Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 12 Oktober 2011

Kuselipkan Seribu Rupiah di Bawah Pintumu #2


Oleh Dian Hutami (@diideehutami)


“ya ampun seribu doang! kopet amat sih lo!”
Sang sahabat terdiam, matanya hanya menatapnya. Akhirnya dengan berat ia berkata, “itu bukan seribu. Itu sejuta, dan walaupun lo bayar lagi sekarang, seribu gue tetep ilang.”
“iya gue tau seribu juga duit.bisa buat sekali naik angkot ciumbuleuit-st hall, daripada jalan kaki coba. gausah jual mahal deh, nih!” serunya sambil mengangsurkan seribuan baru miliknya. Sepertinya sisa berkah Lebaran masih agak awet di dompetnya. Namun sang sahabat menggeleng lalu pergi. 
Beberapa hari kemudian, ia bertemu dengan temannya yang lain. sudah beberapa hari itu ia tidak bertemu sahabatnya, yang entah mengapa ngambek cuma gara- gara seribu. “lo tau dia kemana nggak? Masa dia ngambek sih cuma gara- gara seribuan itu. Padahal dia sendiri yang nyuruh gue ambilin duit dari dompetnya. Itu kan konsekuensi dia sendiri.”
Temannya mendelik, menatapnya balik dengan pandangan curiga. “Yang lo ambil seribuan di mana?” 
“Di sebelah kantong uang kertasnya ada resetling lagi, abisnya diluar ga ada duit seribu jadi itu gue buka deh. eh ada seribuan nongol di sana, ya gue ambil aja. kenapa sih?”
Temannya menggeleng. “ya ampun. itu bukan uang biasa. itu seribu dari mantannya yang meninggal tiga tahun lalu itu. dia dikasih itu pas sebelum mantannya kecelakaan, gara- gara mereka bercanda soal utang seribu beli minuman. Lo tau kan betapa dia sayang banget sama mantannya itu.”
Ia terkejut, menyesali fakta bahwa ia, sebagai seorang sahabat, bahkan tidak tahu soal hal tersebut. “jadi harus apa gue? dia bilang seribu apapun nggak akan bisa ngeganti itu.”
sang teman tersenyum. “kasih aja dia seribuan lo. biarin dia tau, kalo lebih baik dia melepas masa lalu. biarin dia tau, kalo sekarang lo mau ngasih dia seribuan lagi dengan arti baru, sekarang itu artinya lo siap ngingetin dia dengan seribu alasan kenapa hidup baru lebih penting buat dia. Sekarang dia lagi pergi keluar kota, tunggu aja dia pulang.”
Tapi bukan itu yang ia lakukan. ia mendatangi kamar kos sang teman, lalu menyelipkan uang seribu di bawah pintunya. Ia yakin sang teman akan mau mendengar penjelasan tentang makna baru uang seribu ketika nanti ia pulang.
“gue siap bantu lo bikin seribu, bahkan sejuta, kenangan baru sama gue dan teman- teman lain.” 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!