Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 09 Desember 2010

Yang Ku Kagumi Setengah Mati

Oleh : Tenni Purwanti

Dari layar kaca itu saya selalu memandangnya. Memperhatikan kata-katanya membacakan paragraf-paragraf fakta di balik peristiwa. Tak jarang ia mewawancara langsung narasumber yang kompeten untuk membicarakan peristiwa yang menjadi topik utama dalam siarannya. Ia cerdas, berwibawa, berkarisma, percaya diri, berani, dan masih banyak lagi kata yang bisa saya sebutkan untuk memujinya. Ia seorang presenter berita yang akhirnya membuat saya punya cita-cita dan impian. Saya tak lagi punya cita-cita semu yang sama rata dengan anak-anak lain seusia saya : ingin menjadi dokter, Insinyur, bahkan Presiden. Tak ada yang salah dengan cita-cita itu, hanya saja saya rasa saya butuh sesuatu yang berbeda. Dan Presenter Berita adalah jawabannya. Saya mendapatkan cita-cita itu dari kekaguman pada sosok Rosianna Silalahi, Presenter Berita Idola saya.

Ternyata saya tak puas hanya punya satu. Saya, yang sejak kecil sangat gemar membaca buku-buku filsafat dan sastra, tanpa sadar mengagumi sosok penyair yang mati muda : Chairil Anwar. Dalam hidupnya yang singkat, tak punya riwayat pendidikan tinggi, Chairil Anwar bisa jadi legenda sastra Indonesia. Barangkali hidup yang tak mudah itulah yang membuatnya lebih peka terhadap sekitar. Barangkali kegelisahannya, rasa kecewanya, rasa tertekannya-lah yang kemudian menjadikan karyanya “bernyawa”. Sajak-sajaknya tak hanya bicara cinta sepasang kekasih, tapi juga masalah sosial, politik, ada pula karyanya yang diperuntukkan bagi sang Pelukis Affandi, sang Proklamator Soekarno-Hatta, bahkan untuk neneknya sendiri. Sajak-sajaknya bisa jadi merupakan napak tilas hidupnya sendiri, maupun sejarah kehidupan sekitarnya pada masa ia hidup. Chairil Anwar pantas saya jadikan Idola ketika pada akhirnya saya juga punya cita-cita lebih dari satu, yaitu ingin pula menjadi Sastrawan.

Semua orang di dunia ini pasti punya Idola, disadari atau tidak. Ada yang mengidolakan penyanyi, pemain sinetron, atlet, dan beragam profesi lain. Alasan kekagumannya pun beragam, ada yang karena faktor fisik, kepribadian, sampai faktor karya dan prestasi. Cara mengaguminya pun beragam, ada yang mengikuti berita tentang sang Idola dari televisi, follow twitter-nya, mengumpulkan berbagi foto, maupun benda-benda apapun yang berkaitan dengan sang Idola, bahkan ada yang sampai berkorban datang setiap kali sang Idola show atau mengadakan jumpa fans, meskipun di luar kota yang jauh dari tempat tinggalnya sendiri.

Saya sendiri tidak mungkin rasanya bisa hadir di jumpa fans Idola saya, karena yang satu Jurnalis Televisi dan yang lain Sastrawan. Dunia mereka berdua jauh berbeda dari dunia entertainment. Terlebih Chairil Anwar yang telah tiada. Lebih tidak mungkin lagi untuk bisa follow twitter-nya. Untuk menunjukkan rasa kagum dan hormat saya padanya, saya mulai dengan mengoleksi buku-buku karyanya. Meski berulang-ulang membaca sajak-sajaknya, saya tak pernah merasa bosan. Kalau Rosianna Silalahi mungkin masih bisa saya follow twitternya, masih bisa berbicang dengannya via e-mail, lalu saya pun masih bisa menyimak acara barunya di sebuah stasiun televisi swasta, yang ternyata ia produksi sendiri. Makin kagumlah saya kepadanya.

Saya punya satu hal yang membuat mereka berdua bangga menjadi Idola : bahwa kehadiran mereka adalah inspirasi, kehadiran mereka adalah penyemangat hidup untuk seorang perempuan yang sedang berjuang mewujudkan mimpi. Bahwa karya mereka, dedikasi mereka di dunianya masing-masing, dihargai utuh dan dijadikan motivasi untuk membuat hidup lebih baik dan lebih berarti.

