Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Kamis, 08 September 2011

Satu Bar, Satu Kesempatan

Oleh: ifnur hikmah (@iiphche)
www.ifnurhikmahofficial.blogspot.com

Hanya tinggal satu bar.
Satu bar berarti satu kesempatan. Satu kesempatan yang saling berpacu dengan waktu. Namun, kemacetan yang menghadang dihadapanku sama sekali tidak menunjukkan sisi manusiawinya.
Beep beep
"Kamu tidak datang?"
Sebuah pesan singkat masuk ke Blackberry Messenger-ku. Pesan singkat yang membuatku berteriak putus asa didalam mobilku ini.
"Sebentar lagi aku berangkat."
Kembali datang sebuah pesan berikutnya. Pesan yang kian membuatku kesetanan.
"Aldry, aku menunggumu."
Kurebahkan kepala hingga menghantam klakson. Bunyi nyaring yang memekakkan membuatku terlonjak, pun mobil-mobil disekitarku.
Kulirik Blackberry-ku. Batrainya tinggal satu bar. Entah aku masih bisa menggunakannya atau tidak sementara keadaanku sekarang tidak memungkinkanku untuk mengisi ulang batrainya. Pun untuk mengejar seseorang yang sedang menungguku juga ku tak bisa akibat macet yang menelanku.
"Aldry."
Segera kusambar Blackberry dan menekan nomor yang telah kuhafal luar kepala.
"Aldry." Sebuah suara yang tak asing lagi menyapaku diseberang sana. Suara bising menyebabkan dia terpaksa berteriak. "Kamu dimana Aldry?"
"Aku masih di jalan."
"Di jalan?"
"Macet."
"Selalu itu alasan kamu."
"Maafin aku. Tadi aku ada meeting sampai jam satu lewat jadi aku berangkatnya agak terlambat."
Kembali kebisingan terdengar dari seberang sana.
"Kamu dimana?"
"Aku masih di ruang tunggu. Dua puluh menit lagi aku berangkat. Apa kamu bisa datang dalam waktu dua puluh menit?"
Kuhela nafas panjang. Setengah jam lebih aku terjebak di kemacetan ini dan tidak ada tanda-tanda macet akan mengurai. Namun begitu, kuurungkan niat untuk memaparkan fakta ini.
"Kuusahakan."
"Baiklah. Kutunggu. Cepat datang Aldry. Kamu sahabat terbaikku, dan aku ingin memelukmu untuk yang terakhir kalinya."
Dadaku sesak seketika. Benarkah aku hanya sebatas sahabat?
Ah, betapa sepuluh tahun sudah kusia-siakan dalam membina hubungan yang dilandaskan pada kata persahabatan. Semakin aku akrab dengannya sebagai sahabat, semakin hatiku meronta menginginkan hal lain. Ya, aku telah jatuh cinta pada sahabatku sendiri, sahabat yang sebentar lagi akan meninggalkanku demi mencapai cita-citanya tanpa dia tahu perasaanku yang sebenarnya.
"Aku akan merindukanmu, Aldry. Tak ada lagi cowok iseng yang selalu membuatku kesal. Tak ada lagi teman setiaku begadang menonton bola setiap malam. Tak ada lagi tandem bermain inline skate setiap minggu pagi. Nanti, kalau aku ingin memasak, siapa lagi yang akan menemaniku? Kamu koki terhebat yang pernah kukenal. Ah, betapa banyak hal yang telah kita bagi selama sepuluh tahun ini."
Hatiku teriris. Terasa ngilu menyelubungi relung hatiku. Semua pemaparan itu membuatku terlena akan apa yang pernah kita lewati selama sepuluh tahun ini.
Batrai yang tadi berwarna kuning telah berganti warna jadi merah. Satu bar telah berlalu. Sekarang hanya tinggal sisa-sisa terakhir.
"Aku akan merindukanmu, Aldry. Datanglah agar aku bisa memelukmu."
Sungguh aku ingin segera datang dan memeluknya. Ingin kubisikkan ditelinganya bahwa aku mencintainya. Akan kulepas kepergiannya dengan janji aku akan menunggunya. Aku tak peduli apakah tindakanku ini akan merusak persahabatan kami. Karena bagaimanapun, aku akan jauh lebih menyesal jika dia pergi tanpa tahu isi hatiku.
