Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 27 September 2010


a short story by @kikiavicenna

April 12, 2014 - 11.42am

“The television world is full of lies and fake things,” Mr. White said when one of Alva’s friends asked what the artificial fog was made for. Looking at his expressions, the fourteen-year-old student knew that it was beyond the explanation he had just given. Alva knew the masquerade was not only for the purpose of making the fog so the light rays would be visible, or putting make-ups on the host’s face, or placing the right property at the right spot of the studio. Then, Mr. Richman told Mr. White to take them to the next studio. Mr. White obeyed, and the group moved again until lunch break.

“Al, what’s with you? You usually are the most enthusiastic one on field trips!” Miki asked her on the lunch break. “This one is not the kind of trip I like.” “Is it about location?” “Yeah, and I’m not really interested in broadcasting.” Alva gave the muffin a bite and pointed at a group of girls hanging around Mr. Richman, asking whether they could audition for a teen music program. “See? Those girls like masquerades.” Miki looked at her, puzzled. “Are you talking about what Mr. White said when we were in Studio 8?” Alva nodded.

“I remember,” Alva began her tale, “when I was in Grade 8, my class was invited to a TV show as the audience substitute.” “What TV show was it? Sounds interesting… “It was a sort of reality quiz show… or anything that sounds like it. My friends all thought it was real, and I did too… until at a shooting break I accidentally overheard voices from a room.”

# # #

May 10, 2011 - 1.33pm

No one else was at the corridor, only Alva. She stopped at a bench in front of the room where she heard voices and pretended to relax as she kept listening. Silence made it easier for curious young Alva to hear what the people said.

“Shall we do what we had planned?” A young man’s voice echoed. A woman’s voice answered, “Actually I don’t like to do this, but… it’s for the rating. And moreover…” “It looks better if we make these people win. I know this may make a bad image for those who understand how this should be.” An older man’s voice rose. Somehow, the voice reminded Alva of Darth Vader.

The Darth Vader-like voice continued, “Lassie, Gladys, and Lance will win, at any cost.” The woman’s voice asked, “Even if we have to sacrifice the real potentials?” “They’ll look better at the cameras when they go on the holiday we promise as the grand prize.” “Then, we’re continuing this scenario?” “Of course, there’s no turning back. We must finish with the planned winners.”

Alva was sitting still there, stunned from what they talked about. Out of the ten people, according to what she and her friends had seen from the entire series, Lassie only made it through by luck, Gladys was ‘not worth it’, and Lance was not even serious about the contest. “Hey, young lady, why are you sitting alone here?” Alva turned quickly and saw her heroine at that time: Rianna.

“Well, I’m just looking for some fresh air here…” “If you want fresh air, let’s walk outside. Looks like you’ll make a good contestant.”

Rianna took her for a walk from the building. “Hey, what’s your name?” “I’m Alva. And… how should I call you?” “You may call me Ann. That’s my nickname, but only few people use it.” “You’re such a great contestant,” Alva complimented. “Oh, not that good, Alva,” the sixteen-year-old answered, “I’m just giving it my best try. How old are you now?” “Twelve. And I’m in eighth grade,” “That’s good!” Rianna smiled with zeal. “Perhaps someday you’ll be part of this show as a contestant.” Alva gave her a big grin.

Then an announcement echoed from the intercom, shooting break was over. Rianna led her back to the studio. Alva was anxious, knowing the vile scenario of choosing people who only ‘look good on TV’ without any better qualification, and most of all, knowing that her heroine, Rianna, would lose due to that scenario.

# # #

April 12, 2014 - Lunch break

“Oh, that’s so bad, Alva.” “Ever since, I never trust TV industries too much anymore, Miki,” Alva sighed, “and when the shooting ended, Ann could only cry silently in disappointment, while the people in that scenario looked as if they were genuinely trying to comfort her. The next episode, I decided, would be the last time I ever attended a TV program shooting. I didn’t want to watch the finals anymore. And that was the last time I met Ann.” Miki closed her lunchbox and said, “Well, but I’m sure she’s got more chances coming after that tragic loss.” “Yes, she did.”

# # #

May 11, 2011 - 8.35am

On their last meeting, Alva tried to cheer Rianna up. “Ann,” Alva took out her camera, “Smile at me and this camera!” Ann turned and smiled, but her smile contained traces of sadness. “Ann, don’t cry. I believe you should have won, and maybe this is just not your chance… There are still more chances waiting for a person like you.” Alva grinned at her. “Thank you,” Rianna hugged her little friend and walked back to the waiting room.

# # #

Alva's House
August 21, 2011 - 9.21pm

The episodes had ended, the fake finale had been aired. And now, the 'winners' – people in the prepared scenario – were suddenly under the limelight, being exposed up close and personal. Several epilogue episodes featuring their grand prize trip around the globe aired, and when Alva accidentally saw it, she only watched it for less than three minutes.

She laughed at the ‘winners’ when one of them spoke out, and two seconds before she reached three minutes in front of the TV, she turned it off and walked away with a huff back to her bedroom.

# # #
(Mr. Richman)

April 12, 2014 - 12.44pm

“Mr. Richman, can we audition for the music program? Please…?”

I don’t know what to do. And I remember that girl over there. Three years ago, I saw her in the reality quiz show I produced. She refused to come and watch the finale. Did she know about the scenario? But no – it was supposed to be a secret… but could she…?

Now I don’t know what to do with these girls, except… looking at their faces and asking them personally, one by one, as we walk around the third floor. I think I had just seen several camera faces among this crowd of girls…

# # #

(based on the theme 'palsu', I made the sub-theme 'fake television world')

Tema 26 September 2010

Tema 26 September ini adalah "palsu". Tentang hal-hal palsu yang ada di sekitar kita. Apakah itu hidung palsu, tas palsu, keluarga palsu, dan sebagainya. Silakan kembangkan kreativitasmu dalam bidang kepalsuan! :D


Writing Session

Di Sebuah Pagi Yang Kosong

Oleh : Noerazhka
Twitter : @noerazhka
Tema : Lesbian

Pagi ini, lain dari pagi-pagi sebelumnya. Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi, ketika jarum jam sudah beranjak meninggalkan pukul 8.

Shit Terlambat !

Ah, aku batalkan niat untuk mengumpat. Percuma.

Aku memang terlalu terbiasa dengan kehadirannya, hingga akhirnya ketika sudah tidak ada lagi dia, aku kewalahan seperti ini. Sebenarnya sudah kuduga, ternyata benar, bukan ?

Aku urung beranjak. Biarlah, toh, sudah terlambat banyak.