Suatu hari nanti, ketika saya bisa menjadi seperti keduanya, saya harap saya juga bisa menginspirasi orang lain, generasi-generasi baru setelah saya, agar mereka termotivasi untuk jadi lebih baik dari saya. Suatu hari nanti, saya juga ingin menjadi Idola, bukan untuk sebuah nama besar atau harta melimpah ruah, tapi untuk menjadi inspirasi bagi mereka yang sedang mencari makna hidupnya. Membuat orang lain merasa lebih berharga karena memiliki mimpi, memiliki tujuan hidup, adalah hal yang luar biasa berarti bagi saya kelak.

Pada akhirnya, mengagumi dan dikagumi bisa menjadi hal yang sangat menyenangkan bahkan berguna dalam kehidupan.

Desember 2010,
@rosepr1ncess



NB : tulisan ini adalah tulisan bersambung yang erat kaitannya dengan tulisan saya sebelumnya,Yang Ku Gantung Setinggi Langit dari tema Impian. Ini adalah tulisan pertama saya yang bersambung. Dua tulisan ini bisa dinikmati secara terpisah maupun bersama-sama, Silakan di apresiasi :)

Sampai Nanti (Michael)

Oleh: Aditia Yudis Puspitasari
Departement Forest Conservation & Ecotourism 2006
Bogor Agricultural University 
Contact : Y!M : adhiet07 / FB : adhiet07@yahoo.com / twitter : adit_adit


