Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Selasa, 06 September 2011

Kotak Ajaib Ibu

Oleh Yudho Murphy (@yudhomurphy)




jika hiroshima dan nagasaki hancur oleh bom atom. keluargaku hancur oleh kotak ajaib ibu, bukan, televisi. sebelumnya kami tidak punya televisi di rumah, ayahku tidak meyukai benda itu. dan pada suatu hari, ibu membawa pulang televisi. dan besoknya ayah pergi dengan gadis penjaga toko buku untuk selamanya. hari ini hari terpanas di musim kemarau, aku sedang dikamar membaca a brief history of time saat ibu membuat gaduh di ruang tengah. ibuku menumpuk semua buku favorit ayah yang semuanya belum kubaca di depan televisi. aku bilang, "apa yang sedang ibu lakukan dengan semua buku ayah?" dia hanya menatapku kemudian duduk, aku tahu dia akan membuang semua buku itu sekalipun aku mengancam akan bunuh diri. dia menyuruhku duduk didekatnya, aku tahu ini akan berakhir kemana, ibuku orang yang aneh, kau tidak akan pernah tahu kapan dia akan bercerita tentang hal mengejutkan, seperti bom atom; terjadi begitu saja, "aku pernah menyukai buku-buku ayahmu sekali" aku selalu suka saat ibu menggigit bibirnya untuk mencari kekuatan, "ayahmu selalu membacakan buku-buku ini saat kami pacaran" dia menggigit bibirnya lagi kemudian tersenyum dan meyalakan televisi, matanya menjadi bercahaya (pasti karena pantulan pixel dari televisi, pikirku), "di taman, di kolam, di bawah pohon" ibu mengganti saluran dan berhenti pada saluran tiga yang menayangkan berita, "ingat saat aku membeli kotak ajaib ini?" ini membuatku mendidih, kami sudah berjanji tidak akan pernah menceritakan ini. malam saat ibu membawa pulang televisi, ayah dan ibu bertengkar hebat. "ini kesalahanmu, kau tahu aku tidak menyukai benda itu, kenapa kau membawanya pulang?" kemudian ibu menampar ayah. "malam saat ibu membuat kesalahan?" kataku mengabaikan wajah terkejutnya, "kenapa kotak ajaib?" aku menyelanya, ibu tidak suka disela, aku tahu itu, ibu menatapku tepat di mata, "yang bermimpi ketika dihidupkan?" aku menyelanya lagi, pembawa berita mengingatkan kami kalau hari ini sangat panas (aku tahu itu, pikirku), "televisi bekerja dengan cara menerima gelombang elektromagnetik dan merubahnya menjadi energi akustik dan cahaya yang bisa kita dengar dan lihat. layar televisi menampilkan gambar yang berasal dari ribuan titik-titik kecil yang ditembak dengan elektron yang berenergi tinggi. pixel warna merah, hijau, biru inilah yang dikombinasikan dan ditampilkan di layar dalam bentuk gambar seperti yang kita lihat." aku tidak bisa berhenti menyela, jangan pernah bermain api kalau tidak mau terbakar, pikirku, "aku pernah mendengar di suatu tempat kalau televisi itu merusak sel otak sehingga membuatmu bodoh. apa itu yang terjadi pada ib..." ibu menyela, kemudian tersenyum dan bilang, "kau tidak mendengarnya di suatu tempat, ayahmu mengatakannya" ibu menatapku tepat di mata, "kau mirip ayahmu, kau tahu, kau dan dia terlalu banyak baca buku dan berpikiran sempit." aku berteriak marah, "jika kotak ajaib menghilangkan ayah, aku tidak butuh!" ibu kembali menatap televisi, "ceritaku belum selesai" katanya. "sejak kapan kau suka menyela?" dia memakai nada keterkejutan dan sedikit sinis, ini membuatku merasa bersalah. dia melanjutkan, "aku disleksia, ayahmu tidak