Aku justru terpekur di tempat tidur. Mengenangnya. Mengenang dia yang sudah tidak ada. Mengenang dia yang selama ini menjadi teman, bahkan, di setiap detikku. Mengenang dia yang kemarin siang memutuskan untuk mengakhiri apa yang pernah kami mulai. Mengenangnya ..

Semalam, tepat sebelum memulai episode tidur pertamaku tanpa ucapan selamat malam darinya, aku menyugesti diri semua akan baik-baik saja. Dia hanya seseorang yang tidak sengaja melewati hidupku, sehingga  wajar-wajar sajalah jika akhirnya dia berlalu. Namun ternyata, di pagi ini, sesaat ketika aku membuka mata pertama kali tanpa omelan bawelnya, sungguh, cuma hampa yang ada.

Ah, biasanya saat adzan Subuh berkumandang belum lama, ponselku berbunyi, disusul ocehannya yang membuat aku tidak tahan untuk tidak segera membuka mata lebar-lebar, kadang dengan sedikit pening. Namun, itulah hebatnya dia, tidak sekalipun aku pernah kesal padanya, meski seharusnya dia membiarkanku bangun sedikit siang, ketika matahari sudah mengintip sedikit. Ya, bagaimana bisa aku kesal, jika setelah puas mengoceh, dia menutupnya dengan,

I love you, Beib ..

Tanpa menunggu lama, aku pun tersenyum lebar. Semangatku terpompa maksimal, siap menjalani tantangan seharian.

Aku mengacak kepalaku sendiri. Frustasi.

Sulit sekali rasanya, menerima bahwa sudah tidak ada dia. Bukan hanya pagi dan malam yang akan menjadi hambar, menjelang siang nanti, tidak akan ada lagi SMS bertubi-tubi hanya untuk mengingatkan makan. Selepas Dhuhur juga tidak akan ada telepon-telepon pendek yang memberi semangat untuk menyelesaikan pekerjaan. Senja pun akan pulang sendirian, seperti aku, yang menyusuri jalan sendirian, tidak ada lagi dia yang duduk di sampingku, bercerita tentang hari yang panjang.

Ah, aku merasa kosong. Separuhku hilang.

Siluet-siluet detik terakhir bersamanya yang sungguh tidak kusangka-sangka, semalam, seperti terulang lagi. Terputar jelas di kepalaku.

Aku sudah memutuskan, Beib ..

Memutuskan apa ?

Aku ingin hidup sebagaimana orang lain hidup ..

Aku terlongo saat itu. Apakah kebersamaannya denganku selama ini tidak membuatnya merasa hidup ?

Aku akan menikah ..

Tanah yang kupijak mendadak amblas !

Menikah ?! Jangan becanda, Sayang .. Kita sudah pernah membahasnya, sejak lama ..

Dia menggeleng serius, ekspresi wajahnya datar, membuatku ketakutan.

Maaf, Beib, aku akan tetap menikah, dengan atau tanpa persetujuanmu .. Kita tidak bisa terus seperti ini ..

Aku kehilangan kata. Otakku seperti mendidih, kemudian menguap habis. Hati kecilku sudah mulai berbisik, dia akan pergi. Meninggalkanku. Mengakhiri semua tentang kami.

Beib, maafkan aku .. Benar aku mencintaimu, dengan sepenuh hatiku .. Tapi aku pun ingin berjalan dalam kodrat, menjadi istri, menjadi ibu dari anak-anakku ..

Kodrat. Ah, aku memejamkan mata, tak bisa membantahnya. Benar, sebahagia-bahagianya dia denganku, aku tidak akan pernah bisa membuatnya menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu dari anak-anak kami ..

Karena jauh di dalam hati, sesungguhnya aku pun punya keinginan sama, menjadi istri, menjadi ibu dari bocah-bocah mungil, nanti ..

Ya, karena kami sama-sama perempuan ..

Sudah. Setelah itu, aku tidak menahannya melangkah pergi ..

Selamanya ..


Minggu, 26 September 2010

tema: Kehilangan - Judul: Bintang Untukmu

Judul: Bintang Untukmu

Oleh: Andrea Kusuma
twitter: @deakpm


Ia terlihat begitu damai hari itu dengan senyum kecil terlukis di wajahnya. Matanya yang terpejam, membuatnya terlihat seperti sedang mengalami sebuah mimpi yang indah. Mimpi dimana segala sesuatunya berjalan dengan baik dan seperti seharusnya. Mimpi yang sangat berbeda dengan kenyataan yang sedang kualami, dimana seluruh kepingan hidupku hancur berantakan dan aku berharap untuk bisa segera terbangun dari mimpi buruk yang telah merenggut semua yang berharga bagiku…



Semua ini dimulai pada tanggal 18 Februari 2010 lalu. Pada awalnya hari itu berjalan seperti hari-hari lain yang dimulai dengan rutinitas sama. Bangun pagi, menunggu mama menyeret Abi, kakakku, untuk bangun pagi, dan berangkat ke sekolah bersama Abi dan mobil sedan hitamnya. Hanya satu hal yang berbeda dari biasanya. Tidak ada Putra, pacarku, yang menunggu di lapangan basket seperti biasanya.

Sejak seminggu yang lalu, ia dan keluarganya pergi ke Menado untuk menjenguk neneknya yang tinggal disana dan sedang sakit. Rencananya ia dan keluarga akan balik kembali ke Jakarta dalam empat hari lagi.

Akan tetapi, empat hari lagi adalah hari dimana aku dan tim basket putri sekolah kami akan mengikuti kompetisi bola basket se-Jakarta. Dua minggu yang lalu ia sudah berjanji untuk membantu melatih kemampuan basketku, sehingga aku pun memutuskan meneleponnya kemarin dan memintanya pulang tiga hari lebih cepat dari keluarganya yang lain. Apalagi saat ini keadaan neneknya pun sudah sangat membaik. Sebuah keputusan yang terlihat sederhana pada awalnya, tetapi mempunyai konsekuensi yang sangat besar di akhir. Konsekuensi yang menghancurkan perasaan orang-orang yang kusayang dan yang membuatku yakin bahwa aku tidak akan pernah bahagia lagi. Bagaimana bisa aku bahagia jika aku kehilangan separuh dari diriku?



20 Februari 2010.

Karena sangat lelah setelah berlatih basket sejak dua hari terakhir ini, aku pun tertidur lelap sepanjang siang dan baru terbangun pada pukul empat sore. Dengan bergegas aku pun segera mandi, mengganti baju, dan kemudian naik kendaraan umum menuju rumah Putra. Rencananya kemarin ia balik ke Jakarta dengan penerbangan paling awal. Sehingga semestinya sejak kemarin siang ia telah sampai rumah dan telah sempat beristirahat seharian penuh. Dengan langkah ringan kuayunkan kakiku menuju rumah besar bergaya minimalis dengan pagar cokelat yang telah begitu kukenal sekarang.