Kamu menemukannya lagi. Sebuah nama yang tertulis di buku harianmu saat sekolah menengah pertama. Terselip di antara huruf-huruf yang diukir sembarangan. Di tengah kembang kempis emosi yang dituliskan. Bukan hanya satu, tapi jumlahnya tak bisa lagi kamu ingat berapa banyak, yang kamu sadari hanya berulang kali kamu menemukannya.
Setiap hadir kesempatan kamu mengguratkan nama itu di atas lembar catatanmu yang berwarna hijau berhiaskan karikatur remaja perempuan imut. Setelah itu kamu tambahkan cerita, kisah tentang dia yang kamu curi dengar, baca dan lihat dari manapun. Rasanya, menyenangkan, ada kebahagiaan tersendiri sewaktu bisa berbagi info tentangnya pada buku diary-mu itu. Menuliskan nama itu seperti menyulut api pemimpi dalam lentera hatimu.
Berulang kali bibirmu mengembang, tersenyum saat membaca bagian-bagian tulisanmu yang mendeskripsikan betapa kamu menyukainya. Membaca nama itu berulang kali, membuatmu bisa merasakan hangat di dalam dada yang perlahan muncul. Jelas kamu bisa mengenang rasa itu, aliran darah yang terburu-buru, jantung yang menggeliat resah, dan ribuan kupu-kupu yang seolah berterbangan dalam perutmu. Euforia seorang yang sedang jatuh cinta.
Dalam kepalamu dia pun seketika hadir. Sosok pria muda berukuran tubuh sedang yang menyunggingkan senyum jenaka. Tangannya dibenamkan dalam saku jeans hitamnya, seperti yang selalu dilakukannya. Rambutnya hitam sedikit panjang terurai berantakan di sekitar wajah dan lehernya, namun sama sekali tidak membuatnya kelihatan urakan atau alay. Pandangan matanya tajam ke arahmu dan melelehkanmu sebelum kamu sempat berkedip.
Bukan, dia bukan penyihir atau seseorang yang punya kemampuan mutan seperti itu. Itu sebuah perumpamaan, cukup ditatap oleh orang kita cintai bisa membuat kita serasa terbang dan merasakan nikmatnya berkubang cinta. Kecepatan melelehkan itu akan meningkat saat dia mulai membuka bibirnya.
Bernyanyi!
Suaranya akan serta merta membuatmu menutup kedua mata, dengan begitu kamu akan lebih bisa merasakan keindahan di dalamnya. Lantunan vokalnya hilir mudik di sekitarmu, lalu menyusup dalam lubang telinga dan sekujur pori-pori tubuhmu. Kamu merasakan kulitmu merinding dengan deru napasmu yang sesekali didenguskan kasar.
Seringkali suara itu kemudian merupa menjadi sepasang sayap bagimu. Membumbungkanmu tinggi ke langit, tempat nanti kamu akan bersua dengannya. Di sana, hanya berdua saja dan melakukan segudang permainan menyenangkan. Ah, khayalan yang begitu memabukkan, ya kan Michael?
Lain waktu kamu bisa memandanginya berjam-jam. Menciptakan keinginan untuk memeluknya dan menyentuhnya, mengusapkan jari-jemarimu di antara helaian rambutnya. Merasakan tekstur kulitnya dengan ujung jarimu. Mendengarnya berbisik di telingamu. Lagi-lagi, semua itu membuatmu bergidik. Bulu romamu berdiri bukan karena takut, tapi sebuah perasaan tak terkatakan yang menyelubungimu. Jujur, kamu senang dengan perasaan itu.
Kamu menarik napas panjang. Cerita panjang tentang nama itu yang kamu baca sekarang bahkan belum usai, masih ada seperempat bagian buku yang belum kamu lahap. Namun, semua halaman yang telah kamu baca sudah cukup sekali menunjukkan betapa kamu sangat mencintai pemuda itu dulu.
Jari telunjukmu kamu jadikan pembatas di antara halaman buku harianmu. Kamu menyeret tubuhmu hingga ke depan mejamu, meletakkan buku harian itu di antara dompet dan laptopmu. Tanganmu yang lain meraih tetikus dan menggerakkannya sedikit. Renyah bunyi tetikus yang muncul saat kamu memencetnya pun tergantikan oleh suara merdu dari laptop itu.
Sekarang, suara si pemilik nama itu benar-benar hadir dalam kamarmu. Nyata. Bukan seperti tadi yang hanya di balik tengkorak kepalamu. Lagu yang dinyanyikan menggelontorkan bayangannya dalam otakmu. Banjir akan dia dalam ingatanmu.
Tujuh tahun sudah berlalu sejak buku itu ditulis oleh tanganmu. Setiap aksara yang kamu bubuhkan menyimpan setiap rasa dengan baik. Oleh karena itu, hingga kali ini kamu membaca catatan itu, kamu bisa merasakan ‘jatuh cinta’-mu pada pria itu lagi.
Rindu itu pun bergulir kembali. Kadang kamu berharap bisa kembali ke masa itu, bermain-main dengan fantasi tanpa batas. Namun lebih jauh kamu berpikir kalau itu bukan ide yang sepenuhnya baik. Maksudmu, dia cuma seseorang, ‘seseorang’ yang pernah jadi duniamu dulu. Bukanlah sesuatu yang mustahil jika suatu saat kamu yang akan jadi dunianya. Ya, suatu hari nanti karena tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia serba relatif ini.
Dipacu rindu menggebu itu, kamu menarik kotak tempat kamu menyimpan catatan harian itu dari bawah meja. Sejenak kamu menatap isi kotak itu, tersusun rapi di dalamnya barang-barang bermacam rupa. Kamu hampir menarik sebuah gulungan panjang saat ponselmu berbunyi.
“Oh, oke nanti aku tunggu di depan,” balasmu pada si penelepon sembari menarik gulungan itu dari dalam kotak. Kamu mendudukan tubuhmu di kursi, menarik tali yang mengikat gulungan itu.
“Iya, ada. Ada di dompet aku! Cerewet banget sih!” Gerakan tiba-tiba tanganmu yang hendak meraih dompet membuat gulungan itu meluncur jatuh menuju lantai. Namun kamu memilih melihat isi dompetmu dan langsung menemukan apa yang kamu cari. Dua carik tiket pertunjukan sebuah band rock terkenal. Kamu mengacungkannya di depan wajahmu.
“Iya, ini ada. Ada di tangan aku sekarang!” Kemudian kamu menyimpannya kembali ke dalam dompetmu. Sesaat setelah itu, matamu terbelalak, kamu berjalan menuju jendela dan mengintip. Matamu menyorot pada seorang pemuda yang turun dari mobilnya sembari menggenggam ponsel di dekat telinganya.
“Iya, ni aku turun! Dan jangan panggil aku Minnie, Mikey!” ujarmu yang masih menyibak tirai jendela.
Kamu pun memutuskan sambungan telepon. Bergegas mengambil tas selempang yang sudah kamu siapkan di atas tempat tidur dan memasukkan dompetmu ke dalamnya. Mampir di depan cermin sebentar untuk merapikan diri di saat-saat terakhir. Mematikan laptop terlebih dahulu. Saat akan keluar dari kamarmu, matamu tertumbuk kepada gulungan yang ada di lantai.
Sebentar saja.
Kamu melangkahkan kakimu menuju gulungan itu lalu membungkuk memungutnya dari lantai. Tanganmu mulai bergerak membuka gulungan itu. Sebuah poster. Poster yang pernah menghiasi dinding kamarmu sekitar tujuh tahun lalu. Ada si pemilik nama itu di sana, berdiri gagah dan tampan, serta tak lupa senyum manisnya. Namun kesan angkuh dan berwibawa tetap ada dengan setelan hitam-hitam yang dikenakannya. Kamu menyadari bahwa sorot mata tajam miliknya menghujam langsung kepadamu.
Terdengar desah napasmu. Kamu merasa udara yang keluar darimu barusan membawa serta segenap kenangan. Kamu menyadari betapa cepat waktu berlalu, segesit angin yang melayang lewat jendela kamarmu. Masamu sekarang bukan lagi masa remaja. Poster-poster sudah diturunkan. Namanya sudah tak lagi kamu tuliskan. Akan tetapi, kamu masih tetap menyukai mendengarkan si pemilik nama bernyanyi baik lagu di masa poster itu dipasang hingga lagu-lagu barunya saat ini.
Bunyi klakson mobil menyambangi pendengaranmu. Mikey, begitu sapaan akrabmu kepada Michael, sudah memberimu isyarat untuk segera turun. Kamu merasa beruntung bertemu Michael. Kamu menemukan banyak kesamaan dengan Michael. Kalian sama-sama penggemar musik dari si pemilik nama dan band-nya. Michael yang sekarang kamu cintai. Sekali lagi klakson menggonggong dari bawah.
Bibirmu kembali tertarik di dua sisinya, senyum kecil muncul di sana. Masih kamu menatap poster itu, pelan kamu bicara pada pemilik nama itu, “sampai ketemu di pertunjukanmu nanti, Michael.”

