Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 10 November 2011

Sunday Morning

Oleh: Khairunnisa Putri K (@Pupuutc)




Alunan lagu Fireworks dari Katy Perry membuatku terjaga seketika. Kamarku tak lagi gelap meski aku tak pernah lupa mematikan lampu. Meskipun begitu, tak ada sinar matahari yang menembus masuk melalui jendelaku. Dengan mata masih sarat kantuk, aku beranjak dari tempat tidurku yang nyaman dan menyingkap tirai berwarna pastel di samping meja belajar.

Gerimis.

Aku kembali bergelung di tempat tidurku, memeluk guling dan bersembunyi di bawah selimut. Tanganku meraih ponsel. Selama lebih dari lima menit, pandanganku terkunci pada layar mungilnya. Tak peduli berapa kali pun aku mengingkarinya, harapan itu masih ada. Masih sangat kuat mengakar pada hati dan benakku. Namun, yang kutunggu tak kunjung datang. Tak ada vibrasi singkat pada ponselku maupun pesan masuk darimu.

Kesal, kulangkahkan tungkaiku keluar kamar. Livia, adik perempuanku, tampak sedang menikmati hidangan paginya, sepiring pisang goreng yang masih hangat. Aku menarik kursi di hadapannya.

“Tumben Kak Anti jam segini udah keluar kamar, biasanya masih tidur-tiduran di kasur, teleponan, ketawa-ketawa sendiri sampai jam sepuluh,” ujarnya membuka pembicaraan. Sudah hapal betul tabiatku.

Aku melirik jam dinding di ujung ruangan. Jarum jamnya menunjukkan pukul enam lebih lima belas. Memang agak terlalu pagi bagi seorang aku untuk duduk di meja makan dan bergabung dengannya. Aku tersenyum simpul.

“Emang kamu nggak tahu?” tanyaku. Tentu saja Livia tidak tahu.

Kening Livia berkerut sesaat kemudian menggeleng clueless. “Ngga tahu, emang apaan sih Kak yang harus aku tahu?”

Aku hanya angkat bahu dan mengedip jahil. “Ada deh,” ujarku seraya bangkit berdiri. Aku mencomot sebuah pisang goreng dan berjalan kembali ke kamar.

Lagi-lagi aku terpaku menatap ponselku. Aku benci diriku yang tuerus-menerus menunggunya. Detik berikutnya, kuletakkan ponselku di meja belajar yang jauh dari tempat tidur dan berpikir. Pagi ini sangat berbeda dengan pagi-pagiku sebelumnya.

Biasanya, Adrian selalu mengirimiku sms selamat pagi dengan kata-katanya yang sederhana dan manis. Kemudian, ia akan meneleponku dan kami akan menghabiskan sepanjang pagi berbincang dan tertawa mengenai apa pun. Sering kali kami membicarakan pagi. Ia akan menceritakan pagi harinya di Bali dan aku akan menceritakan pagi hariku di Jakarta.

Mengapa pagi? Karena kami sama-sama menyukai pagi. Waktu dimana matahari belum naik ke singgasananya, burung-burung berkicau lembut, udara sejuk menyusup melalui ventilasi kamar, dan bertetes-tetes embun mampir di jendela kami. Sekarang, setelah Adrian tak lagi menjadi milikku, rasanya aku benci pagi.

Aku menyalakan televisi, channel 271, MTV Asia. Mereka sedang menayangkan video klip lama lagu Sunday Morning milik Maroon 5. Kudengarkan liriknya baik-baik dan sampai pada baris dimana aku hampir menangis.

But things just get so crazy living life gets hard to do
And I would gladly hit the road get up and go if I knew
That someday it would bring me back to you
That someday it would bring me back to you

Air mataku jatuh dan membasahi bantal winnie the pooh-ku, salah satu hadiah dari Adrian. Mungkin seterusnya, seperti inilah pagi yang harus kulewati tanpa adanya ia di dekatku. Entah harus berapa kali kudengar lagu ini sampai hatiku benar-benar terbiasa tanpa dirinya.

***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!