Tetapi secara mendadak langkah kakiku terhenti saat melihat begitu banyak orang berkumpul di depan rumahnya. Beberapa saudara-saudara Putra yang telah kukenal tampak diantara orang-orang itu. Mereka tampak sangat sibuk dan berjalan kesana kemari, walaupun ada juga beberapa yang hanya terduduk lemas di kursi-kursi lipat yang banyak diletakkan di garasi dan jalanan depan rumah Putra. Diluar perbedaan aktivitas yang mereka lakukan, mereka menunjukkan satu raut wajah yang sama. Kesedihan dan sedikit rasa tidak percaya. Seakan apapun yang terjadi saat itu sangat sukar untuk dipercaya walaupun mereka sudah menyaksikannya sendiri.

Perasaan dingin yang mencekam mulai menyelimuti hatiku. Firasatku mengatakan bahwa ada sesuatu yang sangat salah terjadi disini. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi. Dan hal ini melibatkan orang-orang yang tinggal di rumah besar berpagar cokelat itu. Orang-orang yang sangat kusayangi.

Dengan kalut aku mulai berlari kedalam rumah, mencari wajah-wajah yang kukenal untuk memastikan bahwa tidak ada apapun yang terjadi pada mereka. Wajah yang pertama kulihat adalah Andra, adik Putra, Tante Terry dan Om Hendra, orangtua Putra. Dengan menghela napas lega, aku pun mengarahkan pandanganku ke orang-orang disekitar keluarga Putra, yakin akan menemukan Putra didekat keluarganya.

Sebuah kasur panjang yang dibentangkan ditengah ruang keluarga rumah Putra adalah hal pertama yang kulihat. Belum sempat melihat benda apa yang ada diatas kasur, mataku pun bertemu dengan mata Tante Terry. Dalam sekejap, Tante Terry langsung berlari kearahku dengan air mata yang berlinang dan merengkuhku kedalam pelukannya. Di luar kemauanku, badanku berguncang-guncang seirama dengan isakan yang keluar dari bibirnya. Di saat itulah, pandanganku yang tidak lagi terhalang oleh orang-orang dapat melihat apa, atau siapa, yang berada diatas kasur itu.



Ini tidak mungkin.

Aku merasa kakiku mulai gemetar dan goyah saat aku melihat siapa yang berada diatas kasur itu. Terbaring tak bergerak dengan raut muka yang terlihat damai, Putra terlihat seakan sedang tertidur pulas dengan mimpi yang indah. Hanya wajahnya yang pucat dan dadanya yang tidak bergerak tanpa nafasnya saja, yang membuatku yakin bahwa ia telah pergi.

Pergi. Putra telah tiada.

Putraku telah tiada.

Seiring dengan meresapnya kenyataan itu, aku pun ambruk. Hanya rengkuhan yang kuat dari Tante Terry yang mencegahku untuk langsung menghantam lantai pada saat kakiku berhenti menjadi penyangga. Bersama dengan Tante Terry, kami berdua pun terduduk di lantai dengan Tante Terry yang masih terus terisak di pundakku, dan aku yang terus menatap kearah Putra dengan pandangan yang kosong. Tidak ada air mata yang menetes dari mataku, hanya ada kekosongan di dadaku. Aku tidak merasakan apapun.

Bagaimana bisa aku merasakan sesuatu saat seseorang yang menjadi alasan bagiku untuk merasakan senang dan sedih telah diambil dariku?



Proses pemakaman Putra terus berjalan. Seiring dengan kesibukan untuk menyiapkan proses pemakaman yang terjadi disekitarku, aku pun menemukan bahwa ikut berpartisipasi dalam kesibukan itu membantu mengurangi rasa hampa di diriku yang semakin lama semakin menarikku kedalamnya. Disaat kami sedang merapikan kursi-kursi untuk tamu yang datang melayat, Andra, adik dari Putra pun bercerita bahwa pesawat Boeing 747 yang ditumpangi Putra jatuh pada saat akan mendarat akibat kerusakan mesin dan semua orang yang berada di pesawat itu dipastikan tewas.

Putra yang berada di bagian tengah pesawat menderita pendarahan dalam akibat terlempar keluar dari pesawat saat pesawat itu terbelah dua ketika jatuh, dan meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Mendengar berita kecelakaan pesawat itu di televisi saat masih di Menado, Andra sekeluarga pun langsung pulang untuk memastikan. Sedangkan aku yang sejak kemarin berlatih basket seharian penuh untuk kompetisi tentu saja tidak pernah menyalakan televisi untuk mendengarkan berita.

Bagaimana jika seandainya aku tidak meminta Putra pulang lebih cepat untuk membantuku berlatih?

Akankah dia masih disini?

Aku pun menyuarakan pemikiranku kepada Andra dan bersiap-siap untuk menerima kemarahan dan kebencian darinya karena telah menjadi penyebab dari meninggalnya Putra. Karena itulah aku sangat terkejut saat aku justru mendapati ia tersenyum tulus kepadaku dengan air mata disudut matanya.

"Kata ayah, kematian adalah hal yang pasti dan hanya menawarkan dua pilihan kepada penerimanya dan juga orang yang ditinggalkan. Apakah kita mau menerimanya dengan tulus dan ikhlas atau kita mau menerimanya dengan kemarahan dan rasa tidak terima kepada Tuhan? Apapun penyebabnya tidak akan membuat perbedaan, Kak Andien. Ini adalah waktu buat Kak Putra untuk pergi. Hanya satu hal yang perlu kita ingat dari kejadian ini, bahwa diluar apapun yang terjadi, Kak Putra terlihat damai dan ia pergi dengan mengetahui bahwa orang-orang yang ia tinggalkan akan selalu mencintai, mendoakan, dan merelakannya pergi dengan ikhlas sehingga ia bisa tidur dengan tenang disana."

Aku termangu mendengar ucapan itu, dan dengan perlahan secercah kehangatan mulai merasuki hatiku lagi. Mengisinya dengan perasaan saat ucapan Andra membuatku mulai bisa menerima kenyataan yang sangat ganjil ini. Kenyataan yang terus membuatku bertanya-tanya, kenapa ia harus pergi sekarang, disaat masih ada begitu banyak hal di dunia ini yang bisa ia raih?

Sejenak, Andra terlihat merogoh kantung bajunya. Kemudian ia pun menjulurkan secarik kertas yang terlipat kearahku. Secarik kertas yang terlihat kotor dan sedikit lecek serta bernoda. Aku pun membuka lipatan kertas itu dan membaca tulisan yang ada diatasnya.


