Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 24 September 2011

Aku Harus Pura-pura

Oleh : @deboratyaswe

Aku tidak tahu pasti sejak kapan diriku berubah. Tidak, maksudku bukan berubah secara fisik, bukan pula berubah menjadi lebih matang dan dewasa. Aku berubah menjadi seseorang yang bukan diriku. Membingungkan ya? Intinya, aku tidak menjadi diriku sendiri.
Ini semua bukan keinginanku. Aku tak punya pilihan. Sungguh aku iri dengan kalian semua yang bisa menjalani hidup dengan menjadi diri sendiri, bukan menjadi seorang yang asing seperti aku. Kadang aku muak dengan diriku sendiri, aku terlalu banyak berpura-pura. Hidupku palsu.
“Saya sudah bilang, jangan pernah sekalipun kamu membeli makanan di tempat itu!” Ibuku, sekaligus manajerku sedang berceloteh dihadapan wajahku. Ia begitu marah ketika melihat aku sedang membeli bakso di pinggir jalan sebelum gerbang masuk komplek rumahku.
“Aku cuma mau makan bakso, Bu.” Jawabku. Ibu menatapku tajam. Aku merasa seperti bukan anaknya saja.
“Kalau kamu mau bakso, harusnya kamu telpon saya supaya saya belikan di mall! Apa kata orang nanti jika artis papan atas seperti kamu makan makanan pinggir jalan!?” aku hanya mengangguk dan berjalan ke kamar. Aku malas mendengar celotehannya.
Sejak ayahku kabur dari rumah bersama perempuan lain, aku dan ibu benar-benar terpuruk. Tidak ada yang menghidupi kami, penghasilan ibu sebagai tukang kue tidak banyak. Beruntung, aku dikaruniai wajah yang cantik dan tubuh yang proporsional. Saat umurku 14 tahun aku ditawari menjadi model sebuah majalah remaja, itulah titik awal karirku. Sudah dua tahun waktu berselang, aku sudah berusia 16 tahun dan karierku di dunia modelling semakin menanjak. Bahkan aku sudah terjun ke dunia akting. Kini aku menjadi salah satu selebriti papan atas. Hal itulah yang menuntutku harus selalu terlihat sempurna di mata setiap orang yang melihatku. Lebih tepatnya berpura-pura seakan segala sesuatunya sempurna.
Jika aku membandingkan diriku dengan teman-temanku sesama artis, mereka tidak sepertiku. Mereka masih bisa menjadi dirinya sendiri. Tapi aku? Tidak.
“Karir kamu udah bagus, jadi kamu harus jaga sikap supaya kamu tetap berada di puncak popularitas!” begitu kata ibuku.
Ibuku sangat tegas, bahkan cenderung otoriter. Aku harus menuruti kemauannya dalam menentukan jalan karierku. Mungkin ia takut jika kehidupan kami kembali seperti dulu. Kembali terpuruk. Selama ini aku berusaha mati-matian untuk berpura-pura bahagia dengan kehidupanku. Entah sampai kapan aku harus dan bisa seperti ini.
*
Aku menatap bayanganku di cermin. Lihat! Selain harus berpura-pura untuk bersikap sempurna, wajahku juga palsu. Aku lebih terlihat seperti tante-tante usia 25 tahun daripada remaja 16 tahun. Apa-apaan ini!? Riasan wajahku sangat tebal. Alisku berbentuk aneh dan bulu mataku menjadi berkali-kali lipat lebih tebal. Aku hanya akan menghadiri sebuah pesta ulang tahun seorang anak pejabat yang seusia denganku, tetapi aku seperti akan menghadiri arisan.
Ketika aku akan protes pada ibu, ibu langsung memotong perkataanku.
“Kamu itu artis papan atas! Tidak boleh berdandan ala kadarnya saja. Ini pesta anak pejabat, kamu harus terlihat dewasa dan anggun!”
Lagi-lagi aku hanya bisa diam.
Aku pergi ke pesta itu dengan kekasihku. Kekasihku? Statusnya memang kekasihku. Tapi aku hanya pura-pura mencintainya. Bahkan aku tak tahu cinta itu apa. Lantas kenapa aku harus berpura-pura mencintainya? Karena untuk menutupi kepura-puraanku yang pertama, dimana aku harus selalu terlihat sempurna. Kehadiran seorang kekasih membuatku satu tingkat lebih sempurna, apalagi seseorang yang disebut dengan ‘kekasih’ adalah pria tampan, anak dari orang terkaya di ibukota.
Di pesta itu aku bertemu dengan yang disebut teman-teman. Tapi aku rasa disini tidak ada yang benar-benar disebut teman. Hanya karena aku seorang artis dan kekasihku anak orang kaya, mereka semua baru mau berteman denganku. Jika aku tak seperti itu, lebih baik jauh-jauh saja dari mereka. Sebenarnya aku ingin keluar dari lingkungan pergaulan kelas atas seperti ini, tapi lagi-lagi demi ‘kesempurnaan’ aku harus berpura-pura nyaman dengan mereka semua. Seorang kekasih dan teman-teman dari kalangan atas, apalagi yang kurang?
*
Kali ini aku mendapat job pemotretan di Pulau Komodo, tepatnya di Pink Beach. Pantai paling indah yang pernah aku lihat. Aku sangat suka melihat pantai, karena aku sangat suka berenang. Hanya dengan berenang, aku merasa benar-benar menjadi diriku sendiri. Aku selalu merasa tak perlu berpura-pura jika berada di dalam air.
Tapi lagi-lagi aku dipaksa untuk berpura-pura tidak menyukai berenang. Bukan kali ini saja, sudah sejak lama Ibu melarangku melakukan ini. Aku tak boleh berenang. Ingin tahu alasannya?
“Kalau kamu berenang, kulit kamu akan hitam! Nanti gak ada yang mau pake kamu jadi model atau main sinetron!”
Alasan yang konyol bukan? Tapi kali ini aku akan melupakan larangan itu. aku sudah bosan berpura-pura.
Aku berhasil memisahkan diri dari rombongan dan pergi ke pantai sendiri. Sepertinya ibu tidak tahu. Aku memandang lautan luas di hadapanku, aku merasa sangat tenang. Angin pantai menerpa wajahku dan deburan ombak menggelitik kakiku. Di pantai itu hanya ada aku, sendirian.
Sesuatu dari dalam diriku memaksaku untuk berenang di laut. Ya, aku akan melakukannya sebentar lagi. Kulihat ada tebing yang tidak terlalu tinggi dari tempatku berdiri, aku bergegas pergi ke tempat itu.
Sekarang aku sudah ada di atas tebing. Aku melihat pemandangan di bawahku, air laut yang begitu tenang. Aku mundur beberapa langkah, sedetik kemudian aku berlari dan melompat.
Wuuuusssshhhh…
Aku merasa terbang selama beberapa detik. Sejurus kemudian air laut membasahi kepalaku, badanku, kakiku. Aku membuka mata, mataku perih terkena air laut yang asin. Tapi aku tidak peduli. Aku merasa semua tekanan yang menekan diriku hilang, hanyut terbawa ombak. Aku merasa sangat tenang. Dan aku merasa menjadi diriku sendiri.
Dadaku mulai terasa sakit, tapi aku tak memperdulikannya. Aku tak ingin meninggalkan saat-saat dimana aku bisa menjadi diriku sendiri. Jika aku keluar dari sini, aku harus bertemu kembali dengan kepura-puraan. Akhirnya aku memilih untuk menghirup air laut dan mengucapkan selamat tinggal dengan hidupku yang penuh kepura-puraan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!