Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Sabtu, 24 September 2011

Pura-pura Tidak Tahu

Oleh: (@shelly_fw)



Aku melihat sosokmu dari kejauhan; kau pura-pura tidak melihatku Aku mengamati caramu menjurai rambut panjangmu dengan anggun; kau pura-pura tidak tahu. Bahkan, ketika aku menyempatkan diri untuk melambaikan tangan padamu, idem. Kau masih pura-pura tidak melihatku. Mata coklatmu—dingin dan begitu apatis, membeku begitu lama di hadapanku kemudian mencair dihadapan orang lain. Kau selalu begitu.



Masih segar di ingatanku ketika aku memberi ucapan selamat tahun padamu dalam beberapa versi—pesan singkat, pesan suara, lukisan wajah elokmu sebagai wujud afeksi terdalamku, hasil edit-an fotomu yang memakan waktu berjam-jam (karena aku memakai cara ekstrem untuk hal ini), sweater merah marun bersablon nama panggilanmu, sampai lagu selamat ulang tahun khusus untukmu—itu semua hasil tangan berpadu kreatifitasku sendiri. Pragmatis dan begitu sukarela. Aku rela melakukan apa saja.



Tidak ada respon ataupun ucapan terima kasih? Aku maklumi itu. Hari kedua kau menginjak usia tujuh belas tahun, dan kau masih tidak berbicara meskipun kita berjumpa? Aku juga memaklumi itu. Hari ketiga, kau tidak memakai sweater itu? Aku mencoba bersabar. Hari keempat, kelima, dan seterusnya kau malah menunjukkan kado-kado lain dari orang yang sebagian kukenal? Oke. Aku sudah tidak tahu titik kesabaranku nampak dimana.



Yang jelas, semua orang tahu. Kau terkenal sebagai kapten pemandu sorak dengan tingkat harga diri yang menurutku lazim untuk remaja seusiamu—kau tidak merokok, tidak juga mem-bully adik-adik kelasmu, tidak juga pilih-pilih dalam berteman dan bahkan kau selalu memakai stocking setiap kali rok mini membalut pahamu. Itu wajar. Pantas saja semua orang menyukaimu.



Kemudian lihat aku. Aku terkenal sebagai kapten basket—atau setidaknya selevel dengan dirimu karena aku tidak mau terlihat terlalu sok pada siapapun—hingga beberapa orang bilang sebaiknya kita berpacaran saja namun telingamu masih menolak mencerna. Kau masih yang dulu. Selalu begitu. Pura-pura tidak mendengar. Tidak melihat. Tidak tahu-menahu apa yang kulakukan ataupun usaha yang kutunjukkan pada hatimu—keras. Oh, mungkin lebih pantas disebut kaku.



Jadi, kuputuskan untuk memberanikan diri; menghampiri sosokmu yang begitu fokus dengan buku-buku perpustakaan kesayanganmu sebagai pergantian dari reaksi kehadiranku. Tanpa tedeng aling-aling, aku berkata, “jangan biarkan hubungan semenda membuat kita seperti bukan siapa-siapa. Lupakan kado-kado itu. Aku tetaplah kakak sepupumu.”



Dan aku tidak peduli, atau dengan kata lain berpura-pura tidak melihat reaksi dari tubuhmu yang membeku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!