Jangan sedih. Tetap bahagia.

Know that I Love you...

Always have, and always will.

"Ini diberikan oleh salah seorang petugas paramedis saat kami datang menjemput kakak di rumah sakit. Menurutnya, saat di ambulans kakak terus bersikeras untuk menulis ini, bahkan disaat mereka memaksa kakak untuk jangan banyak bergerak. Kakak terus menerus mengatakan bahwa, 'Andien harus tahu' saat ia meminta kakak untuk berhenti menulis." Andra menjelaskan dengan suara serak.

Suara Andra hilang dan timbul di telingaku saat aku membaca tulisan yang ada di kertas itu. Pandanganku mulai memburam saat air mata mulai menghalangi penglihatanku, tetapi aku tidak bisa berhenti untuk terus membaca kata per kata, mengeja huruf per huruf, yang ada di kertas lusuh itu. Waktu terasa berjalan dengan sangat lambat saat aku berdiri di tempat itu, mencoba mengerti setiap kata yang dituliskan oleh Putra untukku. Kata-kata terakhir Putra untukku.

Jangan sedih. Tetap bahagia…

Air mata pun akhirnya membanjiri wajahku saat gelombang perasaan mulai memasuki diri, mendorong keluar kehampaan yang sebelumnya kurasakan.

Jangan sedih. Tetap bahagia.

Sekali lagi, untuk yang terakhir kali, Putra kembali memberiku alasan untuk merasakan senang dan sedih.

Untuk yang pertama kalinya hari itu, aku menangis. Dan terus menangis. Dengan Andra disampingku dan memelukku erat, aku pun menumpahkan semua emosi yang kurasakan, semua perasaan kehilangan yang menyergap diriku, agar pada akhirnya aku bisa menerima kepergian Putra.


**dedicated for my grandma. May you rest in peace in heaven, gramps..**


Sabtu, 25 September 2010

Memories of 27 August 2010

Oleh Endah Setyorini

27 Agustus 2010
Aku datang ke sebuah acara musik di salah satu mall di daerah Sarinah, Jakarta. Dengan maksud yang sudah pasti ingin menonton band yang saat ini mulai naik daun namanya "Night To Remember". Perjalanan sempat terhalang hujan besar saat itu, namun aku tetap bertekad untuk kesana karena ketika itu hari terakhir aku dapat melihat mereka perform sebelum mereka ke Jember kota asal mereka.
Jam 5 sore aku berangkat menggunakan bus transjakarta. Sempat menunggu ± 1 jam di halte busway harmoni karena busway yang akan mengantarkanku ke tempat itu tak kunjung datang.
Ketika busway datang semua berebut untuk masuk dan aku juga berusaha untuk masuk.
Akhirnya aku masuk dan bus itu sampai juga di tempat tujuan. Waktu yang sangat sempit memaksaku tidak bisa lagi mencari kue tart untuk bassist Night To Remember yang pada tanggal 24 Agustus berulang tahun.
Ku putuskan membeli 1 lusin donat dan aku sengaja membeli rasa cokelat karena sebenarnya ka Waskee sudah ku tanya mau rasa apa bila aku membelikannya tart.
Mereka pun akhirnya memulai performance mereka dan beberapa kali mengerjai ka Waskee. Ka Dema, Ka Arbill, Ka Kiky dan Ka kandar pun mempersilahkan aku memberikan donat itu kepada ka Waskee. Jujur aku sudah meminta agar dapat memberikan langsung kepada ka Waskee dan 4 personil lainnya menyetujui usulan ku.
Awalnya ku pikir hanya maju ke atas panggung dan memberikan donat itu, ternyata ka Arbill berkata "suapin donatnya ke Waskee." Aku yakin saat itu wajah ku pasti sudah benar-benar merah seperti menggunakan blash on.
Aku menuruti permintaan ka Arbill dan ternyata saat menyuapi ka Waskee tanganku di dorong oleh ka Arbill. Muka ka Waskee kini terkena donat yang di lumuri gula halus. Sungguh aku tak tega tapi aku tak mau lebih lanjut lagi nantinya akan menjadi teman-temanku yang lain, aku memutuskan turun dari panggung.
Perform masih di lanjutkan dan setelah selesai aku mendekati ka Waskee dan berkata "Happy birthday ka." Ka Waskee memang tidak banyak bicara dan dia hanya mengatakan "makasih." Teman-teman yan lain pun mengucapkan happy birthday dan di lanjut sesi foto bareng.
Setiap mereka perform aku memang selalu meminta foto berdua dengan ka Waskee. Dan foto itu adalah foto terakhir sampai saat ini yang ku punya dengannya. Sampai saat ini aku belum bertemu dia lagi. Sebenarnya hari ini 24 Agustus 2010 mereka ada jadwal perform di salah satu acara musik, namun aku tak dapat bertemu mereka karena aku ada jam kuliah. Hanya foto itu yang dapat mengilangkan kegalauan ku saat aku mulai merindukan mereka.

Dialog Tua yang Tak Pernah Usang

 Oleh Kania Laksita Raras

Aku menatap sofa merah tua di sudut ruangan putih ini. Aku masih ingat betapa ia menyayangi sofa itu, betapa ia bisa tenang sambil terpejam melemaskan seluruh badannya di atas sofa itu, dan aku masih bisa menggambar dengan jelas geraian rambut cokelat tuanya yang ia lampirkan dengan lemah lembut di bagian kepala sofa itu. Setiap pulang sekolah, atau setiap aku baru pulang dari kegiatan ekstrakulikuler, aku sering melihat ia berdiam diri di sofa itu. Wajahnya terlihat tenteram. Jika ia sudah merasa cukup, ia akan bangkit dari sofa lalu menyapa dan memeluk tubuhku yang bau matahari. Namun, bau matahari yang panas itu mampu diredam oleh kehangatan tubuhnya. Aku sering menduduki sofa itu kala merindukannya, tiap ia pergi ke luar kota untuk urusan kerjaan, misalnya. Harum tubuhnya, wangi parfumnya sudah melekat tak mau lepas dari permukaan beludru sofa itu. Sofa merah itu sungguhlah aroma dia, tanpa pernah bisa dihilangkan.

