Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Jumat, 02 September 2011

Rambut Binar

Oleh @ydiwidya
widyarifianti.tumblr.com

Namanya Rama, seorang biasa yang menyukai perempuan yang luar biasa cantiknya, Binar. Rambut Binar merupakan salah satu faktor penunjang kecantikannya. Setiap Binar berjalan di koridor sekolahnya, kemilau rambut legamnya merasuk ke setiap sanubari pemandangnya. Penggemar Binar di sekolahannya pun tak terbatas pada kaum adam. Para gadis yang sedang sibuk mencari jati diri pun saban hari mendatangi Binar. Menanyakan apa sih rahasia kecantikan Binar?
Binar pun hanya tersipu sambil menjawab, “Setiap perempuan itu cantik. Mereka punya daya tariknya tersendiri, tinggal dimaksimalkan…”
Ya, Binar memang bijak. Hal itulah yang membuat Rama jatuh hati padanya. Hati Binar selembut rambutnya. Tak ada alasan untuk tidak jatuh cinta pada Binar. Maka dengan segenap daya yang Rama punya, Rama memutuskan untuk melamar Binar setelah mereka lulus SMA. Kesempatan yang terlalu berani sepertinya, tapi Binar menyukainya. Di saat lelaki lain memujanya sampai setengah gila. Rama datang kepadanya menyuguhkan komitmen. Dan Binar hanya bisa menjawab Ya, ketika Rama melamarnya.
Binar dan rambut indahnya tak berhenti menjadi legenda di SMA mereka. Bahkan nama Rama pun ikut melegenda karena berhasil mempersunting Binar di usia muda. Kecantikan dan kepiawaian Binar menjaga kehormatannya pun menepis anggapan miring yang melanda setiap orang yang menikah muda. Tak berhenti disitu, rahasia keindahan rambut Binar pun ikut melegenda. Bahwa keindahan rambutnya adalah konsekuensi dari rutinitasnya berkeramas dengan sabun batangan setiap dua hari sekali. Awalnya Rama tak percaya dengan hal itu. Rama menyangka Binar hanya berkelakar untuk membuat para ‘penggemarnya’ semakin penasaran. Namun, ketika melihat tumpukan sabun batangan yang tersusun rapi di kamar mandi rumah mereka, Rama seketika langsung percaya.
Menanggapi hal itu, Rama langsung membelikan Binar shampoo berbotol-botol untuk menutrisi rambut panjang Binar setiap harinya. Binar pun menuruti kehendak suaminya itu. Namun, hasilnya jauh dari yang diharapkan. Rambut Binar rontok. Rama pun memberikan botol-botol shampoo Binar kepada orang yang membutuhkan dan menggantikan dengan berbatang-batang sabun yang dulu biasa Binar pakai.
“Apakah kamu tetap mencintai aku kalau rambutku sudah tidak indah lagi?” tanya Binar suatu ketika. Tangan Binar sibuk mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk kala itu.
“Saya tetap mencintai kamu. Bahkan jika kulit putihmu sudah menghitam dan rambut hitammu sudah memutih…” jawab Rama sambil berpaling dari pekerjaannya di laptop. Binar tersenyum sambil membelai rambut ijuk Rama.
Kebiasaan Binar berkeramas dengan dua sabun batangan per dua hari sekali masih berlanjut sampai sekarang. Dan Rama pun tidak pernah lupa untuk membelikan Binar bertumpuk-tumpuk sabun setiap dua minggu sekali. Namun kini, ada satu kebutuhan Binar bertambah. Kini Binar rajin berganti-ganti sikat gigi. Awalnya frekuensi Binar berganti-ganti sikat gigi hanya seminggu sekali. Rama pun memaklumi hal itu. Tapi kini…
“Darimana saja kamu?” tanya Rama ketika menjumpai Binar baru pulang dari warung. Koran yang belum tuntas dibacanya, langsung Rama lempar ke sofa terdekat.
“Beli sikat gigi,” ucap Binar singkat.
“Beli sikat gigi? Untuk apa?” tanya Rama heran.
“Ya untuk sikat gigi lah…untuk apa lagi?” Binar balik bertanya.
“Apa yang kamu sembunyikan, Binar?” tanya Rama. Perlahan digenggamnya tangan Binar. Binar tak menjawab, hanya menangis.
