Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 08 September 2010

Di Stasiun Sant Antonio

Oleh: Jason Abd
www.20helpingsblogspot.com
From: http://en.wikipedia.org/wiki/Sant_Antoni_%28Barcelona_Metro%29


Barcelona, 3 Agustus 2010

Hari ini aku ulang tahun. Umurku sudah bertambah setahun lagi. Aku bukan teenager lagi teryata dan itu membuatku agak kesal. Entah kenapa waktu begitu cepat berlalu padahal ada yang belum sempat kulakukan. Sebuah janji, sebuah target. Aku gagal memenuhinya.

Saat aku melewati palang setelah membeli tiket kereta, aku hampir menabrak seseorang yang sedang mendorong kursi roda. Dia memakiku, tapi ditenangkan oleh nenek yang duduk di atas kursi roda itu.

"Paso tu mente, estúpido!" katasi rpia yang mendorong kursi roda padaku agar aku lain kali melihat ke depan kalau berjalan.

"Calmarse, Robb," sahut si nenek menenangkan putranya.

"Lo siento...," kataku meminta maaf.

Tahu apa yang aku rasakan? Aku merasa bodoh dan pantas dimarahi. Aku memang melamun sepanjang jalan dan kali pertama menabrak seseorang aku hampir membahayakan nyawa. Petugas stasiun mendekati kami dan mencoba menenangkan pria yang kasar itu.

Kemudian, selagi menunggu kereta yang akan tiba lima belas menit lagi, aku duduk di salah satu kursi tunggu. Kupandangi orang-orang lalu lalang di stasiun ini, stasiun Sant Antoni yang terletak di distrik Sants-Montjuic, di bawah Ronda de Sant Antoni. Lingkungannya bersih dan agak terkesan futuristik karena warna perak mendominasi. Oh ya, aku hanya ingin memberitahu bahwa stasiun ini menginspirasi Wachowski bersaudara sebagai tempat syuting Keanu Reeves di film Matrix Revolutions. Stasiun dalam film ini adalah program yang dibuat untuk program transfer dari dunia nyata ke dalam Matrix.

Aku sebenarnya tak mengerti mengapa aku ada di sini. Di hari ulangtahunku sendiri. Seharusnya aku kembali ke rumah dan mendapatkan surprise dari orangtua angkatku. Mereka dan beberapa temanku sesama mahasiswa Universidad de Barcelona telah menyiapkan pesta kejutan yang sayangnya sudah bocor ke telingaku gara-gara Dolce, si kecil anak pemilik rumah tempatku tinggal yang cerewet, telah mengobralkan cerita itu. Dia lugu sekali karena berfikir bahwa dirinya seorang tukang gosip sejati. Aku tahu keluarga itu bisa mengerti masalahku sekarang... tapi aku tak sanggup membiarkan semua terbuka. Aku orang Timur, sedang menghadapi masalah yang bagi orang Barat sudah sangat biasa. Aku tak bisa melibatkan mereka...

Masalah ini pula yang membuatku tidak pulang ke Indonesia musim panas ini. Aku beralasan bohong pada orangtuaku kalau aku sedang mengambil kelas tambahan agar kuliahku di departemen Psikologi cepat selesai. Faktanya, aku tak mau kembali ke rumah keluargaku dengan keadaan begini. Aku tak berani menemui orangtuaku... karena targetku tidak tercapai... aku gagal menjadi anak yang dibanggakan. Aku tak bisa lagi ada di sini.

Beasiswaku di universitas ini di cabut. Aku tak bisa lagi kuliah di negeri yang indah ini, di selatan Eropa yang hangat. Aku tak bisa lagi tetap berada di kota club sepak bola Barcelona, tak bisa ikut menonton pertandingan tim mereka dan mengagumi pemain-pemainnya yang tampan. Walaupun aku tak bisa lupa akan pesta besar setelah kemenangan Spanyol di Piala Dnia 2010. Nilai-nilaiku tak mencukupi untuk melanjutkan beasiswa.

Aku tak tahu harus kemana setelah ini, masalah tak hanya tentang sekolahku. Sama seperti aku tak tahu akan ke mana setelah keretaku tiba di Sant Antoni ini. Aku tak tahu....

Kuusap perutku yang menggembung dari balik oversized t-shirtku. Aku tak tahu harus bagaimana menghadapi dunia di masa depan. Bersama nyawa yang tumbuh perlahan di tubuhku.

1 komentar:

  1. Aku suka ide ceritanya. Simple. Hmm, menurutku, kurang panjang nih cerpennya jadi kurang bisa ngerasain salahnya si 'aku'. Tapi, aku suka!!! bakal banyak yang kesindir kalo baca ini! :)

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!