Mobil didepanku bergerak pelan.
"Aldry, kamu masih disitu?"
"Iya, aku masih disini?"
"Kenapa kamu diam aja?"
"Aku ingin mendengarkan suaramu. Ah Kala, aku pun akan merindukanmu."
"Dimana posisimu sekarang?"
"Depan Central Park."
Terdengar helaan nafas berat di seberang sana. "Kita tidak akan bisa bertemu Aldry."
"Maafkan aku. Aku sudah berusaha."
"Tidak apa. Lagipula aku pergi bukan untuk selamanya. Toh nanti aku akan kembali setelah gelar Master of Art berada di tanganku." Kala tergelak.
"Iya Kala."
"Aldry, aku pergi dulu. Sudah saatnya masuk pesawat. See you on skype."
"Kala, wait."
Sekaranglah saatnya Aldry. Jangan biarkan dia pergi sebagai sahabatmu. Lepaslah kepergiannya sebagai seseorang yang tahu bahwa kamu mencintainya.
Batrai Blackberry mulai berkedip-kedip.
"Ada apa?"
"Sebelum kamu pergi, aku ingin memberitahumu satu hal."
"Apa?"
"Berhati-hatilah disana. Kamu ingat kan pesanku kemaren?"
"Tentu. Aku akan lebih waspada, mengurangi keteledoran dan kecerobohanku, selalu membawa catatan berisi nomor telepon penting, tidak melamun di jalanan, tidak gampang percaya pada orang yang baru kukenal dan tidak malu untuk bertanya."
"Baguslah. Ingat selalu pesanku itu."
"Tentu saja. Ada lagi yang ingin kamu sampaikan? Aku sudah disuruh masuk pesawat."
Aku harus mempersingkat waktu. Kala akan pergi dan batrai Blackberry-ku juga sudah meregang nyawa.
"Aku akan menunggumu kembali, Kala. Kapanpun kamu membutuhkanku, kamu tahu kemana harus menghubungiku, tidak peduli kita harus terpisah benua sekalipun. Aku akan menunggumu karena aku menyayangimu."
"Aku juga menyayangimu Aldry. Kamu sahabat terbaikku."
"Bukan itu maksudku, Kala."
"Lalu?"
Lidahku mendadak terasa kelu. Keterdiaman menghampar selama beberapa saat.
"Aldry."
"Aku menyayangimu," kugigit bibir untuk meredakan debaran di jantungku, "bukan karena kamu sahabat terbaikku," kuhela nafas panjang untuk mengusir gugup, "tapi karena kamu seorang perempuan dan aku lelaki," kucengkeram setir dengan tangan kiri, "seorang perempuan yang mampu mencuri hatiku," kurebahkan kepala ke atas setir, "karena aku..."
Kebisingan dibelakang Kala mendadak lenyap, berganti dengan keheningan.
Kujauhkan Blackberry dari telinga dan menatap layarnya. Layar itu telah berwarna gelap.
Blackberry-ku mati total sesaat sebelum aku menyebutkan kata terakhirku.
"Karena aku mencintaimu, Kala."
Dan Kala pergi tanpa tahu bahwa aku mencintainya.
***
Tatapanku menatap lurus ke layar televisi yang tengah menayangkan nama korban tewas kecelakaan pesawat Pacific Air tujuan Italia.
Kaemita Larasati.
Tiga kali sudah mataku menangkap nama itu terpampang dilayar televisi. Tak ada yang berubah sedikitpun.
Kala telah pergi tanpa tahu aku mencintainya. Kala telah pergi untuk selamanya, ke rumah abadinya, bukan untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang desainer handal seperti niatnya semula. Pesawat yang ditumpanginya tidak pernah membawanya sampai ke tanah impiannya semenjak dulu. Alih-alih pesawat itu membawanya terjun bebas ke dasar samudra bersama ratusan orang lainnya.
Kala telah pergi tanpa tahu aku mencintainya. Dia pergi tanpa sempat kupeluk. Dia pergi sebagai sahabat terbaikku tanpa tahu betapa dia telah mencuri hatiku.
Kala telah pergi sesaat sebelum aku mengucapkan betapa aku mencintainya. Semua karena aku gagal memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh satu bar batrai Blackberry-ku yang tersisa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!