Peringatan keras: setiap karya yang dimuat di Writing Session dilindungi UU hak cipta & penjiplakan pada karya tersebut memiliki sanksi!

Rabu, 28 September 2011

Passionata - Hadiahku Kepadanya‏

Oleh: @theflyinghand
http://byignatiusedwin.co.cc


Dan menjadi betul,
Puisiku masih belum selesai.
Ini adalah ceritaku yang terakhir.
Mungkin.
Hanya untuk hari ini saja.
Besok,
siapa tahu?
Mungkin aku sudah terbawa ombak.
Mungkin aku sudah berada di tempat nan jauh dimana orang tak dapat menjangkauku.
Mungkin aku mati.
Mungkin aku, mungkin, diam saja di tempat dan menulis lagi.
siapa tahu?
Dia,
yang akan kusebutkan,
mungkin pergi jauh.
mungkin menikah dengan orang lain.
mungkin menghidupinya dirinya sendiri.
mungkin menjadi suster.
mungkin hidup sendiri sebagai pendoa, dan mati di usia tua.
mungkin, dan masih mungkin dia menatap pada puisi ini dan diam saja sama sepertiku.
siapa tahu?

Sepanjang hari aku ingat dengannya.
Tidak peduli waktunya kapan,
baik saat itu aku berumur belasan, atau waktu aku latihan.
bahkan saat piano kuhentakkan,
tetap saja dia ada,
bahkan sempat saat ku kesal karena sesuatu,
dia tetap ada,
menggetarkan hati nuraniku yang kosong,
mencoba menggoyahkan isi pikiranku.
walau ku tetap teguh,
dia seperti sisi lain dariku,
tapi mempunyai fisik dan sewaktu-waktu dapat menghanyutkan.

Saat puisi ini kutulis,
waktu ini,
aku beranjak dewasa.
bersekolah, menjalani kehidupan seperti biasa.
melawan tantangan setiap harinya.
Puisi ini terburai dari pikiranku terhadapnya.
Aku mau menceritakan,
lihatlah, dan telitilah,
apakah memang ini kenyataan atau khayalanku saja?
Mendekati ambang kegilaan,
dalam satu menit mungkin kuhentakkan piano dalam tempo 150 beats per minute tanpa henti.

Tetap, subjeknya perempuan.
Kalau bicara keras, dan nadanya suka memaksa.
Kalau aku setinggi tiang, dia hanya beberapa sentimeter di bawahku.
Matanya lebar.
Suka menggunakan sepatu olahraga.
Sangat bersemangat.
Kemanapun dia pergi.
Dulu sering bertemu,
kemudian jadi saling membenci,
lalu sekarang tidak tahu.
siapa yang tahu?
hanya kami berdua yang tahu.
sebab tidak ada yang akan tahu,
lagian juga tidak ada yang mau tahu.
terus kenapa dibicarakan?
just an intermezzo, I will say

Perempuan itu matanya lebar.
Dulu dibilang gagah seperti lelaki,
suka diisengi jangan-jangan suster salah menulis kelaminnya,
seharusnya Male tapi malah ditulis Female.
Astaga, kupikir itu terlalu kurang ajar.
Eh, tapi malah dia yang marah-marah kepadaku.
Dikiranya akulah pembuat masalah.
Aku diam saja.
Sebab bukan aku yang membuatnya.
Sempat kupikir anak perempuan ini gila juga.
Tapi dari kegilaannya itu malah kami berteman.

Dulu situasinya sedemikian sulit.
Nilaiku anjlok gara-gara sering tidak memperhatikan pelajaran.
Kupikir aku harus mempertimbangkan sesuatu.
Sebab anak perempuan itu ternyata sangat pintar dibanding denganku.
Kupikir lagi.
Tidak.
Kupikir lagi.
Ya.
Kupikir lagi.
my mind, just shut up.
this is not a game, but a serious problem.

Akhirnya lelaki itu menjawab tantangan.
Kelihatan bersama dengannya,
padahal sebenarnya benci.
Berkali-kali kugarukkan kepala,
apakah benar harus begini?
apakah benar metodenya begini?

Semuanya terakumulasi ketika aku naik kelas.
Tiba-tiba kebencian menghampiri hubungan kami,
semuanya jadi serba salah karena saling menyalahkan.
Aku tetap diam.
Walaupun dia mencoba mengubah sifatku,
aku tetap diam,
silence is gold,
itulah sifatku yang tidak dapat kuubah,
lebih baik tidak saling menyalahkan dan mengumbar nafsu berbicara sembarangan,
aku menghindar daripadanya.
kupikir lebih lanjut,
aku menghindar harus selamanya.

ternyata tidak.
aku masih berperasaan,
aku mencoba kembali mencarinya.
aku gugup.
aku sebenarnya tidak mau.
tapi ternyata dia juga mengetahui dimana aku.
tentu,
orang masih tidak akan mau tahu.

haha.
masih kuat membacanya?
lanjutannya adalah kegilaan.
masih mau membaca?

Waktu itu ada latihan,
Latihan sebuah pementasan,
untuk menyentuh dalamnya pikiran.

Datanglah seorang teman,
berasal dari awal halaman,
namanya diawali dengan A dan diakhiri dengan n,
dia mempertanyakan,
"Edwin,
jangan sia-siakan kesempatan."
Aku balik mempertanyakan,
"Tak kutemukan siapapun."
Dia tidak mau diremehkan,
"Coba kau lihat lagi dengan tekun."

