak sempurna. Untuk itu aku membuka “Angels”. Kupilih nama itu yang berarti malaikat, siap menciptakan keajaiban untuk mereka yang ingin tampil sempurna. Pertama buka, klinikku memang belum begitu ramai. Sedangkan seluruh peralatan masih kucicil. Keadaan itu sempat membuatku stres. Untungnya pergaulanku cukup luas, sehingga aku dengan mudah mempromosikan “Angels” kepada beberapa teman yang kebetulan sosialita. Akhirnya klinikku ramai, peralatan-peralatan berhasil kulunasi, dan usahaku berkembang pesat. Beberapa kolega menawarkan kerja sama. Memang, aku sudah tidak dapat menghandle semuanya sendiri. Setelah berdikusi cukup lama, kuputuskan untuk bekerja sama dengan mereka. Dengan bergabungnya mereka, bisnisku semakin berkembang pesat. Saking sibuknya jangankan pacar, waktu untuk beribadah saja hampir tak punya. Dua puluh empat jam sehari sehari rasanya masih tak cukup. Hingga suatu hari di usiaku ke tiga puluh lima.
"Celia… Hasil pemeriksaanmu sudah keluar." kata Ryan, salah satu kolegaku.
Dari cara Ryan menatapku, aku tahu ini pasti serius "Apa hasilnya, Yan? Apa yang membuat perutku sakit belakangan ini?" tanyaku tak sabar. Rasa sakit itu membuatku terpaksa membatalkan beberapa jadwal operasi.
"Kamu kena kanker usus. Stadium tiga."
Kami sama-sama terdiam. "Berapa lama lagi waktuku, Yan?" kataku mencoba tegar.
"Entahlah bisa tiga bulan, enam bulan. Semua itu tergantung Tuhan."
Detik itu juga duniaku runtuh. Tuhan, jadi ini caraMu menghukumku pikirku. Aku segera kembali menuju klinik dan mengunci diri di ruang praktekku.
"Sebaiknya kamu jangan bekerja untuk sementara waktu ini. Secepatnya kamu harus kemo." saran Ryan tadi. Kujatuhkan kepala di atas meja kerjaku dan menangis disana. Meja ini telah bertemu berbagai jenis pasien.
“Kayaknya lipatan mataku mulai turun deh” keluh salah satu klienku. Kami segera melakukan operasi 'menaikkan' mata. Dan setengah tahun kemudian ia mengeluh “Aduh, pipiku terlalu chubby”
Lambat laun aku sadar, Manusia tidak pernah bisa menjadi sempurna selama masih ada rasa tidak puas di dalam diri mereka. Mereka semua takut menjadi tua dan lupa satu hal, tidak semua orang bisa menjadi tua.
***
"Tante Celia"
Aku menoleh mencari sumber suara itu. Seorang bocah laki-laki disana, duduk di atas kursi roda. Ia mengayuhkan kursi rodanya bergerak mendekatiku.
"Tante Celia, kenapa semakin lama semakin putih?" tanya Bimo polos. Sebenarnya Bimo juga terlihat semakin memutih dari hari ke hari. Bahkan Bimo bisa berubah menjadi biru juga tidak menjalani cuci darah.
"Masa sih? Bagus dong, berarti krim pemutih tante bekerja dengan baik." jawabku.
"Bimo boleh minta krim pemutih tante nggak?" tanyanya.
"Loh, untuk apa?"
Bocah itu menunduk "Kalau nanti kulit Bimo membiru, Bimo pakai supaya jadi putih kembali."
Aku terdiam. Selama mengenal Bimo, ia justru banyak belajar dari anak itu. Semangatnya. Ku peluk bocah itu dalam-dalam. Malaikat kecil yang mengajari banyak hal di sisa hidupku yang singkat. Bicara soal malaikat, Angels tetap berkembang meski bukan aku yang memimpin. Aku bersyukur, karena Angels adalah bayiku yang kini semakin besar meski bukan aku yang merawat.
Aku telah memutuskan untuk menghentikan pengobatan, karena operasi terakhir yang dilakukan tidak membawa pengaruh apa-apa. Sel-sel kanker telah menggerogoti alat vital lainnya. Sisa pundi-pundi uang yang telah kukumpulkan selama ini kusumbangkan untuk pengobatan anak-anak seperti Bimo. Aku ingin mereka menjadi tua. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!