Semakin Rama bertanya, Binar semakin mengunci mulutnya. Hubungan mereka yang awalnya erat kini terpisahkan oleh jurang rahasia. Hanya keterbukaan yang bisa mempersatukan mereka kembali dan hal itu hanyalah isapan jempol bagi mereka. Rama tak sempat tahu rahasia Binar dan Binar pun tak sempat bercerita pada Rama sebelum Binar pergi dari sisi Rama. Mungkin karena Binar sudah jengah dengan pertanyaan Rama, pikir Rama.
Namun, kepergian Binar menyisakan tanda tanya besar di benak Rama. Rama pun bertekad untuk mencari tahu rahasia Binar sendiri. Dari helai-helai rambut Binar yang rontok…dan dari tempat sampah Binar yang penuh sikat gigi berdarah.
Rama menangis, ia menciumi helaian rambut Binar yang jatuh ke lantai. Hari ini sudah tepat setahun lamanya sejak kepergian Binar dari sisinya. Binar kabur tanpa sempat menitipkan sekalimat alamat pada salah satu kerabat yang dipercayanya sekalipun.
Rama pun hanya bisa berdoa sambil terus mencari. Helai demi helai rambut Binar ia kumpulkan dalam satu stoples. Peninggalan yang tak sengaja Binar berikan. Hal yang dapat mengobati rindu Rama pada Binar selain memori tentang kebersamaannya dengan Binar.
Sudah genap dua tahun Binar meninggalkan Rama. Dua tahun yang menggenapkan pencarian Rama akan Binar. Pada suatu malam, Binar menelpon adiknya dan adiknya memberitahu Rama tentang keberadaan Binar saat ini.
Binar masih ada.
Rama tersenyum. Ia sangat bersemangat menyambut cintanya yang sempat menghilang. Tak sia-sia ia menjaga hatinya dua tahun belakangan ini. Namun, semangat yang dimiliki Rama seolah tak bersisa lagi ketika melihat Binar terbaring lemah di rumah sakit. Alat-alat kemoterapi melilit tubuhnya. Lagi-lagi…Rama menangis.
“Untuk apa kamu datang kesini?” tanya Binar lirih.
“Untuk kamu…” jawab Rama.
“Untuk aku?”
“Kenapa kamu nggak bilang?!” teriak Rama menghakimi.
“Percuma…aku malah akan semakin menambah beban kamu,” ucap Binar.
“Kamu nggak percaya sama saya? Saya tetap sayang kamu apapun yang terjadi!”
“Hahaha…” Binar tertawa kecil akan pengakuan Rama. “Dulu kamu bilang...kamu akan tetap mencintaiku. Dari rambutku masih hitam bahkan sampai rambutku memutih…” kenang Binar.
Rama mengangguk.
“Rambutku bahkan belum sempat memutih, Ram…tidak akan sempat…” ucap Binar. Rama tersedu sambil mengelusi kepala Binar yang licin.
“Kamu tetap kamu yang saya sayang…tanpa rambutmu sekalipun. Rambutmu itu kepunyaan Tuhan, justru saya yang salah karena tidak bisa terus menjaga kamu dan rambut kamu…” Rama masih tersedu. Ia menyesali karena ia absen menjaga Binar.
“Ada dimana saya ketika helaian rambut kamu rontok? Ada dimana saya ketika rambutmu dihabisi kanker?!” sesal Rama.
“Sudahlah…seperti yang kamu bilang, rambutku ini kepunyaan Tuhan. Kita hanya harus…mengikhlaskannya…” ucap Binar terlihat tabah. Ketabahan yang membuat Rama iri.
“Saya ingin menebus ketidakberadaan saya dulu…Saya ingin merawat kamu, Saya ingin menumbuhkan rambutmu lagi…” ucap Rama.
“Nanti saja…” sahut Binar.
“Kenapa nanti?”
“Ram…kamu bilang rambutku ini kepunyaan Tuhan kan?” bukannya menjawab, Binar malah bertanya. Napasnya semakin berat, seperti ada yang mencekiknya. Rama mengangguk lesu menjawab pertanyaan Binar.
“Aku juga…kepunyaan Tuhan. “ Binar tersenyum.
Senyum yang membuat Binar terlihat cantik, meskipun tanpa rambutnya. Senyum yang membuat Binar tetap ‘hidup’…sekalipun hanya di hati Rama.
Ya, tak ada yang abadi. Termasuk rambut Binar, juga Binar…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!