Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 03 Desember 2011

Kamu

Oleh @nadiaakarima
essenceofaheart.wordpress.com




Hey, kamu yang duduk di sana.

Aku bertanya-tanya. Apa kabarmu? Bagaimana hidupmu yang sekarang? Menyenangkankah? Bahagiakah dirimu yang sekarang? Kuharap jawabmu ya, dengan tatapmu nan cerah, seperti biasa. Namun kali ini tanpa pretensi. Aku merasa kau sudah terlalu banyak mereguk darah derita. Kurasa sudah saatnya kau melepaskan topeng yang selama ini mengaburkan presumsi orang-orang atas dirimu.

Senyummu cerah, benderang layaknya langit yang menjadi latar belakang imaji dirimu. Tatapmu bersemangat, seolah siap menularkan virus-virus bahagiamu untuk lingkungan di sekitar dirimu. Kedua bola mata yang ekspresif itu, yang menuangkan bervariasi spektrum warna. Gestur tubuhmu santai, namun ramah. Senyum nyaris tak lekang dari bibirmu, dan tutur kata nan ceria kau haturkan. Semua yang ada pada dirimu melekat dalam benakku lekang, tak mau lepas bagaimanapun caranya. Denyar aneh juga kerap muncul hanya dengan bayang sosokmu. Aneh rasanya, lantaran sudah cukup lama aku tidak merasakan jantungku berdebar sedemikian rupanya saat berhadapan dengan seseorang seperti kamu.

Singkat cerita, kau mempesonaku.



Hey, kamu yang duduk di sana.

Andaikan kau bertanya, sejak kapan kau memasuki sudut perspektifku. Mungkin bisu jawabku. Karena aku sendiri tidak tahu persis. Klisenya, semua terjadi begitu saja. Saat garis takdirmu dan garis takdirku memilih untuk berjalan berdampingan, mulanya hanya rasa senang belaka. Bisa kulihat kau sangat nyaman dengan lingkunganmu, dan kau sangat menyayangi teman-temanmu. Bertukar canda, tangis maupun tawa.

Aih, betapa mudah buat mereka memasuki hidupmu itu. Sedang aku, mungkin butuh selaksa hari buat diriku kauhitung sebagai teman. Itupun mungkin bukan yang cukup dekat bagimu untuk kaubisikkan kata hatimu, sepenuh percaya kepadaku. Tak sulit mengenal dirimu, tak mudah memasuki kehidupanmu.



Hey, kamu yang duduk di sana.

Abaikah dirimu akan eksistensiku yang menatapmu acap kali ada kesempatan? Mungkin dalam perspektifmu, aku tak ubahnya siluet serumpun daun di tengah padang rumput. Semua yang kau pandang sama saja, serupa dengan diriku. Karenanya kau abai pada diriku, meski berkali aku mencoba memasuki sudut pandangmu.

Kembali kutemui diriku yang bertanya-tanya sepi. Apakah ada dia yang lain dalam pandanganmu? Bagaimana sosok dirinya? Terpesonakah kau dengannya? Apa kau selalu memandangnya seperti aku selalu memandangi dirimu?

Ah…jangan-jangan dia gadis itu?

Jangan kausangka dirimu lepas dari pandangku saat itu. Kusaksikan dirimu, bertukar senda penuh rayu. Berdua. Seolah dunia hanya ada kau dan dirinya. Kautatap gadis itu lembut, selaik insan dimabuk cinta. Aku tidak tahu apakah itu didefinisikan sebagai cinta atau bukan, tapi kurasa aku cukup memiliki alasan untuk cemburu hanya dengan sendamu bersamanya.

Ah, tunggu. Mengapa aku merasa memiliki alasan untuk cemburu pada gadis itu? Mungkin akan kauangkat sebelah alismu, heran akan terpeta di wajahmu. Aku memang tidak pernah punya alasan, ya? Ketusmu, urusanmu sendiri mau merayu gadis yang mana saja, ya kan? Kau bahkan tidak akan sadar bahwa aku selalu, dan akan selalu, menatap dirimu dari sini.



Hey, kamu yang duduk di sana.

Berpanjang kalam telah kubuat. Berbait larik puisi tercipta. Hanya dengan imajimu, aku bisa mendatangkan ratusan kata-perkata dan menyusunnya dalam harmoni diksi nan indah. Serenada yang mengalun cantik selalu mengingatkan diriku kepadamu. Aku jadi melankolis. Karenamu, tahu? Yah, tentu saja kau tidak tahu. Dan tidak akan pernah tahu.

Aku penasaran, lagi. Pernahkah imajiku singgah di dalam kepalamu, selain sebagai teman dari sahabatmu? Pernahkah kau bertanya-tanya sendiri dalam sepi, tentang diriku? Apa pendapatmu mengenai diriku? Apakah kau merasakan hal yang sama saat kita bercengkrama dalam dialog rutinitas yang kaku dan singkat? Apa kau tahu aku masih, dan selalu, memandangi dirimu yang duduk di ujung lain duniaku?



Hey, kamu yang duduk di sana.

Aku menyukaimu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!