Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Senin, 27 Desember 2010

Cermin

Oleh: @maharaniezy, maharaniezy.tumblr.com


Dan ia seperti biasa, menatap cermin dengan pandangan jauh menembus bayangan tubuhnya sendiri.

Ada yang terpantul. Ada yang tidak.

Sudah tiga bulan cermin besar itu di sudut kamar.

Sudah tiga bulan putri satu-satunya tewas bunuh diri.

Sudah tiga bulan ia menyempatkan diri setiap pagi, duduk menatap cermin

Pandangan kosong. Pikiran menerawang.

Sebelumnya putrinya ditemukan satpam apartemen tempat gadisnya tinggal.  Dengan kondisi sangat mengenaskan setelah terjun dari lantai tiga belas. Putrinya yang manis, putrinya yang cantik  Putrinya yang penurut, putrinya yang tak bermasalah, putri yang mendapat beasiswa ini-itu. Putri yang sangat dibanggakan.

Puteri yang ketika lahir dengan harapan kehidupannya kelak kayak putri-putri, damai sejahtera, bahagia dan berlimpah cinta, kehidupan yang sama sekali lain  dari yang pernah dijalaninya. Bukan hancur seperti dirinya. Rusak seperti masa kecilnya. Hancur seperti rumah  tangganya. Lebur seperti hatinya.

Dia menemukan sebuah cermin berdiri di sudut kamar anaknya.
Secarik kertas putih menempel di cermin itu.
Di situ tertulis,
" Ibu, ini cuma dunia paralel. Aku tidak suka ……. "
Setelah itu Puteri pergi tanpa pernah kembali.

Dan seperti biasa, dalam tiga bulan terakhir ini wanita itu  duduk menatap cermin dengan tempelan kertas Putih. Dengan tulisan tangan Puteri terlihat jelas  dari tempatnya duduk.
Namun tanpa perlu menoleh atau membaca ulang apa yang tertulis  dalam kertas, kalimat Puteri selalu tertancap di hatinya  yang selama tiga bulan ini dirundung pilu.

Putri satu-satunya pemberi kekuatan hidup.  Dalam tiga bulan terakhir ini, ia duduk menatap cermin untuk mencari makna pesan terakhir Puteri. Tapi hanya luka yang ia rasakan dan pertanyaan-pertanyaan baru yang bermunculan. Bagaimana mungkin Puteri tega menghabisi nyawa-sendiri  dengan cara seperti itu,  Bagaimana ???

Bagaimana mungkin Puteri tega meninggalkannya ketika segala sesuatu terasa  begitu indah, bagaimana mungkin Puteri tega menyakitinya? Apa pemicu Puteri melakukan tindakan itu?
Yang ia tahu,  Puteri belum punya pacar. Putri tidak banyak berteman. Bukan jenis sosialita pergaulan. Bukan juga tipe penyendiri dan terbuang dari kumpulan. Dia berada di tengah-tengah itu.
Bukan Puteri jika bisa bermanja-manja lewat telepon.  Memang bukan Puteri jika bisa bermanis-manis lewat percakapan sehari-hari.  Dalam pembicaraan sehari hari pun tak sekalipun Puteri mengungkapkan cintanya.
Kata-katanya begitu lugas dan terbatas.

Ia bayangkan tubuh Puteri melayang-layang menyapa setiap lantai,
sebelas……...delapan……….... tujuh..........lima………....tiga.......... satu...........
dan  apa ekspresi setiap orang di dalam kamar apartemen  yang kebetulan menyaksikan.
Ia terus membayangkan.... memejamkan mata, ataukah mata Puteri membelalak menatap maut, ataukah ada guratan-guratan takut dan sesal sebelum tubuhnya jatuh berdebam di atas aspal kelabu yang setelah itu berubah menjadi merah kecolatan oleh aliran darah Puteri,  ataukah bibirnya menyungging senyum bahagia, atau malah menyeringai senang menyambut: kemerdekaannya?

Puteri memang senang kejutan. Tapi kejutan macam apa ini ?

" Ibu, ini cuma dunia paralel. Aku tidak suka ……. "
Ya ampun anakku, untuk hidup di dunia macam ini bukan masalah suka atau tidak suka !!!

Apa yang diinginkan Puteri lewat cermin?
Apa yang dimaksud Puteri dengan kalimat terakhirnya?
Tak ada yang dapat ia temukan di sana.

