Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 03 September 2010

Pengagum Rahasia

Oleh: Astari Indahingtyas (@astarindah)

Jam menunjuk ke angka 1 dan aku belum juga bisa tidur. Sungguh aneh. Rasa kantuk yang tadi begitu terasa, mendadak hilang. Sepertinya insomnia, pikirku. Kesal rasanya karena setelah hampir tiga jam merebahkan badan di atas kasur dan memejamkan mata, tetap saja tidak bisa tertidur.

Apa mungkin karena hari ini aku terlalu lelah? tanyaku dalam hati. Sepertinya memang begitu. Hari ini kerjaan di kantor rasanya tiada henti dan tekanan dari atasan juga begitu terasa. Belum lagi ditambah dengan pekerjaan sampinganku. Ya, mengajar Bahasa Indonesia untuk ekspatriat dan mengajar Bahasa Inggris untuk orang Indonesia adalah sumber pendapatan lainku. Pagi hingga sore, aku duduk manis di kantor dan menyelesaikan semua pekerjaan dan setelah itu aku akan pergi mengajar. Demi sesuap nasi dan segenggam berlian, bisikku mengikuti ungkapan masa lalu. Tapi hari ini memang jalanan Jakarta tidak mendukung. Macet di segala wilayah dan aku pun nyaris terlambat tiba di tempat mengajar. Untung saja bisa sampai rumah sebelum jam sepuluh malam.

Jarum pendek masih menunjuk ke angka 1 tetapi jarum panjang sudah di angka 2. Lalu aku pun teringat akan kejadian aneh saat terjebak macet. Seperti biasa aku mendengarkan radio favoritku dan menikmati setiap lagu yang diputar. Lamunan indahku tadi pun saat mendengar lagu Let’s stay together yang dinyanyikan ulang oleh Boyz to Men jadi terganggu karena sang penyiar.
That was Boyz to Men with Let’s Stay Together special for Saskia, a language tutor, on the road. Girl, it’s from your secret admirer.”

Saskia? Pengajar bahasa? Bukankah itu aku? tanyaku. Mungkin aku terlalu berprasangka, tapi apakah ada suatu kebetulan yang mutlak? Nama yang dituju sama dengan namaku, pekerjaannya juga, dan kebetulan juga saat itu aku juga masih di jalan. Ya…tapi lumayan untuk membuat tersenyum lah walaupun lagu yang dipasang tadi belum tentu juga untuk aku.

Aku juga masih belum bisa tidur dan entah mengapa aku malah merasa segar. Rebahan saja biasanya tidak cukup buatku bila sudah terlalu lelah. Daripada gak jelas mending internetan ah, ucapku. Segera kunyalakan laptop dan aku pun segera online di berbagai jejaring sosial. Awalnya aku pikir semua temanku tidak akan mungkin ada yang online di messenger. Aku lupa bahwa aku punya banyak teman yang bekerja di industri kreatif. Jam satu pagi mungkin adalah awal jam kerja produktif mereka. Alhasil aku mendapat lumayan banyak teman ngobrol. Lalu aku pun memutuskan untuk membuka akun facebook-ku. Saat kubuka, kulihat banyak notification tapi aku lebih tertarik untuk membuka pesan yang masuk. Ada satu pesan dari seseorang bernama Barindra. Siapa ya dia? Kenapa pesannya tidak bersubyek?

Hai Saskia. Aku harap kamu suka sama lagu yang tadi saya request khusus buat kamu. I know you love Boyz to Men.

Ok. Ternyata benar lagu tadi untuk aku. Tapi siapa pria bernama Barindra ini. Aku berusaha melihat profil di akun facebook-nya tapi semua informasi pribadi tidak bisa dilihat sembarang orang. Mungkin membalas pesannya adalah hal yang paling tepat. Setidaknya itu yang muncul di otak pukul setengah dua pagi ini.

Hai Barindra. Terima kasih ya buat lagunya tadi. I do love Boyz to Men and the song choice was perfect. Makasih ya.

Mungkin seharusnya aku tanya dia tahu darimana aku suka grup vokal itu dan sekalian menanyakan dimana atau dari siapa dia kenal aku. Sayangnya sudah terkirim. Setidaknya aku sudah berterimakasih atas kebaikannya dia. “It’s from your secret admirer”, sepenggal kalimat dari sang penyiar tadi sore, mendadak menghinggapi pikiranku. Apa mungkin dia penggemar rahasiaku. Aku kembali dari khayalku karena seorang teman yang tidak hentinya mengklik buzz di messenger sehingga komputerku terus mengeluarkan bunyi.