Bogor, 10-11-2010
Teruntuk Michael J. Siapa Michael? Silakan interpretasikan sendiri-sendiri. Kalian punya Michael kalian sendiri-sendiri J.

Untuk Gie: Yang Mengapa Dan Apabila

Oleh: Ellena Ekarahendy
( @yellohelle | http://the-possibellety.blogspot.com/ )

pada cinta yang telah aku jatuhkan, dan yang tak kusentuh karena apa yang di sini dan sekarang.

tentang cinta yang kamu ajarkan,
tentang satu-satunya buai yang tidak aku hinakan,
tentang pola-pola yang menjenuhkan yang kamu intergrasikan dalam kebanggaan,
tentang keabu-abuan, tentang keantaraan,
tentang yang kucinta darimu,
yang tak pernah menyisipkan cerita bagi mata untuk bertemu.
(lalu mungkin hatimu balas menyapa dalam keheningan)

bagaimana aku menyikapi tanda tanya? tentang yang mengapa dan apabila,
yang terpenatkan dalam kepalamu.
juga yang berdesakan dalam kepalaku:
euforia pada perengkuhan terhadapmu (meski juga kupikir delusi)
lompatan-lompatan klasik yang menggelikan,
yang tidak harusnya aku miliki dengan masaku yang ini.

ya, aku bermimpi tentang masa-masa mu,
dan aku bertanya kenapa hanya berteman dalam ketidakberadaan?
ketika bicara tentang percaya,
deret-deret aksara biar jadi pengantara.. ya?

dan apa yang di sini dan sekarang,
dalam kemengapaan dan keapabilaannya (yang menyulitkan dalam kebingungan),
jika
dan hanya jika
sekali waktu kamu berbaik hati menjelmakan pribadimu dalam keberadaan infinitifku yang temporer (sebagaimana kamu pun dulu begitu)
...
aku mau.

Impian

Aditya Mahapradnya
http://adityamahaprajnya.blogspot.com/

BULAN semakin mengembang, Dodo pun belum juga pulang. Jam dinding berdentang. Sudah jam sepuluh tepat. Ibunda Dodo daritadi tak bisa diam karena terus memikirkan anaknya. Ia daritadi mondar-mandir dan selalu menggonta-ganti channel televisinya dengan gamang. Sebenarnya ia tahu dimana Dodo berada sekarang, tetapi tetap saja, sifat naluriahnya sebagai seorang ibu, selalu merangsang otaknya menjadi panik bila anaknya sudah larut malam belum pulang.

