Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 13 Oktober 2010

Mr. Ice Dark Chocolate

Oleh: Danuria Paramastri


Everything does Happens for a reason
         
Hari minggu malam di sebuah coffee shop ternama, Bandung. Diluar hujan turun masih malu-malu.  Diantara suasana coffeeshop yang seramai biasanya, aku memilih untuk duduk di meja pojokan. Sebuah meja bundar dengan 2 sofa kecil yang cukup nyaman dan tersembunyi. Membiarkan hot macchiato caramel favorit mendingin dan kursi lain di meja ku kosong tak terisi. Menunggu si pengisi kursi satu lagi itu datang. Si pacar. Masih agak aneh sebenarnya menyebutkan itu. Mengingat bahwa orang ini baru sekitar 3 bulan menyandang predikat si pacar. Aku tidak sering menyebutkan kata itu dalam hidupku, mengingat aku si -tidak mudah jatuh cinta-. But, everything happens for a reason dan aku sangat percaya itu. Selalu ada alasan mengapa bukan beberapa nama sebelumnya yang akhirnya menyandang gelar -si pacar-. Khayalanku mulai melayang seiring dengan asap panas dari machhiato caramel ku yang terus mendingin.

Nama Pertama
          Sebut dia si X. Kalau dia yang menjadi pengisi kursi itu, dia akan memesan kopi hitam polos. Kopi hitam yang biasanya dipesan bapak-bapak. Tapi itu emang dia. Apa adanya, tentram dan damai. Terlalu tentram, sehingga mengopi bersamanya, pasti hanya akan didominasi oleh celotehanku saja. Dia hanya akan tersenyum, menanggapi seadanya. Dia bukan sosok dingin, cool, yang sering digambarkan sebagai tokoh idola komik/novel. Dia cuma merasa ngga perlu ngomong terlalu banyak. Dibandingkan dengan cowok seumurannya yang lain, dia terlihat lebih mature.
          Tapi, mengopi bersamanya sepertinya bukan pilihan yang tepat. Seiring dengan habisnya machiatto dan bahan obrolan, aku akan mudah bosan. Tidak peduli betapa suka nya aku dengan orang itu.
” kamu sendiri hari ini ngapain aja?”, tanyaku mulai kehabisan bahan pembicaraan
“emm. Nothing’s fun. Biasa aja. Dengerin kamu lebih seru kok.  Jadi?”
Errghhh please!! 
Nama Kedua
          Sebut dia si Y. Dia ngga suka kopi. dia pasti memilih raspberry blended yang rasanya seru. Sama seperti dirinya. Selalu seru kalo ngobrol sama orang ini. He always have something new to share and it’s interesting! Cerdas dan berwawasan luas. He was someone I always adored with. Tinggi, berperawakan tegas, dan bermata coklat yang bisa bikin cewek-cewek ngga bosen ngeliatin mukanya.
          Tapi justru itu alasannya! Dia sadar banget dirinya adorable. He cares most about himself and less about me. Duduk-duduk sama dia jadi ngga seru lagi, kalo selama berjam-jam, dia tetep seru sendiri cerita prestasi nya apa, blablabla.
“ehmm aku masih haus deh. Pesen kopi lagi apa-apa nggak ya buat maag aku?“, tanyaku
„eh? Terserah kamu aja. Oiya kamu musti tau juga tadi dosen ku bilang my presentation was excellent! Padahal aku ngerjainnya nggak niat-niat amat...blah blah blah“
STOP IT, DEAR YOU BROWN EYES! Beriiisiiikk tauuuk situuu!

Nama Ketiga
          Sebut dia si Z. Perpaduan yang super lengkap dari dua nama diatas, dia juga fun dan seru dengan semua keanehan dan kejayusannya. Herannya aku tetep bisa ketawa seneng sama dia. Tapi ngga berarti dia cuma fun doang. Dia juga pinter dan concern banget sama hal-hal mengenai kuliah dan organisasinya itu.
          Kind of perfect figure, unless he’ll become sooo busy dan pasti menomorsatukan semua hal-hal organisasinya itu. Bukannya akan ada disini, mengisi kursi kosong di mejaku, namanya justru mungkin hanya akan muncul di inbox hp ku.
From: si Z
Sorry cannot be there for now dear. Ada penutupan acara aku kemaren. I need to be here.. Takecare
Dan bisa ditebak kemudian endingnya. Aku tetap sendirian disana, dengan macchiato tersayang. OH NO PLEASE!!

Nggak ada yang terdengar menarik dari ketiga khayalanku tadi. Everything happened for a reason masih menjadi quotes terfavorit ku. Walaupun ngga ada yang sempurna, tapi setidaknya aku harus bisa tahan sama kelakuan pacarku sendiri. Khayalanku kemudian terusik dengan sebuah toyoran halus di kepalaku. Si orang ini yang kemudian menduduki kursi kosong ku tadi. Itu dia!

Nama Keempat.
          Si pacar. Dia datang dengan senyum super usilnya. Senang mungkin pikirnya sukses membuat ku terhenyak kaget. Dia datang lengkap dengan minuman coklat nya. Dia suka coklat. Sangat. Apalagi dark coklat yang masih agak pahit, tapi tetap masih sangat enak untuk dinikmati.  Seperti dark coklat yang pahit, dia galak. Tapi seringkali galaknya justru membuatku aman. Sangat hobi mengeluarkan lelucon-lelucon yang sangat tidak lucu, Tapi toh aku masih juga sering dibuatnya tertawa. Even there’s usually no sweet words from him, his grasp proved it all. More than enough. He loves me that big. He cares. He stole mine.

”lama banget sih situ datengnya!”
”heheh. Maaf ya. Ngomong-ngomong, ini udah gelas kopi yang keberapa hah hah?”
”baru satu kok, kenapa?”
”Kasian perut situ dong kalo kebanyakan. Jadi, ngapain aja tadi situ nunggu sini dateng?”
”ada deh!”
”ih kebiasaan deh jawabnya, trus sekarang kenapa situ senyam-senyum?”
”nothing. Ehmm...  i’m glad it’s you”, jawabku sambil tersenyum lebar dan membiarkan dia sedikit bingung. Pada akhirnya dia hanya pasrah sambil ikut tersenyum, ketika mendengar jawabanku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!