Jarum pendek menunjuk ke angka 2 dan jarum panjang menunjuk ke angka 6. Wah, sudah tak terasa sudah mendekati jam tiga pagi. Tapi aku pun belum juga mengantuk. Ini aneh! Apalagi kalau mengingat besok masih harus ke kantor dan kembali bekerja. Ini tidak seharusnya kuteruskan dan aku semestinya sudah tertidur nyenyak. Baiklah…satu kali lagi buka facebook dan langsung tidur. Ternyata ada pesan lagi dari Barindra.

Saskia, sudah hampir satu jam setelah message kamu diterima, lampu kamar kamu kenapa masih juga menyala? Kamu tidur ya, kan besok harus kerja.

Tidaaaaaak!!! teriak batinku. Ini mulai menjadi kisah horror. Penggemar rahasia atau penguntit?! Aku pun segera berlari ke dapur dan membuat susu coklat panas dan meminumnya dengan cepat. Lalu aku segera kembali ke kamar dan mematikan lampu. Melompat ke kasur dan menyelinap ke bawah selimut adalah pilihan yang tepat.

**

Jam digital yang terletak di meja kecil samping tempat tidurku mulai berbunyi. Aah…sudah jam setengah tujuh pagi lagi saja? keluhku. Dengan langkah berat, aku pun menuju kamar mandi dan bergegas bersiap untuk ke kantor. Setelah selesai berpakaian, aku segera ke ruang makan dan tak lupa aku menyalakan laptop ku. Aku baru saja terpikir untuk mengecek ulang apakah benar tadi malam ada pesan dari seseorang bernama Barindra atau itu hanya mimpi. Untung saja di rumah bisa wi-fi jadinya aku tidak perlu di satu tempat untuk mengakses internet. Sepotong tuna sandwich buatan mama terasa nikmat tapi mendadak aku seakan tersedak. Karena ternyata memang ada pesan dari pria bernama Barindra. Untuk menurunkan makanan yang tersangkut, segelas susu putih dan orang juice langsung kuminum.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiranku tidak teralihkan dari isi pesan terakhir dari Barindra. Wajar bila aku sekarang mulai takut. Bagaimana mungkin dia bisa tahu aku belum tidur. Kalau mau, bisa saja aku beranggapan dia menebak dan tebakannya tepat. Tapi apa iya begitu? Daripada bengong, lebih baik kunyalakan radio saja. Wah…lagu Sunshine-nya Ne-Yo. Sukaaa! Memang radio station yang aku pilih ini jagoanku banget. Pilihan lagunya pas dengan selera musikku.
“Semoga semua suka ya sama lagu tadi. Itu pilihan salah satu pendengar kita dan katanya ditujukan buat Saskia yang lagi di jalan menuju kantor. Saskia, kantornya di Pattimura ya?”

Aku mendadak sontak tertegun. Tanganku segera meraih botol minum dan seteguk demi seteguk kuminum air yang selalu aku sediakan di mobil. Aku senang bila memiliki pengagum rahasia tapi kalau sudah seperti tadi malam? Perempuan mana yang tidak akan takut? Ada yang bisa kasih tahu aku? Aku yakin tidak ada. Yang lebih mengherankan lagi buatku, bagaimana bisa Barindra tahu selera musikku. Aku belum berteman dengannya di facebook dan aku juga membuat profilku tidak bisa dilihat oleh sembarang orang. Jadi sepertinya mustahil kalau informasinya dari facebook. Lalu…kenapa dia biasa tahu lokasi kantorku? Ini benar-benar menakutkan.

**

“Kinan, gue bener-bener mulai ketakutan nih.”
“Kenapa sih, Sas?”
“Gue kayanya punya penggemar rahasia.”
“Lho? Bukannya harusnya lu seneng ya? Itu berarti kan ada orang yang tertarik sama lu.”
”Iya..tapi kalau dia tau segala gerak-gerik lu??!!! Menurut lu masih romantis?”
Well, you never know what’s on his mind kan?”
“Aduh, Kinan…lu ngerti gak sih?! Masa dia bisa tau lampu kamar gue belum mati padahal itu udah setengah tiga pagi?! Terus kok dia tau lagu-lagu kesukaan gue?! Dan dia tau kantor gue dimana, Kinaaaan!”
”Hmmm...emang sih aneh. Tapi mungkin gak sih kalo dia sebenernya deket sama lu?”
”Hah? Maksud lu apa, Kinan?”
”Cuma perkiraan aja sih. Udah lah, Sas. Tenang aja. Gak usah terlalu ditanggepin. Ntar juga ilang sendiri. Iya ga?”