Saat masih dalam bimbang yang mengambang, terdengar suara mesin motor disertai klakson, yang berarti menyuruh untuk siapa saja membukakan pagar.

“Do! Kamu kok mama telfon, sms, semua gak bisa-bisa sih!”
“Hape aku kan selalu aku matiin kalo lagi masuk kelas.. lagipula tadi aku juga ada tambahan..”
“Iya, mau ada tambahan kek, tapi kabarin mama dulu dong.. Seenggaknya curi-curi kesempatan nyalain hape di kelas kek.. Mama panik tau!”
“Iya-iya..”

Sentoran air hangat yang mengucur deras dari shower itu tampak sangat merilekskan. Ia benar-benar dimanjakan air hangat dari segala aktivitas yang sungguh melelahkan. Ia memijat-mijat lembut keningnya, seperti berusaha melumat sekelumit penat, dari keseharian yang menikam.

Dibawah guyuran pancuran, ia berusaha memutar ulang memorinya kembali. Tadi pagi, ia bangun pagi-pagi sekali untuk bersiap-siap sekolah, mandi kilat, lalu segera bersijingkat untuk sarapan roti yang hanya dioles dengan selai kacang.
Belum ia menelan semua roti dimulutnya, ia segera buru-buru pergi ke sekolah mengendarai motor dengan ngebut karena takut terlambat. Sejauh ini, ia sudah mengantongi dua surat peringatan telat. Bila ia sampai telat untuk ketiga kalinya, ia akan dipulangkan ke rumah. Saat pulang sekolah, ia pun tak sempat lagi bermain-main dengan teman-temannya seperti dulu. Ia harus buru-buru pergi ke tempat bimbingan pelajar dengan alasan yang sama. Takut telat.
Di awal-awal tahun ajaran, Dodo les hanya sampai jam tujuh malam, seminggu dua kali. Tetapi, karena sebentar lagi sudah akan banyak dibuka jalur pendaftaran untuk memasuki perguruan tinggi negeri, kadang ia sekarang pulang sampai jam sepuluh malam, dan menjadi tiga kali sehari. Tak ada waktu untuk menggelepar liar sebelum pulang ke rumah. Setiap hari selalu begitu, dan selalu berulang-ulang.
Pernah suatu ketika temannya berujar, “Do, sekali-sekali mainlah.. jangan belajar terus, nanti malah bisa stres lho..” “Ah nanti deeh, biar gue bisa masuk perguruan tinggi negeri nih..” Jawabnya beralibi. Maka dari itu, ia rela sedikit tidak menikmati hidup untuk beberapa bulan ini. Alasannya sederhana, agar biaya kuliahnya murah. Apalagi ayahnya sudah pensiun, dan adiknya masih kelas 4 SD.

Maka dari itu, air hangat yang menyentor seluruh tubuh Dodo, terutama bagian sekitaran wajah, sangat ia nikmati dan resapi, dan terasa sangat menenteramkan.

*

Ia membuka lipatan halaman buku geografi yang tadi ia lipat di tempat les. Halaman itu belum sempat dibahas dikelas. Ia akan sedikit mencuri baca untuk lebih dahulu paham dari teman-temannya saat nanti diterangkan di kelas, dan untuk membuat dirinya sendiri ngantuk di ranjangnya saat ini.

Benar saja, baru dua menit menyisir halaman, ia sudah lelap dengan keadaan buku-buku yang bergeletakan terbuka, stabilo kuning yang nyaris mengering, dan dengan piyama berbahan lembut, yang membuat mimpi-mimpi semakin syahdu, dan semakin menjauhkan diri dari kelabu.

*

Sudah jam tiga pagi. Aku mau tahajud lagi.


Bekasi, 2010

Yang Ku Gantung Setinggi Langit

Oleh : Tenni Purwanti

Orang menyebutnya cita-cita. Ada pula yang menamakannya impian. Saya sendiri tak tahu harus menyebutnya apa. Keinginan yang begitu kuat yang selalu membuat saya bertahan hidup. Sebuah asa yang yang menuntun saya selangkah demi selangkah, pelan, tapi pasti untuk menuju ke sana. Apapun namanya, ia akan membawa saya dikenal dunia. Saya tahu yang saya butuh hanya percaya. Percaya bahwa Tuhan akan membantu selama saya masih mau berusaha dan tak henti memohon pada-Nya. Ini tentang Berita dan Sastra, ada apa dengan mereka?


