Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 28 Oktober 2010

Surat untuk Orang Asing

Oleh Stephie Anindita




Hai orang asing,
Apa kabarmu? Dimanapun kamu berada saat ini, aku berharap kamu baik-baik saja dan selalu dikelilingi orang-orang yang bisa menjagamu, karena ... sudah jelas sekali kalau saat ini aku tidak bisa lagi menjagamu. Kita sudah tidak tahu lagi dimana posisi kita di dunia ini, berapa kilometer atau jam perjalanan kita terpisah. Mungkin saja pada jarak antara kita terbentang Selat Sunda? Laut Jawa? Atau hanya sekedar jalan tol Pantura? Ah, maaf, maaf ... pikiranku mulai ngelantur ... aku bahkan enggak bakalan tahu kalaupun saat ini kamu berada di rumah yang terletak tepat di belakang rumahku! Jadi... lebih baik kita enggak usah membahas lagi soal jarak oke?
Aku hanya ingin berkata, terimakasih kamu sudah mampir dalam hidupku, walau sejenak. Sayang kita enggak punya kesempatan untuk mengobrol terlalu banyak, ya ... jujur banyak yang ingin aku ceritakan padamu, tapi aku enggak pernah tau gimana caranya. Aku bukan tipe orang yang bisa bebas lepas bicara  dan di situasi ini ... tidak mungkin sekali bagi aku untuk melibatkan emosiku terlalu jauh. Bagaimanapun juga, kamu muridku dan aku ini gurumu ...
Kamu ingat pertama kali kita bertemu? Ketika itu sebenarnya perasaanku sedang kacau. Seminggu sebelum aku datang ke rumahmu, aku baru saja didamprat oleh seorang orangtua murid yang menganggap aku tidak becus mendidik anaknya. Anak didikku mati bunuh diri, karena frustrasi terus-terusan diejek oleh teman-teman, disindir oleh guru sekolah dan dimarahi orangtuanya karena tidak bisa membaca dan menulis. As unfair as it might seems, menurut orangtua muridku itu, satu-satunya pihak yang paling potensial untuk dipersalahkan adalah aku.
Ketika itu, memang teman-temanku membelaku dan mengatakan kalau apa yang terjadi itu bukan salahku. Tapi tetap saja kejadian itu menikamkan luka yang kutahu tidak bisa sembuh dengan mudah begitu saja.
Aku sempat bolos mengajar selama berhari-hari, pulang ke rumah orangtuaku dengan harapan bisa melupakan kejadian itu. Tapi sampai hari aku kembali mengajar, rasa bersalah itu tetap menghantui. Kata-kata makian yang aku terima tetap menggema dalam otakku, walaupun orangtua muridku itu sudah datang dan meminta maaf padaku. Luka itu tetap ada. Dan aku enggak tau gimana cara menemukan ‘remedy’ yang pas, setidaknya untuk mengurangi rasa sakitnya.
Saat itulah, kamu datang dalam hidupku. Kamu, murid baru pertama yang aku terima setelah kejadian itu. Tadinya aku menyangka kamu akan seperti murid-muridku yang lainnya, seperti orang-orang asing yang datang dan pergi dalam hidupku. Aku sama sekali enggak menyangka kalau kamu akan menjadi orang yang sulit untuk aku lupakan. Menjadi orang asing yang terindah dalam hidupku hingga saat ini. Oh God, it sounds SOOO cheesy! But that’s the fact.
Aku tahu kamu punya latar belakang yang sulit, karena aku sempat membaca sedikit tentang hasil psikotesmu sebelumnya. Tapi saat aku melihat senyummu, bagaimana kamu mencoba untuk tampak tetap berani dan tegar di depanku, aku merasakan perasaan sayang yang mulai tumbuh untukmu. Aku tau, itu tidak pantas tapi ... itulah kenyataannya. Aku sayang kamu.
Aku enggak tau bagaimana caranya menggambarkan arti kehadiranmu dalam hidupku. Aku enggak mau terdengar corny karena menggombal. But let me put it this way ... your presence is one of the reasons for me to hold on with my life. Every smile, every laughter, every simple conversations we shared ... giving me strength in some ways I cannot explain to you. Dan aku betul-betul menyukai senyum dan tawamu, bagaimana mata beningmu menyipit namun berbinar ceria, suara tawamu yang usil dan sering membuatku gemas... dan aku selalu bersyukur setiap kali aku menjadi alasan kamu tersenyum atau tertawa.
Kadang aku menyadari kalau kamu sedang merasa sedih. Dan setiap kali melihat mendung di matamu, aku ingin sekali bisa mengenggam tanganmu dan membiarkanmu menceritakan semua yang meresahkan hatimu. Aku ingin kamu tahu kalau kamu enggak sendiri, aku ada di sini. Aku sayang kamu dan aku ingin menjagamu ...
Tapi itu enggak bisa aku lakukan. Aku enggak berani. Aku takut tanpa sengaja aku mengungkapkan perasaan sayangku dan menyalahi kode etik antara murid dan guru. Jadi yang bisa aku lakukan hanya berpura-pura semuanya baik-baik saja, tetap tersenyum dan mengajar seperti biasa, walau dengan hati resah melihat dan merasakan kesedihanmu.
Aku enggak berharap bisa menjadi ‘dia’ yang kamu nanti-nantikan untuk menjaga hatimu, karena aku tau itu enggak mungkin. Yang aku inginkan hanya bisa bersama kamu, itu aja.
Tapi ternyata enggak mungkin ya ...? I should have known. Sooner or later, we’ll become strangers once more ... but I never thought it would be this fast ...
.... and this hard ...   
Tau-tau saja kamu memutuskan untuk pergi merantau. Memilih jalanmu sendiri. Kamu pergi begitu saja. Kita bahkan belum sempat mengucapkan ‘a proper goodbye’ satu sama lain. Tapi yah ... mungkin, itulah yang terbaik. Bayangkan saja, berpisah dengan cara begini saja aku sudah sering menangis setiap kali mengingatmu, bagaimana kalau kita betul-betul berpisah seperti di drama-drama itu?
Iya, orang asing ... aku menangis saat kamu pergi. Dan tidak hanya sekali, beberapa kali. Terutama kalau aku sedang bersiap-siap pergi mengajar dan sadar kalau aku tidak akan bertemu denganmu lagi.
Oke stop, pandanganku mulai kabur ... aku mulai menangis lagi. Sial ... padahal sudah 3 minggu berlalu sejak kita kembali menjadi orang asing. Mungkin saat ini kamu sudah tidak lagi mengingat-ingatku. Gimanapun juga, kehadiranku kan berhubungan dengan hal yang kamu benci: fakta tentang kesulitan membaca dan bagaimana kamu membenci kewajiban untuk mempelajarinya dengan segala tekanan orang-orang di sekitarmu. Mungkin kamu akan senang untuk melupakanku.
Tapi itu tidak apa-apa, orang asing. Benar. Aku akan berusaha untuk tidak berlama-lama menyesali kenyataan bahwa ini sudah berakhir, tapi ... aku akan mencoba tersenyum dan mensyukuri kenyataan bahwa semuanya pernah terjadi. Aku mencoba menganggapmu sebagai ‘malaikat’, yang datang untuk ‘menyelamatkan’ kewarasanku saat itu, menenangkan jiwaku dan sekarang ini kamu memang harus ‘terbang’ lagi ke tempat lain. Mudah-mudahan dengan begitu aku bisa lebih mengikhlaskan perpisahan kita ini dan tidak terus-menerus menyimpan kesedihanku ini.
Mudah-mudahan suatu hari nanti kamu mampir lagi ke hidupku, ya? aku akan selalu menunggu-nunggu saat dimana aku akan mendengar suaramu memanggil namaku lagi, dimana ketika aku berbalik aku melihat bening indah matamu dan senyuman manismu di hadapanku. Nyata, dan tidak segera hilang saat aku berkedip.
Jaga dirimu dimanapun kamu berada, malaikatku, orang asing ... aku akan mendoakanmu selalu.

