Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 18 Desember 2011

Di Balik Tanda Baca.

Oleh: Amariys (@amari_ys)


Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik. Entah mengapa. Mungkin karena tanda titik memang menunjukan akhir dari suatu kalimat. Akhir dari apapun. Tanda titik berarti kita harus berhenti. Kemudian, melanjutkan membaca ke bagian kedua atau berikutnya. Lucu, menurutku. Kalau seandainya kita masih dapat melanjutkan kisah dengan membaca bagian berikutnya, bukankah berarti tanda titik tidak diperlukan? Mengapa mereka tidak menggunakan tanda elipsis (...) saja, untuk menunjukkan bahwa, hey, cerita ini masih berlanjut!
Mungkin karena elipsis jarang digunakan atau justru karena tanda baca ini sering digunakan untuk menunjukkan kebingungan. Mana mungkin ada pengisah yang mau mengakhiri ceritanya dengan tanda yang seolah menunjukkan bahwa mereka tak bisa menemukan akhir yang tepat untuk kisah mereka sendiri, ‘kan?
Hm. Coba lihat di sana! Paragraf sebelumnya diakhiri dengan menggunakan tanda tanya dan bukannya titik! Suatu kemajuan. Mungkin ini berarti akan ada lebih banyak kisah-kisah yang diakhiri tidak dengan tanda titik. Karena, sungguh, menurutku pribadi, tanda titik itu membosankan. Ia menjemukan. Maksudku, jika kau bertemu tanda titik, kau sudah tak dapat melakukan apa-apa lagi. Tanda itu seolah menjadi konklusi mutlak. Saklek. Begitulah seharusnya dan tak boleh lagi ada kemungkinan-kemungkinan lain yang muncul selain apa yang diberikan oleh sang dalang cerita. Menjemukan sekali. Lebih baik menggunakan tanda tanya. Dengan begitu, para pembaca akan tergugah untuk memikirkan ribuan kemungkinan yang dapat menjadi akhir dari suatu cerita. Bukankah akan lebih menarik seperti itu? Tapi ... lagi-lagi, mungkin memang tidak ada pengisah yang ingin terlihat bodoh. Terlihat seolah mereka tak dapat mengikat seluruh benang-benang kejadian yang mereka sendiri jalin dan pilin dengan hati-hati, sehingga mereka hampir selalu—untuk tidak menyebutkan selalu, karena tak ada orang yang mungkin bisa membaca semua buku yang ada di dunia untuk membuktikan teori ini—menyelesaikan kisah mereka dengan tanda titik.
Jadi, jika elipsis dan tanda tanya tak dapat digunakan karena akan menunjukkan kebodohan pengisah yang pongah, bagaimana jika menggunakan tanda seru? Ya, tanda seru! Bukankah tanda itu juga bisa digunakan sebagai tanda berhenti? Lagipula, tanda seru jauh lebih menarik dari tanda titik! Coba saja! Setiap kali kau melihat tanda seru, pasti di dalam hatimu timbul suatu sentakan, suatu keinginan untuk meninggikan suaramu saat membaca. Ya, tanda seru memiliki energi yang lebih besar daripada tanda titik! Tanda seru menunjukkan suatu perintah, suatu epiphany—saat di mana seseorang menyadari sesuatu dan, seolah, mendapatkan pencerahan. Bukankah tanda seru jauh lebih mengagumkan daripada tanda titik yang membosankan? Kenapa tak juga ia dapat menyaingi popularitas tanda titik sebagai Tanda-Baca-Yang-Paling-Banyak-Digunakan-Di-Akhir-Cerita? Sungguh, kebanyakan pengarang hanyalah orang-orang kaku yang mencoba untuk menjadi kreatif.
Ah, sudahlah. Tak ada gunanya membahas hal ini lagi. Toh, tak akan ada yang berubah. Sebagian besar penulis kisah akan tetap setia kepada si tanda titik yang menjemukan. Tak pernah mencoba memanfaatkan tanda baca lainnya yang, sebetulnya, mengantri menunggu giliran mereka digunakan. Terkadang, aku bertanya-tanya, apa mungkin para penulis kisah mengakhiri rangkaian kata mereka dengan tanda titik hanya karena penggunaannyalah yang paling mudah untuk dipahami? Semua orang tahu bahwa tanda titik mutlak diletakkan di akhir kalimat. Penutup. Karena itu mereka terbuai oleh kebiasaan dan tak mencoba melakukan hal yang baru. Mereka hanya menjadi pengikut, seperti domba-domba tak berotak yang hanya bergerak ke mana sang penggembala membawa mereka.
Ya, seperti penciptaku. Ia juga selalu mengakhiri kisah-kisahnya dengan tanda titik. Rasanya, tak ada satu pun dari kakak-kakakku yang memiliki tanda baca lain di akhir halaman mereka. Penciptaku itu memang kaku. Orang bodoh yang mencoba pintar—atau terlihat pintar—dengan merangkai kata-kata sulit. Ha! Padahal, sejatinya, ia tak memiliki kreativitas yang besar. Jika ada satu hal yang bisa dibanggakan darinya, mungkin hanyalah kebodohannya yang tak menyadari betapa bodohnya ia. Karena itu ia terus dan terus menulis. Melahirkan aku dan saudara-saudaraku. Tak memedulikan kenyataan bahwa tak ada satu orang pun yang bahkan rela meninggalkan sekadar pemberitahuan bahwa mereka telah membaca tulisan-tulisannya.
Kali ini pun tak berbeda. Ia mencoba menciptakan—menulis—aku. Menggunakan kata-kata terbatas karena ia tak memiliki pengetahuan luas mengenai diksi. Tanpa suatu plot kuat yang dapat menghisap pembaca masuk ke dunianya. Miris rasanya menyadari bahwa aku pun hanya akan berakhir seperti kakak-kakakku, tersimpan di dalam folder document-nya dan tak pernah ditunjukkan kepada siapa pun yang mungkin akan bisa menghargai kami.
Dasar pencipta tak berguna! Sayang sekali aku tak bisa memprotes penciptaku yang bodoh dan kaku itu.
Mau bertaruh kalau ia akan mengakhiri kisahku dengan tanda titik yang membosankan lagi?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!