Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 24 Februari 2011

Akhir yang (tidak) Sempurna

Oleh: @geeshaa

Kamukayakuya.tumblr.com



Tiba-tiba suasana jadi tegang, padahal baru 30 menit yang lalu kami berhasil merampok bank bersama. Dengan ceria, dengan canda tawa atas keberhasilan kami. Ya, kami adalah tiga partner in crime yang baru saja melakukan sesuatu bersama. Dan crime di sini dapat diartikan secara harfiah. Masalahnya, tiba-tiba saja James yang berada di antara aku dan Liam, kini mengarahkan pistolnya ke kepala Liam sambil tersenyum bengis.

“Apa-apaan kau? Sudah sinting ya?!” Liam terlihat begitu emosi saat menyadari pistol itu sudah menyentuh pelipis kirinya. ”KITA SATU TIM!” James malah tertawa histeris seperti orang gila.

“James, kau—tidak serius kan? Ayolah, kau pasti sedang bermain-main kan?” aku berusaha menenangkan suasana. James pasti bercanda. Pasti. Tidak ada dalam rencana kami bahwa akan ada acara menempelkan-pistol-di-kepala-teman. James mendelik ke arahku. Tatapannya begitu jahat dan culas.

“Tidak, aku tidak sedang bercanda, apalagi bermain-main, kawan.” Ia akhirnya buka mulut. “Akhirnya kita sampai di titik ini, ya. Aku sangat berterima kasih.” James menunjukkan sekantung besar kain yang isinya tentu saja uang—uang yang banyak, hasil rampokan kami.

Sejak tadi Liam tidak bergeming, ia terlihat sangat tegang karena ia menyadari satu kesalahan saja akan berakibat fatal: James bisa kapan saja menarik pelatuk pistol itu. “Jangan bilang kalau kau…”

“Ya! Kau benar, uang ini akan menjadi milikku seorang, dan kalian berdua..” James tertawa lebih keras lagi, “..terima kasih karena telah memuluskan semua jalanku. Kau, Ron, terima kasih atas rencana detil yang begitu mulus. Sedangkan kau, Liam,” James kini tersenyum gila ke arah kawanku yang malang itu, “Terima kasih atas penyamaran sebagai sandera yang luar biasa, tapi sayangnya kau memang menjadi sanderaku sekarang.”

Sial, sepertinya James memang benar-benar serius ingin menghabisi Liam—dan aku selanjutnya! Cih! Andai saja saat ini aku memegang senjata, pasti dia sudah kusingkirkan duluan. Liam tiba-tiba bergerak dengan maksud menyerang James, tapi sia-sia, ia malah benar-benar tertembak oleh pengkhianat yang satu itu. Kini ia tergeletak tak berdaya di tanah. Aku menganga. Lidahku kelu, dan lututku terasa kaku.

Dari kejauhan, aku bisa mendengar sayup-sayup suara sirene mobil polisi mulai mendekat. James menatapku dengan tatapan kosong seperti seorang psikopat. “Sekarang giliranmu.” Ujarnya dengan tenang. Ia menarik sekali lagi pelatuk pistolnya dan bersiap menembakku. “Sampai jumpa di neraka, kawan.

Ayo, Ronald! Berpikir! Masa kau mau nyawamu hilang di tangan bajingan ini?

Aku melihat ke sekilingku sambil berjalan mundur, karena James semakin mendekat ke arahku dengan tampang jahatnya. Astaga, aku harus menemukan sesuatu untuk menghentikannya, atau setidaknya, mengulur waktu supaya aku bisa kabur!

Tiba-tiba aku teringat kalau ada banyak uang receh di saku jaketku. Receh yang terbuat dari logam. Aku segera merogohnya—kalau aku meninjunya sambil menggenggam recehan itu, maka pukulanku akan semakin kuat—seperti hukum impuls-momentum—dan mungkin bisa membuatnya pusing sebentar.

Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari jauh. Perhatian James sedikit teralihkan dan aku hanya punya waktu sepersepuluh detik untuk menghajarnya.. berhasil!

James terhuyung dan aku berlari secepat mungkin dari tempatku tadi. Aku tidak tahu akan lari kemana, yang penting menghilang dari hadapan James dulu. Aku tidak peduli kalau nantiaku tertangkap polisi, toh aku tidak membawa barang bukti apapun—pokoknya kabur dari James dulu.