Teringat setiap langkah yang aku lalui bersamanya, setiap waktu yang ia selalu sediakan untukku. Walaupun terkadang jauh, tapi aku bisa merasa ia selalu bersamaku walau hanya mendengar suaranya lewat telepon atau pesan-pesan singkat di messenger. Jika aku sedang resah karena segala masalah yang menimpa, ia selalu bisa menenangkanku dengan berbagai cara komunikasinya. Ia mampu membuatku diam merasa bersalah karena telah membentaknya dan menganggapnya egois, hanya dengan mengucapkan tiap kata yang aku yakin tak pernah diucap orang lain padaku, atau pada kepunyaan mereka. Ia bukan orang yang otoriter, aku pun mengenal dan memahami makna demokrasi bukan dari sistem negara ini melainkan cara yang ia terapkan padaku. Ia tidak pernah ragu untuk mendengar dan sungguh pantangan baginya untuk menilaiku berdasarkan predikat yang aku miliki. Ia telah menerapkan segala nilai yang aku makin syukuri telah peroleh ketika usiaku beranjak dewasa.

Siang ini, aku kembali mengenang sosoknya. Aku minum teh dari cangkir kesayangannya, aku merelaksasi segala kepenatan dengan melakukan apa yang dulu ia lakukan di sofa merah tua itu, aku menghitung segala langkah yang dulu biasa kupijakkan dari kamarku menuju kamarnya, kala aku ketakutan di tengah malam. Aku menekan-nekan tuts piano yang sudah ia kenalkan padaku sejak aku masih belum bisa membaca aksara apapun di dunia ini. Aku memaksanya hadir di hariku, aku belum bisa mengganti sosok ia dengan siapapun untuk membuatku tenang. Hari ini, aku paksa untuk hirup udara yang masih menyelimuti rumah ini. Rumah yang telah menjadi saksi mati aku tumbuh menjadi manusia seperti sekarang. Memang, beberapa tahun telah ia lewati untuk menjadi saksi mati pertumbuhanku menjadi manusia, karena aku harus rela untuk keluar dari sini, berpisah dengannya, demi belajar tentang dunia dan hidupku.

Langkahku terhenti di satu sisi dinding. Berisi gambar-gambar aku dan dia, penuh dengan senyum, tak sedikit yang berisi pose tolol kami berdua. Masing-masing gambar menunjukkan perubahan wajahku dari masa ke masa. Saat aku masih balita, saat aku menjadi anak-anak, remaja, hingga terakhir, wajahku tiga tahun yang lalu. Tentu saja dalam tiga tahun banyak yang telah berubah dari penampilanku, tapi foto itu paling menggambarkan aku kini. Aku mengingat segala yang pernah ia katakan sepanjang hidupku.

“Ingatlah, sayang. Aku memiliki tugas, kamu adalah anugerah yang membuatku bertugas untuk membesarkanmu dan mendidikmu. Namun itu bukanlah hasil akhir, itu semua hanya bekal yang mau tidak mau akan kau bawa seumur hidup,” ujarnya saat aku hendak pergi dari rumah ini. Usiaku 18 tahun waktu itu, aku hendak melanglang buana demi memeroleh pendidikan, yang juga, ia telah restui.

“Selama ini anak telah terdogma untuk mematuhi peraturan orangtua mereka. Namun, orangtua lupa, bahwa akan ada masanya saat anak-anak mereka tidak bisa lagi sepaham dengan mereka. Orangtua lupa, bahwa anak, jika saatnya tiba, berhak untuk hidup dengan pikiran mereka sendiri,” ujarnya saat aku usai beradu pendapat dengannya, usiaku masih belia, merayap dari remaja menuju dewasa muda.

“Kamu, anakku, bukanlah beban. Kamu, anakku, tidak memiliki utang apapun terhadap orangtuamu, karena kamu, anakku, tidak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini. Kami, orangtuamu, yang telah berkehendak untuk memilikimu atas hubungan suami istri yang kami lakukan,” katanya waktu aku sedang pulang ke rumah di masa kuliah semester akhir dan sedang bingung menentukan tujuan kerja selepas aku menjadi seorang sarjana. Aku waktu itu meminta pertimbangan padanya apa yang sebaiknya aku lakukan, karena aku takut apa yang aku kehendaki tidak akan sesuai dengannya.

“Bagaimanapun kamu di luar sana, semua orang akan menilaimu. Tanpa kau sadari, semua penilaian selalu melibatkan rumah asalmu, karena rumah, karena keluarga, adalah yang paling menentukan derajat intelektualmu ke hadapan rimba kehidupan, anakku,” ujarnya sambil membuatkanku secangkir teh kala sore yang hujan memagari rumah kami. Waktu itu aku masih SMA, merasa paling tahu akan siapa aku, yang sebenarnya, aku belum tahu apa-apa tentang diriku waktu itu.

“Nilai bukanlah yang tercantum di angka pada raportmu, sayang. Kau boleh bangga ketika memeroleh angka tertinggi di kelas, tapi nanti, kelak, kau akan sadar bahwa kualitasmu tidak melulu bergantung pada angka. Ingatlah, sayang, proses belajar bukan berarti hanya membaca buku pelajaran ketika kau akan menghadapi ujian esok hari. Kualitasmu sebagai seorang manusia tidak bisa dihargai dengan angka atau nilai yang memiliki batas 10 atau 100, atau A, atau berapapun tingginya. Semua manusia, tidak sepantasnya dinilai semutlak itu,” ucapnya ketika aku menangis karena gagal meraih peringkat satu di kelasku. Waktu itu, aku duduk di kelas 2 SMP. Ia tidak pernah marah seperti orangtua teman-temanku yang lainnya.
“Dengar, tidak ada gunanya jika kamu ingin menjadi juara kelas karena takut Ibu memarahimu ketika gagal. Karena ketika kamu gagal, Ibu akan selalu ada untuk memotivasimu,” Ia mengecup lembut keningku yang basah karena keringat sehabis menangis.

“Selama ini, dunia telah membuat pola dan ikon bagaimana orangtua yang ideal. Penilaian itu lalu akan membuat anak menjadi subjek yang selalu disalahkan jika terjadi perselisihan dengan orangtua mereka. Tapi, percayalah, Nak, orangtua adalah manusia yang seharusnya menjadi sahabat anak mereka. Kami bukan presiden yang berada dalam tataran hierarki paling tinggi hingga semua yang di bawah mereka harus menurut tanpa kompromi. Orangtua seharusnya menjadi sahabat yang paling bisa kau percaya, karena kami hanya manusia yang harus mencoba mengerti.” jelasnya dengan sorot mata tajam ketika aku membentaknya suatu waktu, hanya karena ia bertanya mengapa aku terlihat uring-uringan, kala aku putus dengan pacarku di SMA.

