Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 21 Oktober 2011

HALO


Oleh Meirna Larasati  (@meirnyeh)


Boy’s side
“Halo?” Jawabnya.
 Klik.
 Aku matikan ponselku. Suaranya! Aku mendengar suaranya! Dan astaga… kenapa aku matikan ponselku? Bodoh! Aku terlalu gugup begitu mendengar suaranya yang indah itu. Aku mencobanya menghubunginya lagi. Terdengar nada tunggu.
“Halo?”
Aku tertegun. Tenggorokanku terasa tercekat. Bahkan untuk mengatakan ‘halo’ pun aku tak sanggup.
“Halo?!” Suaranya meninggi. Pasti ia kesal. Refleks, aku matikan lagi ponselku. Ini salahku, menelpon seorang gadis malam-malam begini. Lagipula aku terlalu pengecut sehingga aku menyembunyikan nomor ponselku. Ditambah lagi, aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku saat mendengar suaranya.
Lea. Gadis yang aku hubungi tadi. Adik kelasku. Kulitnya putih dan mungil. Tingginya tidak melebihi bahuku. Rambut panjang lurusnya hitam sebahu. Wajahnya manis, dengan kedua bola mata cokelat terang, hidung mancung, bibir tipis serta kedua lesung pipit yang menghiasi pipinya ketika ia tersenyum atau tertawa.
Dia berhasil membuatku, Vino Pradana, kapten tim basket putra yang cukup terkenal di sekolah ini jatuh hati untuk pertama kalinya. Tidak seperti gadis-gadis lain yang sibuk mencari perhatianku atau pun bersolek. Gadis itu sederhana, namun mempesona.
Ah.. sudah jam setengah dua belas. Mungkin dia sudah tidur. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan usahaku esok hari. Semoga besok aku bisa berbicara dengannya.
Ya, semoga saja….

Girl’s side
“Halo?” Jawabku.
Klik.
Teleponnya diputus. Hidden number. Siapa sih yang menelponku malam-malam begini? Orang iseng, ya?  Tak lama kemudian ponselku berbunyi lagi.
“Halo?”
Aku menunggunya berbicara. Setidaknya dia harus mempunyai alas an yang tepat untuk menghubungiku pukul sebelas malam begini. Namun dia masih saja terdiam.
“Halo?!” aku meninggikan suaraku. Aku mulai kesal. Lagi- lagi ia memutus teleponnya. Ih! Aku membanting ponselku ke kasur di ikuti rebahan tubuhku. Kira-kira siapa ya, yang iseng begini? Pikirku.
Ah! Aku teringat kejadian tadi siang di sekolah saat Yoga, teman sekelasku yang juga anggota tim basket putra meminta nomor ponselku. Ketika aku tanya untuk apa, dia bilang Kak Vino yang memintanya. Terbayang wajah kakak kelasku itu.
Vino Pradana. Siapa sih yang tidak kenal dia? Murid kelas dua belas IPA yang juga ketua tim basket putra itu?  Tampan, pintar, tinggi dan juga jago bermain basket. Begitu dia lewat gadis manapun pasti terkagum-kagum melihat sosoknya yang rupawan.  Termasuk aku.
Harus akui, aku mengaguminya. Ya… aku tau bahwa aku harus tau diri. Lagipula… aku yang kecil dan tidak menarik ini mana cocok bersanding dengannya? Tapi…. Yoga bilang, kak Vino-lah yang meminta nomorku. Perlahan pipiku terasa panas. Bolehkah aku berharap lebih?
Ya ampun! Aku keasyikan melamun sampai tidak sadar sekarang sudah hamper jam dua belas. Aku pun bersiap tidur, Sebelum tidur, aku berdoa. Semoga saja penelepon itu benar-benar kak Vino. Bukan hal yang mustahil, ‘kan?
Ya, aku harap begitu….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!