Sejatinya, berita dan sastra adalah dua hal yang bertolak belakang. Yang satu bicara fakta, sedang yang lain bicara khayalan. Menguasai keduanya sekaligus membutuhkan tidak hanya bakat, tapi juga keinginan yang kuat untuk mau belajar. Belajar tidak hanya dari buku dan lembaga pendidikan formil tapi juga bisa diiringi dengan latihan yang intens.


Berita, yang meski isinya melulu bicara fakta, juga butuh keterampilan merangkai kata ketika menuliskannya. Seorang wartawan harus bisa menjelaskan kronologis peristiwa mulai dari apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana sebuah peristiwa terjadi. Keterangan dari berbagai narasumber yang kompeten juga harus dikombinasikan dengan seimbang, tanpa ada maksud memihak. Karena tugas wartawan adalah menyajikan fakta, bukan menghakimi fakta. Keterampilan menulisnya diuji setiap kali peristiwa ada di depan mata dan siap untuk disampaikan kepada masyarakat. Tanggung jawab utamanya adalah kepada masyarakat, bukan kepada perusahaan tempatnya bekerja, atau kepada narasumber, apalagi kepada pemasang iklan.


Sastra, yang meski isinya melulu khayalan, juga butuh selipan-selipan fakta untuk membuatnya membumi, hingga kadang bisa dijadikan cermin bagi setiap penikmatnya. Cermin untuk melihat refleksi dirinya dalam wujud untaian kata, rangkaian kalimat, dan susunan paragraf. Seorang sastrawan, bukan tidak mungkin juga merupakan saksi dari sejarah kehidupan di sekelilingnya, yang justru paling berjasa mengabadikan momen-momen tersebut ke dalam kata. Hanya saja satrawan punya lebih banyak ruang untuk menyampaikan imajinya, ia tak terkungkung dalam teori, kode etik, bahkan kadang lupa pada norma. Baginya menulis adalah pembebasan jiwa.


Sastrawan dan wartawan, di balik persamaan dan perbedaannya, keduanya masih merupakan cita-cita atau profesi yang dipandang sebelah mata bagi orang-orang konvensional. Tak sedikit orang tua yang mengharapkan agar anak-anaknya menjauhi cita-cita ingin menjadi wartawan atau sastrawan. Alasan utamanya mungkin dalam hal materi. Dua profesi ini dianggap tak punya masa depan, bisa menjerumuskan kepada hal-hal yang terlalu idealis, sehingga orang tua terlalu takut anak-anaknya tidak hidup normal. Selain materi yang kurang mencukupi, dalam hal waktu bekerja pun, sastrawan dan wartawan punya jam kerja yang memang tidak bisa dikatakan normal. Malam jadi siang, siang jadi malam. Waktu tidur terbalik, waktu makan berantakan. Hanya hal-hal seperti itu yang ada di benak mereka dan akhirnya mereka tanamkan secara turun-temurun kepada anak-cucu. Sastrawan dan wartawan seperti berada di menara gading yang terisolasi dari dunia.


Kontrasnya, profesi wartawan dan sastrawan juga kadang dihargai berlebihan. Banyak orang yang spontan menyebut kata “wah, hebat” ketika mendengar kata “saya wartawan” atau “saya sastrawan”. Wartawan dianggap paling banyak tahu dan paling cepat tahu, sehingga dibanggakan sebagai penyaji fakta nomor satu. Sedangkan sastrawan dianggap paling peka terhadap sekelilingnya, paling mengerti kemurnian dan hakekat sesuatu, sehingga dibanggakan sebagai pengobat pilu yang membuat hidup tak lagi kaku.


Terlepas dari segala pro dan kontra yang ada, saya berani katakan pada dunia bahwa sastrawan dan wartawan adalah profesi yang saya pilih untuk masa depan. Lebih tepatnya mungkin saya ingin menjadi Presenter Berita sekaligus Penulis yang Kreatif dan Produktif. Mengapa saya memilih kedua profesi itu? Jawabannya sederhana : saya mencintai keduanya. Saya cinta. Itu saja. Saya suka menjadi orang yang “tidak normal”. Saya lebih menikmati punya jam tidur yang terbalik dan jam makan yang berantakan ketimbang harus melakukan rutinitas bekerja di kantor 8 jam sehari, datang pagi, pulang sore, menghadapi data dan komputer dengan melakukan hal yang itu-itu saja selama bertahun-tahun. Saya bisa mati bosan.