“Ketika kamu menjadi orangtua kelak, ingatlah, jangan pernah berpikir bahwa anak lebih pintar dari orangtua membuatmu memaklumi kekurangan intelektualmu di depan anak-anak. Tidak ada alasan manusia untuk berhenti belajar, termasuk belajar memahami anak-anakmu. Dengan kebijaksanaan dan kepintaranmu, ibu yakin kau akan jadi orangtua yang sangat disayangi anak-anakmu. Karena nilai, adalah yang bisa kau bagi dengan mereka. Nilaimu, sebagai orangtua mereka,” nasehatnya ketika aku memutuskan untuk menikah, lima tahun silam.

“Jangan pernah kau hakimi anakmu dan jangan pernah kau sakiti mereka hanya karena kekesalanmu terhadap hidup yang semakin lama semakin membenani. Anak bukan matras yang bisa kau jadikan pelampiasan emosimu, sayang.” Ia waktu itu duduk di sebelahku, sambil mengelus-elus perutku yang waktu itu berisi janin hasil buah cintaku dengan suami. Empat bulan usia kandunganku, waktu itu.

“Anakku, ketika suatu waktu anakmu kecewa terhadapmu, jangan kau usir mereka. Karena, bisa jadi kau memang telah membuat mereka kecewa dan sakit hati. Cegahlah itu, sayang. Ingatlah, kita bisa kecewa terhadap orang lain dan memutuskan hidup tanpa mereka. Tapi, ketika kita kecewa terhadap orangtua kita sendiri, oh, anakku, tidak ada yang lebih menyakitkan untuk merasakan itu. Dengarlah Ibu, sayang, jangan pernah kau buat anakmu kecewa, bagaimanapun caranya kau mencegah dan mengatasi itu,” ujarnya, saat ia menggendong bayi perempuanku yang mungil, sehabis aku melahirkan.

Oh, Ibu. Sungguh aku merindukan sosokmu. Saat ini, aku sedang merasakan betapa beratnya kehidupan telah memaksaku untuk terus bergelut, untuk terus mengenyahkan perkara yang semakin memelihara angkara. Sosokmu, satu dan tunggal, sebagai Ibu, telah berhasil membuatku merasa lebih dari cukup dibandingkan mereka yang memiliki dua orangtua, sepasang, Ibu dan Ayah. Dirimu, Ibu, yang mampu membuatku tak pernah menyesal tak pernah tahu siapa ayahku, dan tak pernah menganggap kita hidup dalam kekurangan. Aku membutuhkan nasehat dan ujaran lain darimu, yang bisa menenangkan aku saat ini.

Kuseka air mata yang membasahi blazer hitamku. Kuelus bagian penopang lengan sofa merah tua ini, mencium wangi tubuhmu yang tak mungkin bisa kucium lagi. Aku mengesahkan isakan pedihku karena kehilanganmu begitu cepat, di saat aku masih membutuhkanmu, di saat aku tahu bahwa memang semua perkataanmu benar, bahwa hanya kau yang bisa aku percaya. Aku membutuhkanmu, Ibu, walau aku telah menjadi ibu, yang semakin takut jika nantinya aku melupakan segala nilai yang hari ini masih bisa kuingat. Segala perkataan indahmu, segala nilai bijaksanamu.

Berselang beberapa menit, aku memutuskan pergi. Tak sanggup lagi aku melayangkan pandang ke seluruh rumah ini, rumahmu, rumah kita, saksi matiku yang harus rela ikut mati sejalan dengan kepergianmu yang telah ditutup oleh tanah basah pagi tadi. Keluar pintu, aku masih merasakan pedih yang mendalam dalam dadaku. Hingga aku menyadari, aku hanyalah sesosok manusia yang kini diijinkan menjalani giliran sebagai seorang ibu. Namun, aku tetaplah manusia, yang tak luput dari segala kesalahan. Aku adalah seorang Ibu, yang tak luput dari segala kesalahan.***

Sarijadi, Bandung, 12 Maret 2010

Tema 24 September 2010

Jadi tema untuk tanggal 24 September adalah..

Random Photo! Ambil salah satu photo di dalam gallery ponsel kalian, jadikan latar belakang dari karya yang akan teman-teman tulis :)

Karena sebuah foto lebih bermakna dari sejuta kata-kata.

Mama, you're the queen of my heart

Oleh Lied Boo

pagi hari di jogja…
Dapat kurasakan dinginnya udara diluar menyelinap masuk melalui jendela kamarku, bunyi gemericik air yang jatuh diatas loteng membuat dentuman nada yang begitu khas, bau rerumputan bercampur air hujan tercium melalui rongga hidungku. aku mulai merasakan betapa bersyukurnya aku masih bisa menikmati semua ini.
aku melangkah dengan pasti menuju jendela, kubuka tirai yang sedari tadi tertutup, ku ambil kursi dan mulai duduk menikmati pagi hari ini dengan gembira.
aku gembira, gembira karena aku sedang menunggu seseorang datang, seorang yang dengan suara merdunya selalu mengajariku dan menceritakan banyak hal. Yaa.. dia mengabarkan kalau dia akan datang pagi ini untuk sekedar melihat keadaan ku.
“assalamualaikum” suara itu membuyarkan lamunanku
“waalikumsalam, aku sudah menunggu mu sedari tadi” ucapku sambil berdiri dan mencoba menghampiri dia
“tetaplah duduk disana” dia menghampiriku dan menuntunku kembali duduk di dekat jendela. tangannya begitu hangat aku tidak ingin melepaskan tanganku dari tangannya. kemudian dia mengambil bangku yang ada didekat meja  tak jauh dari jendela ,tangan satunya tergenggam tetap ditanganku seraya dia tau aku tak ingin melapaskannya.
“bagaimana kabarmu?” tanya nya, sambil memegang pergelangan tangannku dengan erat. “aku sangat baik” jawabku kemudian kulontarkan senyum termanis yang pernah kupunya. “kau sangan cantik hari ini” pujian itu selalu kudengar setiap ia datang mengunjungiku dan aku tau kalau hari ini aku memang terlihat berbeda dari biasanya, karena aku sudah mempersiapkan ini jauh sebelum kau datang. “terima kasih” ucapku.
seperti biasa dia mulai menceritakan sesuatu hal, kali ini dia bercerita tentang kehidupan kota tempat dia tinggal yaitu kota Jakarta, dia mengeluhkan beberapa hal tentang kota itu, akan tetapi dia juga sedikit memuji kota yang yang telah memberikannya sebuah lapangan pekerjaan.
“aku ingin memperkenalkan seseorang kepadamu” ucapnya ketika selesai bercerita
“siapa” aku bertanya-tanya dalam hati, tidak biasanya dia membawa orang lain ketempatku
dia menggeser bangkunya, menyuruh seseorang duduk “kenalkan, ini calon isteri ku”.
dapat kurasakan sentuhan tangan wanita yang dia kenalkan sebagai calon isterinya itu, jari jemarinya begitu lentik, kukunya panjang dan licin, kulit nya halus terawat. yaa..pasti dia wanita muda yang cantik.
“Insya Allah, kami akan menikah bulan depan” ucapnya
aku dapat merasakan degup jantungku yang begitu kencang terasa sampai ke otak, butiran air mata jatuh membasahi kedua belah pipi ku yang sudah keriput ini.
“tak kusangka kau sudah besar anak ku, kau telah menjadi seorang Dokter hebat, aku tidak punya alasan untuk menahanmu untuk tetap bersama ku, pergilah dengan wanita yang menjadi pilihanmu anak ku. tugas ku sudah selesai untuk menjadi seorang ibu”
dia lalu memeluk ku dengan erat, erat sampai aku merasakan kehangatan yang begitu mendalam. aku yakin dia adalah pria yang tampan dengan bola mata yang bagus. sayang aku tidak dapat melihat mata itu, mataku yang kini telah menjadi matanya.
terus berjuang anak ku, ku donorkan kedua mataku untuk mu agar kau dapat melihat dunia, melihat betapa indah dunia ini, maaf kan aku telah melahirkan mu tanpa memiliki bola mata sendiri.
“aku sayang padamu Bu” bisik nya sambil terus mendekap erat tubuhku.

