Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Minggu, 26 Desember 2010

Akhir Adalah Mula

Oleh: Azka Shabrina

Ibu masih menangis meski suaranya semakin lemah. Saudara-saudaranya, paman dan bibiku, duduk mendampingi di sisinya sambil mendoakan. Sayang sekali aku tidak sempat mengenal mereka. Kelihatannya mereka orang baik.
Bapak dimana, ya?
Sejak tadi Bapakku sibuk bicara pada orang-orang. Sibuk menyambut tamu. Sibuk mengatur acara besar yang harus terjadi siang ini. Kasihan Bapak. Belum hilang lelahnya setelah menunggui Ibu semalaman, kini ia harus mengurus diriku.
“Yang sabar ya, Gung. Sudah jalannya,” salah satu pamanku menepuk-nepuk pundak bapak.
Bapakku tersenyum. Ah, dia memang tampan.
“Saya juga sudah ikhlas kok. Tidak apa-apa. Saya masuk dulu, istri saya kasihan. Mari,” ujar Bapak. Betapa bangga aku melihatnya tetap santun meski amat lelah dan sedih.
“Sekarang, Pak?” tanya Ibu dengan mata merahnya. Lemah, suaranya lemah sekali. Kasihan Ibu...
“Kamu sudah siap?” tanya Bapak sembari merangkul Ibu. “Kalau kamu sudah siap, kita berangkat.”
“Belum, Pak. Tapi kalau terlalu lama, kasihan Tari...”
Ibu menangis lagi. Bapak membelai kepalanya dengan sabar. “Ayo, sekarang saja. Semua sudah siap. Kamu juga harus siap.”

*

Tamu-tamu sudah pulang. Tinggal beberapa orang saudara dekat yang masih tinggal untuk membantu. Bapak belum juga beristirahat sejak tadi. Dan Ibu, masih menangis sesekali.
“Kamu harus istirahat,” ajak Bapak. “Ayo.”
Ibu menurut saja digandeng Bapak menuju kamar. Bapak menunggui di sisi ranjang. Ia belum bisa tidur karena banyak yang harus dibereskan di luar.
“Anak pertama kita...,” Ibu meratap.
“Yang ikhlas. Kamu harus ikhlas.”
“Aku ihklas, Gung. Tapi...”
Kalimat itu tidak Ibu teruskan. Ia menangis lagi. Aku dan Bapak mengerti. Ibu ikhlas, hanya saja ia begitu sedih. Pasti ia berharap bisa membesarkanku. Melihatku pergi ke sekolah dan tumbuh dewasa. Harapan itu sirna.
“Kenapa namanya Matari, Gung?” tanya Ibu ketika tangisnya reda. Ia pasti heran. Tadinya bukan nama itu yang mereka siapkan untukku.
“Matari, dari kata Matahari. Lahir dan menua dalam satu hari...,” Bapak menjawab sambil tersenyum. “Dan sebuah hari harus berakhir supaya dia bisa terlahir lagi...”
Tangis Ibu benar-benar terhenti sekarang. Ia memperhatikan dengan seksama.
“Seperti hidup. Hidup kita di dunia adalah yang pertama dan terakhir. Di dalam sebuah kehidupan juga ada hari pertama dan hari terakhir,” lanjut Bapak. “Dan karena itulah, hidup menjadi indah.”
“Hari ini adalah hari pertama sekaligus terakhir bagi anak kita,” Ibu menimpali.
“Benar. Matahari terbit, matahari terbenam, keduanya indah. Dan setelahnya hari berakhir. Tapi akan ada hari yang baru sesudahnya.”
Hening. Aku merasakan gelombang kasih sayang yang begitu besar dari keduanya meski mereka tidak bisa kusentuh.
“Semoga dia bukan yang terakhir, Gung.”
“Semoga.”
Aku tersenyum. Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Lama kelamaan Ibu tertidur karena lelah. Bapak mengelus rambutnya, kemudian keluar dari kamar. Aku menggantikan posisinya di sisi Ibu.
“Tenang, Bu. Aku akan minta Tuhan memberiku adik, supaya aku bukan yang terakhir...”
Tentu saja, Ibu tidak bergeming. Hanya nafasnya saja yang terdengar berhembus dengan teratur.
Demikianlah hari pertama sekaligus terakhirku berakhir. Tidak apa-apa, karena setelah tiba yang terakhir, pasti akan muncul yang pertama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!