Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 04 November 2010

Reuni Alam

Oleh: Naz Farawla
twitter @NinaFahmi


Sayup-sayup suara lonceng berbunyi di telingaku. Aku pergi ke tempat sumber suara. Ranting jatuh melukai benda mati. Biarkan saja. Bagaimana dengan benda hidup di dalamnya? Sudah bukan tugasku. Kutinggalkan tempat itu. Heh, kirain apa.
Aku terbang menuju Wasior. Kuhela nafasku ketika dia bilang Aku masih ingin main-main sebentar lagi. Seperti anak kecil saja. Tapi memang dia masih kecil. Makhluk air selalu tampak seperti anak kecil olehku. Aku tertawa mengingat bagaimana manusia sering mengatakan anak kecil suka main air. Bagaimana pun anak kecil memang selalu senang bermain dengan sesamanya.
Tapi sebentar. Tugasku bukan hanya memantaumu, bocah cilik. Bagaimana dengan para manusia? Aku melihat tubuh-tubuh makhluk sempurna itu tergeletak lemas. Beberapa puluh terbawa arus. Hey! Aku mulai menghitung. Satu…dua…lima puluh sembilan…sembilan puluh tujuh…seratus empat…seratus delapan! Apa yang kau lakukan? Eh..apa yang kulakukan? Katanya panik. Melihat raut wajahku berubah, ia bersiap-siap seakan ingin menangis. E..e..! stop-stop-stop. Jangan kau lakukan itu. Cukup. Aku tak marah, tapi sekarang juga hentikan permainanmu. Aku pun pergi meninggalkannya yang sedang berusaha keras menahan tangis. Kabar selanjutnya yang kudapat, jumlah manusia mati menjadi seratus tiga puluh empat. Memang susah berbicara dengan anak kecil.
Suara lonceng kali ini terdengar keras. Bersahut-sahutan. Ternyata dua lonceng. Sama-sama keras. Aku bergetar. Mengapa hal ini harus berlangsung begitu cepat dan berdekatan? Manusia takkan siap. Mentawai dimakan tsunami. Tsunami? Lagi? Oh…mengapa harus yang susah diurus?
Angin. Angin selalu tampak berwibawa. Ia selalu ada, menemaniku terbang di atas awan. Tapi angin panas ini tak membuatku nyaman. Bahkan manusia yang sakti itu dilahapnya. Aku tak ingin dekat-dekat. Ini diluar kuasaku. Tuhan kali ini memberiku tugas yang berat. Aku tak sanggup. Aku pun naik.
“Tuhan, tugasmu kali ini begitu berat untukku. Apalagi dengan penduduk dunia ini, para manusia itu. Mereka akan binasa.”
Atasanku itu tertawa. Dengan suara menggelegar bagai menyingkapkan tabir Dia berkata tegas. “AKU TAKKAN MEMBERI MANUSIA SUATU COBAAN YANG TAK BISA MEREKA SELESAIKAN.”
“Lalu, apa alasan Engkau memberi cobaan itu?”
“Alam. Mereka datang kepadaku dengan sebuah proposal perizinan.”
“Izin untuk membawa bencana?”
“Bukan. Izin untuk mengadakan reuni.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!