Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 18 September 2010

ELANG



Oleh: naraheera

Seorang gadis kecil terus memandangi langit senja. Pandangannya tak lepas dari seekor elang yang sedang terbang di atasnya. Ia mengamati cara elang itu terbang, menukik… Tak jauh dari si gadis, seorang anak lelaki sebayanya mengamati gadis itu. Pandangan matanya mengikuti arah tatapan si gadis. Kemudian, ia menghampiri gadis itu.
“Hai, kulihat kau terus mengamati elang itu. Apa yang menarik darinya?” tanyanya langsung.
Si gadis menatap anak itu sekilas, lalu kembali mengamati elang. “Sayap. Terbang,” jawabnya singkat. Membuang-buang suara untuk sekedar beramah-tamah tak ada dalam kamusnya.
“Hm? Apakah kau ingin terbang?” si anak lelaki kembali bertanya. Rasa penasarannya tak lantas terhapus dengan jawaban super singkat si gadis.
“Ya. Jika mungkin, setiap saat aku ingin berada di langit,” si gadis menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
Si anak lelaki mengerutkan keningnya, berpikir. Tak lama kemudian ia tersenyum penuh kemenangan. “Kalau begitu, ayo terbang bersamaku!” ajaknya penuh semangat.
“Hah. Yang benar saja, manusia kan tidak punya sayap,” si gadis melirik anak lelaki itu dengan tatapan sinis, nyaris emosi. Anak itu benar-benar mengganggu.
“Ya, tapi aku tahu cara terbang tanpa perlu sayap. Bagaimana, mau mencoba?” bukannya mengkerut, senyuman malah semakin terkembang lebar di wajahnya.
Si gadis memutar-mutar bola matanya. Tak habis pikir apa maunya anak itu. “Tak masuk akal. Yah, tapi baiklah. Berhubung aku sedang bosan tingkat akut,” katanya. Sebenarnya ia juga penasaran pada apa yang dimaksud si anak lelaki dengan ‘terbang tanpa sayap’.
“Ayo,” si anak lelaki tersenyum, mengulurkan salah satu tangannya pada si gadis. Lalu mereka pergi ke sebuah lahan luas yang penuh rerumputan dan ilalang.
“Oke, pertama-tama, kita harus melakukan landasan,” kata si anak laki-laki dengan tampang serius.
“Landasan? Memangnya pesawat?” si gadis kembali terheran-heran. Ia tak bisa mengerti isi otak anak itu.
“Sudah, ikuti saja! Nanti juga kau akan terkagum-kagum dengan gagasanku,” katanya sambil tersenyum bangga. Membuat si gadis kembali memutar-mutar bola matanya.
“Ayo, pegang tanganku!” si anak lelaki kembali mengulurkan tangannya. Yang langsung disambut si gadis.
“Siap ya… hitungan ke tiga kita lari! Tiga… dua… satu!”
Dan melesatlah mereka. Kaki-kaki mungil mereka bagaikan sayap burung kecil yang mengepak-ngepak. Si gadis benar-benar merasa dirinya melayang. Dan herannya, ia tak merasa capek sama sekali. Dia merasa begitu… bebas, bahagia. Tangan mereka yang masih saling bertautan dan senyuman yang masih terkembang lebar di wajah mereka, mencairkan segala kekakuan yang ada. Saat itu dunia terasa begitu semu, karena mereka telah menciptakan dunia mereka sendiri. Yang begitu menyenangkan, memberi rasa aman dan lega. Seperti halnya langit itu sendiri.
Sejak hari itu, setiap sore mereka pasti bertemu di ladang itu. Terbang bebas sampai sunset menjelang. Sambil menunggu matahari terbenam, mereka duduk-duduk di atas rumput sambil saling bercerita. Si anak lelaki melontarkan lelucon yang membuat si gadis tertawa terbahak-bahak dengan bebas, untuk pertama kalinya.

Entah berapa hari yang mereka lalui seperti itu. Sampai-sampai si gadis kecil merasa hal itu sudah menjadi rutinitas wajib dalam harinya. Seperti halnya makan, minum, atau bernafas. Yang pasti kau lakukan setiap hari.

Maka, tentu saja adalah sebuah tamparan baginya ketika tiba-tiba si anak laki-laki tidak datang saat jadwal ‘terbang’ mereka. Awalnya, si gadis menunggu, terus menunggu. Tapi sampai matahari terbenam pun si anak laki-laki tidak juga datang. Si gadis mulai bingung, keresahan melanda dirinya. Dia berlari ke rumah si anak laki-laki, tapi nihil, rumahnya kosong melompong. Tetangganya mengatakan keluarga mereka sudah pindah ke luar kota, entah ke mana. Tanpa memberi tahunya sama sekali.
Esoknya, si gadis kembali datang ke ladang tempat mereka biasa ‘terbang’. Berharap ada suatu keajaiban yang membuat si anak lelaki kembali. Mengulurkan tangannya sambil tersenyum, sehingga mereka bisa ‘terbang’ lagi. Tapi tak peduli berapa lama pun ia menunggu, anak lelaki itu tidak juga tampak.
Si gadis mulai putus asa, ia ingin sekali terbang. Sungguh, sangat ingin. Saat matahari mulai terbenam, si gadis mencoba untuk berlari. Tapi baru beberapa langkah, ia sudah terjatuh. ‘Sayap’ nya sudah patah. Dia tak bisa lagi terbang. Ia menengadah ke langit, menatapnya dengan penuh kerinduan. Di atas sana terlihat elang sedang terbang begitu indahnya. Akhirnya, pertahanan si gadis runtuh. Air mata yang ia tahan sejak kemarin tumpah juga. Segala kenangan bersama anak laki-laki itu kembali terputar di otaknya, seperti film. Berkali-kali ia membisikan kata-kata yang sama: “Aku ingin terbang…”



Elang. Semua diawali dan diakhiri dengan elang. Sayapnya datang ketika ia sedang mengamati elang. Dan saat sayap itu patah, ia kembali melihat elang itu. Elang yang terus terbang dengan angkuhnya, tak peduli pada apa yang terjadi di bawahnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!