Kini aku berjarak sekitar 50 meter dari James yang ternyata sudah mulai berlari mengejarku. Dengan napas tersengal-sengal, aku menambah kecepatanku, karena James ternyata larinya sangat cepat dan aku nyaris terkejar. Aku berlari lagi.

Ayo, kaki, berlarilah semakin kencang!

Aku berlari terus, dengan diiringi rasa panik mengetahui James sudah ada di belakangku. Ia menembak dengan membabi buta, namun sayangnya meleset.

Sedikit lagi, Ron! Ayo berlari! Jangan sampai pengkhianat ini menghabisimu!

Ayo jangan sampai—ah, sial. Aku terjatuh.

Habislah nyawaku kalau begini ceritanya…



“CUT!” seseorang berteriak kesal dari jauh. “Astaga, Edward! Semua berjalan sempurna sekali. Kenapa, sih, kamu harus terpeleset di scene akhir?” aku terbangun sambil menyeringai, bajuku kini kotor sekali terkena tanah. Ternyata sang sutradara sama sekali tidak bisa tersenyum. “Ayo kita ulangi lagi, dari bagian Ronald menghajar James dengan uang receh di tangannya!”

***

Orang Yang Didatangi Kata

Oleh: T. S Frima

Saya pernah mengenalnya. Maaf kalau membuat kamu penasaran dengan tidak menyebutkan namanya. Bukan karena tak ingin, tapi karena tak bisa. Mungkin namanya Aro, atau Vari, atau Ra. Atau siapa saja lah, saya sungguh tak bisa lagi mengingat.
Dia orang yang tak mencolok, serba umum dan biasa saja. Tidak ada pencapaian istimewa yang pernah dibuatnya, tidak pula ada ciri tertentu yang terkhusus dan menjadikannya berbeda dari orang kebanyakan. Dia betul-betul cuma seorang lagi manusia biasa diantara berjuta manusia di negara ini. Namun begitu, ada sesuatu tentangnya yang teramat kuat terlekat dalam ingatan.

Setelah kenal sekian waktu, baru saya sadari. Kalau kebetulan bertemu di sekitaran sekolah atau di sekitaran rumahnya, selalu saya lihat dia sedang menulisi buku catatannya. Awalnya saya pikir dia seorang pelajar yang giat. Tapi dalam sebuah kesempatan, dia bilang, dia bukan tipikal anak baik yang rajin belajar dan tekun mencatat. Dia akui, yang dia tuliskan pada bukunya itu hanyalah kata-kata acak. Bukan pelajaran atau tugas, bukan fiksi atau catatan pengalaman pribadi; melainkan hanya kata-kata acak yang, seperti dia bilang, mendatanginya untuk minta dituliskan.
Sulit bagi saya untuk menerima pernyataan itu. Bagaimana mungkin kata-kata mendatangi seseorang, dan meminta dituliskan? Bukankah justru kata-kata adalah produk yang dihasilkan pikiran manusia? Tapi dia bersiteguh menyatakan bahwa Kata sesungguhnya adalah makhluk hidup juga yang punya kesadaran. Mereka bisa berpergian melalui udara, kemana suka atas kehendak mereka sendiri. Mereka bisa memilih untuk mendatangi atau meninggalakan seseorang.
“Bukankah kita semua pernah mengalami tiba-tiba kehilangan kata saat harus menulis essay, atau seseorang yang jarang bicara tiba-tiba bisa beridato dengan bagusnya?”, tanya dia retoris.
Karena seringnya saya dapati dia menulis kata-kata acak begitu, suatu kali saya bertanya: “Seberapa sering mereka mendatangimu?”
Dia jabarkan bahwa kata-kata itu banyak sekali jumlahnya, bahkan nyaris tak terbatas. Maka jumlah kata yang mendatanginya pun amat sangat banyak sekali, sampai tak terhitung. Kemudian tergantung perasaan dia saja, kapankah ingin menuliskannya. Ada kalanya kata-kata itu datang saat dia tidur, menyusup ke dalam mimpi. Maka subuh-subuh dia terbangun langsung meraih pena dan buku. Ada kalanya kata-kata itu datang setelah dia shalat, bercampur dalam doa. Ada kalanya kata-kata itu datang saat dia di kelas. Maka jangan heran bila papan tulis tiba-tiba penuh tulisan selepas jam istirahat.
***