Sepertinya curhat ke Kinanti tidak terlalu membantu. Kinanti adalah sahabatku sejak SD dan rumah kami memang berdekatan. Keluarga kami pun juga menjadi sangat dekat. Mungkin aku harus cerita ke Mas Cakra. FYI, Mas Cakra itu kakak aku. Usia kami selisih empat tahun. Kadang-kadang dia nyebelin tapi dia abang yang baik dan bertanggung jawab. Untung sepulang kantor ini tidak ada jadwal mengajar dan Mas Cakra sepertinya juga gak ada latihan basket.

”Mas Cakra, aku mau cerita dong. Boleh ga?” tanyaku sedikit merengek.
“Hmmm...kalo gak boleh gimana?”
“Yaah...beneran gak boleh, Mas?” mukaku mulai panik dan Mas Cakra pun tertawa puas.
”Boleh lah, Sas tapi di kamar Mas Cakra aja ya. Aku pengen sambil tiduran nih.”

Aku pun mengikuti langkah abangku ke kamarnya. Saat Mas Cakra rebahan, dengan tidak sopannya aku ikut rebahan di sampingnya. Aku pun menceritakan semua kejadian dari awal hingga akhir. Aku juga kembali menceritakan semua ketakutanku. Lalu abangku pun mulai berkomentar.
”Ya..kamu ati-ati aja, Sas.”
”Iya, Mas. Aku harus lebih waspada sekarang.”
”Yeh..jangan dianggep langsung kaya maling gitu dong si Barindra itu.”
”Lho?! Katanya aku harus hati-hati. Berarti bener harus gitu dong, Mas?”
”Hmmm...iya juga sih. Tapi gimana kalo ternyata orangnya ganteng, baik, badannya atletis, pinter, jago main musik? Pokoknya semua kriteria cowo yang kamu pengen tuh ada di dia. Gimana kalo gitu?”
”Aduh, Mas...tau orangnya yang mana aja belum. Ketemu juga belum. Ngobrol juga belum. Masa main nanya aku bakal gimana sama dia?!”
”Ya..siapa tau kan?!”
”Huuuuh! Mentang-mentang udah mantap perasaannya sama Anya jadi sok bijak gini.”
I just wish the best for my baby sister.”
“Makasih lho, Mas. Nanti aku cerita lagi kalo ada kabar baru."

**

Sudah dua minggu berlalu dan tidak ada kejadian yang aneh dari Barindra. Dia masih rajin mengirimkan lagu-lagu dan sesekali ada pesan lewat facebook. Tapi menurutku masih aman terkendali lah kelakuannya. Ini pun sudah hari Sabtu dan aku malah asik mencari buku-buku baru sendirian. Tiba-tiba ada suara pesan masuk ke HP ku.

Sas, sore menjelang malam ini kita makan bareng di Dijans yuks. Mas Cakra sama Anya mau makan bareng sama kamu nih. Mas juga udah ajak Kinanti biar kamu ada temennya dan gak sirik liat gue pacaran. Hahahaha.

Untung saja aku masih menjomblo dan belum ada janji dengan teman manapun. Keuntungan lainnya adalah sahabat terbaik aku juga sudah diajak sama Mas Cakra. Terus kalau diajak makan sama abangku itu, sudah bisa kupastikan kalau dia yang akan menraktir aku. Setelah memilih beberapa buku yang menarik, jam sudah menunjuk ke angka 5. Sudah cukup sore menjelang malam. Aku pun langsung bergegas ke parkiran, menyalakan mobil, dan mengarah ke Kemang.

Akhirnya sampai juga di rumah makan yang menawarkan berbagai makanan Belanda nan nikmat. Restoran favorit keluargaku. Yang lebih menyenangkan lagi, tiap hari Sabtu ada hiburan musik. Saat aku melangkahkan kakiku masuk ke restoran tersebut, aku sudah melihan Mas Cakra, Mbak Anya dan Kinanti duduk di meja sudut dengan sofa yang terlihat nyaman, terutama buat aku yang baru menembus macetnya Jakarta di hari Sabtu.

