Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 02 November 2011

Aku, Dan Perawat ICU

Oleh: Firah Aziz (@firah_39)
firahaziz.wordpress.com


Ini kali ketiga aku berada di ruang ICU. Aku mulai terbiasa dengan bau obatnya, teriakan-teriakan keluarga yang kehilangan anggotanya atau jerit kesakitan pasien. Pemandangannya pun sudah aku hafal dengan baik, perawat-perawat berpakaian putih,dokter berpakaian jaga..ah semuanya menjadi biasa bagiku.

Kamar isolasi ini juga mulai menjadi kamar keduaku. Terpisah dari pasien lain karena penyakitku merupakan penyakit autoimun, yang berarti tubuhku sendiri lah yang membuatku sakit. Dokter bilang nama penyakitku Myasthenia gravis, penyakit dimana otot-ototku lumpuh karena antibodi yang aku miliki menghambat ototku untuk bergerak normal.

Mengapa harus aku yang mengalami sakit ini? Di saat aku mulai menyukai kegiatanku sebagai atlet, penyakit ini menyerangku. Kenapa hidup ini terasa tidak adil? Aku mulai membenci keadaan ini dan menyalahkan takdir.

"Hey, apa kabarmu hari ini?" Seorang perawat menghampiri tempatku terbaring. Penampilannya simpatik, seulas senyum merekah di bibirnya. Membuatku mau tak mau berusaha membalasnya.

Dia memang selalu menemaniku ketika keluargaku sedang beristirahat dan tidak ada yang menemaniku. Setiap kali aku masuk ICU, pasti dia menyempatkan diri untuk menyapaku.

"Tidak ada yang berubah. Aku masih terbaring di sini. Terjebak dengan ketidakberdayaanku."

"Jangan menyesali keadaanmu. Semua yang terjadi pada diri kita memiliki alasan. Ini hanya salah satu bentuk cobaan kehidupan, kamu harus kuat." Suaranya menenteramkan. Hingga aku lupa untuk terus mengutuk ketidak adilan hidup ini.

"Sebenarnya apa tugasmu? Aku tidak pernah melihatmu melakukan tugas seperti perawat lain." Akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya.

"Tugasku hanya membawa orang-orang yang dinyatakan siap untuk keluar dari ruangan ini. Aku membawa mereka ke tempat yang lebih nyaman."

"Kapan kau akan membawaku pergi keluar? Aku sudah muak terkurung di tempat ini."

"Tidak sekarang. Nanti saat kamu telah cukup kuat, aku akan mengajakmu pergi. Sekarang minum obatmu dan berusalah untuk berhenti menyalahkan apa yang terjadi pada dirimu."

Setelah membantuku meminum obat, perawat itu pergi keluar ruangan. Aku masih memikirkan apa yang dia katakan tadi. Apa benar semuanya terjadi karena alasan tertentu? Apa benar ini cobaan yang harus aku taklukkan? Aku terus memikirkannya hingga efek obat yang ku minum bekerja. Aku jatuh terlelap.

Di mimpiku, aku bertemu lagi dengan perawat yang tadi.

"Tuhan adalah penulis skenario yang terbaik. Jangan pertanyakan apa yang telah ditetapkan-Nya untuk umat-Nya. Jalani saja dan suatu saat kamu akan mengerti apa arti dari semua yang terjadi kepadamu."

°°°°°°°°°°°

Aku masuk ICU lagi. Kali ini keadaanku makin parah. Otot-otot pernafasanku mulai melemah. Karena itulah mereka membawaku ke sini lagi. Untuk mendapatkan cuci plasma. Mereka mencuci plasma darahku dari antibodi yang terlalu banyak bekerja sehingga otot-ototku melemah dan kaku.Selain otot wajahku yang menjadi kaku, tubuhku juga mulai lumpuh.
"Hey kita bertemu lagi." Perawat itu mencoba menghiburku.

Aku hanya terdiam. Nampaknya aku tidak akan pernah dibawanya keluar dari kamar ini. Kondisiku semakin lama semakin memburuk.