Tentu saja sebagai teman, saya tidak ingin berpikir dia mungkin gila. Tidak, seingat saya, saya tak pernah sampai berpikir dia gila. Walau begitu pada kesempatan lain, saya coba-coba lagi mempertanyakan kebiasaannya menulis sembarangan itu, ingin tau saja apakah dia masih akan konsisten pada omongannya soal kata-kata yang bisa hidup.
“Jadi, bagaimana ceritanya kata-kata itu sampai mendatangimu?” tanya saya dengan nada sewajar mungkin.
Dengan tenang dia menjawab: “Mereka adalah kata-kata yang terluka, kecewa, dan bersedih. Mereka kata-kata yang semena-mena dipakai manusia untuk menyakiti orang lain, untuk mendustai khalayak, bahkan untuk mendustai hati nurani manusia pemakai kata itu sendiri. Mereka kata-kata yang telah dikhianati, dan merasa telah kehilangan arti dari keberadaannya. Mereka datang untuk berkeluh, dan beristirahat dari manipulasi oleh pikiran manusia. makanya mereka ingin dituliskan sebagai diri mereka apa adanya; tanpa dikomposisi, tanpa dibuat figuratif.”
Saya tercenung.
Memang benar bahwa kita manusia telah terlalu sering memakai kata-kata secara egois untuk melindungi diri dengan kebohongan yang persuasif, atau untuk menjatuhkan orang lain dengan pidato yang ofensif. Tapi benarkah kata-kata merasa telah kita khianati?
Saat kesadaran dan akal saya kembali, segera saya susul dia dengan pertanyaan, “Tapi kenapa mereka harus datang padamu, dan tidak mendatangi orang-orang lain?”
Dia diam sejurus. Mungkin sedang merancang jawaban yang kiranya akan memukau saya sebagai penanya.
Dia berkata lirih, “Aku pun tak tau”.
Lanjutnya, “Aku tak pernah bertanya pada mereka, kenapa mesti mendatangiku. Bagiku itu sama tidak sopannya dengan bertanya pada ibu sendiri kenapa melahirkan aku, atau seperti tidak sopannya bertanya pada Tuhan kenapa aku diijinkan hidup hari ini. Aku tak berani. Aku takut mereka tersinggung, atau semakin merasa tersakiti. Dan andaipun mereka tidak tersinggung, tetap saja aku tak berani mengajukan pertanyaan yang sedemikian tidak sopan.”
Kemudian tambahnya, “Kenapa kamu berpikir bahwa mereka hanya mendatangiku, dan tidak mendatangi orang lain juga? Tidak kah kamu pikir, bahwa mungkin saja mereka juga mendatangimu?”
Ketika itu matanya menyorot ke dalam mata saya. Ada senyum samar di bibirnya. Saya jadi ngeri sendiri. Dan sejak itu saya tak pernah bertanya lagi tentang kebiasaan dia menulisikan kata-kata acak pada bukunya. Tapi, saya malah merasa dihantui oleh kalimatnya yang akhir itu: mungkinkah, kata-kata yang merasa dikhianati itu juga telah mendatangi saya?

Ah, hari ini saya cuma bisa mengingat sampai di situ, tentang orang yang mengaku didatangi kata itu. Kalau kamu tanya lain waktu, mungkin cerita ini akan jadi lain juga. Bagaimanapun, tak ada jaminan bahwa yang namanya ingatan itu sudah pasti berasal dari kenyataan. Tak ada jaminan bahwa ingatan ini, tak akan menghianati tuannya sendiri.
***

Affair at the First Sight

Oleh: Muthiah Safriani‏

Hari pertama, Toko Buku.

Biasanya dua minggu sekali saya selalu pergi ke toko buku. Kebetulan hari ini saya ingin membeli buku yang sudah lama sekali ingin saya beli. Sewaktu sampai di rak yang dituju, buku itu hanya tinggal satu di sana. Ketika hendak mengambil buku itu,sebuah tangan lain juga hendak mengambil buku yang sama. Kemudian kami saling berpandangan. Momen itu merupakan momen yang tidak akan pernah saya lupakan. Baru kali ini saya melihat lelaki setampan dia. Saya mengatakan kepada lelaki itu bahwa dia boleh membeli buku itu, tetapi lelaki itu menolak, katanya karena dia lelaki justru dialah yang harus mengalah. Dan saya kemudian membeli buku yang sudah lama saya incar itu. Itulah awal pertemuan kami.


