Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 21 Desember 2010

Hitam Putih


Oleh Gisha Prathita
kamukayakuya.tumblr.com


Kunamakan kerajaan ini Kerajaan Hvid. Ini adalah kerajaanku, yang selalu berperang dengan kerajaan yang ada dihadapanku sekarang ini. Ya, kerajaan itu adalah kerajaanmu, Kerajaan Musta. Kedua kerajaan ini berperang sejak lama, mungkin ratusan tahun yang lalu, mengerahkan semua kemampuan dan bala tentara yang kita miliki.

Entah.

Entah apa alasannya. Sudah terlalu lama bahkan untuk mengingat permulaan dari pertempuran ini. Terkadang alasan sudah tidak dibutuhkan lagi untuk memulai sebuah peperangan—atau meneruskan peperangan. Hanya satu yang bertahta, harga diri. Ya, harga diri bahwa kerajaanku tak akan sudi dikalahkan oleh kerajaanmu. Begitupun kerajaanmu, kurasa.

Harga diri?

Kupikir malah tak ada lagi harganya diri-diri yang sejak ratusan tahun lalu berbaris tegak dengan kokoh, melindungi barisan di belakangnya, melingkupi benteng-benteng yang tangguh, dan menutupi semua anggota istana. Mereka banyak berguguran, mati—atau tertawan, di kerajaanmu. Bahkan aku sudah tak tahu lagi bagaimana nasib mereka, kecuali, nasib mereka yang ditukar dengan pendekar-pendekar tangguh, berharap bisa memperkuat pertahanan untuk kembali berperang dengan kerajaanmu. Demi kemenangan.

Andai aku ada di dalam istana sekarang, aku akan menarik tirai istana yang putih dan kukibarkan di atas menara kerajaan yang tertinggi—menara dimana biasanya seorang putri kerajaan kami dikurung supaya tidak terjangkau dari sentuhan dunia luar, apalagi sentuhan pria-pria yang haus dengan tatapan damai dari mata sang puteri—bukan tanda menyerah, melainkan tanda untuk menyudahi peperangan ini. Sudah terlalu banyak korban ego demi penentuan kemenangan. Sudah kukatakan, peperangan ini sudah bermotif bias.

Kita bahkan tidak tahu apa yang kita persalahkan di antara kerajaan kita.

Sekarang aku di sini, duduk di hadapanmu. Terdiam, memperhatikan setiap gerak gerikmu. Setiap langkah yang akan kamu ayunkan. Kamu masih berpikir untuk membuat kerajaanku kalah.

Bukankah kamu mencintaiku?

Tidak bisakah kita sudahi saja semua ini?

“Jangan mengalah karena aku mencintaimu atau karena kamu mencintaiku.” Kamu berkata padaku tempo hari. “Masalah kerajaan dan masalah antara aku dan kamu adalah dua hal yang terpisah.”

“Kamu sekuler,” tukasku. “memisahkan antara kependudukan dan perasaan.”

Kamu tersenyum, lalu siap untuk kembali menjadi ahli strategi perang kerajaanmu, kerajaan Musta. Kamu menegakkan kepalaku. Di pertemuan rahasia itu kau mengecup keningku. “Saatnya kerajaan kita saling berperang… lagi.”

Kemudian kamu kembali ke medan perang. Dengan kuda-kuda megah di otakmu, dan tatapan kosong tak bisa ditebak.

Aku lalu kembali ke kerajaanku. Mau tidak mau, aku harus mengabdi pada kerajaan di tempat aku berpihak, Kerajaan Hvan. Karena mereka tahu, aku kekasihmu—hanya aku yang mengetahui pikiranmu. Hanya aku lawanmu yang seimbang. Seimbang—50:50. Perbandingan yang paling kamu sukai—antara aku mengalahkanmu atau kamu mengalahkanku.

Ini medan perang, aku bukan kekasihmu di sini dan kamu juga bukan kekasihku di sini. Bagai hitam dan putih. Kita hanya menjadi kekasih bagi kerajaan kita masing-masing. Dengan segala ego yang ada, segala kemampuan dan kesombongan yang kita punya.

Dari seberang kerajaan, aku melihatmu berpikir lebih keras saat satu benteng pertahananmu roboh. Aku lengah, dan akhirnya panglima kerajaanku yang memimpin tentara kerajaanku masuk ke dalam jebakanmu. Tentara yang dipimpinnya panik. Meski aku masih ada di sini, tapi apalah aku ini? Bukan anggota kerajaan. Aku hanya si pengatur strategi—penasehat yang berusaha membantu kerajaan ini menyudahi peperangan… dengan satu trophi kemenangan di hati para penduduk kerajaan.

Meskipun pasukan berkudaku telah membumihanguskan semua pasukan lini depanmu, ternyata kemungkinan yang muncul di sini adalah 50 bagian yang berpihak padamu. Benteng pertahananku yang terakhir akhirnya runtuh—roboh, hancur berkeping-keping.

Aku terkesiap.

Satu kesempatan terakhir, saat satu tentaraku nyaris berhasil menerobos pertahanan penjaramu untuk membebaskan panglimaku, lagi-lagi otakku tergelincir. Dan kamu mengambil kesempatan itu. Aku putus asa. Kerajaanku kini berada di ujung jarum. Siap ditusuk dari arah manapun.

Aku menatapmu dari seberang. Kamu tersenyum.

Senyum itu. Senyum kemenangan dari suatu pertarungan.

“Skak-mat.” Kamu berkata mantap, seraya menaruh Kuda Hitam di sebuah petak berwarna putih, di antara sebaran dua Mantri dan satu Raja berwarna putih. Aku merengut, dan kamu tertawa lalu mengacak-acak rambutku dengan lembut. “Ayo main lagi!”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!