"Tidak, kau pasti akan keluar dari kamar ini. Jangan patah semangat begitu."

Hey bagaimana kau bisa membaca pikiranku? Padahal wajahku sekalipun tidak dapat berekspresi.

"Entahlah. Terlalu lama di sini membuatku memiliki kelebihan. Aku bisa membaca pikiran orang." Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya.

Kau fikir aku akan keluar dari ruangan ini?

"Tentu. Bukankah aku sudah bilang. Ketika kau sudah siap pasti aku akan membawamu."

Yah aku tahu. Aku sudah terlalu lama merepotkan keluargaku. Seandainya aku matipun aku siap. Setidaknya aku dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaiku,bukan?

"Ya. Inti dari hidup ini memang untuk menjadi ikhlas atas ketetapan Tuhan. Aku rasa begitu."

Aku mencoba tersenyum. Lalu aku bertanya kembali. Pasti setiap orang yang kau bawa pergi selalu senang ya?

Dia tertawa sebelum menjawab pertanyaanku. "Anehnya, justru masih saja ada orang yang tidak mau keluar. Aku rasa mereka takut akan tempat baru. Beberapa diantara mereka malah harus aku ikat karena terus meronta-ronta."

Aneh sekali. Padahal mereka akan menuju tempat yang lebih menyenangkan.

"Cepatlah sembuh, maka kau akan aku bawa ke sana."

Aku mengiyakan dalam hati dan tertidur. Kali ini aku tertidur agak lama. Mungkin pengaruh obat.

Keesokan harinya aku terbangun saat suara gaduh muncul di sekitarku. Aku melihat sekeliling, dokter dan perawat tampak sibuk di dekatku. Aku bisa melihat kepanikan di wajah mereka. Salah seorang perawat menyuntikkan obat bius ke lenganku dan aku kembali terlelap tidak sadarkan diri.

"Akhirnya kamu siuman juga." Suara itu tidak asing bagiku.

Aku mencoba berbicara, tapi tidak ada suara yang keluar dari mulutku.

"Beberapa hari yang lalu kondisimu memburuk."

Tidak, berarti aku tidak akan bisa keluar dari tempat ini secepatnya.

"Waktu untukmu meninggalkan tempat ini akan tiba."

Aku tersenyum. Kali ini wajahku sudah tidak terlalu kaku.

Perawat itu menatap jam dinding di kamarku. "Baiklah, waktunya telah tiba. Pegang tanganku, aku kan membawamu pergi dari sini."

Bagaimana mungkin aku bisa pergi dari sini. Bergerak saja aku sama sekali tidak bisa. Mana mungkin aku bisa dipindahkan. Setidaknya kau harus membawaku dengan kursi roda.

"Percaya padaku. Sekarang bangunlah dan cobalah untuk berjalan. Aku akan membantumu." Dia menggenggam tanganku dan membantu aku bangun.

Dengan ragu-ragu aku mencoba untuk kemudian berjalan. Ajaib, aku bisa berjalan seperti dulu. Aku hampir saja melompat kegirangan. Tapi aku tahan. Hanya tersenyum lebar.

Dia tersenyum dan terus menggenggam tanganku sementara aku berjalan di sampingnya.

"Tidak buruk kan untuk menunggu sampai waktunya tiba? Aku senang kamu juga tidak lagi mempertanyakan takdir. Aku yakin kamu sekarang mengerti maksud dari apa yang dulu aku katakan kepadamu."

Aku mengangguk dan tersenyum.

Tiba-tiba aku sadari kegaduhan di lorong rumah sakit ini. Beberapa perawat berlari menuju ruangan tempatku tadi. Aku kemudian berbalik dan melihat. Aku melihat sesosok tubuh yang sangat mirip denganku terbaring di ranjangku.

Aku bertanya pada perawat yang membawaku. Sedikit-sedikit aku mulai paham.

"Siapa namamu? Kau belum pernah memperkenalkan namamu padaku."

Dia menjawab singkat, "Izrail."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!