Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 04 Oktober 2011

Segelas Susu Cokelat


Oleh: Khairunnisa Putri (@Pupuutc)



“Kenapa Mas jadi nyalahin aku?!”
 
“Ya jelas-jelas kamu yang salah, istri itu harusnya ngurus rumah, ngurus anak, bukannya keluyuran!”
 
“Alah, itu sih dulu, sekarang zaman udah maju, udah bukan zamannya perempuan diem di rumah.”
 
Fania menutup telinganya, berusaha tak mendengar adu teriak antara ayah dan bunda. Merasa kedinginan di tengah-tengah malam yang hangat. Ini bukan yang pertama kalinya, sudah berpuluh-puluh kali ia mendengar pertengkaran tak berujung seperti ini. Mereka selalu bertengkar, tak pernah benar-benar memedulikan Fania, bahkan tak peduli untuk sekedar menurunkan volume suaranya. Lalu saat sarapan, mereka akan bersikap seolah tak ada yang terjadi, memasang senyum palsu dengan harapan dapat mengelabui Fania.
 
Tapi ia bukan anak kecil, bukan lagi Fania delapan tahun lalu yang percaya begitu saja ketika bunda bilang bahwa pertengkaran itu berasal dari televisi yang bunda lupa matikan. Ini telah berlangsung sekian tahun, dan puncaknya adalah belakangan ini. Tak jarang bunda mengeluarkan ancaman ‘ceraikan aku’ untuk memenangkan argumen. Fania hampir menangis mendengarnya.
 
Sepi, tak ada lagi adu mulut. Setidaknya itu yang terdengar olehnya. Fania melepaskan selimutnya dan bangkit berdiri menuju pintu. Setelah memastikan tak ada suara apapun, ia memutar kenopnya dan berjalan menuju dapur di lantai bawah. Rupanya Kak Nina telah lebih dulu mengambil posisi di meja makan.
 
“Ngga bisa tidur ya De?” tanyanya seraya tersenyum kecut.
 
Fania mengangguk, menarik kursi tepat di hadapan Nina. “Kakak denger juga ya?”
 
“Sampai tetangga juga kayaknya denger. Kakak malu de kalau keluarga kita kaya gini terus. Akhir-akhir ini memang selalu seperti ini ya?” Sejak kuliah di Universitas Padjajaran tiga tahun yang lalu, Nina memang lebih sering tinggal di Bandung.
 
“Akhir-akhir ini hampir setiap malem kak, paling engga dua hari sekali. Puncaknya minggu lalu waktu Kakak di Bandung, mereka sampai lempar-lempar barang, terus bunda teriak histeris dan minta cerai.”
 
Nina shock mendengar penuturan adiknya. “Ya ampun sampai separah itu ya de?” Ia tak menyangka kalau agenda rutin keluarga ini akan sampai ke tahap cerai.
 
“Kita udah bener-bener kehilangan kehangatan keluarga ya Kak?” Fania mengajukan pertanyaan retoris.
 
Alih-alih menjawab, Nina menghela nafas dalam-dalam, membiarkan sejumlah besar oksigen memenuhi rongga paru-parunya kemudian menghembuskannya. “Aku nggak tahu apa kita memang pernah punya keluarga yang hangat. Mereka itu seperti ini sejak kita kecil kan?” Ia bertanya balik.
 
Fania merenungi jawaban kakaknya. Memorinya mengenai kebohongan demi kebohongan bunda menyeruak ke permukaan. Televisi yang lupa dimatikan hanya salah satu dari banyak. Saking seringnya mendengar pertengkaran orang tuanya, Fania hampir saja lupa kapan semua ini dimulai. Ia tak tahu apakah kehangatan keluarga itu kian lama menghilang atau memang tak pernah ada. Ia juga tak tahu apakah ia merindukan kehangatan itu atau malah menginginkannya.
 
“Aku juga nggak tahu kak. Bukankah seharusnya keluarga itu adalah tempat yang paling aman untuk kita?” Lagi-lagi, sebuah pertanyaan retoris meluncur dari mulut Fania.
 
Nina mengerling tangga di sudut ruangan, kamar orang tuanya berada di lantai dua. “Kita nggak bsa berharap banyak sama mereka,” jawabnya. Menghela nafas dalam-dalam kemudian melanjutkan, “Idealnya, keluarga memang orang-orang yang selalu membuat kita merasa aman dan nyaman. Tapi kamu harus ngerti, keluarga kita kondisinya beda. Mengharapkan perubahan nggak akan mengubah apapun. Aku juga selalu berdoa setiap salat, kamu juga ya, jangan lupa doain ayah dan bunda.”
 
Nina menunggu jawaban sementara Fania tidak berniat buka mulut. Nina bangkit menuju dapur, mengambil sebuah mug besar dan sekotak susu bubuk coklat, memasukkan tiga sendok makan ke dalam mug kemudian menuangkan air termos sampai nyaris penuh. Fania memperhatikan ketika kakaknya mengambil sendok kecil untuk mengaduk susu, menambahkan sedikit air dari dispenser, kemudian kembali menempati tempat duduknya.
 
Fania memandang kedua mata kakaknya dalam-dalam, mencoba menelaah isi hatinya. Nina selalu terlihat lebih santai, lebih dewasa, ia selalu ingin tahu apakah jauh di lubuk hati kakaknya terdapat perasaan sedih yang sama seperti yang ia miliki.
 
“Kita benar-benar dituntut buat dewasa, de. Kita nggak bisa lagi tutup telinga dan beranggapan kalau semuanya akan baik-baik saja. Hidup ini bukan dongeng,” terangnya seraya mengangsurkan mug berisi susu cokelat dengan uap yang masih mengepul kepada adik bungsunya.
 
“Kehangatan yang bisa kamu dapatkan saat ini.”
 
Fania tersenyum tipis, menggumamkan ucapan terimakasih, kemudian mulai menyeruput minumannya. Hangat dan manis, seperti kehidupan yang selalu ia harapkan.
 
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!