Salam sayang,

Orang asing yang pernah mampir di hidupmu. 

Aku menghapus air mata yang masih tersisa di wajahku. Kugerakkan cursor ke sudut kiri atas, untuk men-save tulisan itu. Save as, ‘surat untuk orang asing’.  Setelah itu, aku matikan laptop dan bersiap-siap menutup hari itu. Aku mengambil sehelai kertas origami, dan membuka file lain di komputer yang berisi cara membuat bangau kertas. Sebelum mulai melipatnya, aku menulis sesuatu di bagian putih dari kertas origami itu.
Semoga Raka selalu baik-baik saja.
Lalu aku mulai melipat kertas itu menjadi bangau kertas, melubangi bagian atas tubuh bangau kertas itu dengan jarum, memasukkan benang dan menggantungnya di kusen jendela kamarku. Sudah ada puluhan bangau kertas di sana, semuanya dengan isi permohonan yang sama.
“Jaga dia, dimanapun ia berada ...” bisikku lirih.
                Setelah itu, aku mematikan lampu kamar dan bersiap-siap tidur. 

2 komentar:

  1. Farida Susanty29 Oktober 2010 17.22

    Heartbreaking. Suka cara penyampaiannya.

    BalasHapus
  2. thank u, Far :) :) hehehe ... i'm glad you like it ;)

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!