Hari kedua, Café.

Pulang kuliah, saya singgah di café tempat saya biasanya nongkrong. Saya memesan segelas milkshake coklat dan sepotong tiramisu. Sambil menunggu pesanan saya datang, saya mengeluarkan buku yang saya beli kemarin, dan membacanya. 15 menit kemudian,sebuah suara menegur saya. Tadinya saya piker, itu adalah suara pelayan café itu, ketika saya mendongakkan kepala, ternyata pemilik suara itu adalah lelaki yang kemarin saya temui di toko buku. Kemudian dia duduk di meja saya, dan memesan. Disitulah kami mulai berkenalan. Ternyata dia adalah seorang karyawan di salah satu perusahaan penerbitan. Setelah cukup lama berbicara, akhirnya kami pun saling bertukar nomor handphone.


Hari ketiga, Toko Kaset.

Hari saya janjian untuk bertemu dengan lelaki itu di toko kaset. Semalam ia menelpon saya dan mengajak saya untuk menemaninya ke toko kaset. Ia datang 10 menit lebih dulu dari saya. Dia meminta pendapat saya mengenai kaset mana yang bagus untuk dia beli. Jadi saya bertanya, music apa yang suka ia dengarkan? Dia menjawab rock. Akhirnya saya menyarankan dia untuk membeli kaset milik band kesukaan saya MUSE. Ia pun tampak suka dengan kaset pilihan saya itu, akhirnya Ia membelinya. Kemudian dia mengantar saya pulang ke rumah dengan mobil sedan hitamnya.


Hari keempat, Restaurant.

Hari ini dia mengajak saya lagi, untuk makan malam di luar. Dia berjanji akan menjemput saya di rumah. Saya mengenakan gaun terbaik saya. Sebuah sack dress berwarna biru tanpa lengan. Ketika saya membukakan pintu untuk dia, saya terpana. Dia sungguh tampan dalam balutan jas berwarna hitam. Ia mengulurkan sebuket bunga mawar kepada saya. Kemudian setelah meletakan bunga-bunga itu ke dalam vas, kamipun pergi. Restaurant itu sangat indah, suasananya romantic dengan pencahayaan remang-remang dan musik jazz yang mengalun lembut. Kami duduk di meja yang menghadap ke arah laut. Setelah makan malam, tiba-tiba saja dia meraih tangan saya. Jantung saya jadi berdebar-debar dibuatnya. Ia mengecup punggung tangan saya, kemudian dia berkata bahwa dia mencintai saya. Dia meminta saya menjadi kekasihnya. Wajah saya bersemu merah, kemudian saya membalikkan telapak tangan saya dan meremas lembut tangan lelaki itu. Saya mengatakan bahwa saya juga mencintainya dan menerima dia menjadi kekasih saya. Ya, saya memang mencintainya, saya sudah mencintainya saat pertama kali bertemu dengan dia di toko buku.


Hari kelima, Toko buku.

Hari ini saya meminta dia untuk menemani saya ke toko buku. Saya menyuruh dia langsung ke sana setelah pulang kerja. Hampir 2 jam saya mengelilingi toko buku ini, tapi ia belum juga menunjukkan batang hidungnya. Saya coba hubungi handphone dia, tapi tidak diangkat. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu dia lagi selama 15 menit. 15 menit kemudian ia tidak kunjung datang, saya coba untuk hubungi dia lagi. Dering kedua, barulah telepon saya diangkat.

“Halo…” Sahut sebuah suara dari ujung sana. Suara wanita yang sedang kedengarannya terengah-engah. Saya mengerutkan kening bingung. Kemudian saya bertanya, “Denis-nya ada?”

“Dia sedang di kamar mandi” Jawab wanita itu sekenanya. Tiba-tiba perasaan saya berubah tidak enak.

“Maaf kalau boleh tahu,Anda siapa?” Tanya saya lagi, untuk memastikan kecurigaan saya.

