Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 04 Oktober 2011

Conundrum


Oleh Stella Nike (@stellanike)

.

..

.

Telah lama kuamati gadis itu. Semenjak ia masih kecil, mungil, manis
dan lugu, begitu suci layaknya malaikat—hingga kini saat ia telah
beranjak dewasa dan mulai mengetahui mengenai kotornya dunia. Walau
begitu, ia tak tahu bahwa aku selalu mengintai dan memperhatikannya
sepanjang waktu dari balik bayang-bayang.

Sepanjang pengamatanku, gadis itu adalah seorang yang hangat.
Pribadinya. Meskipun divonis mengidap kanker, tak ada keluhan sama
sekali yang terdengar dari dirinya, bahkan ia bersikap seperti
matahari yang terus bersinar bagi sekitarnya. Ia tak pernah ragu untuk
merentangkan tangan dan memeluk siapapun yang sedang diserang hujan.
Ia layaknya selimut tebal penuh bulu yang melindungi di saat badai
salju menerpa. Senyumnya pun sehangat mentari yang bersinar cerah di
layar biru langit.

Terkadang aku bertanya-tanya, bagaimana rasanya saat didekap olehnya.
Apakah benar hangat? Apakah menyenangkan? Apakah aku dapat tersenyum
setelahnya? Atau—semua yang tertangkap dalam penglihatanku ini
hanyalah semu belaka, dimana ia merupakan manusia biasa yang tak ada
bedanya dari yang lain. Bagaimana jika kehangatan yang dipancarkannya
adalah palsu? Topeng.

Ah, tapi aku tidak bisa membuktikannya saat ini.

Belum saatnya aku datang menemuinya.

Maka aku terus mengamati dari kejauhan tanpa pernah disadari oleh
seluruh orang yang ada—bahkan dirinya. Hanya melangkah sedikit
mendekat seiring butir pasir sang waktu mengalir, menandakan masa yang
tersisa hingga aku dapat berjumpa dengannya secara langsung. Menekan
rasa penasaran yang terus membuncah—sulit. Sering kali aku hampir tak
sanggup menahan keinginan untuk merangsek maju dan tiba-tiba
merengkuhnya erat-erat.

Karena selama ini aku belum pernah merasakan kehangatan.

Gadis itulah yang paling dekat dengan kehangatan, dalam bayanganku.

...

Akhirnya, saatnya tiba.

Aku hanya berjarak beberapa jengkal dari dirinya, menahan diri sekuat
tenaga untuk tak mengulurkan tangan dan membawanya masuk dalam
dekapanku. Gadis itu, dia sendiri masih belum menyadari keberadaanku.
Ia masih tertawa-tawa bersama kawannya, mengembangkan senyum cerah
kebanggaannya yang kuakui hampir mengalahkan matahari jika ditatap
dalam jarak dekat. Aku ragu—juga bimbang. Tapi saatnya telah tiba, pun
aku tak kuasa lagi berdiam diri. Ia hampir bersentuhan denganku.

Aku pun menyapa.

Alih-alih menjerit ketakutan seperti semua yang sempat kuintai sebelum
ini, ia masih tersenyum—dan balas menyapa. Tangannya terentang seolah
ingin memeluk, sementara ia berkata telah lama menanti diriku, betapa
ia telah menyadari keberadaanku semenjak lama. Aku tercenung bisu, tak
mampu berkata-kata. Untuk pertama kalinya aku berinteraksi dengan sang
gadis, ia sesuai dengan definisi hangat dalam kamusku.

Tak lagi mampu menahan diri, jemariku terulur, sedikit gemetar. Tanpa
menanti lebih lama lagi segera kudekap tubuh kecilnya dalam pelukan
erat—seperti yang selama ini kunantikan. Salah satu impian dan tugasku
terlaksana. Akhirnya aku dapat merasakan kehangatan saat didekap
olehnya. Namun..

Tidak ada.

Tubuh yang kurengkuh ini tak terasa hangat. Sama dinginnya seperti
orang lain yang sempat kupeluk. Sekejap aku merasa geram, tertipu
mentah-mentah akan senyuman dan tingkah lakunya, padahal ia sama
sekali tak memberikan kehangatan. Ia marah, pada diriku sendiri yang
seenaknya berimajinasi dan membayangkan rasa hangat yang akan memasuki
relung-relung hatiku yang membeku tepat ketika aku merengkuhnya.

Faktanya, ia dingin, tidak hangat.

Kulepaskan pelukanku perlahan-lahan dan kutatap lekat wajahnya yang
nampak tenang. Kelopak matanya tertutup rapat, sementara bibirnya yang
biasa melengkungkan senyum lebar kini terkatup tanpa tarikan di
sudut-sudutnya. Ia nampak sedang tertidur. Kawan-kawannya yang masih
berada dalam ruangan putih berbau desinfektan ini mulai menjerit
memanggil dokter, tapi aku tahu usaha mereka sia-sia.

Ia telah pergi, membawa kehangatannya yang tak sempat kurasa.

Ternyata memang, takkan ada kehangatan yang dapat dicicip oleh
maut—seperti diriku.

Tapi tak ada waktu bagiku untuk menyesal dan bermuram durja, ada orang
lain yang harus kuintai selanjutnya. Mungkin, kau bisa memberitahuku
bagaimana rasa hangat itu?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!