Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 13 Desember 2010

Intolerance

oleh: NN

                Aku menatap ke mata anak itu. Bulat, hitam, dan terarah lurus padaku. Bukan tatapan penuh rasa ingin tahu. Lebih ke rasa ingin mencabik. Saat itu siang, di bawah sebuah tempat peribadatan, kami berkeringat, dengan angin yang lembap, dan hawa kekhawatiran. Tatapan seperti ini bukan yang aku inginkan.
                Kulirik sosoknya. Setidaknya dia 10 tahun. Dengan pakaian kemeja kotak-kotak rapi, jeans, kulit berwarna cokelat, dan wajah yang tidak mengguratkan senyum sama sekali. Dia telah duduk di sini bersamaku sejak sejam yang lalu. Mungkin dia habis berdoa di dalam sana.
                Untuk saat ini, tidak ada yang bisa kulakukan tanpa Joni yang sedang beribadat di seberang sana. Aku baru sampai kesini dari kotaku, 2 jam perjalanan dengan sedan bututku, menyupir bergantian dengan temanku. Hanya ada satu pikiran di kepala kami ketika melihat berita malam kemarin. Bentrok antar dua agama di satu tempat.
                Pikiranku dan temanku, si Joni itu, sama dan muncul nyaris bersamaan. “Kesana yuk,” Bunyi SMSnya, singkat. Lucunya, aku baru saja menulis “Kesana...” di telepon genggamku juga, hendak dikirim padanya. Ternyata dia duluan mengirim.
                Kami membicarakan Tuhan di warung tegal tempat kami biasa mangkal setelah kerja seharian. Kami membicarakan ritual sambil melihat ke jalanan yang macet, mengomentari orang-orang yang pergi ke tempat peribadatan mereka. Kami membicarakan agama. Mencurahkan rasa bingung, takut, cemas, senang, dan marah kami terhadap sesuatu yang jarang bisa kami bagi dengan sembarang orang. Kadang kami sepakat tentang satu hal, bahwa sebenarnya ada paralel dalam praktik ibadah di agama-agama yang berbeda. Kadang kami berbeda pendapat, misalnya dalam memutuskan apakah memang ada satu agama yang benar atau tidak. Tapi kami sama-sama takut dan marah pada satu hal: kalau memang agama akan mengharuskan pengikutnya untuk berperang dengan agama lain. Untuk saling melenyapkan.
                Kini, kekhawatiran kami menjadi nyata. Kami percaya kami harus keluar dari warung tegal itu dan menghadapi situasi di luar. Dan di sinilah aku. Duduk menunggu Joni, untuk merencanakan apa yang akan kami lakukan selanjutnya di sini.
                “Kenapa duduk di sini?” Anak itu akhirnya membuka suara.
                Aku sedikit terkejut. Menolehkan wajahku ke arahnya.
                “Kenapa duduk di sini?” Dia mengulang, kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Belum sempat aku menjawab, tubuh kecil kurus hitamnya bangkit dan tangannya menarik kerah baju poloku. Aku nyaris tidak bisa bernapas, dan itu bahkan bukan karena takut.
                “Nunggu temanku. Bicara dengan orang-orang sekitar sini. Lepas Nak!” ujarku.
                “Kenapa duduk di sini?”
                “Memangnya kenapa? Memangnya kenapa kalau saya duduk di sini?”
                Bibir anak itu bergetar. Matanya semakin nanar. “Saya lihat tadi Bapak keluar dari tempat ibadat di depan sana. Bapak bukan jemaat sini. Bapak mau apa?” teriaknya.
                Aku memicingkan mataku. “Saya ingin menunggu teman saya di sini. Maaf.”
                “Bohong! Bapak mau bongkar tempat ini lagi kan? Mau mukul Ibu saya lagi kan? Kalian itu, kata Papa, kalian akan masuk neraka. Nerakaaaaa!” Dia mengguncang-guncang kerah kemejaku.
                “Saya tidak seperti itu. Saya minta maaf, Dek. Itu harusnya nggak terjadi. Ibu kamu seharusnya nggak mengalami itu. Maaf sekali,” kataku, berusaha menjaga agar suaraku tetap rendah.
                “Pergi, pergi, pergi. Jangan pernah sampai duduk di sini. Saya nggak peduli, saya nggak peduli,” Anak itu mendorong tubuhku dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. “Pergi.”
                “Nak, saya minta maaf.” Aku mencoba meraih bahunya. Aku tidak tahu kenapa aku harus minta maaf. Tapi aku merasa mewakili orang-orang yang mengisi ruang peribadatan di seberang sana. Yang katanya berbeda dengan ruang peribadatan di sini.
                Aku hanya ingin mencoba bicara. Tapi ketika kutepuk bahunya, dan aku membuka mulut untuk bicara, dia menggeleng-geleng dan berlari.
Pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!