Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 12 Oktober 2011

Kuselipkan Seribu Rupiah di Bawah Pintumu #1


Oleh Olga Cinintya (@OlgaCinintya)


Kuselipkan uang seribu rupiah di bawah pintu kamarmu, di Minggu sore yang sejuk ini. Bukan dengan maksud buruk, bukan dengan niat jahat, mungkin hanya niat suratan. Oke, lupakan. Semua mungkin bertanya, mengapa uang seribu rupiah? Bukan sepuluh ribu, atau seratus ribu? Maklum diriku hanyalah seorang anak kuliah biasa, tak sanggup bila harus menaruh uang seratus ribu. Pada kenyataannya, ada kisah dibalik uang seribu rupiah ini.
            Kisah kita bermula di sebuah warteg samping kampus Minggu sore. Engkau hendak pergi dengan teman-temanmu seusai makan bersama mereka dan aku terduduk sendiri. Ada sesuatu yang kau tinggalkan di atas meja yang tak lain dan tak bukan uang seribu rupiah. Tersadar, aku pun mengambil uang itu. Sempat terpikir uang ini berguna untuk membayar es teh manis yang kubeli, setan dan malaikat pun berbisik di bahu kiri & kananku. Namun kuputuskan untuk tidak melakukannya dan bergegas mengejarmu.
            Berusaha memanggil tapi kau tak kunjung menoleh. Aku yang benci olahraga pun kesal karena harus berlari hanya demi mengembalikan uang seribu rupiah! Hingga akhirnya aku meraih pundakmu dan kau pun menoleh. Aku terpana, terkesima, apapun itu. Bagaikan artis-artis iklan sampo yang rambutnya terurai indah akibat hembusan kipas angin, senyummu yang manis bagaikan coklat Ayam Jago. Terkejut, aku teringat akan kenyataan bahwa kita tinggal di bawah satu atap kost-an yang sama. Sejak saat itu aku teringat terus akan dirimu. Tak tahu harus berbuat apa. Hingga akhirnya kuputuskan, setiap hari Minggu, kuselipkan uang seribu rupiah di bawah pintu kamarmu dan hal ini terus berlanjut.
            Hari ini, kau membuka pintumu di saat aku hendak menaruh seribu rupiah ini. Kita terkejut! Kau bertanya, “sedang apa disini?” dan jelas kau lupa padaku. Tak tahu memberi alasan apa, kukatakan saja uang yang mulus itu kembalian dari tukang galon dan bergegas pergi. Kau pun bingung, aku pun malu.
Bodoh, padahal hati kecilku yang pengecut ini ingin bilang bahwa, inilah bentuk kecil untuk seribu cintaku padamu. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!