Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 27 Oktober 2011

Panasnya Jogja

Oleh : Farah Rizki (@farfarfarah)



Jogja. Desember.

Jum’at. Suhu Jogja 32 ®Celcius

“Sori Riz, nanti aku mo ke tempat Pak Doni buat ngomongin kerjaan. Bsk aja y ktm nya..?”

Suda dua minggu aku dan Sakti nggak ketemu. Dan selalu ada aja alasan Sakti buat nggak ketemu aku. Entah alasannya lagi banyak kerjaan, mau pergilah, mau itulah. Seperti menghindar. Dan itu tadi.. “Riz..?” kemana panggilan sayangnya dia..? biasanya dia panggil aku “Ay..”

Mau tak mau intuisi seorang wanitaku muncul. Pasti ada sesuatu yang terjadi. Dan sudah satu minggu ini aku bersabar padanya. Aku menahan diri untuk nggak bertanya macam-macam. Seperti ketika NIsa, temenku cerita padaku.

“Serius Riz, aku nggak bohong, pas aku berangkat ke semarang kemarin dulu itu aku liat Sakti pergi ke Semarang juga sama mbak Dina, boncengan naek motor. Emang dia nggak bilang sama kamu pergi sama siapa..?” Tanya Nisa seminggu yang lalu.

Memang sih benar, Sakti bilang mau pergi ke Semarang, tapi bukan sama Dina, sama mbak Icha dia bilang. Masih ingat seminggu yang lalu Sakti ngabarin kalo dia mau ke Semarang, nganterin Icha, temennya ngurus perizinan ke Semarang. Icha, bukan Dina. Tapi kok Nisa bilang gitu ya…

Aku yakin sekali kalau Nisa nggak bohong. Berarti….

Dina, teman dekat Sakti, pacarku. Tapi, aku sama sekali nggak suka sama Dina. Karna aku tau, Dina sangat menyukai Sakti. Dan itu sudah terjadi sebelum Sakti kenal aku. Aku tau betul tanda-tanda Dina suka sama pacarku. Setiap kali aku bilang ke Sakti kalo Dina suka sama dia, Sakti malah marah-marah sama aku. Dan itu sudah sering terjadi. Tapi itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Sekarang aku sudah mulai nggak mempersoalkan masalah Dina sama Sakti. Walupun persahabatan mereka tak wajar. Berat sebelah. Tapi, kini, setelah cerita Nisa sama aku..? Dalam hati rasanya udah mendidih. Mulai dari Sakti yang menghindari aku, dan sekarang..?

Panasnya hati ini udah kayak panasnya Jogja mungkin, yang nggak ujan-ujan berminggu-minggu.

Sabtu. Suhu Jogja 33®Celcius.

Hari itu suhu Jogja semakin panas, aku sedang berada di kantin saat itu. Sabar Riz, sabar…jangan sampai kebawa emosi.. mungkin Nisa salah lihat. Kataku dalam hati.

Tapi bagaimana kalu Nisa benar..? Belum lagi kejadian 2 minggu yang lalu. Masih terekam jelas dua minggu yang lalu, waktu aku maen ke kosnya Sakti. Saat itu Sakti tidur, aku yang bosan ditinggal tidur iseng-iseng mainin hape miliknya. Karna penasaran, aku iseng buka inbox sms.nya. Aku tau itu ngak boleh, tapi waktu itu rasanya aku pengeeen banget ngecek. Dan benar saja, di inbox.nya aku lihat nama Dina ada disana. Perasaanku mulai nggak enak. Dan benar saja ketika aku membuka isi pesannya.

DEG.

Pesan pertama, seminggu yang lalu, hari minggu pagi. Dina bilang mau nganterin sarapan ke kos Sakti.? Hah, ini kan pas aku sms ngajak ketemu Sakti. Tapi, waktu itu dia bilang nggak bisa ketemu karna mau mbenerin pintu kosnya sama bapak kos. Tapi kenapa.. kenapa begini..? Langsung saat itu juga, panas hatiku terasa terbakar. Aku yang nggak tahan langsung pulang, tanpa pamit ke Sakti yang masih tidur.

Aah tenang Riza, tenang… kamu harus tenang menghadapi masalah ini. Begitu kataku dalam hati sambil berlinangan air mata sepanjang perjalanan pulang. Dan aku memilih untuk memndamnya. Tidak menanyakan ke Sakti.

Tapi sekarang, aku tak ingin memendamnya lagi. Dua kejadian itu, semakin membuatku yakin aku harus menanyakan ada apa dengan Sakti, secepatnya. Tapi, aku tak boleh terbawa emosi. Aku harus sabar.

Minggu siang.

Sakti uda selesai belum ya kerja kelompoknya… sms ah.. Hari itu aku sudah mandi untuk kedua kalinya, saking panasnya hawa Jogja.

“Yang udah selesai..? I have something special for you” isi smsku ke Sakti terkirim. Aku pun menunggu.

5 menit kemudian. Belum ada balasan.

“Masih sibuk ya yang…? ” Aku sms lagi ke hape Sakti.

15 menit kemudian. Hapeku masih saja terdiam.

Apa Sakti ketiduran ya..? hari ini aku sudah memasak cah sawi, tempe goreng, dan pete bakar kesukaan Sakti. Aku berencana membuat kejutan buat dia. Bikin sarapan. Sekalian nunjukin ke Sakti kalau nggak cuma Dina, sahabatnya aja yang bisa masak. Tapi aku, Riza, ceweknya, juga bisa masak.

30 menit kemudian.

Ah, aku langsung samperin ke kosan Sakti aja deh. Dengan semangat 45, aku langsung meluncur ke kosan Sakti. Pasti dia seneng deh, dimasakin. Jarang-jarang kan aku masak. Tanpa dandan, dan hanya

dengan baju rumahan, aku langsung membawa motor kesayanganku ke kosan Sakti yang lumayan jauh itu.

Tampak di perempatan jalan, suhu Jogja 34,5 ® Celcius.

Makin panas aja ni dunia. Pikirku dalam hati. Untung hatiku lagi nggak panas. Aku sudah membayangkan senyum Sakti waktu lihat aku membawa masakan kesukaannya. Aah… memang bikin adem kalau mbayangin senyum pacar tersayang. Sambil senyum-senyum dan bersenandung kecil. Aku melewati jalanan yang panas itu. Tak berapa lama kemudian aku pun sampai di depan kosan Sakti.

“Assalamualaikum…”

Belum aku melepas helm yang masih nangkring di kepala, aku hanya bisa terdiam. Mematung di depan pintu. Tak bisa berkata-kata. Tak bisa merasakan apa-apa. Hatiku yang tadinya sejuk, tiba-tiba langsung berubah menjadi panas. Terbakar. Nafas memburu. Mata berair. Dan kemudian mati rasa. Ketika aku melihat, di depan mataku, Sakti sedang duduk berhadapan dengan Dina, makan sekotak nasi, lengkap dengan sayur dan lauknya, tapi tanpa pete bakar. Bagiku, mungkin saat itulah hawa terpanas di Jogja yang pernah kurasakan.

Yogyakarta, Desember. 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!