Kulihat ke depan.
Mataku tertuju pada seorang perempuan.
"Dia yang kau inginkan?"
kata Austin.
Dia tahu apa yang di dalam pikiran seorang Edwin.
"Ya," kata Edwin.
"Minta nomor telepon,"
katanya pada Edwin.
Mataku melayang di sekeliling perempuan yang kutunjukkan.
Kemudian niatku ku urungkan.
"Tidak diperlukan,"
kataku tegas pada Austin,
"Tidakkan kuraih, terjadi pun tidak."

Empat bulan kutinggalkan.
Empat bulan kulupakan.
Empat bulan menunggu di pikiran.
Empat bulan tidak dapat berlari ke depan.
Bulan kedelapan,
terusiklah pikiran.
kutanya hal yang sama dengan yang Austin katakan.
nomor telepon.

tanpa diragukan,
Austin tidak ragu memberikan.
kuajak bicara perempuan dari halaman kedelapan,
hanya bertahan delapan hari ke depan,
lalu kuputuskan hubungan.
terusiklah lagi pikiran.
harus kubuat keputusan.

ternyata perempuan itu muncul lagi.
ingatan akan masa lalu menghantuiku.
dia mulai menelponku,
memberikanku pesan singkat setiap hari,
benar-benar pikiranku terusik.

ini kenyataannya.
aku tidak dapat akan perempuan yang baru saja kutemui.
walaupun kecantikan kelihatan, perempuan masa lalu itu tetap menutupi pikiranku.

aku ingin kau tahu saja sekarang, tanpa menunggu kapan
aku ingin kau tahu saja sekarang, tanpa menunggu siapapun
aku ingin kau tahu saja sekarang, tanpa menunggu apapun
aku ingin kau tahu saja sekarang tanpa kebohongan,

aku sudah muak.
aku muak akan segala masalah pada diriku sendiri.
terlalu banyak orang yang mungkin kujumpai.
kau masih mau mengubah sifatku?
silakan,
tetap saja aku tidak dapat berubah.
aku mendekati ambang kegilaan.

sekarang aku hanya dapat mengatakan,
kau akan tetap ada,
selalu ada,
karena pikiranku tampaknya terlalu resistant denganmu.
ucapan, segalanya tentang dirimu, masih kuingat dengan sangat jelas.

Kejujuran ini kunyatakan dengan ikhlas.
Kegundahan ini kulepaskan secara indah.
Kesepian ini akhirnya kutanggung sendiri.
Cuma itu yang tersisa dariku.
Yang kau mau lihat dariku.
Hampa sudah berada di hatiku yang keras, sekeras batu bataan,
Matahari sudah turun,
Naiklah bulan,
motor dan mobil berlalu-lalang,
orang makan di pinggiran jalan,
yang lain sedang memperjuangkan ideologi negaranya,
yang lain sedang berperang,
diantara itu semua,
akhirnya puisiku ini selesai untuk hari ini.
puisi ini mungkin telah terselesaikan,
sebab saat matahari akan naik ke tempatnya untuk kesekian,
orang-orang bangun dari tempat tidurnya,
dan para pekerja bekerja keras menambang emas di tempat yang jauh,
mungkin aku punya cerita lain untuk diceritakan
tapi masa laluku sudah tuntas kuceritakan,
terimalah hadiahku ini dengan lapang dada.

for just a moment, euphoria that I felt...

Waktu itu tanggal tiga puluh satu.
Di Oktober yang mengejutkan selalu.
Si Edwin duduk di bus termangu,
duduk di depan, bengong melulu,
seperti benalu di sebatang kayu,
diam tak bermutu.

Pukul delapan malam.
Di tengah-tengah tol yang kelam,
menuju gelapnya malam,
Edwin tidak bisa berdiam,
mukanya muram,
penjelasannya masih di dalam sekam,
menunggu saat yang tepat di langit hitam.

sporadic explanation...

Kenapa? Kapan? Mengapa?
Pertanyaan di kepalanya,
menunggu penjelasanku padanya,
mengapa aku menulis semua,
walaupun telah kujelaskan semua,
dia belum mengerti sepenuhnya.

Setengah jam menuju jam setan,
kata teman akrabku, Austin.
tiba-tiba muncul penjelasan,
Apakah ini perbuatan setan?
Tidak, bukan.
Apakah ini hanya bohongan?
Tidak, bukan.
Apakah ini yang kuinginkan?
Ya, ini bukan kebohongan,
bahkan,
nyatanya dari awal bulan,
kacaulah pikiran,
memilih tepat pilihan,
sekarang saatnya kujawab pelan-pelan.

And you only need to say the word, Edwin.
The magic word?
Yes, it is.
Di saat aku mau menjawab,
ini benar atau tidak?
Di dalam bus napasku kuhembus lama,
kutarik cepat-cepat tidak beraturan.
Apa harus ditentukan sekarang?
Ya,
atau tidak sama sekali?
Pilihan di depan matamu, Edwin.

Four letters started with L

Lama kami berbincang; enam tahun,
lihat satu sama lain; tidak tentu,
agak lalai, tapi sangat cerdik.
perbedaan telah menyatukan kami,
dan ternyata kutemukan empat huruf itu,
it is the magic word.

The magic word

Lily, the pure flower
Orchid, strikingly colourful
Velvet, blooms brightly
Edelweiss, the flower of happiness
Will you accept me...to love you?



2.10.10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

SANGAT DIANJURKAN untuk saling mengapresiasi atau mengkritik tulisan satu sama lain. Kita sama-sama belajar ya!