Cermin itu hanya memantulkan segala pemandangan ke mana pun
ia berusaha memindahkannya. Tidak bisa.
Jika cermin itu di dalam kamar, maka isi kamar itulah yang terpantul di dalamnya. Kalau seandainya ia memindahkannya ke beranda, maka beranda dan  pot bunga disana yang terpantul. Tak ada bedanya dengan cermin-cermin lain.
Yang membedakan hanyalah secarik kertas putih  yang menempel di cermin itu. Berisi tulisan tangan terakhir Puteri.

" Ibu, ini cuma dunia paralel. Aku tidak suka ……. "
Kalimat yang begitu luka, begitu sunyi, begitu tak mencerminkan Puteri.
Tapi jika hanya pesan itu yang ingin Puteri sampaikan,  mengapa harus ada cermin itu?

Cermin dengan kaki-kaki penyangga dari rotan gading kalimantan.
Cermin dengan model agak vintage.
Cermin yang tak dapat diajak bercakap-cakap seperti cermin dalam dongeng Puteri Salju. Juga bukan cermin mediator dengan arwah-arwah tak tenang seperti milik penyihir.  Wanita paruh baya itu berdecak. Seandainya cermin ini bisa jadi mediator antara manusia yang masih hidup dengan yang  tewas sebelum waktunya ….…….

Sekali lagi.
Itu Hanya cermin,  di sudut ruangan dengan secarik kertas Putih.
Tidak ada yang istimewa. Dia hanya memantulkan ruangan sunyi milik Putri ketika masih hidup.
Sekalipun wanita itu mengelus cermin di depannya dengan penuh sayang.
Dan seperti biasa, seperti sudah menjadi rutinitas selama tiga bulan terakhir...... ia duduk menatap cermin yang sama.

Cermin itu masih tak menunjukkan keistimewaan.
Mungkin memang tak ada yang harus ia lihat dalam cermin itu. Segala sesuatu sudah berjalan dengan baik. Atau mungkin nyaris baik. la adalak ibu yang baik. Kalau tidak baik, tentu Puteri tak mau bersusah payahmenulis kalimat-kalimat cinta untuknya penuh kerinduan di catatan diarinya setiap hari. Kalau tidak baik, mustahil Puteri mengisak rindu padanya setiap malam, sebelum tidur. Kalau tak baik, untuk apa ia membanting tulang demi mencukupi kebutuhan Puteri Kemarin-kemarin ???

Lantas kenapa pula ia masih menatap cermin itu setiap hari?

Cermin yang hanya memantulkan benda-benda dan suasana dengan jelas,  namun menampilkan bayangan dirinya secara samar.
 Di cermin itu, tubuhnya tembus pandang. Tubuhnya bukan bentuk. Tubuhnya seakan bukan bagian dari ruangan itu. Bukan bagian dari cermin Puteri. Dia menjadi bukan apa-apa. Dia bahkan bukan apa-apa.

Kemudian, seorang saksi mata mengatakan melihat Puteri jelas ketika terjun dari lantai apartemennya. Matanya membeliak dan mulutnya menganga, namun si saksi mata tak dapat menjelaskan seperti apa tepatnya ada pancaran matanya. Apakah mata itu memancarkan ketakutan, rasa sesal, atau bahagia,

Si saksi mata tidak tahu. Hanya ia yang benar-benar tahu.

Mata wanita itu dengan jelas tidak menangkap bayangan tubuhnya di kaca jendela .  Atau pun di cermin pemberian Puteri.

Hanya ia yang tahu, kalau selama ini ia menatap cermin tanpa mau melihat bayangan dirinya sendiri.

Hanya ia yang tahu kalau selama ini dia terus bersama Puteri walaupun tidak memiliki raga, walaupun sudah meninggal
lebih dulu, terus menerus menemani keseharian Puteri, menunggu Puteri pulang ke apartemennya, mengelus kepala anaknya setiap malam sebelum tidur, mengecup ucapan selamat pagi, setiap hari saat bangun tidur.

Tidak ada yang tahu. Bahkan Puteri sendiri.

Yang begitu kesepian yang begitu merindukan ibunya. Puteri memutuskan untuk menyusul ibunya yang mati lebih dulu karena kecelakaan lift di mall. Kehilangan mendadak, kesepian mendadak, dan rasa sayang yang berlebihan membuat akal sehat Puteri tidak berjalan.

Mereka adalah orang-orang baik yang bernasib tidak baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!