Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 16 September 2011

Suasana

oleh: C.Nadia

Suara berisik di sekitarnya, membuat seorang gadis dengan topi berwarna pink muda yang menutupi sebagian wajahnya memaksakan diri untuk membuka mata. Setelah sepersekian detik, gadis itu menyadari bahwa dirinya bukan berada di atas ranjang dalam kamarnya. Lehernya sakit karena terlalu lama menyenderkan kepala pada kaca. Kedua kakinya yang bersila di atas jok tidak dapat digerakkan karena kesemutan. Sambil mengerenyitkan dahi, Risa membuka tirai yang selama satu jam menemani tidur nyenyaknya -yang menutupinya dari sinar matahari terik-.
Lautan biru terhampar di sepanjang mata memandang. Tiupan angin sepoi-sepoi dapat terlihat dari lambaian daun-daun kelapa.Walau suara ombak yang bergulung-gulung tidak terdengar dari dalam bus, namun sensasinya dapat dirasakan begitu deburan ombak menggempur pantai.
"Udah sampe!!!" Teriakkan Risa yang tiba-tiba itu mengundang lemparan gulungan tisu ke arah kepalanya.
"Ya ampuuuun.... Kebo baru bangun aja udah berisik," sahut Nia sambil menjulurkan lidah begitu Risa berbalik badan ke arahnya.
"Enak aja keboo..."
"Gak ah, kebo gak enak" Ana yang duduk di sebelah Nia malah menembali dengan kebiasaannya meng'garing'. Spontan ketiga teman lainnya merespon dengan kompak.
"Ya ya ya ya....."
Satu orang lagi adalah Valen yang duduk di sebelah Risa. Walau tampangnya terlihat kalem, tapi gadis ini sangat ekpresif bila menanggapi sesuatu.

Risa, Nia, Ana dan Valen sedang mengikuti "School Trip" ke Pangandaran yang diikuti oleh seluruh anak kelas 2 SMA dari sekolah mereka. Mereka berempat telah bersahabat baik sejak mereka duduk di kelas 1 SMA, oleh karena itu mereka sengaja mengatur tempat duduk di bus dan kamar di hotel agar mereka bersama. Kira-kira apa lagi yang akan dilakukan selain bergosip, tertawa terbahak-bahak dan ber-curhat ria di kamar hingga subuh hari?

Sendal jepit dan celana pendek sudah menjadi keharusan untuk menikmati liburan di Pangandaran. Apalagi kalau mau meninggalkan alas kakinya demi berenang-renang di pantai, sepatu atau sendal yang sedikit bagus saja tidak akan bertahan lama bila ditinggal. Tambahan lainnya adalah topi dan sunblock.
"Asyiknyaaa!" Nia berlari-lari kesenangan di atas pasir yang meninggalkan banyak jejak yang tidak beraturan. Tangannya diangkat ke atas, hidungnya mengendus-endus wangi khas pantai di sekelilingnya.
"Jadi pengen cepet-cepet berenang." Valen berjalan perlahan ke arah datangnya ombak, namun belum mempersilahkan kakinya untuk dibanjur dengan air laut.
"Yah.. masih besok yah."
"Iya nih. Tapi basahin kaki gapapa lah yah." Risa melewati Valen yang sedang berdiri di depannya. "Cihuy." Kini kedua tumit Risa sudah terendam. Ada perasaan senang yang tidak dapat dikatakan begitu kulit sudah bersentuhan dengan air laut.
Suasana di pantai memang ajaib! Tidak dapat digantikan dengan suasana di mana pun.

Besoknya semua murid pun mendapat giliran untuk bermain bebas di pantai. Ada yang mencoba belajar surfing, ada yang menggunakan selancar biasa, ada yang mengadakan acara permainan di pasir pantai, ada pula pelatihan mengenai kondisi penyelamatan yang dilakukan di kolam renang hotel. Berbagai moment pun diabadikan dengan kamera-kamera yang bertebaran di tangan para panitia. Ana sempat difoto saat terdampar di pinggiran pantai akibat gulungan ombak menyerbu selancarnya. Foto Nia bersama dengan orang bule dari tim rescue pun sempat diabadikan. Semua anak menikmati acara yang disajikan dengan tawa menghiasi wajah mereka.
Tawa pun disambut dengan rasa letih begitu memasukki kamar hotel.
"Badanku sakit sakit nih!" Ana memijat-mijat pelan tangannya yang terantuk papan selancar.
"Yang penting kan rame..." Dengan keahliannya dalam pijat-memijat, Valen pun memijat punggung Ana.
"Badanku juga remuk nih, tadi kebanyakan nerjang ombak pake selancar."
"Yah.... banteng sih, pake terjang-terjang ombak segala."
"Eh eh... dari kemaren yah. Kebo lah... banteng lah..." Adu mulut Risa dan Nia memancing tawa dan canda yang berkepanjangan.

Suara tawa itu mengecil, samar-samar, lalu digantikan dengan suara mesin dari bus yang hampir berhenti.
Risa membuka matanya dengan perlahan. Setelah sepersekian detik, gadis itu menyadari bahwa dirinya bukan bersama ketiga teman karibnya di SMA dulu. Lima tahun sudah berlalu dan kenangan itu masih melekat di dalam ingatannya.
"Ini pertama kalinya aku ke Pangandaran lagi setelah kejadian dalam mimpiku itu," gumam Risa sambil membereskan barang bawaannya.
Perasaan sedih karena ingin balik ke masa lalu pun terlintas di pikiran Risa. Acara yang akan diikutinya nanti pastinya akan sangat berbeda dengan “School Trip” yang dilewati dengan sahabat-sahabat karibnya dulu. Namun dengan langkah tegap Risa pun turun dari kendaraan yang ditumpanginya. Ia berusaha menghasilkan kenangan yang berkesan lagi di sini.

1 komentar:

  1. Cerita yang sangat ringan namun bermakna. Tidak banyak yang perlu dikomentari, sebab cerita sudah tersusun dengan cukup solid.

    Namun, untuk penggunaan tanda '-'. Gunakanlah seperti ini:

    ...tidur nyenyaknya--yang menutupinya dari sinar matahari terik--

    kalau dicoba di Ms.Word, dua tanda dash tersebut akan bergabung dan jadi seperti yang sering kita lihat di buku2 yang sudah terbit :)

    BalasHapus

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!