Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 18 Desember 2011

Titik.

Oleh @nadiaakarima
http://www.essenceofaheart.wordpress.com





Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik.

Tetapi dia bukan bagian dari beberapa orang.

~”~

Sore itu bukan selayaknya mega senja biasa. Lembayung belum lagi turun meyapa cakrawala ketika pasukan kelabu datang menyerbu, berdesakan menangis bersama. Dengan begitu, sudahlah barang pasti anak-anak bintang tidak akan keluar dan bermain bersama sang ratu malam, apa lagi jika dihitung-hitung malam ini seharusnya bulan sudah purnama sempurna. Seharusnya malam ini bulan bersinar cerah, dengan semu yang hidup.
Sesosok entitas duduk di teras, memeluk kedua lututnya sendiri. Mungkin gadis itu kedinginan. Mungkin dia kesepian. Atau dia hanya sedang melamun. Nampak pandangan matanya yang nanar tanpa tujuan yang terfokus, sebuah tanda mutlak bahwa ia sedang melamun. Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang terjadi di dalam kepalanya.
Angin dingin berhembus lagi, membuat amukan hujan badai di luar semakin hebat saja. Namun perempuan itu tetap bergeming di tempatnya. Tidak memperdulikan pakaiannya yang ala kadarnya dengan kaus putih tipis dan celana selutut yang tak kalah tipisnya, tentu saja tidak bisa melindungi tubuh nan rapuh itu dari sengatan dingin. Berkali-kali angin membawa butir hujan ke pipinya, menampar kulit pualam itu dengan gencar. Tapi tetap saja tak terlihat bergeming gadis itu. Justru tambah erat kuncian lengannya pada kedua lututnya sendiri.bahunya yang mungil tampak seolah boneka, kaku. Inelastisitas dari gestur serta mimik wajah sosok perempuan di teras itu membuatnya nampak nyaris serupa boneka pajangan.
Secangkir teh hadir di hadapannya semenjak lama, namun tak seujung jaripun ia sentuh. Tak lama hangatnya pun sirna dikejar angin, digantikan oleh dingin yang menyelusup hingga ke dasar cangkir porselen itu.
Mungkin hangat itu telah lama sirna, dia tidak tahu.
Sepasang lensa sempurna mengamati setiap kebekuan perempuan di teras yang beku sore itu. Meskipun tidak ada sepasang mata yang menatap balik kepadanya, pemuda itu tidak peduli. Lensanya terus menerus merekam detik-detik beku yang berjalan lambat, seolah enggan berjalan.
Pemuda itu menahan nafasnya. Hampir waktunya.
“Suatu hari nanti…aku ingin mengakhiri semuanya dengan tanda titik.”
Saatnya.
Tubuh rapuh yang mulanya kaku itu limbung, dipapah oleh figur kokoh kursi berlengan favorit gadis itu. Bersamaan dengan sirnanya sinar kehidupan di matanya yang, walaupun lemah namun berpijar, secangkir teh di hadapannya juga sempurna kehilangan hangatnya. Baik cangkir porselen itu maupun selongsong jiwa kosong yang berbentuk tubuh perempuan di hadapannya telah kehilangan jiwanya masing-masing.
Tapi pemuda itu bergeming pula di tempatnya. Menyaksikan akhir dari gadis yang beku itu sudah ia perkirakan jauh sebelumnya. Beruntai kalimat mengenai peristiwa yang ia tahu akan datang kepadanya disampaikan sebaik-baik kalimat oleh gadis itu. Percuma membantah gadis itu.

~”~

Beberapa orang mengakhiri kisahnya dengan tanda titik.
Beberapa lainnya mengakhiri kehidupannya dengan tanda titik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!