Untuk bisa berprofesi sebagai Presenter Berita kelak, saya telah menamatkan pendidikan Sarjana Strata Satu Ilmu Komunikasi Konsentrasi Ilmu Jurnalistik. Saya juga pernah aktif di Pers Mahasiswa sebagai Pemimpin Redaksi dan pernah menjadi kontributor untuk majalah musik selama satu tahun. Tapi ternyata gelar dan pengalaman itu belum cukup menjadi bekal saya untuk menembus stasiun televisi. Berulang kali saya ikut audisi presenter dan reporter tapi harus menerima kegagalan. Ini yang saya sebut usaha, dan saya tak akan berhenti untuk mencoba dan mencoba lagi dengan terus mencari kekurangan apa yang belum saya benahi.


Untuk bisa menjadi Penulis yang Kreatif dan Produktif, saya telah memulainya sejak tahun 2006 dengan menulis di berbagai situs internet. Karya saya pun menghiasi berbagai situs internet, baik artikel, puisi, dan cerpen. Satu puisi dan satu cerpen saya tahun ini dimuat di salah satu blog milik penerbit ternama. Saya juga aktif mengikuti berbagai kompetisi menulis. Meskipun belum pernah memenangkan kompetisi menulis apapun, setidaknya tahun ini kumpulan Cerpen berjudul “LUKA” sudah saya terbitkan sendiri secara selfpublishing. Buku kedua saya, Novel “Izinkan Aku Menyayangimu” rencana terbit bulan Januari 2011 masih tetap akan saya terbitkan secara selfpublishing. Mengapa saya memilih selfpublishing? Karena kedua buku itu telah DITOLAK oleh penerbit mainstream. Saya tidak ingin karya saya berakhir di tempat sampah, maka selfpublishing adalah solusi terbaik untuk menghargai karya saya sendiri. Saya tak lagi bicara komersialisasi karya, saya hanya ingin karya saya abadi, setidaknya untuk diri saya sendiri. Ini juga yang saya sebut usaha, usaha untuk menjadikan cita-cita atau impian itu bukan sekadar bualan. Sampai saat ini, selain kedua buku yang saya terbitkan sendiri, saya masih akan terus mengikuti berbagai kompetisi menulis dan akan terus mencoba menulis buku ke-tiga, ke-empat, hingga ke-sekian, yang akhirnya bisa diterbitkan oleh penerbit mainstream. Saya masih harus banyak belajar menulis. Ditolak penerbit dan kalah dalam kompetisi menulis bukan hambatan, tapi tantangan untuk jadi lebih baik dan lebih baik lagi.



Orang menyebutnya cita-cita. Ada pula yang menamakannya impian. Saya sendiri tak tahu harus menyebutnya apa. Yang saya tahu saya ingin bisa mewujudkannya suatu hari dan membuktikan pada dunia bahwa saya serius dengan apa yang ingin saya raih. Saya tidak diam, saya terus bergerak, meski kadang tertatih. Saya mungkin pernah jatuh, bahkan terluka, tapi ternyata itu semua membuat saya semakin kuat. Tak peduli dunia menggugat, saya akan terus mencoba dan berusaha sebelum sekarat. Kalau akhirnya semua tak akan pernah terwujud, saya akan tetap bahagia, karena setidaknya saya telah berusaha dan berdoa. Semua jadi hak prerogatif Tuhan untuk berkata ya atau tidak. Saya tak punya kuasa melebihi kuasa Tuhan.


Desember 2010,
@rosepr1ncess

Hidup Berdampingan

Oleh : Ikra Cendana Lintang
http://sedikitkisahkami.blogspot.com/

Kampung Pulo Gede, Gang Angsa.

