Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 29 November 2011

Ritual

Oleh: @nainiania (Nathania G.)

“Apa yang sedang kamu pikirkan sekarang?”



Aku hanya diam ketika pertanyaan itu akhirnya terlontar keluar dari bibirmu. Kupandangi kamu dengan tatapan kosong, karena sejujurnya, aku sudah bosan menjawabnya. Hasratku untuk menjawab pertanyaanmu sudah hilang. Kosong. Nol. Nihil.



Apa sih yang membuatmu menanyakan apa yang ada di benakku? Kamu selalu saja begitu. Kamu tak pernah berubah sedikitpun sejak perjumpaan pertama kita. Ironis, karena pertanyaanmu yang sekarang membosankan aku itulah yang membuatku tertarik padamu. Dulu.



Masihkah kamu ingat saat kita pertama kali berjumpa? Lima tahun telah berlalu, namun ingatan akan pertemuan pertama kita masih kuat terpatri dalam benakku. Bagiku, mengingat-ingat peristiwa bersejarah kita itu sama halnya seperti menonton film. Aku dapat melihatnya dengan jelas di pikiranku. Sejelas aku melihat sosokmu di hadapanku saat ini.



Aku ingat dengan jelas hari itu. Di taman itu. Kesendirian itu. Luapan emosi yang dulu kutumpahkan padamu. Kesabaranmu menghadapiku. Tatapanmu yang meredakan emosiku yang meletup. Dan akhirnya, perkenalan kita. Tentu aku masih ingat semua itu.



Sebenarnya kisah itu sederhana. Bahkan, kalau diingat kembali, kata yang kugunakan untung melukiskan pertemuan kita adalah lucu. Ya, lucu. Bisa-bisanya kamu menghampiri aku hari itu. Aku, yang hari itu duduk sendirian di bangku taman favoritku! Aku, yang saat itu mencari solusi dari setumpuk permasalahan yang kuhadapi. Meratap. Merenung. Menjauh dari keramaian. Kesepian memang, terutama karena aku bukanlah orang yang suka sendirian.



Diputuskan pacar. Dikhianati sahabat. Orangtua yang setiap hari bertengkar. Klise memang, tapi itulah masalahku saat itu. Kemana aku harus mengadu, menurutmu? Kemana aku harus menumpahkan segala emosi yang kurasakan? Kemana? Ya, aku tak bisa bercerita. Tak ada yang ingin mendengarkan pikiranku. Tak ada yang pernah menanyakan pendapatku. Dan aku mulai terbiasa hidup dalam kesunyian dan kesendirian. Saat itu.



Dan kamu tentu tahu, kutumpahkan segala emosiku dalam tulisan. Huruf demi huruf yang kutulis menampakkan kesedihanku. Kata demi kata yang tercetak melambangkan kesepianku. Kalimat demi kalimat melukiskan rasa frustrasiku yang tak mampu terucapkan. Paragraf demi paragraf menggambarkan rasa cinta dan benci yang kurasakan terhadap sekelilingku. Dan akhirnya, karangan demi karangan menampakkan jiwaku.



Namun, semua itu tidaklah cukup. Dan seakan memenuhi kebutuhan jiwaku, hari itu kamu datang dan menghampiriku. Kamu mengamatiku sekilas, mencoba membaca wajahku. Mencari, menganalisis. Mencoba membaca dan mengerti isi hati dan benakku. Dan akhirnya kamu menyerah. Pertanyaan itu, pertanyaan legendarismu itupun terlontar keluar dari bibirmu. Melambangkan rasa ingin tahu mu. Melukiskan kepedulianmu.



Ya! Pertanyaan itu! Kamu menanyakan apa yang sedang aku pikirkan saat itu. Kamu, yang saat itu sama sekali asing bagiku. Sederhana, namun itulah obat yang dibutuhkan jiwaku saat itu. Pahit memang, apalagi ditawarkan oleh seorang asing sepertimu. Namun anehnya, saat itu aku menyambar pertanyaan itu. Kuluapkan segala emosi yang ada dalam hatiku saat itu. Semua, tanpa tersisa.



Segala hal yang membentuk emosiku kupaksa keluar, kuberikan semua padamu. Dan dengan kesabaran yang luar biasa, kamu menerima semuanya. Menelannya bulat-bulat, bahkan sebelum kamu mengetahui namaku. Tatapanmu tetap teduh hingga akhir ceritaku. Bukannya marah ataupun menatapku dengan pandangan aneh, kamu malahan menenangkan aku. Setelah emosiku stabil, baru kamu berani mengajakku berkenalan. Membuatku kehilangan kata-kata.



Sejak itu, kamulah inspirasiku. Bukan lagi kesedihan, kesepian, maupun rasa frustrasi yang kurasakan yang membentuk tulisanku. Di dalam tulisanku hanya ada kamu. Kamulah jiwaku.



“Kamu itu nggak pernah bosan ya, bertanya seperti itu?” Akhirnya, setelah jeda yang cukup lama, akupun membalas pertanyaanmu dengan pertanyaan. Seperti biasa.



Kamu terkekeh pelan, menatapku dengan tatapan yang bersinar jahil. Menggoda. “Tentu saja tidak, sayang. Aku nggak akan pernah bosan bertanya, karena aku nggak akan pernah bosan mendengar jawabanmu.”



Nah. Inilah yang menghilangkan hasratku untuk menjawab. Kamu selalu saja senang membuat wajahku merah padam. Membuatku malu setengah mati untuk menjawab pertanyaanmu. Aku mendesah pelan sebelum akhirnya menjawab, “Kamu kan sudah tahu jawabanku. Kalau kamu nggak bosan, lama-lama aku yang bosan! Kamu kan tahu aku nggak terlalu suka pamer romantisme seperti ini.”



Kamu menatapku dengan tatapan memelas seperti biasa, sebelum akhirnya menanyakan pertanyaan terakhir dari ritual kita berdua. Ritual favoritmu, tentu saja.



“Ayolah, sayang. Aku ingin mendengar jawabanmu. Masa kau tega sih membiarkanku merana begini?”



Aku mendesah, dan mengakhiri ritual kita dengan wajah merah padam.



“Tentu saja aku memikirkanmu. Kan kamu ada di depanku. Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan jiwaku saat ia ada di hadapanku? Tapi tentunya kamu sudah tahu itu, bukan?”



Dan kamu pun tersenyum puas setelah membuatku menyerah kalah, membuatku menyuarakan jawaban favoritmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!