Setelah menyapa peserta malam mingguan bersama, aku pun langsung memilih menu favoritku. Mas Cakra hanya mengernyit melihat pilihanku. Sepertinya dia sadar kalau aku memanfaatkan rencananya untuk menraktir. Itulah gunanya seorang abang. Lalu perhatianku teralihkan saat aku mendengar denting piano.  Suara pemain piano itu merdu sekali. Jenis suara dan cara menyanyi yang sangat aku sukai. Belum lagi keahliannya memainkan piano. Sosok yang pas. Sudah dua lagu dimainkan dan dia nyanyikan tapi aku belum juga bisa melihat tampak depan sang pemain piano. Maklumlah aku duduk di belakang piano itu.

Dentingan notasi awal di piano itu langsung membuatku merinding. Aku tahu lagu itu.

There will never come a day, you’ll ever hear me say
That I want and need to be without you.
I want to give my all.
Baby, just hold me, simply control me,
Cause your armes, they keep away the lonelies.

When I look into your eyes then I realize
That all I need is you in my life.
All I need is you in my life
Cause I never felt this way about loving
Never felt so good
Never felt this way bout loving
It feels so good.

How it takes my breath starts a pounding in my chest,
Makes me weak when I think about you
Makes me wanna give my all,
Life wouldn’t mean a thing
Not a happy song to sing,
Just emptiness if I had to live without you

Ternyata memang benar itu lagu favoritku sepanjang masa. Lagu dari seorang Bryan McKnight. Siapakah dia yang dengan sempurnanya menyanyikan lagu Never felt this way? Dan menyanyinya pun terasa kalau dari hati. Benar-benar bikin jatuh cinta.
I dedicate that song for Saskia who happens to be here tonight. I really hope you enjoyed your all time favorite song.”

Aku pun mendadak kaku. Minum pun sudah tak bisa. Kaget setengah mati. Ya…itu istilah yang tepat.
“Sas, kamu gak apa-apa kan?” tanya Mba Anya dengan penuh rasa khawatir. Aku hanya menggeleng perlahan.
“Udah lah, Sas. Gak usah kaget segitunya. Harusnya kamu tuh memerah pipinya, bukan pucet gitu.” goda Kinan yang disertai anggukan dan senyum kemenangan Mas Cakra.
Setelah beberapa menit, aku kembali sadar. Bersyukur tidak jadi pucat berkelanjutan. Baru saja kesadaran penuh kuperoleh, kurasakan seseorang menepuk lembut pundakku. Aku berbalik dalam gerakan lambat.
”Hai Saskia. Aku Barindra.” kusambut uluran tangan tanda perkenalan dari dia.
”Hai Barindra.” untung tidak terbata-bata.
Tanpa kuduga dan kusangka...
”Ndra, duduk aja. Makan bareng gue sama adek gue aja sekalian.” ajak Mas Cakra. Aku pun bingung karena kenapa mereka terlihat akrab.

Laki-laki bernama Barindra ini pun memenuhi ajakan abangku. Kinanti dan Mba Anya tersenyum kecil. Aku pun semakin curiga dan kulempar tatapan membunuh ke Mas Cakra.
“Saskia, Barindra itu temen satu kompleks kita lho. Kamu inget ga?” aku hanya menggeleng.
”Yah...payah banget sih lu, Sas. Gue aja kenal. Kemana aja lu selama ini sih, Sas?” ganti Kinan meledekku.
”Iya, Sas. Aku itu temen main Mas Cakra. Pernah kok kenalan sama kamu tapi emang cuma sambil lalu gitu. Kamunya juga cuek. Tapi aku penasaran.”
”Karena dia bilang sama Mas Cakra, ya, Mas mau bantu temen lah. Apalagi aku tau dia baik. Aku juga yakin kamu pasti suka.”
”Iiih...jadi ini konspirasi kalian semua? Pantes waktu aku cerita pada yang santai banget dan malah berusaha bikin aku enjoying perhatian rahasia dari cowo itu.”
”Tapi gimana, Sas? Oke kan temen Mas Cakra?” aku pun tersipu malu.
”Semoga kamu suka lagu tadi, Sas. Aku nyanyiin dari hati, tulus buat kamu. Karena lagu itu bener-bener ngegambarin perasaan aku ke kamu.”

Malam itu pun aku merasa berjuta bintang bersinar. Orang-orang yang kusayang pun tersenyum karena sepertinya mereka tahu bahwa aku telah terbuai dan jatuh dalam cinta seorang Barindra.

1 komentar:

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!