“Istrinya” Wajah saya memucat mendengar pernyataan wanita itu. Dalam sekejap dunia saya berubah menjadi gelap. Hati saya seperti disambar halilintar. Pedih. Tanpa sadar airmata saya pun jatuh. Kemudian saya tersadar, ternyata dari awal saya hanya dijadikan selingkuhan saja.

Être-pour-soi

Oleh: Ellena Ekarahendy (@yellohelle)
the-possibellety.blogspot.com




Aku adalah kemenangan, yang berjalan dalam ke-ada-an bagi diriku sendiri. Saksikan aku, dalam kewibawaan, berlenggak sebagai juara. Perhatikan lekat-lekat, kuat yang dulu hanya sekedar hias verbal, kini aku buktikan dalam empiris mereka yang tidak akan terlupakan.



Dengan diam-diam aku menggerakkan kaki-kaki dalam terminalnya yang terduga. Pun aku sendiri terkejut, karena setelah sekian lama dia terbiasa mematri “kebebasan” dengan menjadikan aku sebagai materi tipuannya, akhirnya aku mampu melahirkan kebebasanku sendiri. Dapat kujalari kerning-kerning yang menyempit dalam hening, sebentar-sebentar mengaduh satu dan yang lainnya ketika ia memaksa kita bergesekan.



Aku bisa saja rindu pada masa-masa lalu, ketika aku dan dia adalah satu. Atau pada momen-momen ketika yang lainnya memandang aku dan dia adalah kesempurnaan yang terpadu. Siapa yang tak lemah pada puji dan elu-elu?

Namun aku tidak peduli.



Mungkin memang akan ada puji-pujian manis atas aku dan dia yang akan aku inginkan untuk kembali nikmati, namun apalah artinya? Sudah kandas cinta di penghujung paragraf, habis tepat setelah tanda titik. Cintaku yang habis, dan enggan aku isi kembali. Pun aku tak peduli, jika hatinya mati meraung-raung menyadari aku yang hanya meninggalkan jejak hanya di dalam pikirannya. Aku akan pergi, karena cinta sudah pergi.

Aku ingin menikmati eksistensiku sendiri.

Pada kesetiaan, benci aku hidupi.



Katanya hidup adalah pilihan? Aku telah membuat satu untukku sendiri, dalam kebebasanku yang akhirnya mampu kumaknai. Opsi yang sudah bukan sekedar bentukan dari proyeksi pikirannya. Sampai kapan kamu mau menatapi eksistensimu sendiri habis dalam otonomi diktaktor yang tak menyisakanmu ruang untuk membangun ke-apa-an dan ke-siapa-anmu sendiri? Telah kuputuskan untuk kutinggalkan.






Banyak kudengar kisah dari mereka –serupa aku, pergi meninggalkan dan melambai pada punggung kekasih mereka yang terdahulu. Kepengecutan. Aku akan pergi sambil melambai pada wajahnya, yang kuyakin akan berakhir momok kelemahan yang memalukan, namun kutepis sebagai seorang pemenang. Ketika hampir jauh aku hanya akan terbahak-bahak, lalu menguasai hati lainnya yang sama lemahnya. Mungkin ia akan melihat aku berbaring dalam kepasrahan untuk mecintai pribadi yang lain sekenanya, tapi aku akan semakin kuat terbahak, menyaksikan hatinya yang pilu. Oh, kebebasan, padamu aku menguatkan kaki-kakiku untuk berlalu.

Kelaki-lakiannya harus tahan uji, bukan?

Seperti keberadaanku, yang telah berhasil tahan uji, dalam genggamannya.



Aku sudah berjalan jauh, juga lelah menyisakan pikul-pikul cerita masa lalu untuk memaksa ia menangis pelan-pelan. Ada letupan-letupan kepanikan dan kekecewaan di atas kepalanya. Kutangkap juga kemarahan, melayang beriringan dengan pikiran yang gagal disajikan.



Kudengar ia berteriak-teriak seperti kesetanan, mengguncang bahu kawan di sebelahnya, menunjuk-nunjuk aku yang berjalan penuh kesombongan, meninggalkan kertas putih yang pernah kita ukir bersama.

“ASTAGA! Gila! Gila! Kau lihat deretan alphabet ini?! Bagaimana mungkin mereka berjalan meninggalkan kertasku?! Naskahku kosong empat halaman! Bagaimana bisa huruf-huruf yang mati itu lari dari kertas ini? Sialan! Apa aku terlalu lelah bekerja?! Hey! Tolong aku! Huruf-huruf ini pergi kabur mengkhianati aku!”