keberatan, ayahmu bilang ini akan seperti buku the reader yang pernah dibacanya, hanya saja tidak melibatkan seks." saat lima tahun, kakiku kesempret mobil sehingga membuat kakiku lecet. ini membuatku memikirkan pertanyaan yang tidak pernah terjawab: bagaimana rasanya tertabrak mobil tepat diperut? sakit yang tak terkira, mual, dan hatimu lecet, bukan, hancur. pasti itu rasanya, aku telah menjawab pertanyaan itu hari ini pikirku. dua puluh satu kata yang diucapkan ibu tadi seperti mobil kencang yang menabrak perutku. "aku tidak ingin mengganggumu dengan masalahku, dan kau tidak perlu mengkhawatirkan dis-itu, ok?" katanya sambil menyusuri wajahku dengan tangannya, mencoba menyelamatkanku dari rasa bersalah karena tidak pernah peduli padanya. dia mulai bercerita lagi, "ayahmu terlalu pintar untukku, aku tidak pernah menyukai buku yang dibacanya, aku bertahan karena aku sangat mencintainya" ibu menatap televisi, "dan ayahmu bertahan untuk menyelesaikan penelitiannya tentang dis-itu, ayahmu selalu bilang aku adalah objek penelitian yang cantik, itu selalu membuatku tersipu" alih-alih menonton, ibu menatap belahan pahanya, "aku tahu ayahmu akan pergi pada akhirnya saat memintanya membacakan dongeng bukan buku-buku ini" ibu menghela napas suaranya mulai berubah karena menahan tangis, "ayahmu bilang dongeng itu bodoh, dan ayahmu bilang aku bodoh, dan ayahmu bilang akan berhenti membaca untukku dan ayahmu bilang aku tidak mencintainya" ibu menggigit bibir, dia tidak berani menatapku, "kau lahir kemudian, aku senang karena kau dapat menahannya untukku, ayahmu bilang ini kesalahan, bercinta denganku kesalahan, menikah denganku kesalahan" ibu berhenti, untuk sepersekian detik aku merasa ibu sedang memasukkan peluru bersiap menembakku tepat di kening, "kau adalah kesalahan." bom atom pertama menghancurkan keluargaku. untuk bom atom yang kedua ini menghancurkanku tepat di hati. aku melihat kalender, berapa tahun kali ini, pikirku. "ayahmu menyelesaikan halaman terakhir dari penelitiannya saat aku membeli kotak ajaib ini" ibu menatapku lama, "hari itu juga aku melihatnya mencium gadis penjaga toko buku itu" ini tidak terlalu mengejutkanku, aku sudah sembuh dari bom atom pertama, "gadis itu sudah berhubungan dengan ayahmu selama dua tahun" ibu belum sembuh dari bom atom yang pertama, suaranya bercampur tangis, "dia tidak pernah mencintaiku, aku objek penelitian yang cantik."  "mau tahu kenapa aku membeli kotak ajaib ini?" aku menggeleng. "aku ingin menyakitinya untuk pertama kali dan terakhir," ini membuatku mengingat gol pertama yang kubuat di klub bola, "ayahmu menggunakan kotak ajaib ini sebagai pelindung, ayahmu terlalu pecundang mengungkapkan kebenaran padamu." pembawa berta mengakhiri siarannya. ibu mengganti saluran dan menemukan kartun favoritnya. aku menatap ibu dan televsi bergantian, cahaya yang ada di matanya bukan pantulan pixel, itu adalah cahaya keajaiban yang dipantulkan kotak ajaib. aku menyalahkan benda yang tidak bersalah dan melindungi orang yang salah pikirku. ayahku, si brengsek itu, adalah orang yang menjatuhkan bom atom. aku dan ibu menghabiskan sore itu menonton kartun, aku tidak sepenuhnya menonton karena memikirkan cara untuk menjatuhan bom atom pada si brengsek itu.  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!