Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 04 Oktober 2011

Secangkir Kopi Hangat Nan Malang

Oleh Ano Jumisa (@anojumisa)


Di tengah rintik gerimis pada suatu malam minggu tertuangkan kedalam sebuah cangkir putih kopi hitam nan pekat dalam paduan air jernih dingin dan panas dari sebuah mesin pengolah air bersih. Minuman hangat ini bak pengubah suhu malam itu yang cukup menggigil menjadi sedikit hangat dalam selimut gemelut awan nan tak tampak di langit nan kelam. Tegukan demi tegukan mampu membuat isi perut ini tersengat dalam hawa yang dibawanya.
Ditemani alunan musik klasik dari komposer klasik berkebangsaan Jerman, Mozart, mampu menyempurnakan suasana santai malam itu. Melodi kehidupan ibarat dilantunkan dalam irama melankolis malam itu. Setengah cangkir minuman hangat itu kini kembali hadir dihadapan bibir ini untuk sekedar menghadirkan kembali suasana nan syahdu.
Pikiran tak berujung terus berjalan tanpa haluan menjadi kenikmatan tersendiri dalam benak. Keriuhan di pagi hari sampai sore hari bak menjadi bunga sebuah pohon kehidupan yang berakar pada serabut kematian. Semua beban hilang sejenak hanya karena tegukan dari secangkir kopi hangat itu.
Tiba-tiba, “Pletak! Tring……”, cangkir itu terjatuh dari meja belajarku. Lantai kamar pun berserakan dengan sekumpulan air berwarna hitam kecoklatan disertai bubuk-bubuk halus kopi dikelilingi pecahan-pecahan cangkir porselen. Sesaat suasana gaduh terbesit dalam ruangan  tiga kali empat meter itu. Kehangatan ibarat dinaikkan derajatnya dalam kedidihan. Panik, konsentrasi buyar, suasana panas seketika datang meleburkan kehangatan yang telah susah payah dihadirkan oleh secangkir kopi hangat itu.
Lantunan musik klasik dari Mozart tak mampu membalikkan suasana kembali seperti semula. Keriuhan itu terus bergejolak dalam hati menemani kepanikan.
Kenikmatan dunia sejenak hilang dari genggaman. Ketenangan yang dihadirkan dibuyarkan seketika hanya dengan jatuhnya secangkir kopi dengan setengah isinya yang awalnya menjadi sumber kedamaian hati di malam itu.
Gerimis pun semakin sedih dengan tangisannya yang terus beranjak deras. Niat hati ingin menikmati malam itu dengan sekumpulan candu kesyahduan yang tercipta dengan tidak sengaja dibalikkan seketika dengan tumpukan derita yang terselimuti dalam suasana nan riuh tak terkira hanya dalam sekejap mata.

Ano Jumisa
Jatinangor, 3 Oktober 2011
22.48 WIB

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!