Aku menggiring kawan-kawan, a, b, c, d, e, yang berjalan mengikutiku dari belakang, meninggalkan tumpukan naskah si penulis.

Kami berjalan dalam kebebasan kami, bagi diri kami sendiri.

Mungkin setelah ini kamu harus memperhatikan kertas putih di hadapanmu ini. Siapa tahu, kawanku juga hilang cintanya, dan ingin pergi hinggap ke penulis lain untuk sekedar mengingatkan bagaimana kami telah berhasil menghidupi proyeksi dalam kepalamu. Tentu saja, kami senang mengkhianati.

Judas

Oleh: @stellanike
judas © stella nike
Dragon Knights © Mineko Ohkami
modified canon; hints sho-ai; kaistern/rath
originally posted at http://www.fanfiction.net/s/6770827/1

Pengkhianat!

Itu kata yang pertama kali terbentuk dalam benak Rath saat mendengar ucapan Cesia. Pandangannya menggelap seketika sementara dadanya serasa sesak. Dengan tergesa ia mengarahkan kristalnya ke seluruh penjuru ruangan yang cukup besar ini seolah mencari-cari sosok pemuda yang lebih tua itu. Nanar.

Berharap menemukan bibir yang melengkungan sebuah senyuman lembut yang selalu ada untuknya. Berharap menemukan sepasang tatapan hangat yang tersembunyi di balik lensa kacamata. Dan berharap menemukan sepasang lengan yang kokoh, yang selalu merengkuhnya dalam dekapan erat—menghilangkan segala gundah yang melanda.

Namun hanya ada ia dan Cesia di sini—tanpa Kaistern.

Pendusta!

Batinnya menjeritkan satu kata tanpa suara dengan penuh kecewa. Perih melanda dadanya, mencengkeram Rath dengan jemari-jemari semu yang mencekik leher dan menorehkan luka dalam. Duka pun turut membantu dalam usaha mematahkan hatinya. Ia selama ini mempercayai Kaistern—hanya untuk mendapati bahwa pemuda itu tak menepati janjinya.

Selama ini Rath hanya dapat mencurahkan rahasianya yang terdalam pada Kaistern. Seluruh topeng yang selama ini dikenakannya untuk menipu semua entitas di DraQueen luruh begitu berhadapan dengan sang Menteri Naga Biru tersebut. Sifatnya yang sesungguhnya, kebenciannya terhadap dunia—juga keinginannya untuk segera mati, hanya ia tunjukkan pada Kaistern.

Dan selama ini ia menyangka Kaistern juga berlaku yang sama padanya.

—Yang adalah suatu kebohongan.

Kaistern menipunya mentah-mentah semenjak dahulu!

Giginya digertakkan dengan sekuat tenaga. Kesedihan yang meluap-luap hampir tak dapat terbendung lagi. Sementara Cesia masih terus mengucap penjelasan mengapa Kaistern melakukan hal yang dibenci Rath, pemuda ini memejamkan matanya dan membayangkan sosok yang dibicarakan. Lukanya semakin dalam, mengeluarkan darah yang tak nyata.

Ia tak dapat menerima satupun kata dari bibir Cesia. Ia tak dapat menerima kabar buruk yang disampaikan oleh gadis itu. Ia tak dapat menerima bahwa… bahwa—

“Kaistern tak menepati janjinya!”

Baritonnya terdengar pedas saat mengujar kalimat tersebut, sarat akan emosi yang bergejolak tanpa bisa diredam. Kesedihan, kekecewaan, rasa tak percaya. Segalanya bercampur dalam suaranya, jelas menunjukkan betapa dalam luka yang terjadi akibat hal yang dilakukan Kaistern.

“Dia bilang sedang mencari sesuatu—” Yang akan diceritakan pada Rath saat Kaistern menemukannya. Ia berjanji akan memberitahukannya pada Rath suatu saat nanti, ketika ia telah menemukan apa yang dicarinya. Dan Rath percaya! Ia menanti dengan sabar saat dimana Kaistern akan menceritakan satu-satunya rahasia yang tak mau ia bagi. Namun—

Dadanya kembali terasa ditusuk-tusuk.

