Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 16 Desember 2011

When you want to die.


 
 
Oleh Deela (@deeladiladhila)

 
Gue mau mati.

Gue ulangin sekali lagi: Gue. Mau. Mati.

Iya, mati. Kenapa? Tidak tahu. Tiba-tiba saja ide gila itu muncul di kepala gue kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarinnya lagi. Sederhana, kan?

Kalau di tanya lebih lanjut tentang alasan kenapa gue mau mati—selain kata lebay dan emang itu ide kepikir begitu aja—adalah mungkin karena gue enggak tahu mau hidup kayak gimana lagi. Pertama, gue seorang cowok yang berumur dua puluh lima tahun tepat tanggal sepuluh Agustus kemarin yang punya pacar, tapi long distance relationship dan sering banget bertengkar. Kedua  gue yatim piatu, sudah hampir satu tahun Bokap gue berpulang pada-Nya karena penyakit yang dia derita, menyusul Nyokap gue yang lebih dulu dipanggil karena perjuangan melahirkan adik gue. Mereka meninggalkan gue begitu saja di bumi ini dengan adik-adik gue, tiga adik—satu kandung, dua tiri—dengan hutang piutang segudang. Ketiga, seperti apa yang gue bilang pada point dua barusan, bokap gue meninggal dan sebagai anak, gue harus membayar hutang piutang beliau. Tapi untuk seorang anak laki-laki yang masih bau kencur, sekali pun orang bilang hutang itu enggak seberapa, buat gue justru itu luar biasa.

Dua puluh lima tahun, tanpa orang tua, punya tiga adik sebagai tanggungan, dan hutang yang harus dibayar, serta pacar yang terus marah-marah karena jarang ketemu—sedih banget ga sih hidup gue? Setiap kali gue bangun tidur , hal pertama yang gue lakuin bukanlah apa yang sering gue nyanyiin dulu: “bangun tidurku terus mandi” tapi “bangun tidurku terus ngaca”. Hahaha. Kagak, gue kagak ada niat buat narsis di pagi buta, atau berlagak seperti sang ratu dalam cerita putri salju yang terus bertanya siapa-wanita-tercantik-di-muka-bumi-ini setiap menitnya. Boro-boro mikir kayak gitu, yang ada setiap kali gue ngeliat bayangan gue di cermin, rasanya justru pengen gue tonjok sampai ancur.

Sebal. Sekaligus marah.

Tapi karena gue sayang sama adik-adik dan juga pacar gue, niat ajaib gue barusan gue pendam sendirian dan tetap memasang wajah santai seperti biasa—kalau kata temen gue, gue itu denial, alias pakai topeng. Cuma ya, yang namanya lama-lama mendem perasaan itu enggak enak. Biasanya, 70% dari survey yang gue perhatiin di sekeliling gue, dengan tingkat sok tau yang tinggi luar biasa, orang-orang yang mendem perasaan pasti ujung-ujungnya berakhir buruk. Misal, temen gue ada yang pacaran, mereka sok-sokan ga mau nyakitin perasaan pacarnya jadi segala keluh-kesah mereka di pendem, begitu sekalinya bertengkar, semuanya keluar dan yaah, putus deh. Terus misalnya lagi—apa ya, banyak deh pokoknya. Dan salah satunya ya kasus gue sekarang.
Mungkin ini udah masuk limit dari takaran sabar gue. Gue percaya kok kalau yang namanya manusia itu punya batas kesabaran—ya kali dikira Dewa apa bisa sabar sampai tua—dan sekarang rasanya gue udah ga bisa sabar lagi dengan apa yang gue jalanin, akhirnya—BOOM!!! Meledak deh. Dalam satu hari bahkan kalau mau lebay di bilang dalam satu waktu, semuanya makin berantakan. Hutang piutang yang gue tanggung makin banyak, adik gue kena kasus remaja yang paling fenomenal: nikah di usia muda karena ‘kecelakaan’, lalu masalah pendidikkan adik-adik gue yang lain, dan putus dengan pacar karena keluhannya yang udah gak bisa gue tahan.

Gue marah, gue teriak, gue maki-maki. Tapi enggak ada yang ngerti gue—enggak tau kenapa.

Ada sih yang ngerti gue—Tuhan. Kakek gue sering cerita, kalau yang namanya masalah itu, kalau lo ga dapet pemecahannya, minta sama Tuhan. Tapi enggak cuma sekedar minta alias kudu ada usaha. Gue udah sering banget curhat sama Tuhan sambil pelan-pelan gue berusaha buat nyelesain masalah gue, tapi mungkin karena gue bukan orang yang sabaran, atau emang gue terlalu naif, jadinya sampai sekarang semuanya tetap sama, enggak ada yang berubah.

Jadinya gue berpikir buat mati aja. Biar semuanya selesai.

Done.
 

oOo


 
Gue mau mati.

Iya, mati.

Kenapa? Tidak tahu. Tiba-tiba saja ide gila itu muncul di kepala gue kemarin, kemarinnya lagi, dan kemarin-kemarinnya lagi. Apa ini disebut lebay? Yah, enggak tahu juga sih ya tapi menurut gue yang namanya lebay itu emang udah jadi bagian hidup orang. Dan yah, karena gue adalah orang jadi wajar kalau gue lebay.
 
Salam sayang :

 
Matheo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!