Jumat, 24 September 2010

Merah & Hijau

[Merah & Hijau]
Oleh: [Wenny Sri Widowati]

[Aku menatap pantulan wajahku di depan cermin. Tanganku dengan terampil mengikat rambutku menjadi satu pada puncak kepala. Harum apel segar belum hilang dari helai rambut yang bergerak ringan mengikuti gerak tubuhku. Jujur, keharuman ini cukup mengganggu. Aku perlu mempertimbangkan apakah akan memakai sampoo ini lebih lama lagi. Wangi sampoo yang tidak kunjung hilang membuatku perpikir bahwa kadungan parfum yang ada dalam pencuci rambut milikku terlalu kencang.

Berlebihan? Tidak juga. Sama seperti perempuan pada umumnya, aku memerhatikan setiap detil bahan apapun yang dikonsumsi tubuhku, terutama rambut, mahkota kebanggaan setiap perempuan bukan? Aku cukup bangga dengan rambut hitamku yang tidak kalah cantik dengan model iklan di televisi.

Ah tidak. Aku melepas ikatan itu, akan sakit jika memakai helm.


Suara ketukan pintu dan suara ibuku. Aku langsung membuka pintu kamar sembari menyambar sebuah tas berwarna coklat tua, warna yang sama dengan sweater rajut yang kupakai. Aku akan pergi sebentar, entah kemana. Cuaca malam ini sangat cerah, sayang bila hanya dinikmati dengan berdiam diri di dalam rumah.

"Jangan pulang terlalu larut!", ujar ibuku dengan binar mata yang terlihat sudah mengantuk.

Selalu itu, kalimat yang sama bila aku meninggalkan rumah selepas senja. Tetapi aku tidak pernah keberatan, itu bukti bahwa ibu masih memerhatikan kesehatan dan keselamatanku. Kenyataan ini selalu meninggalkan seberkas rasa sakit pada sisi terdalam batinku, setelah aku dengan sangat keterlaluan mengatakan hal itu setahun yang lalu.

Aku tersenyum, mencium tangan ibuku. Ayah—dia sedang bermain tenis bersama teman-temannya. "Tidak lebih dari jam sepuluh malam, janji,"

Tidak perlu berjanji, karena aku tidak akan melanggar peraturan tidak tertulis mengenai jam malam, sejak kecil, selalu begitu. Usiaku sudah lebih dari cukup untuk melakukan apapun yang aku mau, tetapi aku tetaplah gadis kecil bagi ayah dan ibuku.

"Tenang, bunda! Kalau lebih dari jam sepuluh, biar Kinan tidur di teras depan,"

Ah sial, aku langsung menginjak kaki gadis itu, seenaknya saja menyerobot ritual saat berpamitan pada ibu. Dia mengernyit kesakitan sambil tersenyum aneh. Sama seperti aku, dia mencium tangan ibuku, berpamitan dengan sangat sopan, lalu menyambar helm teropong yang dia letakkan di meja teras.

Aku mengikuti langkahnya dan naik di atas jok sepeda motor yang—aku menyebutkan sepeda motor overweight, karena bentuknya lebih besar dari sepeda motor kebanyakan. Dia yang mengemudi, dan aku selalu menjadi penumpang. Biasanya, dia sengaja berpura-pura tidak menjaga keseimbangan, lalu sepeda motor itu seolah akan jatuh dan aku menjerit ketakutan, tetapi dia tidak akan melakukan hal itu di depan ibuku.

Dari balik pelindung wajah helm yang aku pakai, aku bisa melihat ibu berdiri di teras depan melepas kepergianku. Senyum ibuku, senyum yang belum bisa sepenuhnya menerima kehadiran gadis yang duduk tepat di depanku. Aku bukan cenayang, tetapi aku bisa membaca wajah seseorang yang selalu bersamaku selama dua puluh lima tahun. Aku sudah terbiasa, yang bisa aku lakukan hanya membalas senyum itu, sebaik yang aku bisa.

Tentu saja, aku tidak tega bila harus memeluk pinggangnya di depan ibuku. Setelah sepeda motor membawa kami lima ratus meter dari kediamanku, aku baru berani memeluk pinggangnya dengan erat. Dan inilah bagian yang paling aku suka, laju sepeda motor membuat indra penciumanku terbuai aroma musk miliknya, terus begitu hingga kami tiba di tempat tujuan.


Alunan musik berirama tujuh puluhan menyebar keseluruh penjuru rumah makan. Tempat ini kesukaan kami berdua. Kami selalu memilih tempat duduk di luar, sebuah meja dan kursi kayu untuk dua orang. Selain alasan udaranya lebih segar, aku bisa melihat langit malam yang cerah tanpa bintang.

Aku menyandarkan punggungku dan sedikit menggeliat setelah seorang pelayan mencatat menu pesanan kami.

"Selamat ulang tahun!" ujar gadis yang duduk di depanku, memberi cengiran jahil yang selalu aku rindukan. Dia menggeser sebuah benda kecil di atas meja, ke arahku.

Aku balas tersenyum dan memutar bola mataku sebelum melihat benda apa yang dia berikan. Aku balas menatap matanya yang selalu cerah, berbinar dan jahil, "Kalau kau lupa, ulang tahunku empat bulan yang lalu,"

"Kalau begitu selamat hari Sabtu!"