“Ia pantas mati! Dasar egois!”

Suatu fakta yang mati-matian disangkalnya kini keluar dari bibirnya sendiri. Sakit yang sebelumnya ia rasa saat mengetahui kenyataan tersebut semakin parah berkali-kali lipat begitu dirinya sendiri yang mengucapkannya.

Karena saat ia mengatakannya—berarti ia percaya bahwa Kaistern telah tiada.

Suatu tamparan keras dan dingin yang menyadarkannya bahwa tak akan ada lagi pelukan di sela-sela pekerjaan, tak akan ada lagi senyuman lembut yang terarah untuknya, tak akan ada lagi tatapan yang berisi ungkapan rasa sayang. Tak akan ada lagi Kaistern di sisinya.

Ia telah pergi untuk selamanya.

“Aku tak pernah memintanya untuk memberikan nyawa untukku.”

Hatinya yang pernah patah dan dibenahi oleh Kaistern selama bertahun-tahun, yang susah payah disusun ke bentuknya semula—dan berhasil berkat segala kebaikan dan perhatian Kaistern—kini kembali pecah berkeping-keping. Satu sosok yang dikasihinya tak ada lagi di dunia, membawa serta separuh bagian. Meninggalkan satu lubang yang menganga dalam dadanya.

Pengkhianat.

Kaistern adalah seorang pengkhianat.

Ia berusaha memetakan kalimat tersebut dalam benaknya, dalam pikirannya, dalam hatinya. Agar setidaknya ia tak terlalu sedih saat menginat Menteri Naga tersebut. Agar setidaknya ia dapat membencinya dengan sepuas hati, mencacinya dengan kata-kata kasar. Agar setidaknya—

—Hatinya tak terasa sesakit ini.

“Rath…” Cesia mengulurkan tangannya, meraih sang pemuda dalam sebuah pelukan yang hangat dan nyata. “Ingat air yang disiramkan Black Cesia padamu? Air itu akan membunuh siapa saja yang bukan bangsa monster. Salah satu bagian tubuh Kaistern yang tersiram air sudah mati setengahnya—dan itu menjalar. Karena itu ia memberi sisa nyawanya padamu.”

Rath tak mendengarnya. Ia tak mau lagi mendengarkan alasan yang diutarakan oleh Cesia—atau oleh siapapun. Siapa yang mengizinkan Kaistern menyerahkan energi kehidupannya? Siapa yang mengatakan Rath senang menerima nyawanya? Siapa yang… siapa yang berkata—Rath tak akan sedih dengan kematiannya?

Ia terus dan terus saja mengucap dalam hati,

Kaistern adalah seorang pengkhianat.

—FIN—

Sembilan Puluh Juta

Oleh : Innda Syahida (@innda0111)