Hujan yang turun rintik-rintik membuat malam itu lebih dingin dari biasanya. Beberapa genangan air membuatku memacu motorku sedikit pelan. Sekelompok muda-mudi dengan dandanan yang mentereng keluar dari istananya, siap untuk bermalam-mingguan. Tukang-tukang jajanan mulai tampak, jalanan sedikit ramai dengan orang-orang yang lalu lalang, mayoritas pengemudi sepeda motor. Di sebuah perempatan, di samping warteg, kumpulan para pemuda Kampung Pulo sudah banyak berdatangan. Sebuah TV yang diletakkan di atas rak yang menempel pada tembok warteg menjadi pusat perhatian mereka. Aku berulang kali mengendorkan gas, jalanan kampung yang sempit itu ramai dengan anak-anak singkong yang tengah bermain. Orang tua mereka pun tidak mau ketinggalan, kumpulan bapak-bapak paruh baya terlihat sedang asik berbincang seputar banyak hal. Rokok dan kopi teman setia mereka saat menghabiskan malam.

Aku menghetikan motorku disebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu besar, tepat di depannya ada sebuah balai, tempat aku dan teman-temanku nongkrong. Bodang adalah nama sang pemilik rumah. Pemuda yang cukup disegani di kampungnya, pemuda yang sudah menikah dan dikaruniai dua orang anak. Beberapa temanku sudah ada disana lebih dulu. Dholud, Ditya, dan Odet. Mereka bertiga sedang asik mengobrol ketika aku datang. Bodang sedang sibuk dengan motor kesayangannya. Mpok, (sebutan kamu untuk istri Bodang) sedang menonton TV di dalam, di sampingnya duduk seseorang yang berambut putih, mengenakan kemeja santai dan celana bahan. Dia adalah teman baik Bodang. Entah siapa nama aslinya, tapi aku dan teman-teman memanggilnya Baba.

Obrolan kami yang ngalor-ngidul membuat waktu bergulir dengan cepat. Hujan rintik-rintik yang sebelumnya turun, sekarang sudah berhenti. Suara knalpot motor yang tadinya mewarnai malam, sekarang sudah menghilang. Berganti dengan sunyi. Kami yang masih asik mengobrol memutuskan untuk pindah tempat, karena anak Bodang yang paling kecil ingin tidur. Dan kami tentu tidak ingin mengganggunya dengan obrolan dan ketawa-ketiwi kami. Kami beranjak dari teras rumah Bodang dan bergerak ke tempat Bodang biasanya berjualan minuman. Di bawah sebuah pohon rindang yang tumbuh membelah jalan menjadi dua bagian. Di depannya ada hamparan aspal luas yang multifungsi. Parkiran sekolah, lapangan bola lengkap dengan gawangnya, lapangan basket lengkap dengan dua buah ringnya, dan kadang menjadi tempat adu skill para bocah pecinta adu layangan.

Obrolan kami mengalun pelan. Sembari menghisap rokok, kami terhenyak pada sunyinya malam. Dingin dan langit mendungnya menyelimuti kami. Bulan hanya menampakkan sedikit sinarnya. Aroma mistis yang sedari tadi memang sudah terasa tak bisa disembunyikan. Daerah ini memang terkenal agak rawan. Gossip-gossip yang berhembus menyebutkan kalau daerah ini dulunya adalah kuburan Belanda. Ada juga versi yang menyebutkan kalau dulu disini adalah rawa yang banyak menelan korban. Tidak ada sumber yang jelas memang. Tapi beberapa rentetan peristiwa yang pernah terjadi disini membuat kami yakin kalau alam lain itu memang ada.

Obrolan kami sampai di titik jenuh. Tidak ada lagi yang melemparkan topik untuk dibahas. Aku, Dholud, Ditya, Odet, Bodang, dan Baba terdiam. Kami membiarkan pikiran kami pergi jauh melayang. Fokus kami hanya satu; lapangan multifungsi yang sepi itu. Tiba-tiba Baba yang diketahui memang "ngerti" hal-hal yang begituan memecahkan lamunan kami.

"Rame ya di lapangan...."

Solita

By: @kikiavicenna


Can't you hear what the wind tells you,
or see what picture the clouds paint?
They're giving you a sign,
but you don't seem to understand

Can't you feel how the cold air rises,
or how the sun hides from your sight?
They're all giving you signs,
but you don't seem to understand

Chorus:
She's there with sugary words,
she says you're her everything
But will she be there when it rains on your parade?
She's trying to be romantic,
she waits with arms opened wide
But will she be there right when you need her?

She may dance with you under the moonlight
She may give you roses and diamonds
But is it truly for you?
Or is there something else she's after?

She may waste her time to be with you
She may give everything she has for you
But is it truly love?
Is that love?

(Chorus)