Aku mengangkat alis kananku dengan curiga, sebuah ucapan selamat yang tidak lazim. Alasan yang aneh. Gadis itu—dia tahu aku tidak suka diberi sebuah benda jika tidak ada alasannya, dan alasan itu harus penting, ulang tahun atau kelulusan misalnya. Tetapi khusus untuk hari ini, karena langit malam begitu cerah, aku menerima hadiah itu dengan sebuah ucapan terima kasih. Kasihan juga jika aku menolaknya, lagipula terakhir kali dia memberiku sebuah benda, empat bulan yang lalu.

Jepit rambut. Aku mendapat sebuah jepit rambut dengan bentuk kepala kucing yang sedang tersenyum. Sebuah tawa pelan keluar dari bibirku. Ini jepit rambut untuk anak-anak, aku tahu dari bentuk dan ukurannya. Tapi—aku tetap menerimanya, dan langsung aku pakai pada poniku yang sudah sangat panjang. Siapa yang peduli dengan bentuk jepit rambut ini, yang penting aku selamat, poniku tidak akan mengganggu saat aku harus menikmati sepiring spaghetti beberapa menit lagi.

"Bagus tidak?" tanyaku.


Kau bohong. Tapi aku suka.

Tanpa kata-kata, aku tahu, dia memberiku jepit rambut ini karena seminggu yang lalu aku mengeluh. Aku mengeluh karena poniku sudah terlalu panjang. Dia mengusulkan agar aku segera ke salon dan mengguntingnya, tetapi aku tidak mau. Aku memang ingin memanjangkan poniku, agar wajahku terlihat dewasa, poni lempar membuat wajahku tampak seperti gadis kecil. Dia setuju dengan ideku, dan aku cukup lega. Sekalipun dia tidak setuju, aku akan tetap memanjangkan poniku.

Makanan kami datang, meja-meja kosong disekitar kami mulai terisi oleh pasangan lain, dan beberapa tampak seperti gerombolan remaja dan keluarga. Aku mengalihkan perhatian ke arah meja kami yang sudah penuh dengan makanan. Dua porsi spaghetti, sepiring keripik kentang, secangkir coklat hangat milikku dan seperti yang selalu dia pesan, secangkir cappuccino.

Kami menghabiskan malam dengan obrolan panjang. Obrolan yang terlihat seperti gadis-gadis pada umumnya, dua gadis yang bersahabat karib. Tetapi bila ada yang memerhatikan dengan seksama, dia beberapa kali membenarkan posisi jepit rambutku, menyentuh pipiku dengan belai halus dan sesekali mencubit hidungku. Aku beberapa kali mengusap tangannya, mengacak rambut sebahunya dan entah berapa kali kami saling memandang dengan pandangan 'kami sedang jatuh cinta'.

Sulitkah menebak bahwa kami adalah sepasang kekasih?


Tidak mudah bagi kami, terutama aku.

Bila semua orang yang sedang jatuh cinta bisa berbagi dengan orang-orang disekeliling mereka, makan-makan, atau hal-hal seperti itu, kami tidak. Bukan karena kami terlalu pelit untuk berbagi kesenangan, karena tidak semua orang bisa menerima perbedaan kami dari pasangan lainnya.

Bila kalian datang ke sebuah pesta dimana semua tamu memakai warna merah, dan kau datang dengan warna hijau, kau akan terlihat salah, apapun alasanmu. Begitu juga saat aku menyadari ada sesuatu yang berbeda dengan diriku, jauh sebelum hari ini. Terlalu salah, dan aku cukup malu untuk mengakuinya, bahkan pada orang tuaku sendiri, hingga setahun yang lalu, aku menceritakan semuanya.

Tidak mudah. Ayahku murka, ibuku menangis berhari-hari hingga jatuh sakit, dan aku menerima semua kekecewaan itu dalam sakit secara batin dan emosi. Aku menyalahkan diriku, menyalahkan Tuhan, dan aku menyalahkan siapapun yang tidak bisa menerima apa yang terjadi pada diriku. Aku menerima semua makian ayah, kekecewaan ibu, dan segala proses penyembuhan agar aku bisa kembali normal. Aku mengalami tekanan mental yang cukup berat, hingga aku dan kedua orang tuaku tiba pada titik penerimaan, bahwa inilah aku.

Saat ini, setelah setahun berlalu, aku tidak lagi menyalahkan diriku. Aku memaafkan diriku terlebih dahulu sebelum memaafkan mereka yang selalu memberi pandangan sinis padaku dan kedua orang tuaku. Aku selalu merasa sangat bersalah karena orang tuaku menanggung perkataan orang lain atas diriku. Terkadang mereka terlalu jahat hingga memberiku label manusia terkutuk dan hujatan bernada keras lainnya. Jujur, aku sakit hati bila ada yang menganggap aku terkutuk, tidak terpikirkah jika kalian atau orang yang kalian sayangi berada dalam posisi yang sama seperti aku?

Ah sudahlah, aku hanya perlu diterima dan menerima.

Tidak perlu menyalahkan siapapun, karena sebenarnya tidak ada yang salah. Apa yang salah bila kau datang ke sebuah pesta dengan gaun berwarna hijau jika hanya gaun itu yang kau punya? Terlepas bahwa tamu yang lain memakai warna merah, kalian tetap memenuhi undangan dan memakai gaun, hanya warnanya saja yang berbeda.

Pendewasaan diri, terlepas dari memakai poni atau tidak, aku sudah bisa menerima apa yang seharusnya aku terima. Menyalahkan tidak menyelesaikan apapun. Aku sempat berpikir bahwa pertalian darah antara aku dan orang tuaku akan putus saat aku berkata jujur pada mereka. Mereka orang tua yang baik, penerimaan mereka sudah lebih dari cukup, lebih dari yang aku bayangkan.

Aku belajar bahwa sesuatu yang salah bagi banyak orang, tidak selalu begitu pada kenyataannya. Dan jika ada yang bertanya, "Seandainya dunia dibuat ulang sekali lagi, kamu akan memilih terlahir sebagai siapa?" Aku akan menjawab dengan lengkung senyum, "Sebagai aku,"

Tidak ada yang perlu disesali. Apa yang salah dengan diriku? Aku tetap milik-Nya, dan percayalah, aku akan terus menyayangi-Nya, karena inilah warna gaun yang Dia berikan padaku. Suatu kebanggaan karena aku telah menjadi tamu-Nya dalam sebuah wadah pesta besar bernama Dunia.

Tuhan, aku sudah memaafkanmu,
semoga Kau juga memaafkan aku yang pernah menyalahkan-Mu.]