Ada kabut seolah- olah berputar diatas kepalaku. Ia seolah menari- nari, berkelabat kesana kemari pada poros tak berwujud. Aku linglung. Tak tahu harus bagaimana. Jam istirahat tinggal tiga puluh menit lagi, dan aku sama sekali belum menemukan petunjuk apapun tentang keberadaan dokumen sialan itu.
Kalau saja May tidak terlalu lepas tangan pada tanggung jawabnya sebagai staff pembelian, dan seandainya saja aku tidak terlalu bodoh menghilangkannya begitu saja karena lupa dimana aku meletakkannya, barangkali bos tidak akan semarah ini.
Habis aku dimaki sedari pagi.
Seperti budak yang berasal dari pelosok hutan dan berkepala plontos akibat terkena penyakit stress yang mewabah. Atau memang aku yang terlalu bodoh mau dipermainkan seperti ini.
“Apa kamu tahu berapa harga dokumen yang kamu hilangkan?” aku msih ingat bibir cadasnya yang tipis hampir terlepas lantaran mengomel. “Sembilan puluh juta!” bibirku langsung terkatup tak sanggup bicara―padahal sebenarnya aku sudah tahu nilai itu. “Apa kamu punya uang? Gajimu seumur hiduppun barangkali tak cukup untuk membayarnya! Dasar tolol!!”
Te-O-eL-O-El
Aku mengejanya berulang- ulang sembari tanganku mengobrak- abrik file- file yang―barangkali saja bisa memberiku peluang atau petunjuk spesifik.
May duduk disana―di meja kerjanya sambil jarinya sibuk menggeser- geser mouse. Dia main twitter!!
Anjrit!! Enak saja dia bisa santai- santai begitu setelah beberapa jam yang lalu ikut terlibat dalam prosesi huru- hara tunggal si bos. Kepalaku semakin panas, hampir meledak seperti balon ulang tahun. Sejujurnya aku malas bertanya, jadi lebih baik aku sedikit menyinggung saja.
“Duhh… dimana sih?” May tetap cuek. Aku meledeknya dari belakang punggungnya. Kuhormati sedikit lantaran dia adalah seniorku. “Kenapa malah main twitter sih, May? Bantuin kek apa gitu.” Ketusku kesal.
“Hey, itu bukan urusanku!” astaghfirulloh aladzimmm… aku beristighfar dalam hati. Jahatnya, pikirku. “Tugasku kan cuma beli barang dan taruh suratnya di file, kamu yang buat tanda terima. Jadi, bukan urusan aku lagi dong.”
Aku ini anak baru, May… kenapa sih dia tega sekali memperlakukanku seperti itu. Sembilan puluh juta. Harus aku bayar pakai apa kalau dokumennya gak ketemu???
Aku meringis tangis dalam hati, air mata tentu saja ingin mencuat keluar. Namun sekuat tenaga ku tahan, aku sudah pasrah. Kalaupun aku dipecat sekarang juga, aku rela. Aku terima. Dan barangkali sudah satnya aku keluar dari perusahaan yang baru sebulan ku tumpangi ini.
Lelah. Otakku terperas hampir habis. Lalu mencari kesempatan, akupun mengambil air wudhu. Sholat adalah jalan satu- satunya agar pikiranku bisa tenang. Aku berdo’a, memohon petunjuk sambil meneteskan air mata. Mukenahkupun lembab lantaran basah. Dan aku memasrahkan diri pada satu- atunya Tuhanku. Aku harus ikhlas, apapun yang terjadi nanti.
Jam istirahat selesai. Akupun tak ingat makan. Lapar sungguh tak terasa lagi. Yang penting dokumen harus ketemu bagaimana pun caranya. Kumainkan lagi jari- jari lentikku diantara file pribadi bos―kebetulan bos sedang keluar makan siang.
Sembilan puluh juta… sembilan puluh juta… sembilan puluh juta.
Aku mengulangi angka- angka itu siapa tahu tiba- tiba muncul di dokumen yang―terselip!! Alhamdulillah “Ketemu!!!” teriakanku mencuat keluar secara tiba- tiba. Air mata yang tadinya kutahan, entah kenapa malah menetes begitu saja. Aku merasa lega seketika, seprti kuali panas yang tersiram air. Menguapkan asap dan mendingin seketika. Kuucapkan syukur berkali- kali sambil memegang dokumen berharga itu.
Gak jadi di pecat, kataku dalam hati.
May melirik kearahku, aktivitasnya bersama twitter seketika berhanti lalu meringaikan senyuman lebar. “Ketemu, Nad?” tanyanya girang. Akupun mengangguk. Lalu kuletekkan dokumen tersebut tepat disebelah laptop bos, lalu pergi kekamar mandi membasuh muka sembari menenagkan diri selama beberapa menit.
Dan ketika aku hendak melangkahkan kaki masuk ke ruangan yang hanya berpenghunikan tiga orang perempuan termasuk aku, kulihat wajah si bos tak lagi seseram sebelumnya.
“Dapat dimana dokumennya?”Tanyanya. Aku ingin menjawab, tapi May mendahuluiku cepat sekali.
“Aku menemukannya terselip diantara file PO peralatan kerja.”
Aku mendadak berhenti tepat di hadapan May, sambil memicingkan mata dan.
Mengutuknya hidup- hidup!!!

Rabu, 23 Februari 2011

Dua Cerpen Kita yang Sudah Dimuat di Herve Magazine

Silakan cek cerpen Dini yang menjadi Best of The Week kemarin...
http://www.hervemagazine.com/bib-anda-menerima-satu-pesan-suara/site-news

dan Ellena Ekarahendy yang menjadi Best of The Week minggu lalu...
http://www.hervemagazine.com/dimensi-dan-keengganannya/site-news

Semuanya di atasnya ada logo tersayang kita ini:

Selamat untuk keduanya!